Lin Yuan tak henti-hentinya menghela napas sembari melirik ke arah depan di mana peri asuhnya tengah menangis sambil mengatupkan kedua tangan di atas kepala. Kesal, itu sudah pasti. Gara-gara kecerobohan peri ini, dia sampai dipanggil untuk menghadap raja langit. Ingin marah, tapi hati tak tega. Alhasil Lin Yuan hanya bisa mendiamkan peri tersebut sebagai bentuk hukuman atas kesalahannya.
"Paman, tolong berhentilah merajuk. Sumber air mataku sudah hampir mengering karena menangisimu sejak tadi. Tolong luluh lah," ucap Xiao Hua memohon sambil menangis sesenggukan. Dia takut sekali sang paman akan murka dan tak mau bicara lagi dengannya.
Sudut bibir Lin Yuan sedikit berkedut saat Xiao Hua mengatakan kalau sumber air matanya hampir mengering karena terlalu lama menangis. Namun karena takut peri ini akan menjadi keras kepala, sebisa mungkin dia bertahan agar tidak tertawa. Xiao Hua-nya sangat menggemaskan. Biasanya Lin Yuan akan langsung luluh jika peri ini mulai berceloteh kata nyeleneh yang mengundang tawa. Akan tetapi untuk kali ini ada sedikit pengecualian.
"Ayolah, Paman. Aku tahu aku salah, tapi janganlah mendiamkan aku seperti ini. Rasanya dunia seperti kiamat kalau kita tak bertegur sapa. Ya?"
"Mudah untukmu meminta maaf ya. Tahu tidak. Gara-gara kau memaksa datang ke istana langit, aku sampai mendapat sumpah serapah dari mereka karena membiarkanmu keluar dari Paviliun Leng. Hampir mati dimakan iblis pula. Dengan besarnya masalah yang kau buat lalu seenaknya saja kau memintaku untuk luluh?" omel Lin Yuan akhirnya buka suara. "Tidak, Xiao Hua. Kali ini aku harus memberimu hukuman supaya jera."
"Hukuman?" Xiao Hua membeo.
Glukkk
Begitu mendengar kata hukuman, bulu kuduk di tubuh Xiao Hua langsung berdiri semua. Takut, itu sudah pasti. Hukuman paling menyebalkan yang pernah Paman Lin Yuan berikan adalah dengan menyalin sebanyak seribu lembar kesalahan yang telah dia lakukan. Jika kali ini dia mendapat hukuman seperti itu lagi, maka tamatlah riwayatnya. Sebentar lagi seleksi pemilihan peri baru akan dilaksanakan. Xiao Hua bisa kalah kalau jari-jarinya yang lemah sudah lebih dulu kelelahan karena banyak menulis sebelum mengikuti seleksi itu.
(Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan untuk mencegah Paman Lin Yuan agar tidak memberikan hukuman menyebalkan itu? Impianku untuk menjadi pelayan Dewa Fu'er bisa kandas jika aku sampai kalah sebelum bertanding. Ah, gawat. Aku harus memikirkan cara jitu untuk keluar dari masalah ini. Ayo berpikir keras, Xiao Hua!)
"Apa? Sedang memikirkan cara untuk melarikan diri dari hukuman yang akan ku berikan?" ejek Lin Yuan sudah hapal akan rencana licik yang sedang dipikirkan oleh peri asuhnya. Benar-benar nakal sekali. Sudah salah bukannya bertobat, malah memikirkan cara lain untuk membuatnya semakin kesal.
"Kok Paman tahu kalau aku sedang berpikir seperti itu?" tanya Xiao Hua dengan polosnya. Sedetik setelah itu kedua matanya langsung terbelalak lebar. Dia keceplosan.
"Nah, kau mengaku sendiri pada akhirnya. Dasar peri nakal," jawab Lin Yuan berusaha untuk tidak tertawa. Xiao Hua sangat polos. Mulutnya seperti kendaraan yang tidak punya rem. Los begitu saja. Haha.
"Uhhhh, Paman."
Bibir Xiao Hua mengerucut tajam. Antara malu dan juga kesal pada diri sendiri, dia akhirnya menceritakan perihal seleksi pemilihan peri baru yang akan diadakan di istana langit. Percuma. Mau disembunyikan serapat apapun, Paman Lin Yuan pasti akan tetap mengetahuinya juga. Jadi sebelum ada orang lain yang mengabarkan, lebih baik dia katakan sendiri saja. Sekalian ingin langsung meminta ijin agar dibiarkan mengikuti seleksi tersebut.
