Aula istana langit seketika menjadi hening saat penjaga dan Xianzi kembali sambil membawa Xiao Hua bersama mereka. Fu'er yang sejak tadi gelisah diam-diam menghela napas lega begitu melihat peri yang dia khawatirkan berhasil dibawa pulang dengan selamat.
(Xiao Hua, aku senang kau akhirnya kembali lagi kemari. Kalau saja penjaga gagal membawamu pulang, aku sendiri yang akan turun tangan untuk mencarimu. Syukurlah kau baik-baik saja)
"Salam, raja langit!" ucap para penjaga seraya memberi hormat. Hal itu diikuti juga oleh Xianzi dan Xiao Hua.
"Kenapa lama?" tanya raja langit sembari menatap seksama ke arah Bai He Hua. "Apa sesuatu telah terjadi di dalam hutan?"
"Tidak ada yang terjadi di sana, raja langit. Kami hanya beberapa kali terkecoh oleh ulah para iblis. Mereka seperti sengaja menyembunyikan peri bulan sehingga sedikit sulit untuk kami menemukannya."
"Apa dia terluka?"
Dengan cepat Xiao Hua menggelengkan kepala. Namun, sedetik kemudian dia mengayunkan kepala naik turun. Xiao Hua tiba-tiba teringat dengan perkataan iblis yang menolongnya. Takut iblis itu marah dan membuatnya tak bisa lagi mengikuti perlombaan, jadi Xiao Hua putuskan untuk mengakui kalau dirinya terluka akibat serangan dari peri embun.
"Bai Hua, jawaban mana yang benar? Kau terluka atau tidak?" cecar raja langit. Dia bicara sambil melirik ke arah Dewa Fu'er.
"Emm, raja langit. Iblis itu tidak melakukan apa-apa padaku. Tetapi peri embunlah yang telah melukaiku," jawab Xiao Hua pelan. Sebelum lanjut bicara, dia menatap Xianzi sekilas kemudian pura-pura menahan sakit sambil menyentuh bagian dada. "Saat di hutan aku adalah peri pertama yang menemukan ruh binatang suci. Tak lama setelah itu Lu Xianzi tiba-tiba muncul kemudian menyerangku. Dia juga mencuri inti sari binatang itu dariku. Sungguh!"
Hening. Semua dewa dan juga peri yang ada di sana hanya diam saja mendengar penuturan Xiao Hua. Bukan memihak, tapi hal semacam itu memang lumrah terjadi. Dan ini terjadi bukan baru sekarang saja. Sudah berulang-ulang sejak pertama kali seleksi di adakan.
(Kenapa aku merasa ada yang tidak benar dengan sikap Xiao Hua ya? Dia tidak sedang berpura-pura kesakitan 'kan? Menyebalkan sekali. Beraninya dia menjelekkan namaku dihadapan Dewa Fu'er. Aku tidak terima!)
"Tolong periksa dia. Kalau lukanya serius, segera beritahu Lin Yuan untuk menghadapku!" perintah raja langit sebelum kembali duduk di singgasana. Setelah itu dia melihat ke arah samping. "Dewa Fu'er, sepertinya seleksi ini akan sedikit tertunda. Kau tidak keberatan bukan untuk menunggu sebentar?"
"Sama sekali tidak, raja langit. Aku mengikuti yang kau perintahkan saja," sahut Fu'er tenang. Padahal dalam hati, dia cemas setengah mati karena mengkhawatirkan Xiao Hua. Peri itu jelas terluka, tapi dia tak bisa melakukan apa pun untuk menolongnya. Miris.
Raja langit mengangguk. Setelah itu dia memerintahkan seorang dewi untuk membawa Xiao Hua pergi. Dia juga meminta para peri untuk kembali ke kediaman masing-masing dan beristirahat.
Di Kerajaan Cangyuan, Mo Shing Wang sedang berdiri di dekat jendela kamar sembari mengusap kepala Wuya. Tatapannya tajam, sama seperti tatapan mata binatang kesayangannya. Saat ini Mo Shing Wang tengah bertaruh dengan keberuntungan apakah Xiao Hua akan memberitahu orang-orang munafik itu tentang pertemuan mereka atau tidak.
"Yang Mulia!"
Yan Tze memberi hormat pada raja iblis. Dia lalu menatap Wuya sekilas. "Aku membawa kabar yang sedikit buruk untukmu."
"Kabar apa?"
"Seorang peri telah menyusup masuk ke wilayah kita dan melukai salah satu rakyat."
