Angel membuka pintu kamar Lion dengan perlahan satu jam kemudian. Ia menunggu suasana rumah terlihat sepi dan memutuskan untuk menemui Lion dikamar pria itu. Setelah menutup pintu kamar Lion, ia menatap ke arah tempat tidur besar dan melihat Lion sudah tertidur.
Angel mendekati tempat tidur Lion dan merapikan selimut pria itu. Wajah tampan Lion terlihat pucat dan juga mengeluarkan keringat dingin. Angel menyentuh kening pria itu dan merasakan Lion kembali demam. Ia mengambil obat untuk menurunkan demam dan meminumkannya pada pria itu.
''Angel'' gumam Lion menatap Angel yang mencoba membangunkannya.
''Kau demam, Lion. Kau harus minum obatmu setelah itu kau bisa kembali tidur'' ucap Angel menyodorkan obat dan juga segelas air.
"Kenapa kau sangat lama?" Lion berkata kemudian meminum obat yang diberikan Angel padanya.
"Aku ketiduran" jawab Angel berbohong.
"Apa kau tidur dengan pakaian seperti itu?" ucap Lion melihat pakaian yang dikenakan Angel.
"Aku tidak membawa baju tidur. Ada apa kau menghubungiku?" Angel berkata sambil merapikan selimut pria itu.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk menemaniku?" jawab pria itu dengan tatapan tajam kearah Angel.
"Kenapa aku harus menemanimu?" tanya Angel membalas tatapan Lion.
"Bukankah kita suami istri dan seharusnya kau yang merawatku, bukan?" jawab Lion membuat Angel terdiam dan mundur perlahan.
"Apa kau mengingatku?" tanya Angel merasa jantungnya berdebar.
"Aku belum mengingat apapun. Mungkin saja jika kita menghabiskan waktu bersama aku akan mengingatmu." Jawab Lion tanpa menatap wajah Angel.
"Apakah kepalamu sakit saat kau mengingat sesuatu?" tanya Angel.
"Hmm." Jawab Lion menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Angel lagi.
"Kepalaku berputar dan terasa sangat sakit, setelah itu aku sulit untuk bernafas" jawab Lion mengingat bagaimana rasa sakit itu datang.
"Apakah kau mengingat sesuatu saat kau pingsan sore tadi?" tanya Angel lagi merasa cemas dengan keadaan Lion.
"Hanya ingatan samar saat kau membuka pintu, kemudian bunyi lonceng yang sangat tajam membuat kepalaku sakit. Tapi aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas. Itu seperti kejadian berulang" Jawab Lion mencoba mengingatnya.
"Jangan memaksakan dirimu, aku tidak ingin kau merasakan sakit seperti sore tadi" gumam Angel pelan kemudian berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil baju tidur yang memang sudah tersedia sejak mereka menikah dulu.
Angel memilih baju tidur yang tidak terlalu terbuka, karena tidak ingin Lion mengira dirinya sengaja menggoda pria itu. Setelah berganti pakaian dan mencuci wajahnya ia kembali ke tempat dimana Lion lagi-lagi sudah kembali tertidur.
Angel berbaring disamping Lion dan menatap wajah pria itu yang begitu berbeda ketika ia terbangun. Wajah tampannya selalu membuat Angel mengingat masa-masa dimana mereka menghabiskan banyak waktu dengan bersenang-senang. Lion yang begitu mencintainya dan sikap posesifnya selalu membuat ia merasa dicintai.
Bunyi nafas Lion yang teratur membuat perasaan Angel menjadi tenang. Demam pria itu sudah mulai turun ketika ia menyentuh kening Lion. Setelah mematikan lampu, ia kembali merapikan selimut mereka berdua dan meletakkan tangannya diatas lengan pria itu.
"Maafkan aku, Lion. Kau benar. Sesakit apapun yang aku rasakan ketika kehilangan bayi kita, seharusnya aku tetap berada disampingmu. Seharusnya aku ada saat kau bangun dari koma." gumam Angel pelan dan meneteskan airmata. Ia kemudian menutup matanya dan ikut tertidur.
...****************...
