Satu Hati

''Kakak? Kau datang menemuiku?'' teriak Vivienne memeluk Lion erat.

"Aku ingin melihat ponakanku dan memeluknya'' ucap Lion kemudian berjalan mendekati J.D yang sedang menggendong putranya.

"Kau naik apa kesini? Kau tidak di izinkan membawa mobil sendiri.'' tanya Vivieene cemas.

"Tenanglah. Aku naik taksi kesini dan aku mampir ke tokomu. Ponselku mati, jadi aku tidak bisa menghubungimu dan aku ingat tokomu yang sangat terkenal itu, lalu menuju kesana dan menanyakan alamat rumahmu pada pegawaimu yang ada disana.'' Jawab Lion santai dan fokus pada ponakannya, tanpa tahu Vivienne dan juga J.D terkejut dan saling memandang.

"Kau ke tokoku dan menanyakan alamatku pada pegawaiku? Lalu apa yang terjadi padanya?'' tanya Vivienne dengan suara pelan.

"Apa maksudmu? Tidak terjadi apa-apa padanya, dan aku akui dia sangat cantik untuk menjadi pegawaimu dan sedkiti misterius'' jawab Lion menatap Vivienne dengan tersenyum lembut.

"Apa kau tidak mengingatnya?'' tanya Vivienne lagi.

"Aku tidak mengingatnya, dan sepertinya dia mengenalku karena aku mendengar dia memanggil namaku. Apakah kami cukup dekat? Karena dia memanggilku Lion. Dan itu hanya panggilan untuk orang-orang yang dekat denganku'' ucap Lion sedikit terkejut.

"Apakah dia akan kecewa jika aku tidak mengenalnya, Vivienne?'' tanya Lion lagi.

"Kalian memang cukup dekat dan aku rasa dia akan sangat kecewa karena kau tidak mengenalinya'' ucap Vivienne pelan.

"Aku akan meminta maaf padanya dan menjelaskan semuanya besok'' Lion berkata dengan wajah merasa bersalah.

"Kau tidak perlu memaksakannya, kak. Mungkin seiring waktu kau akan mengingatnya lagi'' ujar Vivienne kemudian duduk disamping kakaknya.

'Dia sangat cantik. Apakah dulu aku menyukainya?'' tanya Lion membuat J.D tersedak dengan minumannya.

"Kakak? Apa kau jatuh cinta padanya?'' tanya Vivienne cepat.

"Jatuh cinta? Entahlah. Aku seperti merasakan perasaan yang berbeda saat melihatnya'' jawab Lion.

''Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Angel. Dia wanita yang sangat cantik dan semua pria memujanya'' ucap Vivieenne tersenyum.

"Termasuk suamimu?'' tanya Lion membuat ia mendapatkan tendangan dari J.D.

''Jadi kau akan mendekati Angel?'' tanya J.D ketika Vivienne masuk kedalam kamar menidurkan putra mereka.

"Jadi namanya Angel? Nama yang bagus, sesuai dengan wajah cantiknya'' gumam Lion tersenyum tipis.

''Kau sangat menyukainya dulu, dan bahkan mengejarnya bertahun-tahun. Aku hanya ingin kau mengingat Angel dalam pikiranmu, Lion. Karena jika aku ceritakan akan sangat berbeda rasanya'' gumam J.D pelan membuat Lion menatapnya dengan terkejut.

"Apakah kau tidak sedang bercanda denganku, J.D? Meski kau sekarang adik iparku, aku masih bisa memukulmu'' sahut Lion menatap tajam ke arah J.D.

''Apakah kau pria yang mudah di ajak bercanda?'' balas J.D membalas tatapan Lion.

"Oh, hentikan apa yang sedang kalian lakukan. Kenapa kalian selalu berdebat jika sedang bersama?'' sahut Vivienne.

''Siapkan aku makan malam, Vivienne. Aku sudah sangat lapar'' ucap Lion meninggalkan ruang tamu menuju kamar mandi.

Lion menatap wajahnya di cermin yang ada dikamar mandi, Ia berusaha mengingat wajah Angel. Wanita yang ia temui beberapa saat tadi. Ia masih mencoba mencerna ucapan J.D yang mengatakan bahwa ia sangat menyukai wanita itu dan mengejarnya bertahun-tahun.

Lalu, kenapa wanita itu tidak ada disaat ia terbangun dari komanya? Dan kenapa wanita itu bersikap biasa saja saat bertemu dengannya tadi? Memang sekilas wanita itu terkejut saat melihatnya. Tapi ia bersikap seolah mereka tidak dekat. Apakah mereka tidak menjalin hubungan?

