"Xiao Hua, bangunlah. Kau harus minum obat supaya rasa dinginnya mereda. Ayo bangun," bujuk Lin Yuan sembari mengguncang pelan lengan Xiao Hua. Dingin, itu yang dia rasakan ketika tangannya tak sengaja menyentuh kulit peri malang ini.
(Apa yang terjadi padamu saat di hutan itu, Nak. Seseorang telah menyerangmu kah? Kau berangkat dengan kondisi baik, tapi kenapa saat pulang kau jadi seperti ini? Siapa yang tega mencelakaimu?)
"Bangun, Xiao Hua. Buka matamu."
"Ehhmmmm,"
Xiao Hua menggeliat pelan. Matanya terasa berat sekali untuk dibuka. Tadi saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja tubuhnya menggigil hebat. Padahal saat berada di istana langit dia sama sekali tak merasakan sakit setelah meminum air pemberian iblis tampan. Ini sangat aneh.
"Jujur padaku. Siapa peri yang telah menyerangmu?" cecar Lin Yuan gemas sendiri melihat tingkah Xiao Hua yang terkesan malas-malasan untuk bangun. "Kalau tak mau mengaku, malam ini juga aku akan pergi menemui raja langit dan meminta penjelasan darinya. Aku yakin sesuatu pasti telah terjadi saat perlombaan sedang berlangsung. Iya 'kan?"
"Paman Yuan, kenapa kau berisik sekali sih. Aku kan sedang sakit. Bertanyanya tidak bisa ditunda untuk besok saja apa?" protes Xiao Hua masih dengan kondisi mata terpejam. Dia sebenarnya sedang kesakitan, tapi berusaha ditahan.
"Tidak bisa!" jawab Lin Yuan tegas tak terbantahkan. "Harus dijawab sekarang juga. Titik!"
"Keras kepala sekali,"
"Xiao Hua!"
"Hmmmm,"
Xiao Hua memaksakan diri untuk membuka mata saat menyadari kalau Paman Yuan sedang marah. Sambil merapatkan selimut ke tubuhnya yang masih menggigil, dia menatap seksama pria tua yang berdiri sambil memegang mangkok berisi ramuan.
"Minumlah. Nanti setelah tenagamu pulih baru kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sana!" ucap Lin Yuan tak tega memarahi Xiao Hua yang terlihat lemah. Wajahnya juga pucat, seperti tak ada aliran darah di tubuhnya.
"Paman, aku ....
(Xiao Hua, apa yang ingin kau lakukan? Iblis tampan itu melarangmu memberitahu orang lain tentang pertemuan kalian. Kalau kau ingkar, iblis itu akan membuatmu tak bisa mengikuti perlombaan lagi. Itu artinya kau akan kehilangan kesempatan untuk melayani Dewa Fu'er. Jaga mulutmu baik-baik!)
Kedua alis Lin Yuan saling bertaut melihat Xiao Hua menutup mulut dengan kedua tangan sebelum menyelesaikan ucapan. Aneh, kenapa lagi anak ini? Apa jangan-jangan ada seseorang yang mengancamnya agar tidak memberitahu siapa yang telah membuatnya terluka?
"Minumlah." Lin Yuan memilih sabar. Xiao Hua dia besarkan dengan kedua tangannya sendiri. Dia yakin cepat atau lambat peri ini pasti akan bicara jujur.
"Baiklah," sahut Xiao Hua lega karena tak didesak untuk bicara. Dibantu oleh Paman Yuan, dia meneguk perlahan ramuan tersebut hingga habis tak bersisa. "Ahhh segarnya. Tubuhku langsung sehat setelah meminum ramuan ini. Sekali lagi terima kasih banyak, Paman. Kau baik sekali!"
"Jadi sekarang sudah sehat?"
"Sudah."
"Baguslah. Waktunya kau memberikan penjelasan padaku. Tidak ada bantahan dan alasan untuk menghindar!"
Glukkkk
Xiao Hua langsung menelan ludah saat Paman Yuan memaksanya untuk bicara. Dia kira pria tua ini sudah lupa, ternyata tidak. Paman Yuan tetaplah Paman Yuan yang suka memaksa.
"Apa yang harus ku lakukan ya?" gumam Xiao Hua sambil menundukkan kepala. "Kalau aku bicara jujur, masa depanku bersama Dewa Fu'er terancam hancur. Tetapi kalau aku tidak jujur, Paman Yuan pasti akan terus memaksaku agar bicara jujur. Bagaimana ini?"
