Diserang

"Jangan makan aku. Jangan makan aku," ucap Xiao Hua lirih sambil memejamkan mata saat melangkah masuk ke dalam hutan. Sekujur tubuhnya tak henti gemetaran saking takut bertemu dengan monster. "Paman monster yang baik, tolong jangan makan aku ya. Aku datang kemari bukan bermaksud ingin mengganggu, tapi aku datang demi bisa melayani Dewa Fu'er. Jadi tolong bersiaplah baik padaku ya. Aku mohon,"

Tanpa sadar bibir Mo Shing Wang berkedut mendengar ucapan Xiao Hua saat sedang merayu monster. Karena aura iblisnya tersembunyi dengan baik, dia dan Yan Tze bisa bebas keluar masuk di alam peri. Termasuk sekarang. Begitu Xiao Hua masuk ke dalam hutan, mereka mengikutinya dari belakang. Anggap saja mereka sedang menggembala seekor keledai dungu yang ... errr, sedikit menggemaskan. Ya, menggemaskan dengan segala tindak kebodohan yang dilakukan.

(Menggemaskan? Cih, sepertinya kebodohan peri ini mulai menular padaku. Jelas-jelas tak berguna, kenapa aku malah berpikir demikian tentangnya?)

"Yang Mulia, lihat itu!" bisik Yan Tze sembari menunjuk seekor kelinci yang bersembunyi dibalik batu. "Aku kira monster yang mereka tempatkan di hutan ini memiliki penampilan yang sangat mengerikan. Ternyata mereka hanya menggunakan ruh binatang-binatang lucu ini untuk menakuti para peri yang sok berani itu. Menggelikan sekali!"

"Prasangkamu terlalu jauh. Sangat mudah ditebak kalau mereka tidaklah mampu memelihara seekor monster." Mo Shing Wang tersenyum penuh ejek. "Mereka orang-orang lemah, tapi menggunakan kelemahan mereka untuk menakuti bangsanya sendiri. Peri-peri ini saja yang terlalu polos sehingga mudah dikelabui. Ruh kelinci? Cihhh, memalukan!"

Yan Tze dan raja iblis seketika terdiam saat Xiao Hua tiba-tiba menoleh ke arah mereka. Mereka lalu menelan ludah.

"Apa peri bodoh itu bisa melihat kita?" bisik Mo Shing Wang penasaran.

"Harusnya tidak, Yang Mulia." Yan Tze tak kalah penasaran.

"Kalau tidak lalu kenapa dia menatap ke arah sini?" bisik Mo Shing Wang lagi. Tak lama setelah itu kedua matanya membelalak lebar. "Lihat, dia datang kemari. Dia melihat kita, Yan Tze!"

Xioa Hua melangkah perlahan sambil menatap seksama ke arah depan. Dia penasaran dengan suara bising yang ada di sana. Sambil memegangi tas yang berisi mantra pemberian Paman Lin Yuan, dia memberanikan diri untuk bicara.

"Siapa di sana?"

Deg deg deg

Mulut Yan Tze dan Mo Shing Wang terkatup rapat sekali saat Xiao Hua berdiri tepat di depan tubuh mereka. Tegang, itu sudah pasti. Tak disangka-sangka ternyata peri satu ini mampu menyadari keberadaan mereka di sana. Sangat mengejutkan.

"Kenapa tidak ada yang menjawab ya. Apa tadi aku hanya salah dengar saja?" gumam Xiao Hua sambil menggaruk rambut.

(Hah? Jadi dia tidak melihat keberadaanku dan Yan Tze di sini? Sial!)

Mo Shing Wang mengumpat kasar setelah menyadari kalau Xiao Hua tidak bisa melihatnya. Dia lalu mengembuskan nafasnya yang tertahan kemudian membungkukkan badan agar wajahnya sejajar dengan wajah peri bodoh di hadapannya.

"Aku kira kau bodoh. Ternyata kau benar-benar bodoh!"

Tanpa menyadari kalau dirinya sedang diejek, Xiao Hua dengan santai menembus tubuh Mo Shing Wang yang masih membungkuk di hadapannya. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Xiao Hua seperti mendapat keberanian yang sangat besar. Jika tadi dia ketakutan saat mendengar suara auman monster yang begitu mengerikan, kini dia malah bersenandung kecil sambil melompat pelan melewati bebatuan yang ada di sana. Hatinya terasa gembira sekali.

"Eh ada kelinci di sini!" pekik Xiao Hua kegirangan ketika mendapati seekor kelinci putih bermata bening tengah memakan rumput di dekat sebatang pohon. Tanpa pikir panjang lagi dia segera mendatangi kelinci tersebut kemudian berjongkok di sampingnya. "Ternyata ini adalah ruh binatang suci yang dimaksud oleh raja langit. Uhhh lucu sekali. Jadi tidak tega menangkapnya!"

