BAB 12. DI APARTEMEN

Melihat kedua rekannya “Kalian baik-baik saja?” Tanya Ahmad sambil berjalan ke cacing-cacing yang mulai menggeliat keluar dari tubuh mayat manusia di lantai.

“Aku baik sayang” Rose mengedipkan matanya.

“Wuuu, aku merasa bersemangat Mat, era Gajah Mada modern telah tiba” Ujar Jatmiko yang tersenyum lebar mengangkat keris di tangannya.

“Syukurlah, kita bereskan cacing ini lalu kita bisa istirahat.” Ahmad tersenyum merasa bersemangat setelah membunuh beberapa parasite.

Setelah membereskan semua cacing yang bergerak kaku di lantai mereka menghampiri tempat pameran benda pusaka. Melihat senjata leluhur yang indah di dalam kotak kaca.

“Aku suka bentuk senjata ini, sangat unik” Rose melihat beberapa etalase yang ada di dekatnya.

“Kamu bisa memilih yang kamu inginkan Rose, tombak dengan 2 sisi yang tajam juga pilihan yang bagus.”

“Okay, karena kamu bilang begitu, aku akan memilih beberapa” Rose terlihat senang lalu bangkit mendekati salah satu keris di sana.

“Mat, kamu gak tukar tombak, ini ada yang ukiran naga di gagangnya?” Ujar Jatmiko sambil melihat lihat tombak.

“Aku ini saja, meskipun gagangnya polos tapi ringan dan mata tombaknya panjang, pas untuk parasite ini.”

“Kalo begitu aku ambil ini.” Jatmiko mengambil tombak yang terlihat indah.

“Hmm, ambil saja beberapa lagi, kita masukan ke dalam tas, untuk tombaknya bisa kita ikat dan bungkus dengan kain, mungkin saja kita nanti butuh.” Ahmad berkata sambil mendekati keris yang gagangnya berukir naga dengan bilah yang cukup panjang. Dia segera mengambilnya beserta sarungnya dan memasukan ke pinggang.

“Oke, aku akan mengeluarkan barang yang tidak dibutuhkan” Ucap Jatmiko.

Mereka segera memasukan beberapa keris ke tas dan tombak untuk di bawa, Rose juga telah memilih tombaknya dan sepucuk keris.

“Kita harus segera pergi dari sini, tempat ini tidak aman dan kalian bisa lihat sendiri di luar, sepertinya akan turun hujan” Ucap Ahmad sedikit mengernyitkan alisnya ketika melihat langit di luar yang terlihat mendung.

“Damn, Ahmad benar kita harus cepat” Rose mendekati pintu museum dan melihat situasi di sekitarnya. “Di luar sepertinya aman, tidak ada death kisser yang mendengar keributan di sini.”

Ahmad dan Jatmiko membawa tas mereka dan bungkusan tombak yang telah di ikat tali. Mereka segera meninggalkan Gedung museum dengan sedikit berlari, karena mereka sudah berada di tengah kota, hanya ada bangunan tinggi di sekeliling mereka. Hanya Gedung museum yang terlihat sederhana, dengan banyak mayat death kisser di dalamnya tentu saja bukan ide bagus beristirahat di sana.

Langit perlahan mulai gelap, awan mendung mulai menyebar di atas kepala mereka. Ahmad melihat satu Gedung bertingkat yang tidak jauh dari mereka. “Kita ke ke sana, tidak ada pilihan lagi.”

Jatmiko dan Rose hanya mengangguk setuju. Dengan membawa tombak di tangannya masing-masing, mereka merasa lebih percaya diri menghadapi monster parasite. Mengikuti Ahmad memasuki bangunan di depannya, mereka melihat situasi lobby Gedung yang lengang.

Ahmad mendekati pintu lift dan memasukinya, memencet tombol dengan angka tertinggi. Dia ingin melihat situasi di luar ketika hujan turun.

Ketika pintu lift terbuka, mereka dengan posisi siap menyerang melangkah keluar. Merasa di sekitar tidak ada bayangan manusia, Jatmiko segera mengambil linggisnya dan merusak salah satu pintu kamar apartemen. Suara petir sudah mulai terdengar di telinga mereka. Rose bernafas lega sudah berada di dalam Gedung.

“Ayo masuk” Ujar Jatmiko setelah berhasil merusak pintu, mereka bertiga segera masuk, menutup pintu dan mengangkat lemari dan beberapa kursi untuk menahan pintu dari dalam. Rose meletakan semua bawaannya dan menjatuhkan dirinya di sofa panjang.

