Ahmad menggelengkan kepalanya “Kamu akan mengerti suatu saat, sekarang aku ingin kamu mempercayaiku Rose.”
“Pertanyaan apa itu, tentu saja aku mempercayaimu” Rose sedikit marah.
Ahmad mengangguk lalu menyeret Rose, melanjutkan perjalanan.
Sambil berjalan Rose terus berpikir keras, mencoba mencerna semua yang kekasihnya katakan. Semakin dia mengerti semakin dia mengernyitkan alisnya “darling, apa orang jahat akan merubah manusia dengan batu itu?”
Ahmad mengangguk “Ya Rose, manusia tidak akan bisa menahan godaan untuk mendapatkan kekuatan dan umur panjang, Sejarah sudah membuktikan”
“Aku akan memberitahu Papa mengenai ini.”
“Jangan Rose, orang di sekitar ayahmu juga tidak bisa di percaya, kamu hanya akan menyakiti Papamu kalau memberitahunya sekarang.”
Rose diam sejenak dan menenangkan dirinya, “Hah maaf, aku terlalu ceroboh.”
Ahmad mengangguk “Tentu saja ada beberapa orang baik yang sungguh-sungguh mencari solusi untuk memusnahkan cacing itu, aku tidak akan menghalangi keduanya, aku hanya mencari cara untuk melindungi keluargaku” Ahmad meremas tangan Rose.
“Honey, kamu terlihat keren sekarang”
“Untungnya kita di hutan sekarang” Ahmad terkekeh.
“Oh, apa kamu menantangku honey?” Rose menggigit bibirnya perlahan.
Beberapa waktu berlalu, tidak ada suara hewan yang terdengar, Ahmad merapikan pakaiannya dan tersenyum kecut, “Jangan menantang bule, jangan menantang bule” Ucap Ahmad di benaknya berkali-kali.
Rose yang sudah rapi, memegang tangannya dan melanjutkan perjalanan. “Semakin kita dekat dengan danau tidak ada death kisser yang kita temukan” Ucap Ahmad lirih.
Rose dengan wajahnya yang cerah tersenyum cantik “Hmm, kamu benar”
Akhirnya setelah mereka berjalan berjam-jam, mereka sampai di lokasi danau tersebut. Ahmad dan Rose mengamati situasi di sekitarnya. Danau yang cukup besar ini terletak tepat di tengah hutan, pohon tinggi dengan daun lebat menghalangi sinar matahari, terasa seperti di dalam stadion sepakbola.
Ahmad perlahan mendekat ke tepian danau, melihat pantulan wajahnya dan Rose di permukaan air.
Perlahan dia menurunkan tangannya, Rose mencengkram lengannya “Apa yang kamu lakukan?”
“Seharusnya tidak ada cacing itu di air Rose”
“Bagaimana kamu tahu kalau makhluk itu tidak ada di air?” Tanya Rose dengan marah.
“Kamu lihat sendiri sejak kita berangkat, kita tidak bertemu satu hewan pun disini”
“Tetap saja itu tidak bisa membuktikan kalau tidak ada hewan di air” Rose berkata sedikit berteriak.
“Hah? Apa itu di Semak-semak” Ujar ahmad tiba-tiba melihat di belakang Rose.
Rose langsung siaga dan membalikan tubuhnya ke arah yang di maksud Ahmad. Melihat tidak ada yang bergerak di kejauhan, Rose mengernyitkan alisnya dan segera berbalik ke Ahmad.
“Amati aku dengan baik, kalau aku berubah menjadi death kisser…bunuh aku Rose Wilson” Ahmad berkata dengan tangannya yang sudah terbenam di air danau.
Mata Rose berkaca-kaca, air mata jatuh dari pipinya, tubuhnya bergetar, Rose menangis melihat Ahmad memasukan tangannya di danau.
Ahmad langsung bangkit dan memeluk tubuh indah Rose “Tidak apa-apa, aku baik Rose” Ahmad mencium Rose selama beberapa menit sampai dia tenang, “Lihat, Aku baik-baik saja, tidak ada cacing di dalam danau.”
Rose memandang Ahmad dengan marah “Jangan melakukan hal seperti ini lagi padaku.”
Ahmad mengangguk dan membelai rambut pirangnya “Kamu terlihat cantik sekali saat marah Rose Wilson.”
“Apa kamu menantangku lagi?” Ucap Rose dengan pipi yang masih basah.
Ahmad tersenyum kecut dan menganggukan kepalanya.
Beberapa menit berlalu, Ahmad berdiri di tepian danau hanya dengan celana pendek dan memegang kerisnya. Rose berdiri di sampingnya hanya memakai pakaian dalamnya.
“Apa kamu sungguh ingin mencoba efek batu itu dengan tubuhmu sendiri?” Ucap Rose berharap Ahmad mengurungkan niatnya.
“Hah, aku tidak punya pilihan Rose, dengan death kisser dimana-mana, dan sekelompok manusia yang menuju kesini dengan tujuan berbeda, setidaknya batu itu bisa membuatku lebih kuat dan melindungi keluarga kita.” Ahmad mendongakkan kepalanya menatap langit.
Rose diam menatap wajah Ahmad, matanya tegas seolah sudah mengambil keputusan.
“Rose, pakailah bajumu dan awasi sekitar.”
Rose hanya mengangguk dan mengambil belatinya.