Seolah mengerti dirinya didatangi oleh seorang peri baik hati, kelinci itu bergerak memutari tubuh peri tersebut. Melihat hal itu pun Xiao Hua menjadi tak tahan untuk tidak tertawa. Seketika dia lupa dengan tugasnya agar mengumpulkan lima ruh binatang suci yang disebar di dalam hutan ini. Xiao Hua adalah peri yang kesepian. Bertemu dengan binatang yang begitu lucu membuatnya seperti menemukan teman yang baru. Dan kebahagiaan kecil ini bahkan mampu menghapus perasaan Xiao Hua yang begitu besar pada Dewa Fu'er.

"Ah, betapa lucunya mereka," gumam Yan Tze tak sadar.

"Jangan terhanyut. Ini hanya tipu daya yang mereka lakukan untuk membuat lawan menjadi lemah. Fokus!" tegur Mo Shing dingin.

"O-oh, maafkan aku, Yang Mulia. Tapi kali ini aku kurang setuju dengan ucapanmu. Aku rasa Xiao Hua sedikit berbeda dengan peri-peri yang lain. Tatapan matanya begitu polos pada kelinci itu. Dia bahkan tak menunjukkan keserakahan meski tujuannya datang ke hutan ini adalah untuk menangkap ruh binatang tersebut."

Mo Shing Wang terdiam. Dia juga tak bodoh. Setelah menyaksikan langsung pembullyan yang diterima oleh Xiao Hua, Mo Shing Wang menarik kesimpulan kalau peri yang dia jadikan sebagai pion merupakan sosok peri yang tulus dan juga baik hati. Ini dia lihat dari sikap Xiao Hua yang tenang tanpa menunjukkan dendam meski telah dibully habis-habisan. Bibir memang enggan mengucap, tapi dalam hati dia mengakui kalau Xiao Hua berbeda dari segerombolan peri-peri munafik itu.

Saat Yan Tze dan raja iblis tengah fokus memperhatikan Xiao Hua dan si ruh kelinci, kejadian tak mengenakkan terjadi. Lu Xianzi tiba-tiba muncul kemudian langsung menyerang Xiao Hua dari belakang. Kalau saja Yan Tze tak menarik tangannya yang hendak menolong Xiao Hua, dia pasti sudah balik menyerang peri angkuh tersebut. Mo Shing Wang tak terima pionnya dibuat menjerit kesakitan akibat serangan yang diterimanya di bagian punggung.

"Xi-Xianzi, apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku diserang?" cecar Xiao Hua sambil menekan dadanya yang sakit. Dia tak menyangka peri pembully ini akan tega menyerangnya diam-diam.

Bukannya menjawab, Lu Xianzi malah mengeluarkan kantong khusus dari dalam tas kemudian menggunakan mantra untuk menangkap ruh suci kelinci. Setelah itu dia melayangkan tatapan sinis pada Xiao Hua yang masih terduduk di tanah sambil memegangi dada.

"Sebelum mengikuti perlombaan ini apa Paman Lin Yuan tidak pernah memberitahumu kalau saat seleksi berlangsung sesama peri diijinkan untuk saling menyerang?" tanya Lu Xianzi penuh nada intimidasi. Satu ruh binatang suci telah berhasil dia kumpulkan. Tinggal empat ruh suci lagi untuk dia memenangkan perlombaan dan bisa menjadi pelayan Dewa Fu'er.

Kepala Xiao Hua tertunduk dalam setelah mendengar pertanyaan Lu Xianzi. Ternyata yang dikhawatirkan oleh Paman Yuan benar. Demi memenangkan perlombaan, para peri tidak akan segan untuk mencelakai peri lain. Dan sekarang Xiao Hua merasakannya sendiri. Dia yang pertama kali menemukan roh kelinci, tapi Xianzi yang mendapatkan hasilnya. Sialnya sekarang Xiao Hua terluka.

(Haruskah aku menyerah sekarang? Aku lemah, dan aku telah diserang. Kalau tetap dipaksa untuk ikut, bagaimanapun jika penyakitku kambuh? Kasihan Paman Yuan nanti. Tapi kalau menyerah sekarang lalu bagaimana dengan Dewa Fu'er? Ya Dewa, kenapa Xianzi kejam sekali padaku? Salah apa aku padanya?)

***

Terpopuler

Comments

Melia_Fu

Melia_Fu

mulai bucin kayakna ni

2023-12-11

0

Yunia Afida

Yunia Afida

semangat terus mak

2023-12-10

0

Asih Ningsih

Asih Ningsih

iya mak sang penguasa hati dulu dong upnya soale aku gak sabar pengen tau renata n flow sembuh🙏🏾🙏🏾 pliiiis mak.

2023-12-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!