Mengambil Keputusan

"Yang Mulia, kau yakin ingin menjadikan peri itu sebagai bidak agar bisa memasuki istana langit?"

"Apa kau merasa keberatan?"

"Bukan, bukan seperti itu. Kami hanya khawatir saja kalau dia malah menjadi boomerang untukmu. Meskipun bodoh, peri itu tetaplah bagian dari klan menjijikkan itu. Takutnya nanti dia menyadari rencanamu kemudian berbalik melakukan serangan pada klan kita. Maaf, ini hanya sekadar keresahan kami sebagai rakyatmu. Mohon kau jangan tersinggung!"

Datar, itu ekpresi yang muncul di wajah Mo Shing Wang saat mendengarkan pendapat dari para bawahannya. Sengaja dia melakukan debat terbuka agar bisa melihat langsung seperti apa reaksi anggota Kerajaan Cangyuan dalam menyikapi keputusannya yang ingin menjadikan salah satu peri sebagai bidak umpan untuk balas dendam. Juga bukan tanpa alasan mengapa Mo Shing Wang mengatakan hal ini. Sebagai pemimpin baru, dia jelas tak mau dirinya di cap sebagai raja yang arogan. Jadi bersikap jujur adalah jalan terbaik untuk menghindari terjadinya perselisihan di antara anggota Kerajaan Cangyuan.

"Yang Mulia, coba kau pertimbangkan lagi keputusan itu. Karena mau sebodoh apa pun mereka tetaplah golongan peri yang picik dan munafik. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu dan juga seluruh rakyat Kerajaan Cangyuan. Tolong pertimbangkanlah lagi!"

"Hanya ini cara tercepat agar bisa segera membalas penghinaan yang telah mereka lakukan pada klan kita. Tetapi jika kalian merasa keberatan, baiklah. Aku tidak akan melanjutkan rencana ini," sahut Mo Shing Wang mengalah.

"Kenapa kau bicara seperti itu?"

"Karena memang hanya cara itu saja yang paling ampuh untuk menghancurkan orang-orang munafik itu. Dengan begitu aku baru bisa memulihkan kehidupan di Kerajaan Cangyuan seperti semula. Bukankah ini yang kalian inginkan?"

Yan Tze menatap satu-persatu orang yang tengah saling berbisik di hadapan raja iblis. Sebagai salah satu saksi yang menyaksikan langsung seperti apa penderitaan rakyat di Kerajaan Cangyuan, jelas Yan Tze sangat memaklumi pergolakan kubu di antara mereka. Dibalik rencana raja iblis yang ingin menjadikan Xiao Hua sebagai bidak catur, keyakinan orang-orang ini terbagi menjadi dua bagian. Hal ini sangat lumrah mengingat apa yang telah dialami oleh klan iblis. Yan Tze tak bisa menyalahkan mereka.

"Yang Mulia, bukankah sekarang kehebatanmu sudah bertambah semakin kuat? Lalu mengapa kau harus bergantung pada seorang peri lemah hanya untuk menghancurkan istana langit? Juga dengan api neraka yang telah kau kuasai sepenuhnya. Haruskah semua ini terjadi?"

"Dengarkan aku baik-baik!" Mo Shing Wang menghela napas. Dia kemudian bangkit dari duduknya. Seraya mengedarkan tatapan menghunus kepada para bawahannya, dia mengatakan satu kebenaran tentang istana langit. "Memang benar kalau kemampuanku sekarang tidak ada yang bisa menandingi selain kekuatan dari klan leluhur yang telah hilang dari ribuan tahun lalu. Akan tetapi, kekuatan itu masih belum cukup untuk menembus keamanan di istana langit. Butuh seseorang yang bisa dijadikan tameng agar keberadaanku di sana tidak diketahui oleh mereka. Kalian jangan lupa. Mereka memiliki pasukan yang kemampuannya hampir setara dengan pasukan perang milik klan iblis. Jadi dengan menetapkannya sebagai bidak, itu akan mempermudah rencana balas dendam klan kita. Paham?!"

Hening. Tak ada satupun orang yang berani melakukan protes setelah mendengar penjelasan dari raja iblis. Melihat hal itu pun Mo Shing Wang merasa sedikit lega. Dengan bungkamnya mereka cukup menjadi jawaban kalau semuanya telah setuju dengan rencana yang ingin dia lakukan.

"Yan Tze!"

"Iya, Yang Mulia." Yan Tze mendekat. Segera dia menekuk satu kaki sambil menempelkan sebelah tangan di dada. "Aku siap menerima perintah darimu!"

