Pagi ini Paviliun Leng dibuat sibuk oleh sosok peri yang tak henti berjalan ke sana kemari sambil menanyakan pendapat pada siapa pun yang dijumpainya. Meski bertemu makhluk yang tak bisa bicara, peri tersebut tetap jua melayangkan pertanyaan. Cukup menggelitik. Hingga membuat Lin Yuan tak kuasa untuk tidak meng*lum senyum.
"Bagaimana dengan penampilanku hari ini? Apakah cantik?" tanya Xiao Hua pada seekor kupu-kupu. Dia bicara sambil memutar gaun yang dipakainya. Meskipun sadar kalau binatang tersebut tak akan bisa memberikan komentar, hal itu tak menyurutkan niat Xiao Hua untuk meminta pendapat. Mau bagaimana lagi. Tinggal di Paviliun Leng membuatnya tidak memiliki teman. Jadi mau tidak mau Xiao Hua harus menganggap binatang dan juga tanaman sebagai teman bicara. Seperti sekarang contohnya.
"Ini sudah ke seratus kalinya kau melayangkan pertanyaan yang sama pada penghuni Paviliun Leng, Xiao Hua. Ku mohon berhentilah. Kasihan mereka!" tegur Lin Yuan seraya menggelengkan kepala.
Xiao Hua menoleh. Sebelah matanya menyipit. Senang karena menemukan mangsa baru.
"Kalau begitu bagaimana kalau Paman saja yang memberikan komentar untukku. Ya?" rayu Xiao Hua penuh harap.
"Sudah ku lakukan tadi."
"Tapi aku belum puas mendengar komentar itu. Lagi ya?"
Lin Yuan menghela napas panjang. Dia meletakkan mangkok kayu di atas kursi kemudian berjalan menghampiri Xiao Hua. Menggunakan hanfu berwarna putih bercampur merah muda, penampilan peri asuhnya terlihat begitu menawan. Belum lagi dengan hiasan di bagian kepala, membuat penampilan Xiao Hua terlihat semakin manis.
(Xiao Hua Xiao Hua, andai kondisimu tak seperti ini, aku yakin Dewa Fu'er pasti akan jatuh hati padamu. Sayang sekali kau terlahir dengan nasib yang kurang bagus. Betapa mirisnya)
"Paman Yuan, kenapa Paman menatapku sampai seperti itu? Aku jelek ya?" tanya Xiao Hua lirih. Kedua tangannya tampak mer*mas bagian bawah hanfu. Cemas.
"Hanya orang buta yang tidak bisa melihat kecantikanmu, Xiao Hua. Kau sempurna," jawab Lin Yuan tak ragu melayangkan pujian.
"Benarkah?"
"Apa kau pernah melihatku berkata bohong?"
"Pernah."
Jawaban jujur Xiao Hua sukses membuat Lin Yuan menjadi salah tingkah sendiri. Dia lupa kalau peri ini memiliki sikap arif dengan selalu bicara jujur dan apa adanya. Beruntung di sana tidak ada orang lain yang mendengar. Kalau ada, dijamin Lin Yuan akan malu setengah mati karena di skak matt oleh peri asuhnya sendiri.
"Paman jangan sedih. Yang paling sempurna hanyalah Tuhan. Kita sebagai makhluk ciptaannya sangat lumrah jika melakukan kesalahan. Aku tidak akan menghakimi Paman kok. Sungguh," ucap Xiao Hua sambil mengangkat dua jarinya ke atas.
"Haihh sudahlah jangan membahas masalah ini lagi. Sekarang lebih baik kau segera berangkat saja menuju istana langit. Ini adalah hari pertama seleksi digelar. Jangan sampai terlambat. Atau kau akan didiskualifikasi tanpa alasan. Sana!" usir Lin Yuan menahan malu dengan cara mengalihkan pembicaraan.
"Hah iya aku lupa!" seru Xiao Hua sembari menepuk kening.
"Ya sudah sana tunggu apalagi. Cepat!"
"Baik, Paman."
Segera Xiao Hua mengambil barang yang harus dibawa kemudian pergi meninggalkan Paviliun Leng. Dia kemudian menaiki perahu yang akan mengantarkannya melewati Sungai Lethe. Sembari menunggu sampai di tepian, Xiao Hua melihat ke sekeliling sungai yang sunyi dan tertutup asap. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
(Kenapa aku merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang ya? Hiiii, Sungai Lethe ini kan tempatnya para arwah penasaran berkumpul. Jangan-jangan mereka sedang mengawasiku dari salah satu sudut. Bagaimana ini? Mereka tidak mungkin memakanku 'kan?)