Dirinya bukan pria yang akan mengejar-ngejar seorang wanita dan tidak bisa menaklukannya?. Apakah wanita itu menolaknya? Oh, sial dia merasa sakit kepala karena memikirkan perkataan J.D.

-----------------

Dan keesokan harinya, Lion sudah berada di depan apartemen Angel dan mengetuk pintunya berulangkali. Hari masih sangat pagi dan ia yakin wanita itu masih tertidur. Lion tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu Angel. Sejak semalam ia tidak bisa memejamkan matanya dan pikirannya selalu terbayang-bayang akan wanita itu.

Angel yang merasa kesal dengan suara gedoran pintu membuka pintu apartemennya dan bersiap memarahi siapapun yang sedang mengganggu tidurnya, terdiam ketika mengetahui siapa yang ada di hadapannya.

''Hai, selamat pagi. Kau terlihat sangat cantik ketika bangun tidur'' ucap Lion yang terpana dengan penampilan Angel yang acak-acakan.

Angel yang sadar siapa yang ada dihadapannya, dengan cepat menutup pintunya dan merapikan rambutnya. Ia mencoba mencubit pipinya dan merasakan sakit. ''Apa yang pria itu lakukan diapartemennya dipagi hari?" gumam Angel dalam hatinya.

''Apakah kau masih disitu?'' teriak Lion dari luar pintu.

"Ini masih sangat pagi, dan apa yang kau lakukan dengan datang ke apartemenku?'' sahut Angel membuka pintu perlahan.

''Diluar sangat dingin. Bisakah kau mengijinkan aku masuk?'' tanya Lion menatap wajah Angel yang terlihat sangat cantik meski tanpa riasan apapun.

"Masuklah'' ucap Angel yang melihat Lion gemetar kedinginan. "Aku akan membuatkanmu kopi''

''Berapa lama kau bekerja di toko milik Vivienne?'' tanya Lion yang mengikuti Angel ke dapur.

"Baru beberapa bulan'' jawab Angel yang merasa tangannya gemetar ketika Lion berada dekat dengan dirinya.

"Apakah kita dulu sangat dekat?'' tanya Lion dibelakang Angel, membuat dirinya menumpahkan kopi panas ditangannya.

Lion yang juga terkejut, dengan cepat mengambil tangan Angel dan meletakkannya dibawah guyuran air dingin. Angel yang merasakan sentuhan Lion membuat hatinya terasa sakit dan meneteskan airmata.

"Maafkan aku. Apakah sangat perih?'' tanya Lion yang melihat Angel mengeluarkan air matanya.

Angel menjawabnya dengan anggukan kepala, kemudian dirinya dibawa menuju sofa yang ada diruang tamu. Pria itu mencari kotak obat dan dengan mudah menemukannya, seolah dirinya pernah berada di apartemen Angel.

"Jika luka ini membekas dikulitmu, aku akan bertanggung jawab'' gumam Lion ketika mengoleskan saleb ke kulit Angel yang memerah dan sedikit melepuh.

Lion masih belum melepas tangan Angel dari genggaman tangannya, dan pria itu menatap mata Angel yang indah dan terlihat sedih. Lion kemudian menyentuh pipi Angel dengan lembut dan mengusap sisa air mata wanita itu. Dan entah apa yang membuat Lion berani mencium Angel dengan kuat dan keras, seolah bibir Angel adalah sesuatu yang ia ingin rasakan sejak ia terbangun dari komanya.

Angel yang terkejut dengan akhirnya membalas ciuman Lion dengan sama kuatnya. Angel mengalungkan kedua tangannya dileher Lion dan memperdalam ciuman mereka. Tangan Lion bergerak naik turun dipunggung Angel dan merasakan wanita itu tidak memakai apapun dibalik pakaian tidurnya.

Nafas Angel tersenggal-senggal. '' Apa yang sedang kita lakukan?'' tanya Angel ketikan tangan Lion menjelajahi punggung Angel dengan lembut, membuatnya nyaris gila.

''Nikmati saja'' bisik Lion kemudian mencium rahang Angel dan meninggalkan beberapa tanda merah disana.

Reaksi Angel mempengaruhi Lion dengan sangat kuat dan ia ingin membawa wanita itu dikamarnya dan bercinta sepanjang hari. Lion membenamkan wajahnya dirambut Angel yang lembut dan berjuang keras mengendalikan dirinya.

"Apakah kita pernah bercinta, Angel?'' tanya Lion ditelinga Angel.

"Apakah kau tidak mengingatnya, Lion? tanya Angel tanpa menjawab pertanyaan Lion.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!