BAB 15. EVOLUSI

Ahmad tersenyum mendengarnya, membuatnya merindukan adiknya sendiri, mengelus kepala Melati dan berbincang dengannya.

Tak lama kemudian beberapa orang berjalan keluar dari supermarket setelah mengisi penuh tas mereka.

Jaka dan 2 anak lelakinya terlihat membawa tas gunung besar, ada keris di pinggangnya dan tombak di tangan mereka.

Jatmiko berjalan di sisi mereka menjelaskan semuanya bagaimana situasi sekarang dan cara melawan monster itu.

Terlihat wajah kaget dan tak percaya dari wajah mereka.

Ahmad yang ada di depan dengan 2 wanita selalu mengamati sekitarnya. Rose yang melihat sekelilingnya sudah tidak ada lagi gedung tinggi, hanya beberapa rumah kecil dan lahan tebu yang terlihat di sana sini.

“Darling, Apa kita sudah keluar dari kota?”

“Keluar? Kita sudah jauh dari kota sekarang, hmm…cukup jauh” Ahmad melihat Rose dan tersenyum.

“Ahh, akhirnya aku bisa jauh dari sungai menakutkan itu” Rose bernafas dengan lega. “Apa pendapatmu tentang cacing besar yang mempunyai mulut yang penuh gigi darling?”

Ahmad menggelengkan kepalanya mengingat pemandangan mengerikan itu “Mereka berevolusi Rose, seingatku cacing bulu kuda tidak mempunyai mulut, tapi pemandangan itu merubah semuanya, kemungkinan batu meteor itu membuat cacing itu berevolusi.”

Akari yang baru bergabung tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dia hanya diam dan mempelajari percakapan mereka.

“Oh iya, Papaku sudah ada informasi mengenai meteor jatuh yang kalian lihat, ada kemungkinan kalau meteor itu jatuh di danau, karena tidak ada jejak kawah meteor di tanah, dan juga setelah meneliti penyebaran monster itu, para ilmuwan meyakini kalau semua berawal dari pulau jawa” Rose berbicara sambil mengambil ponselnya.

“Aku sudah memberitahu Papa tentang evolusi cacing itu, dan mereka juga terkejut karena mereka belum menemukan satupun cacing yang berevolusi di sana ataupun di tempat lain, inilah yang membuat mereka yakin kalau pulau jawa adalah tempat awal mula monster itu, para pemimpin negara lain sebenarnya sudah sepakat mau menembakkan nuklir ke jawa…”

“Apa?” Ahmad, Jatmiko, Pak Jaka dan 2 anaknya terkejut mendengar kata nuklir keluar dari mulut cantik Rose, sementara Akari hanya mengernyitkan alisnya.

“Tenang aku belum selesai bicara sayang” Ucap Rose sambil membelai pipi Ahmad. Akari meremas sarung pedangnya melihat kemesraan mereka.

“Para ilmuwan sepakat kalau menembakan nuklir sekarang sudah terlambat, cacing-cacing itu sudah menyebar ke seluruh bumi, dari pada menembakan nuklir, mereka lebih baik mengirim orang yang terlatih dan beberapa ilmuwan ke pulau jawa untuk mencari cara memusnahkan cacing itu” Melihat rekan-rekannya sudah tenang Rose tersenyum “Saat ini mereka sedang membicarakan siapa dan bagaimana mereka akan ke sini, nanti Papa akan mengabariku…ehh…Papa juga menyapamu, dia ingin bertemu dengan lelaki yang berhasil menaklukan putrinya.” Rose berkata sambil menatap mata Ahmad.

Ahmad tersenyum dan mengangguk “Salam balik untuk Papa, aku juga ingin bertemu dengannya.”

Entah kenapa Ahmad merasakan bulu kudunya berdiri, dia menoleh ke Akari dan meraih tangannya “Tentu saja aku juga tidak akan melupakanmu Akari.” Akari yang telah memberi tahu Ahmad kalau keluarganya kemungkinan sudah tewas, karena beberapa hari ini tidak ada kabar dari mereka.

“Ehm…” Akari hanya mengangguk tapi terlihat senyum kecil di sudut bibirnya.

Ahmad sengaja menghindari jalan raya dan sungai, jarang sekali rumah yang mereka temui di perjalanan. Mereka kadang bertemu hewan kecil yang sudah menjadi death kisser, yang tentunya Ahmad gunakan untuk melatih Pak Jaka dan 2 putranya.

Ahmad juga mengabari keluarganya kalau mereka semakin dekat, Entah kenapa Ibunya yang sekarang membalas pesannya, Ibunya sedikit kaget ketika Ahmad memberitahunya tentang 2 istrinya. Anaknya baru pergi beberapa hari, dan sekarang mau pulang membawa 2 istri, Ibu mana yang tidak terkejut? Sementara adiknya Sisca senang punya 2 kakak perempuan baru.