“Istirahatlah Rose, aku akan ke kamar mandi dulu” Ucap Ahmad melihat Rose memejamkan matanya di sofa.

“Hujan-hujan gini enaknya bikin kopi Mat” Celetuk Jatmiko berjalan mencari dapur.

“Cocok Jat” Ahmad melihat sekeliling, setelah menemukan pintu kamar mandi dia segera masuk dan membuka celananya. Tapi tangan Ahmad berhenti, tubuhnya membeku ketika dia melihat sosok tubuh putih mulus sedang berbaring di bak mandi, seorang wanita cantik melihat Ahmad yang tiba-tiba menerobos kamar mandi dengan mata terkejut.

Ahmad spontan menarik kerisnya bersiap menyerang death kisser cantik di depannya. Melihat gerakan lelaki di depannya, wanita itu meraih pedang panjang di sisinya dan perlahan bangkit dari bak mandi. Rambut hitam panjangnya mengalir sampai ke bokongnya.

Ahmad yang melihat wanita telanjang berdiri dan meraih pedang segera menurunkan kerisnya “Kamu manusia?” Ujar Ahmad spontan.

“Tentu saja aku manusia” Sahut wanita itu yang di lihat dari nada bicaranya bukan orang pribumi. “Suka dengan apa yang kamu lihat?” Ucap wanita tersebut yang melihat Ahmad masih diam di sana melihat tubuhnya yang telanjang bulat.

Kata-kata wanita cantik menyadarkan Ahmad tentang situasi mereka “Ahh, maaf, aku akan keluar dari sini” Ahmad berkata sambil membalikkan badannya berniat untuk keluar.

“Tunggu” Ujar wanita itu, Ahmad menghentikan tubuhnya dan mendengar suara riak air di belakangnya “Ya?” Ahmad heran dengan ketenangan wanita ini, wanita normal pasti sudah berteriak panik.

Wanita itu perlahan keluar dari bak mandi dan meraih handuk, melilitkannya di sekitar tubuhnya “Anak gadis di keluargaku selalu menjaga tubuhnya dengan baik dan hanya menyerahkan tubuhnya pada suami sahnya, sudah menjadi budaya di keluargaku secara turun temurun dari generasi ke generasi…lelaki yang melihat tubuh telanjang anak gadis dari keluargaku, maka lelaki itu harus menikahinya” Wanita itu berkata dengan nada tenang.

“Ehh? Apa?” Ahmad membalikkan tubuhnya dan melihat wanita itu sudah menutupi tubuhnya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar.

Wanita itu dengan wajah tenangnya menatap Ahmad “Lelaki yang sudah melihat tubuhku harus menikahiku, dan kalau lelaki itu menolak maka aku harus membunuh orang itu dengan tanganku sendiri” wanita itu mengarahkan pedangnya lurus kearah wajah Ahmad.

Ahmad menelan air liurnya, melihat ke mata hitam wanita di depannya “Sial, wanita ini tidak bercanda” Gerutu Ahmad di benaknya.

“Ehh, tapi aku sudah memiliki calon istri” Ahmad berkata, di dahinya terlihat keluar butiran keringat dingin. Telapak tangannya menggenggam gagang keris dengan keras.

“Tidak masalah, asalkan aku menjadi istri sah” Wanita itu menarik samurainya kebelakang sejajar dengan bahunya, lalu memegang pedang dengan kedua tangannya, ujung samurai masih mengarah ke Ahmad bersiap untuk menyerang “Katakan, kamu mau menikahiku atau mati di tanganku?” Ucapnya dengan mata sedikit menyipit.

Ahmad menelan seteguk air liurnya mencoba berpikir keras untuk keluar dari situasi yang aneh ini. Bagaimana mungkin hanya dalam satu hari dia bertemu 2 wanita yang akan menjadi istrinya, apa aku tidak sengaja melangkah ke portal dunia lain? Bagaimana Rose menerima semua ini? Ahmad menatap wanita cantik di depannya “Apa tidak ada jalan lain?”

“Ya tentu ada, kamu hanya perlu mati dengan katana ku” Wanita itu diam sejenak lalu berkata dengan nada yang masih tenang “Atau kamu mengambil hidupku.”

“Aku tidak bisa mati, keluargaku masih menunggu di kampung, membunuh wanita ini aku juga tidak sanggup, kalau di pikir ini memang salahku yang melihat tubuh telanjangnya tapi, hah aku tidak tahu lagi, Ya Tuhan tolong hambamu ini” Ahmad berkeluh kesah di benaknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!