BAB 7. PERJALANAN DI MULAI

Suatu siang di Jalanan kota yang tampak lengang terlihat 2 anak muda yang berjalan mengendap-endap, tubuh mereka tampak menempel pada kaca etalase sebuah toko. Sesekali mereka berhenti dan melihat ke sekeliling mereka.

Satu dari mereka memegang linggis di tangannya sedangkan anak muda yang lain memegang sekop. Sungguh tingkah laku mereka sangat mencurigakan, seperti akan membongkar paksa toko dan mengancam penjaga toko untuk menyerahkan semua uangnya.

Kalau ada warga yang melihat 2 anak muda ini, mereka pasti berteriak dan segera memanggil polisi. Sayangnya tidak ada warga ataupun polisi di sekitar mereka.

Ahmad dan Jatmiko mendekat ke mobil polisi yang dia lihat kemaren “Jat coba kamu lihat di dalam mobil ini, aku akan berjaga mengawasi sekitar” Kata Ahmad lirih sambil menunjuk ke sebuah mobil.

Jatmiko hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Ahmad. Dia berjalan mendekat dan membersihkan kaca mobil yang berdebu lalu mengintip kedalam setelah memastikan tidak ada yang dapat membahayakan, dia mencoba membuka pintu mobil.

Ceklek …

“Untunglah tidak terkunci” Pikir Jatmiko. Dia segera meletakan tas gunungnya lalu masuk ke dalam mobil. Membuka laci dia segera menemukan sebuah pistol dan 2 kotak peluru “Jackpot” Bisiknya.

Dia juga mengambil tongkat kayu yang tergeletak di jok belakang. Dia meletakan tongkat di pinggangnya dan menunjukan pistol dan kotak peluru ke Ahmad.

“Lihat apa yang aku temukan Mat” Bisiknya sambil bergaya seperti tokoh utama dari film Keanu Reeves.

“Mantab, kamu bisa menggunakannya?” Ucap Ahmad lirih setelah melihat tidak ada keanehan di sekitarnya.

Sudut mulut Jatmiko berkedut mendengar temannya “Kamu pikir aku besar di Amerika Mat … memegang pistol saja baru sekarang.”

“Yah kalau kamu besar di Amerika namamu bukan Jatmiko” Kata Ahmad terkekeh “Nanti kamu coba liat di internet bagaimana menggunakannya, sekarang ayo kita ke minimarket di depan” lanjutnya.

“Oke, looting terus” Celetuk Jatmiko setelah memasukan pistol di pinggangnya dan kotak peluru di tas gunungnya.

Lalu mereka kembali berjalan mengendap-endap menuju minimarket yang memang cukup dekat dengan mobil polisi tadi.

Sampai di depan pintu minimarket Ahmad melihat situasi di dalam, setelah merasa cukup aman mereka masuk ke dalam. Ahmad menyerahkan ponselnya dan berkata pada Jatmiko “Jat, kamu coba lihat di internet cara menggunakan pistol, kita tidak tahu situasi kedepan seperti apa jadi semakin cepat kamu belajar cara menembak semakin baik.”

Jatmiko mengambil ponsel dari tangan Ahmad dan mengangguk “Oke Mat, memegang pistol berarti siap untuk membunuh” Ucapnya.

Ahmad tersenyum mendengar kata-kata Jatmiko “Senang kamu mengerti, aku akan mencari perbekalan untuk kita” Ahmad berjalan mengambil keranjang minimarket dan mulai berkeliling.

Jatmiko meletakan tas gunungnya dan memposisikan dirinya agar bisa melihat situasi di luar jalan. Menggerakan jarinya di layar ponsel dia mulai mencari semua informasi tentang bagaimana cara memegang pistol, posisi menembak, hentakan dari pistol, cara menarik pelatuk dan sebagainya. “Hmm … ternyata menembak itu tidak seperti dugaanku” Gerutunya dalam hati yang terlalu banyak menonton barat.