“Baiklah tunggu aku” Ahmad melompat dan menyelam ke dasar danau.
Melihat Ahmad menyelam ke dasar danau, Rose menggertakan giginya “Kamu melompat, aku juga melompat” Dia menarik nafas dalam-dalam dan melompat ke danau.
Ahmad terus berenang ke dasar danau dan mencari tanda-tanda batu meteor, dia tidak melihat satupun ikan atau hewan laut lain di kedalaman danau, tentu saja dia tidak tahu kalau Rose mengikutinya dari belakang. Merasa nafasnya mau habis, dia kembali ke atas.
Mendengar suara percikan air di dekatnya dia menoleh dan melihat Rose di sana dengan belatinya.
“Rose? Apa yang kamu lakukan?” Teriak Ahmad melebarkan matanya.
Rose mendekat dan memeluk tubuh Ahmad “Aku tidak tahu, aku hanya mendengarkan kata hatiku, hatiku menyuruhku untuk melompat bersamamu darling.”
Ahmad diam sejenak hanya menghela nafas melihatnya “Baiklah, ayo kita cari bersama”
Rose tersenyum dan mengangguk “Ehm”
Mereka kembali melanjutkan pencariannya, detik menjadi menit, menit menjadi jam. Cukup lama mereka di bawah danau, tanpa mereka sadari gelombang radiasi telah memasuki tubuh mereka dari awal dan perlahan merubah trilyunan sel-sel di dalam tubuh mereka. Belati yang Rose bawa seperti menyaring radiasi yang ekstrim, sehingga hanya radiasi lemah yang perlahan merubah tubuhnya, Keris Ahmad juga melindungi tubuhnya dari radiasi ekstrim, tanpa dia sadari permukaan batu di dalam kantong kulit perlahan muncul retakan.
Ahmad merasakan tangan Rose meraih lengannya dan menunjuk ke satu arah. Mereka mendekat dan melihat kawah di dasar danau, batu merah sebesar kepalan tangan orang dewasa terlihat di tengah kawah. Saat Ahmad mendekat, retakan batu di kalungnya pecah dan batu biru yang tersembunyi di dalamnya mengeluarkan radiasi dan mempengaruhi Ahmad dan Rose yang berada di dekatnya.
Ahmad melihat Cahaya biru dari celah kantong yang mengambang di depannya, kepalanya tiba-tiba terasa sakit, melihat Rose di sampingnya juga memegang kepalanya, Ahmad sedikit panik. Tanpa pikir panjang dia memukul batu merah di dasar danau, berharap mendapatkan pecahan batu itu.
Tetapi kerisnya mengeluarkan sinar biru saat bersentuhan dengan batu merah tersebut dan mengirisnya dengan mudah hingga menjadi 2 bagian. Ahmad membelalakan matanya melihat apa yang terjadi, tapi karena kepalanya terus merasakan sakit, dia tidak terlalu memikirkannya dan segera meraih batu itu dan mengantonginya.
Dengan cepat meraih lengan Rose yang memegang keningnya dan berenang ke permukaan. Batu meteor yang tersisa setengah seperti melemah, radiasi yang di keluarkan tidak sekuat seperti sebelumnya.
Ahmad berenang ke tepian danau dan membawa Rose yang menahan kesakitan di sampingnya berjalan ke pohon besar tempat dia meletakan bawaannya.
“Honey…bertahanlah” Ahmad menahan sakit kepalanya dan segera memakaikan pakaian pada Rose.
“Ma…af dar…ling…kepa…laku…sak…it” Jawab Rose lirih menahan sakit kepalanya.
Ahmad segera memakai pakaiannya dan memasukan barang Rose ke tasnya dan memakai tasnya di dadanya dan menggendong Rose di belakang.
“Honey…kumohon…bertahan” Ahmad berjalan pelan menahan sakit kepalanya, tubuhnya perlahan terasa panas. Ahmad bisa melihat uap air keluar dari tubuh Rose dan tubuhnya.
“Oh tidak, apa ini efek dari batu itu” Pikir ahmad di benaknya. Ahmad melihat wajah Rose dan menggertakan giginya. “Ahh, Sial, seharusnya hanya aku” teriak ahmad.
Rose yang mendengar teriakan Ahmad tersenyum kecil “Dar…ling…a…ku…tidak…men…yesal.”
“Bertahanlah…” Ahmad bersandar di pohon besar dan meraih ponselnya dan segera menghubungi Jatmiko.
Riing…Riing…
“Oi Mat, tumben kamu telepon” Jatmiko terkekeh menerima telpon temannya.
“Jat…dengar…kan aku” Jatmiko yang mendengar nada suara kesakitan Ahmad langsung terdiam.
“Aku dan Rose…baik-baik saja…tapi kami tidak kuat…lagi berjalan…jemput…aku…ajak Akari…dia tahu…jalannya..." Ahmad meletakan ponselnya dan menyandarkan Rose di batang pohon.
Ahmad melepas tasnya dan bersandar di samping Rose “tolong…bertahan…lah.”
Rose sudah kehilangan kesadarannya, pakaian di tubuh mereka telah kering, tidak ada jejak air di badan mereka. batu di leher dan kantong celananya telah berubah menjadi batu biasa setelah keluar dari air, tidak lagi mengeluarkan Cahaya kemerahan dan kebiruan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments