Jatmiko menoleh ke temannya, sebelum dia membuka mulutnya, suara pelan Ahmad masuk ke telinganya.
“Saatnya kita mengenal teman baru kita … tunggu dan lihat” Bisik Ahmad pelan, matanya tetap melihat ke tubuh mayat wanita yang tergeletak di lantai. Jatmiko hanya mengangguk dan kembali melihat mayat di depannya.
Beberapa detik kemudian muncul cacing yang keluar dari mayat wanita itu. Cacing ini lebih kecil dari yang ada di leher mayat. Ada 4 cacing parasite yang berusaha keluar dari tubuh mayat. “Kita potong cacing itu Jat” Bisik Ahmad sambil menghujamkan sekopnya lagi ke arah cacing, memang kulit cacing ini sangat keras, butuh beberapa pukulan linggis bertenaga penuh ke pegangan kayu sekop baru bisa memutus tubuh parasite ini.
Setelah mereka memotong 4 cacing itu mereka masih menunggu dan mengamati mayat dan cacing di depan mereka.
Cukup lama mereka menunggu dan tidak ada yang terjadi Ahmad bernafas lega. Jatmiko yang bernafas tersengal-sengal bertanya “Sudah selesai Mat?”
Ahmad melihat kearah temannya dan menggelengkan kepalanya “Setelah melihat semua informasi tentang cacing parasite yang ada di internet, makhluk ini bisa berkembang biak walaupun tanpa bantuan dari lawan jenisnya…mereka juga seharusnya hanya berkembang biak dan melepaskan telurnya di air, tapi melihat banyaknya cacing yang ada di tubuh wanita ini, kurasa makhluk ini menjadikan manusia tempat untuk memperbanyak jenisnya tanpa harus pergi ke perairan, seharusnya masih banyak telur cacing itu di tubuhnya.”
Ahmad bergidik ngeri membayangkan monster parasite ini memenuhi dunia “Sungguh monster yang menakutkan…mungkin dengan membakarnya akan membunuh telur-telur itu.”
Jatmiko yang mendengarnya bergidik ngeri “Lalu kita bakar saja mayat ini.”
Ahmad menggelengkan kepalanya lagi “Minimarket ini mungkin ada system keamanannya Jat, aku tidak mau suara alarm kebakaran mengundang parasite lain ke sini … kita cukup menutup pintu dan menulis peringatan … yah siapa tahu ada orang lain yang kesini mencari makanan.”
Jatmiko tersenyum kecut sambil mengelus-elus pistol di pinggangnya “Sepertinya pistol tidak berguna melawan parasite ini.”
Ahmad tertawa mendengar perkataan temannya “Yah begitulah … sepertinya kamu sudah akrab dengan teman baru kita … apa kamu sudah dapat nomor ponselnya?” Ucap Ahmad mengejek temannya.
Sudut mulut Jatmiko berkedut mendengar Ahmad membalas ejekannya sebelum membunuh makhluk ini. Dia mengeluarkan bungkus rokok dan menyalakan sebatang rokok di mulutnya “Ayo menjauh dari sini Mat, berdiri dekat dengan telur cacing itu sudah membuat bulu kuduk ku berdiri.”
Ahmad juga menyalakan rokoknya “Baiklah, kita pasang peringatan di pintu ini dulu.”
Mereka pun segera memasang peringatan “AWAS ADA MAYAT PENUH CACING” di pintu gudang dan segera memasukan barang-barang mereka ke dalam tas punggung. Lalu mereka berdua berjalan keluar dan kembali mengendap-endap berjalan perlahan ke perbatasan kota.
Tak lama setelah kepergian mereka, muncul seseorang yang memasuki minimarket. Dengan rambut pirang panjangnya dan pakaian ketat, wanita ini terlihat mencolok. Dia berjalan ke rak-rak minimarket dan melihat peringatan yang di tinggalkan Ahmad di pintu. Wanita itu tersenyum mempesona lalu membuka pintu tersebut.
Melihat mayat yang tergeletak di lantai dia berkata “Hmm…I like smart man.” Dia kembali keluar dan menutup pintu gudang, lalu mengambil beberapa makanan kecil dan beberapa barang di rak dan memasukannya ke tas kecil yang ada di pinggangnya, kemudian dengan cepat keluar dari minimarket, mengikuti kearah pasangan pemuda pergi.
Sudah hampir 2 jam Ahmad dan Jatmiko berjalan, situasi di Jalanan masih sunyi dan menakutkan. Mereka tidak bertemu dengan parasite dan mereka juga tidak bertemu manusia. Masih menjadi pertanyaan kemana perginya parasite-parasit itu. Mustahil puluhan ribu parasite menghilang begitu saja.
Jatmiko menceritakan pada Ahmad tentang penyebaran parasite yang telah mencapai benua Amerika dan Eropa.
Ahmad hanya tersenyum kecut “Kita sudah merasakan betapa sulitnya untuk membunuh satu parasite saja…bayangkan kalau ada puluhan ribu di depanmu, hah semoga saja negara-negara maju tidak menggunakan nuklirnya.”
