Meminta Tolong

"Dia kenapa?"

"Sepertinya serangan itu membuat kondisinya melemah, Yang Mulia. Xiao Hua itu kan peri yang penyakitan."

"Hmmm, menjijikkan."

Mo Shing Wang berdecak pelan sambil terus memperhatikan Xiao Hua yang tengah meringkuk di tanah. Ini benar-benar menjengkelkan. Tak disangka pionnya akan sebegini lemah.

(Dia tidak boleh kalah dalam perlombaan ini. Semua rencanaku bisa kacau kalau dia sampai menyerah. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Apa pun yang terjadi Xiao Hua harus tetap melanjutkan perlombaan ini. Harus!)

"Eh, Yang Mulia. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yan Tze bingung melihat raja iblis berjalan mendekati Xiao Hua. Takut kenapa-napa, dia segera menyusul. Sebelum itu Yan Tze mengucap mantra agar tidak seorang pun bisa melihat keberadaan mereka.

Begitu sampai di dekat Xiao Hua, Mo Shing Wang hanya berdiri diam sambil menatapnya lekat. Awalnya dia mengira kalau peri ini sedang menangis karena kesakitan. Tetapi setelah sampai didekatnya, yang Mo Shing Wang dengar bukan suara isakan, melainkan suara gemeletuk gigi yang saling beradu. Peri ini ... kedinginan?

"P-Paman Yuan, d-di-dingin," cicit Xiao Hua saat merasakan kehadiran seseorang. Tubuhnya kaku. Dia butuh obat.

"Kau kenapa?"

Suara bariton yang sedikit familiar menyapa indra pendengaran Xiao Hua dengan jelas. Namun karena sekujur tubuhnya seperti membeku, dia tak mempunyai kekuatan untuk sekadar melihat rupa dari pemilik suara tersebut.

"Tuli?" Mo Shing Wang heran.

"Tolong aku," Xiao Hua bersuara kecil. Entah mengapa dia berani meminta tolong pada seorang iblis yang waktu itu sempat berbincang dengannya. "A-aku sakit. Aku kedinginan. Tolong!"

Yan Tze dan raja iblis saling menatap saat mendengar Xiao Hua meminta tolong. Di detik itu, tiba-tiba saja hati nurani Mo Shing Wang tergerak untuk menolongnya. Segera dia melepas jubah lalu memakaikannya ke tubuh Xiao Hua. Setelah itu dia berjongkok.

"Obat apa yang biasanya kau minum?"

"Air embun yang berasal dari tujuh puluh tujuh kelopak bunga," jawab Xiao Hua sembari merapatkan jubah di tubuhnya.

(Obat macam apa itu? Bagaimana caraku mendapatkannya di siang bolong begini? Apa jangan-jangan Xiao Hua sedang mengerjaiku?)

Tanpa menunggu diperintah, Yan Tze langsung pergi mencari obat yang dibutuhkan oleh Xiao Hua. Perlombaan masih berlangsung, peri itu tidak boleh gagal dan berhenti di tengah jalan. Selain karena bisa menghambat rencana untuk balas dendam, juga bisa membuat raja iblis marah. Jadi sebisa mungkin Yan Tze akan mengumpulkan air embun tersebut dan memberikannya pada Xiao Hua.

Sementara itu di aula istana langit, para dewa dibuat heran oleh hilangnya Xiao Hua yang begitu tiba-tiba. Melalui cermin ajaib, mereka menyaksikan apa yang dilakukan oleh para peri di dalam hutan. Dan setelah Xiao Hua diserang oleh Lu Xianzi, peri itu raib bak ditelan bumi. Sangat aneh.

"Apa yang terjadi pada Bai He Hua?" tanya raja langit. "Dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Adakah di antara kalian yang memasang sihir tanpa memberitahuku terlebih dahulu?"

"Tidak, raja langit. Aku sendiri yang memeriksa keadaan hutan sebelum perlombaan di gelar. Sangat bisa dipastikan kalau tempat itu aman untuk para peri berkompetisi."

"Kalau benar begitu lalu ini apa?"

Jantung Fu'er berdetak cepat sekali saat mendengar percakapan raja langit dengan dewa-dewa yang lain. Pikirannya kalut, tapi tidak mungkin untuknya pergi menyusul Xiao Hua di dalam hutan. Perbuatannya bisa saja menimbulkan keributan besar di negeri kayangan. Jadilah Fu'er hanya duduk diam menahan gelisah.

(Astaga, kenapa aku bisa lupa. Waktu itu ada iblis yang kabur dari penjara dan berniat memakan Xiao Hua. Jangan-jangan dia hilang karena mereka juga. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus segera mengambil tindakan!)