"Kau mau kemana, Landon?" tanya Lauren ketika melihat keponakannya berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
"Aku akan membangunkan Angel, Aunty." Sahut Landon menjawab pertanyaan Lauren.
"Jangan berani berbuat macam-macam dengan menantuku, Landon. Aku akan memukulmu" teriak Lauren membuat Oliver yang berada di sampingnya tertawa.
"Apa yang kau tertawakan, Honey?" tanya Lauren pada Oliver dan memberikan ciuman selamat pagi dipipi pria itu.
"Aku selalu merindukan teriakanmu setiap pagi. mengingatkanku ketika kita masih tinggal bersama anak-anak." Jawab Oliver membalas ciuman Lauren lembut.
"Aku juga merindukannya. Waktu cepat berlalu dan kita sudah menjadi kakek dan nenek" ucap Lauren tertawa mengingat bagaimana perasaannya ketika pertama kali menggendong cucunya dan dipanggil Grandma.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Oliver menggenggam tangan Lauren.
"Luar biasa. Sangat luar biasa" jawab Lauren tersenyum.
"Aunty? Aunty?" sahut Landon yang sudah berada disamping Lauren.
"Ada apa, Landon. Di mana Angel?" tanya Lauren melihat Landon hanya turun sendirian.
"Angel tidak ada dikamarnya, Aunty." Jawab Landon membuat Lauren terkejut dan berdiri.
"Apa maksudmu? Angel tidak berada dikamarnya? Lalu dimana menantuku?" tanya Lauren lagi.
"Entahlah. Aku mengetuk pintu kamarnya berulangkali dan tidak ada sahutan. saat aku mencoba membukanya, pintu kamar Angel tidak terkunci dan aku tidak melihatnya. Tempat tidurnya juga masih rapi seolah tidak ditiduri sama sekali" jawab Landon cepat.
"Aku akan memeriksanya" ucap Lauren kemudian dihentikan oleh Oliver dengan menahan lengannya.
"Angel baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan turun. Tidak perlu memeriksanya" ucap Oliver dengan suara tenangnya.
"Apa kau tahu dimana Angel?" tanya Lauren menatap wajah suaminya.
"Hmm. Angel berada dikamar Lion. Mereka tidur bersama sejak semalam" jawab Oliver santai.
"Owh.. Benarkah yang kau katakan, Honey?" tanya Lauren yang terlihat senang dengan apa yang ia dengar.
"Uncle tahu darimana?" tanya Landon yang terlihat kesal.
"Aku ingin memeriksa keadaan Lion dan terkejut ketika melihat mereka tidur bersama." Jawab Oliver dan tertawa melihat reaksi Landon.
"Apakah kak Lion sudah mengingatnya?" tanya Landon lagi.
"Entahlah, lagipula itu urusan mereka berdua. Kau hanya tidak perlu menganggu menantu kesayanganku lagi" jawab Lauren menatap Landon dengan tatapan peringatan.
"Kami hanya berteman. Lagipula dia istri kak Lion. Aku tidak ingin wajahku yang tampan ini dihajar olehnya" ucap Landon membuat Julia yang baru saja tiba tersenyum dan mengacak-acak rambutnya.
Sementara itu cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela kamar Lion. Angel yang masih tertidur pulas terlihat nyaman berada dalam dekapan lengan Lion dan bibir pria itu tepat berada dikening Angel.
Lion bangun pertama kali dan terkejut dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Mereka saling berpelukan dan ia tidak berani untuk menggerakkan tubuhnya. Dirinya merasa seolah-olah terkunci dan tidak ingin membuat Angel terbangun dan tiba-tiba berteriak.
Butuh waktu beberapa menit bagi Lion untuk bisa melepaskan pelukan Angel dipinggangnya. Dengan perlahan Lion merubah posisi mereka dan merapikan selimut Angel yang memperlihatkan sebagian paha mulusnya.
Lion menatap wajah polos Angel tanpa make up dan terdiam. Angel terlihat sangat cantik dengan bibir merahnya dan juga kulitnya yang lembut. Lion mencoba menyentuh pipi Angel dan terdiam ketika wanita itu membuka matanya. Mereka saling berpandangan beberapa saat, yang akhirnya entah siapa yang memulai mereka akhirnya saling berciuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments