Sorot mata Xiao Hua seketika bersinar begitu menemukan keberadaan pria pujaannya. Dia yang datang dengan membawa seikat bunga warna-warni, tanpa sadar mengendap-endap melewati pepohonan yang akarnya menjuntai ke bawah. Memang dasarnya Xiao Hua adalah peri yang lemah, dia pun tak bisa menghindar ketika akar pohon melilit lehernya. Alhasil, tubuhnya pun tergantung, sedangkan bunga yang susah payah dicarinya jatuh berserak ke tanah.
(Suara siapa itu? Kenapa terdengar seperti orang yang sedang kesulitan bernapas? Apa jangan-jangan ada penyusup yang datang? Aku harus waspada)
Fu'er yang tengah sibuk mengasah ilmu sihirnya segera berbalik menghadap ke arah sumber suara. Dia yang tadinya mengira kalau suara berisik itu berasal dari penjahat yang datang menyusup, nampak kaget sekali saat mendapati sesosok wanita tengah terayun-ayun di udara dengan kondisi leher terlilit akar pohon.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Fu'er terheran-heran sendiri. Dia kemudian berbalik hendak menolong peri tersebut. Dan begitu sampai di dekatnya, alangkah kagetnya Fu'er saat mengetahui kalau wanita tersebut ternyata adalah peri bulan. "Xiao Hua, apa yang terjadi padamu? Mengapa lehermu bisa terlilit akar pohon?"
Tak bisa menjawab, Xiao Hua hanya terus menggerakkan kaki sambil memegangi akar yang melilit di leher. Wajahnya yang putih bersih seperti salju, kini berwarna merah kebiruan akibat pasokan udara yang mulai menipis di paru-paru.
Sadar kalau Xiao Hua mulai kehabisan napas, segera Fu'er menolongnya. Tepat ketika lilitan akar itu terlepas dari leher, Fu'er menangkap tubuh Xiao ke dalam pelukannya. Mereka kemudian saling menatap. Fu'er dengan tatapan datarnya, sedangkan Xiao Hua dengan tatapan penuh pesona. Sangat kentara kalau dia begitu mengagumi peri tampan satu ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Fu'er memecah kecanggungan.
"A-aku baik-baik saja," jawab Xiao Hua antara sadar dan tak sadar. Tak ingat posisi, dia dengan bodohnya menginjakkan kaki ke bawah. Hal ini mengakibatkan tubuhnya merosot dan hampir jatuh kalau Dewa Fu'er tak sigap menariknya ke atas.
Glukkk
(Xiao Hua, jangan bersikap bodoh dulu. Nanti Dewa Fu'er tidak suka padamu. Ayo bersikap yang anggun. Bodohnya disimpan untuk dirumah saja nanti!)
"D-dewa Fu'er, maafkan aku ya. Aku lupa kalau kemampuanku tidak sama dengan peri-peri yang lain. Maaf ya. Gara-gara aku sekarang kau jadi kerepotan" ucap Xiao Hua malu-malu.
"Jangan sungkan." Fu'er menurunkan Xiao Hua dari pelukan. Setelah itu dia menatapnya lekat. "Bagaimana lehermu? Apa masih sakit?"
"Emmm sedikit," jawab Xiao Hua seraya memegangi lehernya yang terasa perih. Aneh. Kenapa saat Dewa Fu'er memeluknya rasa perih ini tidak terasa? Lalu ketika pelukan mereka terlepas kenapa rasa sakitnya terasa begitu menyiksa? Lehernya seperti diiris-iris dengan belati beracun. Perih, panas, juga sakit. Sepertinya dia butuh pelukan Dewa Fu'er agar semua rasa tersebut bisa segera hilang. Hehe.
(Xiao Hua, kendalikan pikiranmu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ada Dewa Fu'er di depanmu. Fokus!)
Dahi Fu'er mengerut saat melihat Xiao Hua menggerutu lirih sambil menepuk kepalanya. Ada apalagi dengan peri ini? Jadi penasaran pada apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Ekhmmm, beberapa hari lagi istana langit akan mengadakan seleksi. Apa kau sudah mendengar kabar ini?" tanya Fu'er sambil berdehem pelan. Xiao Hua terlalu menggemaskan. Dia jadi tak tahan untuk tidak tersenyum. Namun karena takut disalah-pahami oleh peri tersebut, Fu'er memilih untuk bersikap datar.
"Sudah, aku sudah mendengarnya," jawab Xiao Hua dengan penuh semangat.
"Kapan? Kami bahkan baru membahasnya beberapa menit yang lalu. Darimana kau bisa tahu?"
"Kan tadi aku menguping saat peri Xianzi berbica ....