"Raja langit, kita harus segera menyusul mereka sekarang juga. Aku khawatir hilangnya Xiao Hua ada hubungannya dengan iblis yang waktu itu kabur dari penjara. Kita tidak boleh tinggal diam. Para peri sedang dalam bahaya besar sekarang!" ucap Fu'er sembari beranjak dari tempat duduk. Dia lalu menatap semua orang satu-persatu. "Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita. Sebelum ada hal buruk yang terjadi, sebaiknya kita bawa mereka kembali ke aula ini."

Ada yang aneh dengan raut wajah raja langit saat mendengar perkataan Dewa Fu'er. Tatapannya tajam, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

"Raja langit, aku setuju dengan saran Dewa Fu'er. Sepertinya kita memang harus membatalkan perlombaan ini dulu demi keamanan para peri. Iblis-iblis itu pasti kelaparan setelah berkurung lama di dalam penjara. Dengan memakan tubuh para peri, itu akan membuat kekuatan mereka pulih dengan cepat. Keadaan ini sangat berbahaya sekali!"

"Iya benar, raja langit. Tolong segera perintahkan para penjaga untuk membawa mereka kembali ke aula ini. Setelah itu perintahkan mereka menyusuri hutan untuk mencari tahu apakah ada iblis yang berkeliaran di sana atau tidak!"

Raja langit menarik napas panjang.

"Baiklah kalau begitu."

Penjaga istana langit bergegas menyusul para peri di hutan begitu menerima perintah dari raja langit. Sedangkan Fu'er, kegelisahan masih terlihat jelas di matanya.

"Jangan khawatir, Dewa Fu'er. Xiao Hua dan yang lainnya pasti baik-baik saja sekarang. Kau tidak perlu cemas," ucap raja langit.

"Hah?" Fu'er tergagap. Dia kaget sekali saat menyadari kalau raja langit tengah memperhatikannya. Tak mau ketahuan dirinya memiliki rasa berbeda pada Xiao Hua, Fu'er pun segera menormalkan sikap. "Walau pun tenaga iblis itu sudah melemah, tetap saja kekuatan mereka jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kemampuan para peri. Aku hanya khawatir mereka celaka!"

"Aku mengerti, tapi kau tenang saja. Di hutan itu para peri bisa menggunakan kekuatan mereka untuk melawan iblis."

Raja langit beserta para dewa yang lain masih terus berbincang sambil mengawasi keadaan hutan lewat cermin ajaib. Mereka juga tak henti menebak-nebak di mana gerangan Xiao Hua berada.

"Minum ini."

Xiao Hua mendongak. Manik matanya bertemu dengan manik mata iblis tampan yang tengah berjongkok di hadapannya.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Xiao Hua.

"Minum, atau aku akan membuangnya," jawab Mo Shing Wang dingin.

"Galak sekali."

Xiao Hua tak berani bicara lagi saat iblis ini memelototinya. Segera dia meminum air yang disodorkan oleh iblis tersebut. Dan begitu air membasahi tenggorokannya, Xiao Hua langsung mengerjapkan mata. Air ini ....

"Air embun dari tujuh puluh tujuh kelopak bunga. Dari mana kau mendapatkannya?"

"Tidak bisakah kau diam dan menghabiskan ramuan yang telah susah payah kami dapatkan?" protes Mo Shing Wang jengah melihat Xiao Hua yang terus saja bicara. Ingin rasanya dia menumpahkan air ini ke wajahnya.

"Baiklah," sahut Xiao Hua patuh. Segera dia lanjut meminum air di dalam mangkok sampai habis. Setelah itu dia tersenyum. "Iblis tampan, terima kasih banyak ya sudah mau menolongku. Sekarang tenagaku sudah pulih. Aku harus kembali melanjutkan perlombaan. Permisi,"

Mo Shing Wang diam tak menyahut. Jujur, dia sedikit kaget melihat perubahan kondisi di diri Xiao Hua. Cukup mengejutkan.

"Dia mudah terluka, juga mudah juga disembuhkan. Sebenarnya apa yang terjadi pada peri bodoh itu?"

***

Terpopuler

Comments

Melia_Fu

Melia_Fu

buseeettt, air embun dari 77 kelopak bunga gk tuh

2023-12-10

0

Yunia Afida

Yunia Afida

mo shing wang mulai terpesona ni, hatimu mulai terganggu ama xiu hus

2023-12-10

0

Yunia Afida

Yunia Afida

xiu hua lagi bersama raja iblis

2023-12-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!