Ahmad menunjuk sebuah rumah sederhana di kejauhan “Kita akan istirahat di sana, kita lanjutkan perjalanan besok.”

Pak Jaka dan Jatmiko mengecek keamanan di sekitar rumah, setelah itu mereka Memasuki rumah beristirahat di dalamnya.

“Kak Rose sedang masak apa?” Tanya Melati dengan imut.

“Ehm, Kakak sedang membuat spaghetti untuk semua orang” Jawab Rose sambil mecubit pipi Melati.

Melati terkikik lalu menghampiri Akari “Kak Nara sedang buat apa?”

“Akari tersenyum lembut ke Melati “Kak Nara sedang memasak nasi untuk membuat sushi.”

“Kamu tidak menanyaiku Mel?” Celetuk Jatmiko yang sedang masak air.

“Enggak, Mas Jatmiko pasti bikin kopi, yakaannn” Sahut Melati terkikik.

Jatmiko memang tidak lagi memasak mie instan, dapur sudah menjadi area pertarungan 2 wanita cantik. Untungnya ada Melati yang sedikit meredakan ketegangan di dapur jadi Jatmiko bisa membuat kopi dan setelah itu kabur dari dapur.

Ahmad sedang beristirahat di ruang tamu di temani Pak jaka, Tommy dan Sulton. “Pak Jaka dan kalian berdua sudah bisa melawan death kisser sekarang, asalkan tidak terlalu banyak kalian bisa bertahan hidup di luar sana” Ahmad berbicara dengan serius.

Pak Jaka yang mengerti arah pembicaraan Ahmad sedikit gugup.

Ahmad melanjutkan “Kalian tahu kalau kami akan menuju ke kampung kelahiranku, kalau Pak Jaka mau pergi ke tempat lain silahkan, aku tidak akan menahan kalian.”

Pak Jaka melihat kedua anaknya “Istriku sudah berubah menjadi death kisser, keluarga kami yang lain tidak ada kabar lagi, kami sekeluarga hanya bisa mengikutimu Mas Ahmad, Tolong jangan usir kami.”

Tommy anak tertua juga berkata “Iya Mas, aku tahu aku dan adikku bisa melawan death kisser sekarang, kalau kita berpisah dari Mas Ahmad kita juga bingung mau kemana.”

Sulton hanya mengangguk setuju dengan kakaknya.

Ahmad tersenyum pada mereka “Bukannya aku mau mengusir kalian, aku hanya tidak mau mengikat kalian bersamaku, selama kalian mau pergi kalian kapanpun bisa pergi.”

“Kami mengerti” Pak Jaka mengangguk.

“Mas Ahmad, menurutmu kalau kami pergi sendiri berapa persen peluang kami bertahan?” Sulton tiba-tiba bertanya.

Pak Jaka dan Tommy sedikit kaget dengan Sulton.

Ahmad tersenyum kecut “Nol persen” Jawab Ahmad singkat 3 orang tersebut tidak percaya dengan yang mereka dengar.

“Serendah itu Mas?” Sahut Sulton.

Ahmad menepuk bahu Sulton “Kamu tidak melihat apa yang kami lihat, monster itu terlalu kuat untuk manusia.

Pak Jaka, Tommy dan Sulton menelan air liur mereka. “Sulton mengangguk “Aku percaya Mas Ahmad.”

“Darling, airnya panasmu sudah siap, cuci tubuhmu yang bau itu” Rose berteriak dari dapur memotong pembicaraan mereka. “Iya” Jawabnya singkat.

“Kalian juga harus mandi.” Ahmad meninggalkan mereka dengan pikiran mereka sendiri.

Setelah Ahmad Memasuki kamar mandi, ada ketukan di pintu “Anata, ini handuknya”

Ahmad yang sudah membawa handuk sedikit bingung “Ah iya” membuka pintu kamar mandi, Akari masuk dengan membawa handuk.

“Anata duduklah, biar aku menggosok punggungmu” Ucap Akari

Ahmad yang hanya memakai celana pendek hanya mengangguk saja dan duduk di samping ember yang berisi air hangat. Tiba-tiba Akari memeluknya dari belakang dan berbisik “Anata aku akan melakukan tugasku sebagai istri untuk menggosok punggungmu, dan aku harap anata juga melakukan tugasnya sebagai seorang suami” Ahmad menelan air liurnya mendengar ucapan Akari.

Di dapur, Rose yang sedang membuat spaghetti melirik ke pintu kamar mandi “Dasar wanita murahan” gerutunya kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!