Kabar Baik

Lin Yuan melangkah masuk ke dalam paviliun seraya menyunggingkan senyuman lebar di bibir. Dari ekpresi yang muncul di wajah, menunjukkan ada kabar gembira yang dia bawa untuk seseorang. Dan seseorang tersebut tak lain dan tak bukan adalah peri yang selama ini diasuhnya, Bai He Hua.

"Xiao Hua, di mana kau?" teriak Lin Yuan tak sabar ingin segera menyampaikan kabar baik untuk peri nakal tersebut. "Xiao Hua!"

Tak ada sahutan. Paviliun begitu sunyi, sama sekali tak menunjukkan ada kehidupan di sana. Heran, Lin Yuan segera berpikir keras di mana kira-kira peri nakal itu berada. Tidak biasanya tempat tinggal mereka sunyi senyap begini.

(Xiao Hua tidak mungkin pergi mengunjungi Dewa Fu'er lagi 'kan? Ah, semoga saja tidak. Dia itu kan paling takut pada raja langit. Semoga saja dia memang tidak pergi ke sana. Hmmm)

"Hei kau peri nakal, cepat tunjukkan wajahmu. Ada hal penting yang harus segera kau dengar. Cepatlah!" ucap Lin Yuan kembali berteriak. Namun, lagi-lagi tak ada sahutan yang terdengar. Penasaran, dia menempelkan telinga ke daun pintu. Dan hasilnya nihil. Di dalam sana sangat sunyi. "Aneh sekali. Apa jangan-jangan ....

Khawatir Xiao Hua kenapa-napa, Lin Yuan segera membuka paksa pintu kamar milik peri tersebut. Dia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari di mana peri tersebut berada. Akan tetapi dia tidak menemukan siapa pun di sana. Xiao Hua tidak ada di tempat.

"Ke mana perginya peri nakal itu?" gumam Lin Yuan seraya menekan pelipis mata. Pusing, sekaligus khawatir. "Aku akan benar-benar memasungnya kalau dia sampai tertangkap lagi oleh raja langit. Huh!"

"Siapa yang ingin Paman pasung? Aku?"

Xiao Hua bersedekap tangan sambil menatap sinis pada sang paman yang tengah berada di dalam kamar miliknya. Entah apa yang sedang orangtua ini lakukan. Bisa-bisanya menerobos masuk ke kamar seorang wanita tanpa ijin. Cabul sekali.

"Mengagetkan saja!" omel Lin Yuan sembari mengusap dada. Jantungnya berdetak cepat sekali karena kaget ada yang tiba-tiba bicara. Segera dia berbalik kemudian melayangkan pertanyaan penuh selidik pada Xiao Hua. "Dari mana saja kau? Kenapa tidak menyahut saat aku memanggilmu?"

"Aku tidak ke mana-mana kok," jawab Xiao Hua jujur. Jari telunjuknya kemudian bergerak ke arah kaki sang paman. "Seharusnya pertanyaan ini aku yang menanyakan. Paman dari mana saja? Sejak semalam pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun padaku. Paman sedang kasmaran ya?"

"Kasmaran?"

"Iya. Aku pernah mendengar ada peri yang bicara soal tempat perjodohan. Dan sekarang aku curiga kalau Paman baru saja kembali dari tempat itu. Iya 'kan? Ayo mengaku."

Mulut Lin Yuan terbuka lebar sekali begitu mendengar tuduhan tak masuk akal yang dilayangkan oleh Xiao Hua. Sungguh, ingin rasanya dia mengikat tubuh peri nakal ini kemudian memasukkan buah per ke dalam mulutnya. Bisa-bisanya Xiao Hua menuduhnya mendatangi tempat perjodohan. Dikira dia peri murahan apa?

"Karena Paman diam, itu aku artikan sebagai persetujuan kalau memang benar Paman telah mendatangi tempat itu untuk mencari jodoh. Ckck, kasihan sekali. Sudah setua ini baru sibuk mencari pasangan. Miris," seloroh Xiao Hua sambil menggelengkan kepala. Dia iba akan nasib sang paman.

"Coba katakan sekali lagi?" tantang Lin Yuan menahan kesal. "Ku hitung sampai tiga. Kalau kau tidak segera meminta maaf padaku, aku tidak akan mengijinkanmu mengikuti seleksi di istana la ....

"Paman, aku minta maaf."

Secepat kilat Xiao Hua mengatupkan kedua tangan di depan dada dan meminta maaf pada sang paman. Tanpa harus mendengar perkataannya sampai selesai, dia sudah bisa menebak ke arah mana ancaman itu ditujukan. Jika biasanya Xiao Hua akan sedikit keras kepala, kali ini tidak dia lakukan. Demi Dewa Fu'er, dia rela mengalah. 😅

"Tolong jangan dimasukan ke dalam hati perkataanku barusan ya, Paman. Itu tidak sungguh-sungguh kok. Jangan marah ya?"

"Walaupun aku sudah tua, aku tak tertarik untuk mencari pasangan. Bagiku sudah cukup dengan merawatmu saja. Tahu?" ucap Lin Yuan tak bisa berlama-lama memendam kekesalan pada Xiao Hua. Sikap peri ini selalu membuatnya luluh dengan mudah.

"Iya-iya maaf." Xiao Hua mendekati sang paman kemudian menggaet sebelah lengannya. Dia lalu memasang senyum penuh tipu muslihat. "Karena sekarang aku sudah meminta maaf, aku akan diijinkan mengikuti seleksi di istana langit 'kan?"

"Tidak semudah itu Xiao Hua."

"Kenapa tidak? Kan tadi Paman bilang akan memberikan ijin kalau aku meminta maaf. Kenapa sekarang berkhianat?"

Terdengar hembusan napas panjang saat Xiao Hua menuduh Lin Yuan telah berkhianat. Mencoba sabar, Lin Yuan mengajaknya untuk duduk di kursi taman. Ada hal penting yang harus dia sampaikan pada peri nakal yang tengah menatapnya tanpa kedip.

"Fisikmu lemah. Kau tahu itu, bukan?"

Xiao Hua mengangguk. Meski fakta ini sangat membosankan untuk didengar, tapi dia tak memiliki alasan untuk menyangkal. Dia lemah, dan kenyataan ini telah diketahui oleh semua yang tinggal di alam peri.

"Seleksi pemilihan peri baru bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka akan saling adu kekuatan, bahkan tak jarang tega melukai satu sama lain demi mendapat penilaian terbaik dari para dewa!" ucap Lin Yuan sembari menghela napas panjang. "Aku sebenarnya sangat keberatan mengijinkanmu mengikuti seleksi tersebut. Namun, melihatmu yang begitu keukeuh ingin tetap mengikuti membuatku mau tidak mau harus luluh. Ya, aku memberimu ijin untuk mengikuti seleksi tersebut."

"Benarkah?"

"Tapi dengan satu syarat!"

"Syarat? Apa itu, Paman?"

"Saat kau merasa sudah tak mampu, maka kau harus segera menyerah apa pun yang terjadi. Ingat, Xiao Hua. Aku adalah orang pertama yang paling tidak rela jika harus melihatmu terluka. Jadi kau harus memastikan dirimu akan baik-baik saja agar diriku tidak khawatir. Bisa?"

Ada segelintir rasa haru yang menyeruak masuk ke dalam benak Xiao Hua saat merasakan ketulusan dibalik ucapan sang paman barusan. Dia mengerti, sangat amat mengerti kalau orangtua ini begitu menyayanginya. Gejolak rasa ini akhirnya membuat kedua mata Xiao Hua berkaca-kaca. Setelah itu dia meringsek masuk ke dalam pelukan sang paman dan mulai menangis sesenggukan di sana.

"Hiksss, terima kasih, Paman. Aku berjanji tidak akan terluka saat mengikuti seleksi itu. Sungguh!"

"Aku pegang kata-katamu ya," sahut Lin Yuan seraya membelai rambut panjang Xiao Hua yang tebal dan juga lembut.

(Peri asuhku begitu terawat. Tolong jaga dia untukku, wahai Dewa. Aku begitu menyayanginya)

"Tolong doakan agar aku mendapat penilaian terbaik dari semua dewa ya. Dengan begitu aku bisa dengan mudah melayani Dewa Fu'er di masa depan. Ya ampun, membayangkan hal itu membuat dadaku jadi berdebar-debar. Pasti menyenangkan sekali jika bisa melihat Dewa Fu'er setiap hari. Benar tidak, Paman?"

Keharuan yang tadi Lin Yuan rasa, seketika musnah saat Xiao Hua mulai mengatakan hal-hal tak masuk akal yang berhubungan dengan Dewa Fu'er. Antara kesal dan juga tergelitik, Lin Yuan mengeratkan pelukan hingga Xiao Hua berteriak karena kesulitan bernapas. Bukannya kasihan, yang ada Lin Yuan malah tertawa terbahak-bahak karenanya. Kejadian ini disaksikan langsung oleh Ge Zi dan juga kupu-kupu yang beterbangan di taman. Sangat manis.

***

Terpopuler

Comments

Lina maulina

Lina maulina

sabar paman

2023-12-19

0

Lina maulina

Lina maulina

sblm rekannasi atau sesudah tetap mulut nya🤭

2023-12-19

0

Melia_Fu

Melia_Fu

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2023-12-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!