Wajah Xiao Hua memerah saat dia dengan jujur mengaku telah menguping pembicaraan Lu Xianzi dengan para peri yang lain. Malu, segera dia berjongkok kemudian menangkup wajah dengan kedua tangan. Dalam hati, Xiao Hua merutuki kebodohannya yang tidak ada obat. Bisa-bisanya di hadapan Dewa Fu'er dia mengaku telah melakukan tindakan yang tidak pantas. Ya ampun.
"Tidak perlu malu. Aku saja yang lupa kalau tadi telah menangkap basah seorang peri yang sedang menguping pembicaraan peri lain," ucap Fu'er sembari melihat ke arah lain. Sungguh, saat ini dia benar-benar tak tahan untuk tidak tersenyum. Kepolosan dan kejujuran Xiao Hua membuat hati membuncah dengan sendirinya. Padahal peri ini baru saja melakukan perbuatan yang kurang baik, tapi anehnya dia malah suka.
"Ini memalukan. Aku tidak seharusnya melakukan tindakan tercela. Tolong jangan membenciku," rengek Xiao Hua sambil menahan tangis. Dia masih belum berani menunjukkan wajah.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam muncul tak jauh dari tempat Fu'er dan Xiao Hua berada. Hal itu membuat kegembiraan di diri Fu'er terjeda. Memfokuskan pikiran, dia mencoba mencari tahu dengan cara mengendus angin yang tengah berembus. Saat itulah Fu'er tahu ada iblis yang datang menyusup.
"Xiao Hua, cepat cari tempat untuk berlindung. Ada iblis yang masuk ke hutan peri. Cepat!" perintah Fu'er seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat. Waspada.
"A-apa? Iblis?"
Secepat kilat Xiao Hua bangun kemudian berlari asal tanpa mempedulikan keberadaan Dewa Fu'er. Ingat kalau tadi sempat melihat lubang di salah satu pohon, dia pun bergegas menuju ke sana. Saking bodohnya, Xiao Hua lupa kalau dirinya sedang dalam misi diam-diam datang ke istana langit. Hingga dia tak memperhatikan ada beberapa peri yang tengah memperhatikannya dari kejauhan.
"Lu Xianzi, bukankah itu Xiao Hua ya? Kenapa dia bisa ada di tempat ini?"
Kedua tangan Lu Xianzi langsung terkepal kuat begitu mengetahui kalau si peri penyakitan, Xiao Hua, menyusup ke wilayah hutan peri di istana langit. Sorot matanya jelas menujukkan rasa ketidaksukaan pada peri tersebut. Tak mau mengulur waktu, Lu Xianzi mengajak semua teman-temannya untuk menghampiri Xiao Hua guna memberikan pelajaran.
"Wahhh, aku baru tahu ternyata lubang pohon bisa senyaman ini. Tahu begini kenapa tidak dari dulu saja aku melakukannya? Bodoh sekali," gumam Xiao Hua kegirangan sendiri. Tubuh yang mungil membuat Xiao Hua bisa dengan mudah duduk dan bersantai di dalam lubang. "Besok-besok kalau aku datang kemari lagi aku akan bersembunyi di pohon ini saja. Dengan begitu tidak akan ada siapapun yang tahu kalau aku datang untuk melihat De ....
Braakkkk
"Keluar kau, peri lemah. Beraninya kau menyusup ke wilayah istana langit. Minta dihukum apa bagaimana?" sentak Lu Xianzi geram.
Xiao Hua kaget setengah mati karena ketahuan oleh peri pembully. Takut akan dicelakai, dia segera beringsut semakin dalam ke lubang pohon. Xiao Hua berpikir kalau dengan cara ini dia bisa melarikan diri dari kekejaman Lu Xianzi. Namun, dia salah. Memang benar dirinya bisa lepas dari peri jahat tersebut, tapi di sudut lain, iblis yang membuatnya bersembunyi di sana tampak sedang menyeringai lebar sambil menunjukkan taringnya yang runcing.
"Halo, peri kecil. Kemarilah, sayang. Biarkan aku mencicipi tubuhmu yang lembut itu. Kemarilah," rayu si iblis sambil menelan air liur karena tak sengaja bersembunyi di tempat yang sama dengan seorang peri mungil. Jiwanya yang sedang kelaparan seketika meronta meminta untuk segera dipuaskan.
(T-to-tolong aku. Siapapun tolong akuuu!!)
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Melia_Fu
hayo lo xiao hua, kamu mau di hap sama iblis. larii
2023-12-08
0
Melia_Fu
bucin teroossss 😂
2023-12-08
0
Melia_Fu
cieeeeee, pandang2an ni ceritenye
2023-12-08
0