Kedua sisi rahang Mo Shing Wang langsung mengerat begitu mendengar aduan Yan Tze. Wuya yang merasakan amarah besar di diri raja iblis segera terbang dan berputar di atas langit-langit kamar. Ini kabar yang sangat buruk sekali.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Mo Shing Wang seraya berbalik badan menghadap Yan Tze. "Sampai di detik ini aku masih berbaik hati dengan tidak langsung menghancurkan mereka. Tetapi apa yang mereka lakukan? Bahkan di saat aku telah kembali, mereka masih lancang menyentuh rakyatku. Apa ini masuk akal?"
"Aku juga kaget saat mengetahui fakta ini, Yang Mulia. Dan untuk keadaannya sendiri aku telah memerintahkan tabib untuk mengobati," jawab Yan Tze ikut geram atas apa yang menimpa salah satu rakyat Kerajaan Cangyuan. "Yang Mulia, ini sudah tidak benar. Mereka tidak salah apa-apa, tapi harus menanggung rasa sakit yang tidak seharusnya mereka rasakan. Kalau masalah ini terus dibiarkan, lama-kelamaan klan kita akan dianggap lemah oleh orang-orang munafik itu. Kita harus secepatnya bertindak!"
"Lalu yang sedang kita lakukan sekarang apa? Aku tak bisa sesuka hati mengambil keputusan. Masih ada banyak hal yang harus dipertahankan agar tetap hidup di sini. Kalau tidak, aku pasti sudah menyerang kerajaan langit tanpa harus melibatkan Xiao Hua dalam masalah balas dendam kita. Semua tidak semudah yang kau pikirkan. Ingat itu!"
"Tapi ....
"Kita rubah rencana awal. Terlalu lama jika harus menunggu Xiao Hua memenangkan perlombaan!"
Yan Tze mengangguk. Jauh di dalam hati, ada sesuatu yang berkobar kuat begitu mendengar perkataan raja iblis. Dia pun sama, tak sabar jika harus menunggu Xiao Hua menjadi pemenang. Terlalu membuang waktu. Dan untungnya raja iblis menyadari hal ini dengan cepat.
"Saat dua kubu terlibat perselisihan, menurutmu cara apa yang paling aman untuk mengorek informasi lawan?" tanya Mo Shing Wang penuh maksud tersirat.
"Dengan memasukkan mata-mata ke kubu mereka," jawab Yan Tze yakin.
Mo Shing Wang menyeringai. Sedetik setelah itu dia menggelengkan kepala.
"Bukan?"
"Ya, bukan. Cara itu terlalu mudah ditebak oleh mereka."
"Lalu cara apa yang paling aman untuk dilakukan?"
"Tentu saja dengan langsung bernapas di tengah-tengah mereka. Dengan cara itu lawan mustahil menyadarinya."
Hening. Yan Tze sedikit bingung mencerna perkataan raja iblis. Bernapas di tengah-tengah musuh? Ini maksudnya bagaimana ya?
"Yan Tze, kau adalah seorang jendral. Hal semudah ini saja kau tidak bisa memahaminya?" ejek Mo Shing Wang. Setelah itu dia berjalan mendekati Yan Tze lalu menepuk pundaknya kuat. "Kita akan pergi ke Paviliun Leng. Dan mulai malam ini kita berdua akan tinggal di sana untuk memantau keadaan. Begitu medan kita ketahui, rakyat Kerajaan Cangyuan akan segera menerima keadilan atas apa yang mereka terima selama ini."
"Yang Mulia, jadi ini yang dimaksud dengan bernapas di tengah-tengah lawan?" ucap Yan Tze takjub akan rencana yang dibuat oleh raja iblis. Sungguh, ini sama sekali tak tertebak. Sangat jenius.
"Benar sekali. Raja langit pasti tidak akan menyangka kalau musuh yang mereka waspadai tinggal di kediaman salah satu dari mereka. Dengan begitu kita bisa leluasa mencari tahu kelemahan mereka!"
Perbincangan masih terus berlanjut hingga langit berubah gelap. Dan topik pembahasan mereka bukan hanya soal negeri kayangan saja, tapi juga tentang penyebab kematian raja iblis pendahulu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Asih Ningsih
ceritanya makin seru.tpi jgn lupa novel yg lainnya mak.
2023-12-13
0
Asih Ningsih
duuh yg mulai baper.
2023-12-12
0
Melia_Fu
kayaknya ada musuh dalam selimut deh di sini. ada yg sengaja ingin mengadu domba antara klan iblis sama klan peri. bener gk thor
2023-12-10
1