Perlombaan Dimulai

Glukkkk

(Suara auman monster-monster itu mengerikan sekali. Kira-kira aku sanggup tidak ya melewati rintangan di dalam perlombaan ini?)

Tak munafik. Wajah Xiao Hua seketika menjadi pucat begitu menginjakkan kaki di hutan yang akan menjadi lokasi perlombaan. Meski tak datang sendiri, tetap saja rasa takut itu membayang jelas dipikiran. Sambil terus menelan ludah dan memohon perlindungan pada dewa, Xiao Hua memperhatikan dengan seksama ke arah hutan tempat para monster itu berada.

"Ihhh, seram sekali. Siapa dulu yang akan masuk ke dalam?" ucap salah satu peri sembari bersembunyi dibalik hanfu peri yang lain.

"Siapa dulu siapa dulu. Jelas kita lah. Bagaimana sih!" sahut peri yang lain.

"Tetapi bagaimana kalau kita dimakan oleh monster-monster itu? Suara mereka ... erghhhh, itu sangat menyeramkan. Mereka seolah sedang menantikan kedatangan kita untuk dijadikan sebagai santapan makan siang. Kau mau mati sia-sia di hutan ini?"

Lu Xianzi diam mendengarkan perdebatan para peri. Bohong kalau dia tak merasa takut, sangat malah. Namun, karena dirinya memiliki standar harga diri yang sangat tinggi, Zianxi enggan menunjukkan ketakutan itu di hadapan teman-temannya.

"Xiao Hua!"

"Ya?"

Xiao Hua yang sedang ketakutan sontak berjengit kaget sembari menjawab panggilan ketika ada peri yang memanggil. Sedetik setelah itu perasannya langsung terasa tidak enak. Kini semua mata tengah tertuju padanya. Dan bisa dipastikan kalau panggilan tersebut bukanlah panggilan yang menguntungkan. Xiao Hua yakin akan hal itu.

"A-ada apa? Kenapa kau memanggilku?" tanya Xiao Hua dengan suara terbata. Dalam hati dia membatin semoga peri-peri itu tidak memintanya untuk masuk ke dalam hutan.

"Di antara kita semua, kau adalah satu-satunya peri lemah yang tidak memiliki kelebihan sama sekali. Jadi untuk mempersingkat waktu bagaimana kalau kau masuk lebih dulu ke dalam sana untuk memeriksa keadaan. Kalau menurutmu aman, baru kau kembali lagi ke sini untuk mengabari kami. Bagaimana? Kau mau 'kan?" jawab salah satu peri dengan begitu kejam.

Dahi Xiao Hua mengernyit. "Maksudnya kalian ingin menjadikan aku sebagai tumbal untuk para monster itu?"

Bukannya memberi penjelasan, peri yang tadi meminta Xiao Hua masuk ke dalam hutan malah menutupi wajahnya dengan kain hanfu kemudian tertawa. Hal itu lalu diikuti juga oleh peri-peri yang lain. Namun, Lu Xianzi tidak demikian. Dia hanya berdiri diam sambil terus menatap ke arah depan.

"Jahat sekali. Dalam kondisi seperti ini pun kalian masih tega membullyku. Salahku apa?"

Mendengar ratapan Xiao Hua yang tengah menahan tangis karena dibully, tiba-tiba membuat darah di tubuh Mo Shing Wang seperti mendidih. Bukan karena dia kasihan pada Xiao Hua, tapi karena muak melihat perangai asli mereka yang konon selalu mengaku sebagai makhluk tersuci dan berhati nurani mulia.

"Yang Mulia, apa kita tidak akan membantu Xiao Hua? Kasihan dia. Tidak ada satu pun peri yang berada di pihaknya. Aku ... tak tega," tanya Yan Tze sambil menatap iba Xiao Hua yang sedang dibully ramai-ramai oleh sekelompok peri munafik itu. Mendadak tangannya jadi gatal ingin segera menebas leher mereka.

"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Yan Tze. Kedatangan kita kemari bukan untuk menolong peri bodoh itu, melainkan untuk mencari kelemahan istana langit. Jangan terkecoh!" tegur Mo Shing Wang datar.

"Tapi aku kasihan padanya!"

"Kalau begitu tunjukkan saja wajahmu dihadapan mereka. Setelahnya mari kita lihat apakah kau masih sanggup mengasihani Xiao Hua atau tidak. Dasar lemah!"

Yan Tze tak bisa berkutik lagi setelah ditegur oleh raja iblis. Mungkin ini terdengar aneh. Xiao Hua adalah bagian dari klan menjijikkan yang telah membuat seluruh rakyat Kerajaan Cangyuan menderita. Namun dengan bodohnya dia malah merasa kasihan pada peri tersebut. Harusnya Yan Tze menaruh dendam pada Xiao Hua. Tetapi kembali lagi pada sisi lain di dirinya yang merasa tak tega menyaksikan seorang wanita lemah dibully oleh orang lain. Hal ini sedikit bertentangan dengan suara hatinya meski berstatus seorang iblis.

"Tidak di alam manusia tidak juga di alam peri. Saat seseorang menginginkan sesuatu, orang tersebut tak akan segan menumbalkan orang lain demi keinginannya sendiri. Kalau di alam manusia, aku masih bisa memaklumi karena dewa memang menakdirkan mereka sebagai makhluk yang terlahir dengan hawa n*fsu yang sangat besar. Tetapi para peri? Setidaknya mereka diciptakan jauh lebih istimewa dari manusia, tapi apa yang mereka perbuat? Benar-benar munafik. Tingkah laku mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang selalu mereka koarkan selama ini. Cuihhh!" geram Mo Shing Wang seraya membuang ludah ke samping.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Yang Mulia?"

"Tetap pada rencana awal. Kita tak perlu ikut campur pada apa yang terjadi pada mereka. Cukup pastikan Xiao Hua lolos diperlombaan ini saja. Setelah itu mari kita hancurkan orang-orang yang telah dengan kejam hati menutup mata atas apa yang terjadi pada rakyat di kerajaan kita!"

"Baik, Yang Mulia!"

Tiba-tiba saja tengkuk Xiao Hua dan Lu Xianzi meremang hebat tanpa sebab. Segera keduanya menoleh ke belakang. Tepat ketika mereka sedang menatap ke sekeliling hutan, angin dingin datang berembus menerpa wajah.

(Angin darimana ini? Kenapa rasanya tidak nyaman sekali? Dan juga kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasi tempat ini? Mungkinkah itu adalah perbuatan para penjaga istana langit?)

"Uhhh, kenapa aku merinding begini ya. Aneh," gumam Xiao Hua seraya mengusap tengkuk.

"Apalagi yang kau tunggu. Cepat masuk ke dalam hutan, Xiao Hua!" teriak salah satu peri dengan cetus.

"Tidak mau. Aku takut," sahut Xiao Hua ketakutan. Dia lalu beringsut menjauh saat dua peri berjalan mendekat ke arahnya. "M-mau apa kalian?"

"Dasar keras kepala. Berani sekali kau tidak patuh pada kami. Kau sudah ....

Brruugghhhh

"Akhhhhhhh!"

Xiao Hua mengerang kesakitan saat tubuhnya membentur akar pohon setelah didorong oleh seseorang. Sambil mengusap lututnya yang terasa perih, dia menoleh untuk melihat siapa yang telah mendorongnya dengan begitu kuat.

"Lu Xianzi, kau ....

"Ya, aku yang melakukannya. Kenapa?" sahut Xianzi angkuh. Sambil bersedekap tangan, dia menggerakkan dagu ke arah depan. "Masuk dan periksalah keadaan di dalam hutan. Jangan membantah. Karena di sini tidak akan ada orang yang bersedia untuk bersimpati padamu. Jadi kalau kau ingin tetap berada di dalam permainan, maka kau harus mengikuti apa yang aku perintahkan. Mengerti?"

"Tapi ....

"Tidak ada tapi-tapian. Cepat masuk atau aku akan membuatmu tetap berada di tempat. Kau jangan pura-pura tidak tahu, Xiao Hua. Melawanku, itu sama artinya dengan mencari masalah. Paham kau!"

Ingin rasanya Xiao Hua menangis saat diancam sedemikian rupa oleh Lu Xianzi. Tak berdaya, sambil menahan sakit dia memaksakan diri untuk bangun kemudian melangkah perlahan menuju hutan.

"Kau pasti bisa, Xiao Hua. Semua ini demi Dewa Fu'er. Kau harus kuat bertahan sampai perlombaan ini selesaikan dilakukan. Semangat!" ujar Xiao Hua menyemangati dirinya sendiri. Dia lalu menangis saat suara auman monster kembali terdengar. "Wahai monster, tolong jangan makan aku ya. Dagingku pahit, kau tidak akan suka. Makan peri yang lain saja ya?"

***

Terpopuler

Comments

Asih Ningsih

Asih Ningsih

betul semoga doa xio hua di kabulkan mak rifai.supya peri yg lain n jahat itu mati di mkn monter2 itu.

2023-12-07

0

Keysa Salsabilah❤️❤️❤️😘😘😘🥳

Keysa Salsabilah❤️❤️❤️😘😘😘🥳

💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻xiao Hua,,aku mendukungmu jgn bersedi💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻😍😍😍😍😍😘😘😘 sebenarnya mo si Wang juga gak tega ma xiao Hua,,cuma dia jaga immets🤭🤭🤭🤭🙏

2023-12-06

0

Mimilngemil

Mimilngemil

Xiao Hua...
semangat ya....
kamu pasti bisa 😉

2023-12-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!