"Cari tahu di mana peri lemah itu tinggal. Dari cara mereka saling bicara, sepertinya dia tak tinggal di istana langit!" ucap Mo Shing Wang memberikan titah pada jendral kepercayaannya. "Aku sudah tidak sabar ingin segera mengembalikan apa yang seharusnya mereka rasakan. Seratus tahun ... ini sudah lebih dari cukup untuk mereka bersenang-senang."

"Baik, Yang Mulia. Aku permisi!"

Dalam sekejap mata Yan Tze telah menghilang dari pandangan semua orang. Wuya yang sejak tadi hanya diam bertengger di atas kursi raja iblis, tiba-tiba terbang mengelilingi ruangan seraya memperdengarkan suaranya yang keras dan juga lantang. Mo Shing Wang tahu, ini adalah pertanda baik yang coba burung kesayangannya sampaikan. Wuya, selain menjadi duplikat emosinya, juga menjadi cenayang dadakan yang memberi tanda berhasil tidak berhasilnya sebuah rencana. Dan kali ini burung tersebut memberikan kabar yang sangat menggembirakan. Kemenangan sudah ada di depan mata.

"Kalian pergilah. Aku butuh waktu untuk memikirkan rencana balas dendam kita!" perintah Mo Shing Wang meminta semua orang untuk segera pergi dari hadapannya.

"Baik, Yang Mulia. Kami permisi!" sahut semua orang sembari membungkuk memberi hormat. Setelah itu mereka semua keluar meninggalkan sang raja iblis seorang diri di dalam ruang pertemuan.

Sepeninggal semua orang, Mo Shing Wang kembali duduk di singgasananya. Dia lalu menepuk bahu, memberi kode agar Wuya bertengger di sana.

"Seratus tahun lamanya klan kita menerima penghinaan yang begitu hebat dari klan peri. Harusnya kali ini rencanaku tidak gagal. Jantungku seperti direm*s setelah melihat langsung penderitaan yang dialami oleh rakyatku. Itu sangat menyakitkan!" ucap Mo Shing Wang sembari mengepalkan kedua tangan. Emosi yang begitu besar, ikut muncul di diri Wuya. Kedua mata burung tersebut seketika berubah hitam dan suasana mencekam langsung memenuhi seisi ruangan. "Aku tidak bisa menerima semua penghinaan ini, Wuya. Pohon kehidupan yang harusnya memberi kemakmuran di Kerajaan Cangyuan, malah berbalik menjadi boomerang yang mematikan. Dan sekarang aku paham kenapa dulu Ayah sampai nekad ingin mengambil ekstrak keabadian di pohon takdir milik klan peri. Rupanya mereka adalah dalang dibalik semua kesengsaraan ini. Menjijikkan!"

Seratus tahun lalu, Kerajaan Cangyuan tiba-tiba diterpa badai aneh di mana sumber kehidupan mereka menjadi kering tanpa sebab yang jelas. Dan sebagai ketua di kerajaan iblis, Mo Yao Shin, memutuskan untuk mencari tahu penyebab masalah tersebut. Saat sedang menyelidiki akar dari masalah itu, satu bukti mengarahkannya pada seorang peri yang diam-diam mengambil sumber makanan di pohon kehidupan milik klan iblis. Mo Yao Shin marah, lalu mengejar peri tersebut yang ternyata bersembunyi di dalam pohon berwarna keemasan milik para peri. Namun sayang, kemunculannya di sana malah disalah-artikan oleh penjaga istana langit. Mo Yao Shin kalah, dan akhirnya meninggal karena terluka parah. Sayangnya kebenaran ini tidak ada yang mengetahui selain peri yang saat itu dikejar oleh Mo Yao Shin. Hingga akhirnya terjadilah peperangan besar antara klan iblis melawan klan peri.

Mo Shing Wang yang terluka parah setelah bertarung dengan Dewi Zao Jhi, memutuskan untuk bertapa guna memulihkan keadaan sekaligus memperdalam kekuatan ilmu api nerakanya. Sebagai satu-satunya orang yang memiliki kekuatan api neraka, jelas bukan hal yang sulit untuk Mo Shing Wang kembali seperti sedia kala. Namun, begitu keluar dari pertapaan, dia langsung dihadapkan pada satu kenyataan yang sangat menguncang jiwa. Rakyatnya sengsara.

"Mata di balas mata dan nyawa harus di balas nyawa. Tunggulah. Aku pasti datang untuk menuntut balas atas apa yang telah kalian perbuat. Dasar makhluk munafik. Cuihhhh!"

***

Terpopuler

Comments

Lina maulina

Lina maulina

d jaman kerajaan udah ada api neraka 😅

2023-12-19

0

Melia_Fu

Melia_Fu

ternyata kehidupan di langit hampir sama dgn kehidupan di dunia

2023-12-11

0

Asih Ningsih

Asih Ningsih

iya trnyata di dunia peri juga ada yg jahat juga ya.

2023-12-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!