Benar. Saat ini ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan Xiao Hua dari balik kabut. Namun, mereka bukanlah arwah penasaran. Melainkan sesosok iblis berwajah datar dan juga bengis. Mo Shing Wang.
"Yang Mulia, apa yang akan kita lakukan pada peri bodoh itu?" tanya Yan Tze penasaran. Saat ini dia dan raja iblis tengah mengambang di awang-awang sambil mengawasi perahu yang membawa Xiao Hua di dalamnya.
"Tidak ada."
Mo Shing Wang memejamkan mata. Berada di Sungai Lethe membuat suasana hatinya menjadi buruk. Rasanya menjengkelkan sekali karena harus mendengar tangisan dan juga ratapan para arwah yang meninggal dengan cara rendahan. Bunuh d*ri. Ya, manusia seperti mereka lah yang terkurung di lingkaran Sungai Lethe ini.
"Aku tidak peduli dengan hasil akhirnya karena yang aku butuhkan adalah celah agar bisa masuk ke dalam istana langit. Xiao Hua hanya pion. Entah dia mati atau tidak, aku sama sekali tidak peduli. Bagiku cukup dengan dia berada di sekitar para dewa sialan itu. Dengan begitu aku baru bisa melihat langsung sebesar apa kekuatan yang dimiliki oleh mereka. Jika beruntung, aku mungkin bisa menemukan kelemahannya juga," ucap Mo Shing Wang tanpa membuka mata.
"Apa nanti di sana kita akan membantu Xiao Hua memenangkan perlombaan?"
Pertanyaan Yan Tze tak langsung mendapat jawaban dari raja iblis. Bukan tak mau menjawab, tapi raja iblis belum menentukan apakah harus membantu peri itu atau tidak. Dia tak pernah berpikir ke arah sana.
"Dari informasi yang ku dapatkan, Xiao Hua begitu ingin melayani Dewa Fu'er. Jika dia lolos dan diterima sebagai bawahannya, itu akan memudahkanmu mencari titik kelemahan dari panglima perang terkuat yang dimiliki oleh istana langit. Kalau boleh memberi saran, sebaiknya kita bantu peri itu saja supaya menjadi kandidat yang terpilih. Maaf jika lancang," ucap Yan Tze memberikan saran pada raja iblis.
"Hmmm, begitu ya?"
Kedua mata Mo Shing Wang kembali terbuka kemudian langsung menatap datar ke arah peri bodoh yang seperti sedang ketakutan. Satu seringai sinis muncul di sudut bibir.
"Ucapanmu benar. Kita memang harus membantu Xiao Hua agar lolos dalam seleksi. Kau perhatikan saja dia sekarang. Hanya karena mendengar suara arwah penasaran saja dia sudah begitu ketakutan. Akan sangat mustahil untuknya bisa lolos jika tanpa bantuan dari kita!" ucap Mo Shing Wang penuh nada menghina. Dia lalu bergumam pelan. "Merekalah satu-satunya makhluk yang mengaku dirinya paling suci, tapi mereka juga yang merupakan makhluk paling pengecut. Aku benci sekali harus berurusan dengan klan rendahan seperti mereka. Aku muak!"
"Sabar, Yang Mulia. Balas dendam ini tidak akan berlangsung lama karena pionnya sudah ada di tanganmu. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membalikkan keadaan. Dan setelah keadaan itu terbalik, kau bisa meluapkan semua rasa sakit hati dan juga kebencianmu pada mereka. Bersabarlah!"
"Cihhhhh!"
Yan Tze tersenyum miring seusai menasehati raja iblis. Inilah pemimpin yang dia kagumi. Tegas, bijak, juga tak terkalahkan. Yan Tze sama sekali tak menyesal dijadikan sebagai jendral di Kerajaan Cangyuan. Dia amat bangga dengan posisinya saat ini. Sungguh.
"Hatcihhhhh, uuhhhh. Siapa yang sedang membicarakan aku ya? Membuat hidung jadi gatal saja," keluh Xiao Hua sambil mengusap ujung hidungnya yang berair. Dia lalu merapatkan mantel yang dipakainya. "Dingin sekali. Bukankah seharusnya Sungai Lethe itu terasa panas ya? Ini benar-benar hari yang sangat aneh. Uhhhh."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Melia_Fu
raja iblis sama anak buahnya yg lagi ngomongin kamu xiao hua. makanya hidungmu jadi gatall
2023-12-11
0
Melia_Fu
oh,jadi ceritanya mereka ini lagi terbang ya thor. sampe kubaca berulang2 biar paham
2023-12-11
0
Melia_Fu
😂😂😂😂😂😂
2023-12-11
0