Bulu kuduk Jatmiko berdiri mendengar kata-kata temannya “Lalu apa rencanamu kedepannya setelah kita sampai di kampung halaman.”
Ahmad diam sejenak lalu menjawab “Kita masih belum tahu semuanya tentang parasite ini, yang pasti makhluk ini bisa hidup di air dan mereka bisa menginfeksi hewan di hutan … menurutmu kita kemana?”
Jatmiko yang tiba-tiba di lempar pertanyaan mencoba untuk berpikir “Haah … itu mudah … gurun pasir” Jawab Jatmiko dengan cepat.
Mendengar jawaban temannya, Ahmad berhenti berjalan.
Jatmiko yang melihat temannya berhenti mendadak kaget, dia segera melihat sekeliling, dia pikir ada parasite mendekat kearah mereka “Ada apa Mat?” Tanyanya serius.
“Jenius” Ucap Ahmad melihat kearah Jatmiko “Kamu jenius Jat.”
Jatmiko hanya diam melihat temannya.
“Yah gurun pasir… masalahnya ke timur tengah melewati laut, dan laut adalah air” Ahmad sejenak berpikir. Tangan Jatmiko memegang bahunya dan mengajaknya berjalan lagi.
“Sudahlah, kita pikirkan nanti … sekarang kita cari pengganti sekop bututmu” Bisik Jatmiko lirih melihat ke sekop Ahmad.
Ahmad yang mengerti maksud dari temannya hanya mengangguk.
Sekopnya memang terlihat menyedihkan setelah menghantam lantai minimarket tadi. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Beberapa menit berjalan, Ahmad tiba-tiba berbisik lirih setelah melihat peta di layar ponselnya “Jat di perempatan kita ambil arah kanan, ada toko bangunan tidak jauh dari sini.”
“Oke Mat” Jawabnya sambil mengayun-ayunkan linggisnya “Waktunya looting, aku akan mencarikan sekop terbaik untukmu.”
Ahmad menghisap rokoknya dan berkata “kita juga butuh kompor portable dan hati-hati nanti di dalam toko mungkin ada parasite seperti di minimarket tadi.”
“Yah, saatnya untuk double kill” Ucap Jatmiko lirih sambil menirukan suara sebuah game.
Ahmad mengangguk “Tetap hati-hati.”
Sampai di depan toko bangunan mereka segera melihat situasi di dalam. Setelah memastikan aman mereka segera masuk ke dalam. Jatmiko melepas tas gunungnya dan Mengambil kereta barang, dia berjalan berkeliling mengambil barang yang mereka butuhkan sementara Ahmad berjaga di dekat pintu sambil melihat berita di internet.
Tak lama Jatmiko kembali dengan membawa kapak yang cukup besar, sebuah linggis kecil, sekop yang di lihat dari bentuknya terlihat mewah dan 2 kotak sepatu.
“Aku sudah berkeliling dan tidak ada kompor portable Mat.”
“Tidak masalah, kita cari di tempat lain.”
Puas dengan sekop dan sepatunya Ahmad mengajak Jatmiko berjalan lagi “Di dekat sini ada toko ponsel, paling tidak kita perlu paket internet” Katanya singkat menahan rasa malunya, kelakuan mereka seperti perampok.
Jatmiko terkekeh melihat wajah Ahmad “Kita hanya mencoba bertahan hidup Mat dan tidak ada yang salah dengan itu.”
Sesampainya di toko ponsel mereka menemukan ada seekor kucing di dalam toko. “Kucing imut sekarang menjadi kucing monster.”
“Jangan meremehkan Jat, kita tidak tahu ada berapa cacing yang ada di tubuhnya” Ucap Ahmad mengingatkan.
Mereka masuk dengan perlahan, kucing yang tadinya diam berubah menjadi ganas ketika melihat manusia memasuki toko.
Kucing itu berlari dan melompat kearah ahmad, dia menyambutnya dengan ayunan sekop sehingga kucing itu terpelanting. Jatmiko berlari memberi sentuhan terakhir dengan kapaknya butuh beberapa kali ayunan kapak untuk memisahkan kepala kucing monster.
“Sial, meskipun kucing ini kecil, susah sekali memisahkan kepalanya, hah, aku tidak tahu apa yang di katakan pecinta kucing melihat kita melakukan ini.” Ucap Jatmiko mengelap keringatnya.
"jangan khawatir, mereka pasti sibuk dengan kucing mereka sendiri Jat" Celetuk Ahmad.
"Aku merasa kasihan dengan orang yang memiliki puluhan kucing di rumahnya." Setelah menunggu beberapa saat dan membereskan sisa cacing di dalam tubuh kucing, Jatmiko meraih di rak toko 2 ponsel terbaru dan beberapa paket data “Kapan lagi punya ponsel model terbaru.” Celotehnya terkekeh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments