2 wanita cantik tersenyum mendengar kata-kata Ahmad. Mereka segera bergerak mengecek rumah satu persatu, Rose agak di belakang menjaga si kecil Melati. Beberapa rumah kosong dan beberapa terdapat death kisser. Ahmad mendekati mayat death kisser yang dulunya merupakan sepasang kakek nenek baik hati, Pasangan ini selalu memberi uang lebih saat membeli ikan yang Ahmad dan Jatmiko tangkap di sungai.
Saat Ahmad akan bangkit dan pergi, dia merasa getaran yang tidak dapat dia jelaskan, ahmad kembali melihat mayat pasangan kakek nenek itu, sedikit menyingkap baju mayat kakek, Ahmad melihat tali dari kulit binatang yang melingkar di leher si kakek, tali itu mengikat kantong kulit yang Ahmad tidak tahu apa isinya, tanpa pikir panjang Ahmad mengambilnya dan memakainya sebagai kenang-kenangan. Dia bangkit dan berkata “Mbah…nanti Ahmad kembali dan memakamkan kalian dengan layak.”
Mereka terus berkeliling di sekitar, Akari juga menemukan beberapa keris dan memasukannya ke dalam tasnya, mereka bertemu Jatmiko dan grupnya saat di depan rumah terakhir.
“Mat, serahkan ini padaku, kamu pergilah duluan ke rumah” Ucap Jatmiko sambil menepuk bahu temannya.
“Hmm, terimakasih” Ahmad mengangguk dan pergi bersama Rose dan Akari.
Melihat Ahmad pergi dengan istrinya Jatmiko menghela nafas.
“Mas Ahmad orangnya kuat, dia pasti bisa mengatasi kesedihan dengan cepat” Pak Jaka berkata di samping anak-anaknya.
Ahmad berdiri di depan rumahnya, perlahan membuka pagar bambu dan berjalan ke pintu rumah sederhananya.
Tok…tok…
“Buu…ini Ahmad pulang” Ahmad setengah berteriak.
Terdengar bunyi derap kaki berlari dari dalam rumah dan pintu terbuka dari dalam. Bu Yanto melompat memeluk Ahmad dan menangis tertahan, sisca mengikuti dari belakang sambil menangis “Mas Ahmad…Bapak…” Sisca menangis menyebut nama Bapaknya sambil memeluk kaki Ahmad.
Mata Ahmad berkaca-kaca, dia menahan tangisnya, dia menahan kesedihan yang serasa akan meledak di dadanya. Ahmad tahu sekarang dia harus kuat, untuk menjaga Ibunya, mengurus Adik kecilnya dan merawat 2 istrinya.
Ahmad mengelus punggung Ibunya dan mengusap kepala Sisca “Semua baik-baik saja, Bapak sudah beristirahat dengan tenang di sana…sekarang Ahmad akan menggantikan Bapak, menjaga Ibu dan merawat Sisca” Ahmad berkata dengan suara sedikit bergetar.
Bu Yanto masih terus menangis, dia berusaha kuat sepeninggal suaminya demi Sisca, sekarang dia menumpahkan semua kesedihannya di dada anaknya, kesedihan seorang istri yang kehilangan suami tercintanya.
Rose dan Akari merasakan kesedihan suaminya dan meneteskan air mata.
Tubuh Bu Yanto tiba-tiba lemas dan menjatuhkan semua berat badannya ke Ahmad. Ahmad sedikit terkejut dan memeriksa nafas di hidung Ibunya, setelah memastikan Ibunya hanya pingsan, Ahmad membawanya ke tempat tidur dan membaringkan.
Ahmad melihat adiknya yang masih menangis dan memeluknya. “Sisca jangan menangis, Sisca harus kuat demi Ibu dan Bapak, Bapak di alam sana akan sedih melihat anaknya yang cantik menangis, dan Ibu akan bertambah sedih kalau melihat Sisca menangis, kalau Sisca kuat dan tidak menangis Ibu juga akan kuat” Ucap Ahmad menenangkan adiknya.
Jatmiko perlahan memasuki kamar dan berdiri diam melihat Bu Yanto pingsan dan Sisca yang berusaha menahan tangisnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, berusaha menahan air matanya jatuh.
Sisca mendengar kakaknya langsung berhenti menangis, dia mendongak melihat kakak laki-lakinya “Ehm, Sisca tidak menangis lagi demi Bapak dan Ibu Mas” Sisca berkata dengan mata masih penuh dengan air mata. Ahmad mengusap air mata adiknya. Ahmad mendongak melihat Jatmiko mengangguk padanya.
“Sisca di sini temani Ibu ya, ini mbak Rose dan Mbak Akari istri Mas Ahmad” Ahmad menarik tangan 2 wanita cantik kearah adiknya.
“Ehm, sekarang Sisca punya 2 kakak perempuan yang sangat cantik”
Ahmad keluar kamar dengan Jatmiko, Pak Jaka menyusul dari belakang.
“Dimana Bapak Jat?”
“Di dalam sumur belakang rumah Mat” Ucap Jatmiko sedikit serak.
Ahmad berjalan ke sumur dan menarik nafas dalam-dalam sebelum perlahan melihat ke bawah sumur. Terlihat 2 death kisser yang mendongak dan menggeram padanya, satu tetangganya dan satu lagi Pak Yanto.
Ahmad serasa tidak kuat menahan air matanya, setetes air matanya jatuh dan mengenai kepala Pak Yanto. Ahmad menarik kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam, kakinya terasa lemah, seakan menyerah menahan bobot tubuhnya. Ahmad perlahan mundur dan menyandarkan badannya di tepian sumur. Ahmad menundukan kepalanya, tidak ada suara tangisan, hanya air mata yang terus jatuh dari matanya. Dia diam tak bergerak entah berapa lama.
Jatmiko yang juga tak kuasa menahan air matanya dan Pak Jaka dengan wajah sedih hanya diam melihat Ahmad.
Setelah beberapa saat, Ahmad mengangkat kepalanya, “Jat bisakah kau melakukannya untukku?”
“Maaf Mat Aku tidak sanggup, Aku sudah minta tolong ke Pak Jaka” Ucap Jatmiko menghapus air matanya.
Ahmad mengangguk memakluminya “Pak Jaka bisa minta tolong?”
Pak Jaka yang sudah siap menganggukan kepalanya “Aku akan melakukannya, Mas Ahmad tenangkan diri dulu” dia kemudian perlahan berjalan ke sumur dan turun dengan berpegangan pada tali karet untuk mengambil air.
“Hati-hati Pak” Ahmad berucap.
Tak lama Ahmad,Jatmiko dan Pak Jaka duduk di samping 2 gundukan tanah, satunya merupakan makam Pak Yanto.
“Aku akan menggantikan anak-anakku berjaga di depan agar mereka bisa mendoakan almarhum” Ucap Pak Jaka Sambil menepuk bahu Ahmad dan Jatmiko. Mereka hanya mengangguk.
Kemudian anak-anak Pak Jaka datang, Rose,Akari dan Sisca juga menyusul.
Ahmad memeluk sisca, Rose dan Akari memegang lengan ahmad. “Baiklah, ayo kembali ke rumah.”
Saat ini 2 wanita cantik sedang memasak di temani Bu Yanto yang sudah siuman dan telah mengunjungi makam suaminya. “Aku masih tidak percaya anakku Ahmad punya 2 istri cantik seperti kalian.”
“Mama harus percaya, Rose akan memberikan bayi agar Mama percaya” Ujar Rose sambil tertawa.
Bu Yanto kaget mendengarnya, sinar matanya sedikit berubah, “Kamu serius Rose? Apa kamu hamil?”
“Belum Ma, tapi segera” Jawab rose terkikik.
“Hmm, Akari juga akan memberi Ibu bayi” Ucap nya tak mau kalah.
“Wah, 2 bayi dari anak perempuanku yang cantik, Ibu sudah tidak sabar” Ucap Bu Yanto dengan bijak.
Sisca yang bermain dengan Melati juga senang “Asyik sebentar lagi ada adik kecil”
Ahmad dan Jatmiko yang baru kembali dari mengubur semua tetangganya mendengar kata bayi dari mulut adiknya sedikit terkejut "Hmm? bayi siapa? Bayimu Jat?”
Sudut mulut Jatmiko berkedut mendengar Ahmad “Yang punya istri itu kamu Mat.”
Melihat 2 sahabat kembali bercanda, suasana rumah menjadi sedikit lebih hidup.
Setelah membersihkan badannya sehabis menggali tanah, Ahmad mengajak Rose ke teras depan.
“Tom, ton pergilah mandi lalu makan, biar aku yang gantian jaga sekarang”
“Ahh iya Mas, pas banget perutku sudah lapar” mereka terkekeh dan masuk ke dalam.
“Honey, duduklah di sini” Ahmad menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Rose tersenyum mendengar Ahmad memanggilnya honey “aku suka saat kamu memanggilku seperti itu.”
Ahmad mengangguk “Aku berterimakasih karena sudah menghibur Ibuku”
“Maksudmu tentang bayi? Aku serius tentang itu darling” Rose tertawa melihat wajah Ahmad yang membeku “Kenapa? kamu tidak mau?” Rose mengganti wajah cerianya dengan wajah serius dalam sekejap.
“Ahh tentu saja aku mau, pria mana yang tidak mau memiliki anak dari wanita sepertimu” Ahmad memeluk pinggang Rose.
“Sepertiku?” Rose meremas tubuhnya ke Ahmad menggodanya.
“Hmm wanita Cantik dan sexy sepertimu.” Ahmad menghirup nafas panjang menahan godaan succubus di depannya “Menurutmu apa kita perlu pindah dari sini? Rumah ini terlalu sempit untuk kita semua” lanjut Ahmad.
“Aku pikir kita harus pindah, tapi itu terserah Mama”
Bu Yanto yang mendengar percakapan mereka berteriak dari dalam “Kalau menantuku mau pindah, ya kita pindah.”
“Semudah itu? Aku kira akan sulit meyakinkan Ibu” Ahmad berbisik pelan.
Rose menyandarkan kepalanya di bahu Ahmad “Hah, Kamu tidak tahu apapun tentang hati wanita darling” Kata Rose lirih.
“Yah aku beruntung…” melihat akari bersandar di pintu menatapnya, Ahmad memanggilnya “Aku beruntung bertemu dengan kalian, kemarilah Akari.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
gearonimo
njirrr sapa ngiris bawang....saatttt
2023-11-16
0