( ... Jiwa terbalut rasa, itu ada. Namun, keegoisan dan pilihan datang memaksa untuk berkhianat. Bukan, bukan kosong. Hanya sekadar sesal yang tak berpenghujung .... )
🔥🔥🔥 Mo Shing Wang
***
Suara kicauan burung di pagi hari membangunkan seorang peri cantik yang tengah terlelap di atas pembaringan. Matanya yang bulat berbulu mata lentik, nampak mengerjap ketika seekor kupu-kupu datang menggoda. Ia tersenyum, lalu pelan mulai terkekeh ketika kupu-kupu tersebut hinggap di ujung hidungnya yang mancung nan mungil.
"Xixixi, kupu-kupu, kenapa kau usil sekali. Pergilah, aku masih mengantuk. Nanti saja ya bermainnya," ucap Xiao Hua seraya menyentuh sayap binatang lucu yang tengah bertengger di ujung hidungnya. Dia bicara dengan kondisi mata masih terpejam.
(Xiao Hua, ayo bangun. Kau lupa ya kalau hari ini Dewa Fu'er telah kembali ke kayangan? Cepat buka matamu dan lekaslah bersiap. Kalau tidak, kau tidak akan kehilangan kesempatan untuk bisa bertatap muka langsung dengan dewa pujaanmu itu. Ayo cepat!)
Trinngg
Xiao Hua langsung terduduk dan matanya terbuka lebar begitu mendengar bisikan si kupu-kupu. Dewa Fu'er telah kembali ke kayangan? Oh astaga, bagaimana bisa dia melupakan hari penting ini. Bai Hua Bai Hua, kau benar-benar bodoh.
"Paman Lin Yuan!" teriak Xiao Hua. Bibirnya tampak gemetar karena menahan tangis.
Lin Yuan yang sudah tahu kalau peri asuhnya akan bersikap seperti ini, hanya tersenyum saja tanpa ada niat untuk beranjak menemuinya. Saat ini Lin Yuan tengah disibukkan dengan tanaman yang ada di taman. Sudah waktunya untuk bunga-bunga ini mendapatkan pupuk inti sari mereka sebelum sepuluh tahun lagi akan bereinkarnasi menjadi seorang peri.
"Iih, ke mana perginya Paman Lin Yuan. Apa jangan-jangan dia sengaja tidak membangunkan aku supaya aku tidak pergi ke istana langit?" gumam Xiao Hua menggerutu sendiri. Dia lalu menepuk-nepuk kasur untuk memelampiaskan kekesalannya. "Awas saja ya, Paman. Kalau dugaanku benar, aku akan mogok bicara denganmu. Heh."
Tanpa pikir panjang lagi Xioa Hua segera turun dari ranjang kemudian berlari keluar untuk mencari paman peri yang telah merawatnya sejak kecil. Niat awal sih ingin melakukan protes karena dirinya dibiarkan bangun kesiangan. Akan tetapi begitu melihat keindahan bunga-bunga yang sedang mekar, kekesalan Xiao Hua seketika menghilang. Dia kemudian berlarian kecil mengitari taman tersebut.
"Xiao Hua, jangan buang-buang energimu. Fisikmu itu tidak sama dengan peri yang lainnya. Berhenti dan berjalanlah seperti orang normal," tegur Lin Yuan sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan peri asuhnya.
"Paman, kenapa sih Paman pelit sekali padaku. Memangnya salah ya kalau aku menunjukkan kebahagiaan dengan cara berlarian sambil menikmati keindahan taman?" rajuk Xiao Hua sambil mengerucutkan bibir. Setelah itu dia berhenti di belakang punggung Paman Lin Yuan, tak membiarkan pria pelit ini bisa melihat wajahnya yang cemberut. "Kalau tidak ada kupu-kupu yang datang mengganggu, saat ini aku pasti masih terjebak di alam mimpi. Paman pasti sengaja bukan tidak membangunkan aku?"
Mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh Xiao Hua membuat Lin Yuan meng*lum senyum. Rupa-rupanya peri lemah ini tengah merajuk. Hmmm, menggemaskan. Sayang sekali Xiao Hua mempunyai kondisi yang terlampau istimewa jika dibandingkan dengan semua penghuni alam peri. Andai kondisi normal, dia pasti tidak akan tega berbuat demikian. Lin Yuan tahu kalau Dewa Fu'er adalah salah satu penyemangat peri lemah ini tetap bertahan hidup. Karena selain terasingkan di negeri bulan, Xiao Hua juga selalu dipandang sebelah mata oleh peri yang lain. Mereka menganggap kalau Xiao Hua adalah peri penyakitan yang tidak pantas tinggal di kayangan. Itulah kenapa Lin Yuan ketat melarang agar peri satu ini tidak sembarangan keluar. Takut dibully.