"Harus menunggu berapa lama lagi kau baru akan bicara, Bai He Hua?" desak Lin Yuan enggan menunggu. Semakin lama Xiao Hua mengulur waktu, dia semakin yakin ada seseorang yang telah mengancamnya. Kali ini kekhawatiran Lin Yuan bercampur dengan rasa kesal yang cukup besar gara-gara ulah peri asuhnya yang masih bungkam dan mengabaikan perkataannya. Jengah menunggu, segera dia menjewer telinganya sedikit kuat. "Kalau masih tak mau bicara, maka kau akan kehilangan satu telingamu. Jeweran ini baru akan terlepas jika kau mengakui semuanya. Mengerti?"
"Ihhh sakit, Paman. Cepat lepaskan!" teriak Xiao Hua kesakitan.
"Mengaku dulu kalau mau dilepaskan."
"Baiklah."
Bibir Xiao Hua langsung mengerucut begitu telinganya terbebas dari jeweran. Rasanya panas sekali. Dia lalu menggosoknya sambil melayangkan tatapan jengkel pada sang paman.
"Apa? Masih kurang hanya satu telinga saja yang dijewer? Mau lagi?" ancam Lin Yuan sambil menahan tawa. Dia paling tidak tahan melihat ekpresi Xiao Hua saat sedang merajuk begini. Bibirnya maju ke depan, matanya yang bulat jadi membesar, juga lubang hidungnya yang kembang kempis seperti perut lebah yang sedang bernapas. Itu semua sangat lucu dan menggemaskan.
"Dasar orangtua jahat," sahut Xiao Hua cetus.
"Jahat-jahat begini akulah yang telah merawatmu sejak bayi. Tahu?"
Skak mat. Xiao Hua tak bisa berkata-kata lagi setelah sang paman menyingkirkan hal tersebut. Berhubung sudah menemukan alasan yang tepat, segera saja dia memberikan penjelasan seadanya. Dan untuk pertama kalinya seorang Xiao Hua akan melakukan kebohongan. Demi Dewa Fu'er, begitu pikirnya.
"Jadi begini ceritanya, Paman. Tadi saat di hutan aku adalah peri pertama yang berhasil mendapatkan ruh suci binatang kelinci. Tapi karena kelinci itu sangat manis aku jadi tidak tega untuk menangkapnya. Lalu ketika kami sedang asik bermain, Lu Xianzi tiba-tiba datang menyerang dan merebut ruh suci binatang tersebut dariku. Itulah mengapa penyakitku bisa kambuh begini."
"Sudah ku duga!" Lin Yuan duduk. Dia lalu menatap Xiao Hua lekat. "Di bagian mana peri jahat itu meninggalkan serangan?"
"Di sini, Paman," jawab Xiao Hua sambil menunjuk daerah dada. "Paman, sebenarnya penyakitku ini bisa sembuh tidak sih. Aku lelah terus-terusan kedinginan jika sedang terluka. Padahal itu adalah serangan biasa, tapi efeknya bisa sampai sebesar ini. Aku bosan menjadi peri yang penyakitan. Aku ingin sembuh!"
"Sabar ya. Raja langit dan juga dewa-dewa yang lain tak pernah berhenti mencarikan obat untukmu. Mereka semua sama cemasnya sepertiku. Namun, sampai detik ini Dewa masih belum memberikan petunjuk. Bahkan kepergian Dewa Fu'er ke alam manusia juga tidak memberikan hasil yang kita harapkan. Aku harap kau bersedia untuk lebih bersabar lagi. Semua orang menyayangimu, Xiao Hua!"
"Jadi kepergian Dewa Fu'er ke alam manusia adalah untuk mencarikan obat untukku?"
"Menurutmu?"
Kedua mata Xiao Hua langsung membulat lebar begitu mengetahui fakta yang sangat manis tentang Dewa Fu'er. Tak disangka ternyata dewa perang satu itu begitu peduli terhadapnya. Seketika hati Xiao Hua jadi berbunga-bunga.
"Hmmm, aku paling malas jika harus melihatmu kasmaran seperti ini. Itu menggelikan!" ejek Lin Yuan sedikit menyesal karena telah kelepasan bicara. Harusnya tadi dia tidak memberi tahu Xiao Hua tentang alasan kenapa Dewa Fu'er turun dari kayangan. "Sudahlah, lebih baik aku pergi saja dari sini. Tingkahmu sudah kembali normal seperti biasa. Itu tandanya kau sudah pulih. Aku pergi!"
Lin Yuan hanya bisa menggelengkan kepala melihat Xiao Hua berguling-guling di kasur sambil terkikik pelan. Murahan sekali caranya untuk menunjukkan kebahagiaan. Hmmmm.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Asih Ningsih
😂😂😂 aku ngakak klu bacanya gemas.
2023-12-13
0
Asih Ningsih
visual bai he hua siapa ya kira2 aku bayangin kayak flow aja bikin gemas deh.
2023-12-13
0
Yunia Afida
emang kalo sedang jatuh cinta kadang lupa segalanya
2023-12-12
0