"Paman, tadi saat aku berada di hutan peri aku tak sengaja menguping pembicaraan peri Lu Xianzi dengan teman-temannya. Mereka bilang tahun ini raja langit akan menyelenggarakan seleksi pemilihan peri baru yang nantinya akan tinggal di istana langit. Karena aku adalah bagian dari alam peri, aku berpikir ingin mengikuti seleksi tersebut. Harapanku sederhana kok. Cuma ingin menjadi pelayan Dewa Fu'er saja. Aku boleh ikut 'kan?"
Tak ada sahutan. Lin Yuan diam tak merespon penuturan Xiao Hua. Sudah tertebak. Peri ini pasti akan meminta ijinnya untuk mengikuti seleksi tersebut. Dan kali ini Lin Yuan merasa dilema. Di satu sisi dia merasa berat melepas Xiao Hua mengikuti kompetisi karena itu akan sangat menguras energi. Fisik Xiao Hua sangat lemah, takutnya nanti malah akan berakhir mengancam nyawa jika tetap dibiarkan ikut. Namun jika dilarang, perlu waktu seratus tahun lagi untuk bisa mengikutinya.
"Jangan diam saja, Paman. Ayo cepatlah jawab. Aku akan diijinkan mengikuti seleksi itu 'kan?" rengek Xiao Hua cemas melihat sikap sang paman yang malah diam seribu bahasa.
"Xiao Hua, tanpa harus banyak bicara kau pasti sudah bisa menembak apa jawabannya, bukan?" ucap Lin Yuan. "Kau lemah, fisikmu tak sama dengan peri-peri yang lain. Andai kau kuat, dengan senang hati aku pasti akan langsung mengijinkanmu mengikuti seleksi itu. Tolong mengerti ya?"
"Tapi Paman, aku ....
"Aku paham keinginanmu melayani Dewa Fu'er. Namun, di sisi lain kau juga harus bisa memahami kondisimu sendiri. Ini ku katakan bukan karena aku tak menyayangimu, tapi karena aku sangat takut kau akan terluka. Di kompetisi nanti semua peri akan berlomba-lomba untuk menjadi pemenang. Tidak menutup kemungkinan mereka akan saling berbuat curang demi menjadi peri pilihan. Coba kau pikirkan resiko apa yang akan muncul kalau kau tetap nekad ingin menjadi peserta!"
Kepala Xiao Hua langsung tertunduk dalam begitu mendengar penjelasan Paman Lin Yuan. Benar juga. Fakta membuktikan kalau dirinya memang peri yang lemah, tapi haruskah dia melewatkan kesempatan yang ada? Seleksi ini hanya diselenggarakan seratus tahun sekali. Xiao Hua teramat tidak rela jika harus berdiam diri di paviliun tanpa melakukan apapun demi rencana balas budi yang ingin dia lakukan pada Dewa Fu'er.
"Ternyata menyedihkan sekali ya terlahir sebagai peri lemah. Saat peri-peri lain bisa bebas melakukan apapun yang mereka mau, aku malah terkurung di paviliun sepi ini. Kalau begini ceritanya percuma saja aku menjadi bagian dari alam peri. Sepertinya Dewa telah menakdirkan aku agar menjadi peri kesepian sampai aku mati. Menyedihkan sekali," ratap Xiao Hua sambil menahan tangis.
"Jangan bicara seperti itu, Xiao Hua. Setiap yang terlahir ke dunia, mereka pasti membawa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan kita. Jadi jangan terlalu diratapi ya. Nanti Dewa marah," ucap Lin Yuan terenyuh mendengar ratapan Xiao Hua barusan.
"Paman, aku mau tidur dulu. Tenagaku banyak terkuras setelah dikejar-kejar oleh dua iblis. Tolong jangan menggangguku dulu ya,"
"Hei, kau ....
Lin Yuan berdecak pelan melihat Xiao Hua pergi sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Setelah itu dia termenung.
"Haruskah aku mengijinkan Xiao Hua mengikuti seleksi? Tapi bagaimana jika terjadi hal buruk padanya?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Melia_Fu
ijinin ada paman yuan,kasian xiao hua.
2023-12-11
0
Keysa Salsabilah❤️❤️❤️😘😘😘🥳
tumben Mak kok belum ada yg update 🤔jg kesehatan ya Mak,,aku menanti semua ceritamu Mak😍😍😍😍😍🙏💪🏻💪🏻💪🏻
2023-11-28
0
Asih Ningsih
mak sang penguasa hati n kisah karl n ilona kpn up nya kok lama banget.
2023-11-27
0