"Dewa Fu'er adalah kasta tertinggi dihidupku, Paman. Tolong ijinkan aku pergi ke istana langit untuk menemuinya. Sebentar saja. Ya?" rengek Xiao Hua seraya melongokkan kepala dari samping. Matanya yang bulat sengaja dikedip-kedipkan dengan tujuan agar hati sang paman menjadi luluh.
"Jangan memasang ekpresi seperti itu di hadapanku." Lin Yuan memalingkan muka. "Dewa Fu'er masih belum memiliki pasangan hingga saat ini. Kalau aku mengijinkanmu pergi ke istana langit, itu sama artinya dengan aku sengaja membiarkanmu masuk ke kandang macan. Kau tidak lupa bukan seperti apa prilaku para peri itu kepadamu?"
"Aih, kenapa Paman malah sibuk memikirkan mereka sih. Biarkan saja. Toh mau hari ini atau kapan pun itu, mereka akan tetap membully-ku seperti biasa. Jadi tolong ijinkan aku pergi ke sana ya? Ya ya ya?"
"Xiao Hua," ....
"Siap."
Dengan konyolnya Xiao Hua membuat gerakan memberi hormat ketika sang paman memanggilnya dengan nada rendah. Melihat hal itu pun Lin Yuan tak kuasa untuk tidak tertawa. Pada akhirnya dia memilih untuk menyudahi pekerjaannya kemudian beralih menatap seksama wajah menggemaskan peri lemah yang berdiri di sampingnya.
"Janji hanya sebentar ya?"
"Iya, Paman. Aku ini Xiao Hua, peri yang tidak pernah ingkar janji,"
"Hmmm, aku ragu." Lin Yuan mengusap dagu. Sebelah matanya memicing tajam, tak percaya akan jawaban yang barusan keluar dari mulut Xiao Hua. "Mungkin untuk hal lain kau memang belum pernah melanggar janji. Akan tetapi jika berhubungan dengan Dewa Fu'er ... ah sudahlah. Lebih baik kau tetap di paviliun saja. Kalau di sana kau menggigil karena kedinginan bagaimana? Siapa yang akan menolong?"
Raut gembira di wajah Xiao Hua musnah seketika begitu sang paman batal memberikan ijin untuknya pergi mengunjungi istana langit. Sedih, tanpa pikir panjang dirinya langsung berguling-guling di tanah sambil terus merengek meminta agar dibiarkan pergi.
"Dewa, lihatlah betapa licik Paman Lin Yuan. Padahal aku adalah bagian dari alam peri, tapi kenapa dia selalu menghalangi saat aku ingin pergi ke sana. Tolong hukum dia, Dewa."
"Hei, do'a macam apa yang kau panjatkan untuk pamanmu?" kaget Lin Yuan.
"Biar saja. Pokoknya kalau Paman masih tidak mengijinkan aku pergi melihat Dewa Fu'er, aku akan terus berdo'a yang jelek-jelek kepada dewa. Ini adalah kesempatanku untuk bisa bertemu langsung dengannya setelah tujuh puluh tahun terpisah. Tolong Paman mengalah lah!" sahut Xiao Hua masih sambil bergulingan di tanah. Dia sama sekali tak peduli gaunnya akan kotor. Tinggal minta Ge Zi agar membawakan gaun yang baru lagi nanti.
Lin Yuan akhirnya menyerah. Biasanya jika Xiao Hua sudah seperti ini, itu akan sulit untuk dibujuk. Meski hati begitu khawatir, mau tidak mau dia terpaksa mengijinkan peri tersebut untuk datang ke istana langit. Namun, sebelum pergi Lin Yuan membantu Xiao Hua bersiap. Tak lupa juga dia membawakan mantel tebal sebagai pelindung jika sewaktu-waktu penyakit peri lemah ini kambuh.
"Ingat pesanku baik-baik. Langsung kembali ke paviliun setelah bertemu dengan Dewa Fu'er. Mengerti?" pesan Lin Yuan sembari memasangkan bunga sebagai hiasan rambut di kepala Xiao Hua.
(Sangat manis,)
"Mengerti, Paman," sahut Xiao Hua dengan penuh semangat. Setelah siap, dia bergegas mengikuti mengikuti pergerakan awan yang akan membimbing jalan menuju istana langit. Xiao Hua lalu berteriak kuat. "Dewa Fu'er, aku datang. Yeyyyyy!!!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Di dunia manusia juga Flow di bully ( wlw tdk terang2an, krn pengaruh klrg Ma yg kuat) krn tdk spt 2 saudara kembarnya yg berotak cerdas, dan tubuh yang bagus dan tegap, dia lemah dalam berpikir dan bertubuh bantet..
2024-03-01
0
Melia_Fu
butuh fokus untuk baca cerita ini. selamat ya thor, kamu berhasil membawaku masuk ke dunia imajinasimu.
2023-12-08
0
Lina maulina
kalo d gantung trus percuma mak
2023-11-13
1