Dia mengambil pistol di pinggangnya dan mulai mempelajarinya, di mana letak pengaman cara isi ulang peluru dan lain-lain. “Oh … pistol ini buatan PINDAD … keren” Ucapnya lirih setelah melihat tulisan di bagian depan moncong senjata.

Melihat Ahmad membawa 2 keranjang yang penuh dengan barang berjalan kearahnya dia bertanya “Sudah Mat?”

“Belum … kapan lagi belanja di minimarket gratisan” Kata Ahmad terkekeh lalu mengambil minuman energi dari keranjang dan melemparnya ke Jatmiko. “2 keranjang lagi” lanjutnya sambil mengambil 2 keranjang kosong dan berkeliling lagi.

Sudut mulut Jatmiko berkedut melihat tingkah temannya. Membuka minuman energi dan meminumnya dia kembali ke layar ponselnya dan mencari informasi tentang senjata lain selain pistol. Tentunya dia sadar cepat atau lambat dia akan memegang berbagai macam senjata. “Gila, parasite ini sudah menyebar ke Amerika” Gerutunya setelah melihat berita di internet tentang penyebaran parasite sudah mencapai Eropa, Afrika dan Amerika.

Jatmiko mengambil bungkus rokok dan mengambil sebatang dan menyalakannya “Haah …yang penting keselamatan orang yang dekat denganku …persetan dengan yang lain” Gerutunya lalu kembali mempelajari tentang senjata.

Ahmad yang berkeliling mencari persediaan tanpa sadar melihat bayangan yang bergerak pelan di celah pintu gudang minimarket. “Apa itu parasite?” Bisiknya dalam hati. Ahmad diam sejenak lalu meletakan keranjang yang dia bawa, melangkah perlahan ke pintu gudang, dia merendahkan tubuhnya dan melihat ke celah pintu itu. dia bisa melihat sepasang sepatu. “Hmm ternyata benar ini parasite, mana ada manusia yang hanya berdiri diam di situ” Dia berpikir sambil berjalan menjauh dari pintu.

“Kurasa ini saatnya membunuh satu makhluk ini, yah anggap saja pelatihan” Pikir Ahmad dalam hatinya. Dia mengambil keranjangnya dan melanjutkan mengisinya yang masih separuh penuh. Perkataan Jatmiko tadi pagi nampaknya membuatnya lebih santai dalam menanggapi keadaan.

Mendengar langkah kaki Jatmiko menoleh “Sudah puas belanjanya Bu?” Katanya terkekeh.

Sudut mulut Ahmad berkedut mendengar ejekan Jatmiko “Ada Parasit di gudang minimarket ini.”

Jatmiko langsung bangkit dari duduknya dan menyiapkan pistolnya “Sudah waktunya kita beraksi Mat?”

“Yah, sudah waktunya kita mengenal lebih dekat teman baru kita … tapi jangan dengan pistol … suara pistol terlalu keras … ingat mereka peka dengan suara, aku tidak mau mereka semua datang kesini dan tembakan di kepala tidak membunuh monster ini, kita coba dengan memutus kepala dari badannya” Ucap Ahmad sambil mengambil sekopnya.

Jatmiko meletakan kembali pistolnya, mengambil tongkat kayu dan mengganjal pintu masuk minimarket, paling tidak parasite akan kesulitan untuk masuk. Setelah itu Jatmiko mengambil linggis “Oke ayo kita lakukan dengan caramu.”

Mereka berdua berdiri di depan pintu, Jatmiko Bersiap dengan posisinya. Ahmad Bersiap membuka pintu dengan satu tangan memegang sekop “Kamu siap membunuh apapun yang di belakang pintu ini?"

“Sudah saatnya untuk first kill Mat, aku mengerti maksudmu, ayo kita lakukan ini.”

Ahmad dengan cepat membuka pintu, Jatmiko tanpa bersuara menerjang kedepan. Sekelebat dia melihat seorang wanita berdiri di balik pintu, matanya terlihat kosong yang merupakan ciri-ciri manusia yang terinfeksi parasite. Sebelum wanita itu bereaksi, Jatmiko tanpa ragu menendang perutnya dengan keras.

Buukk …

Tubuh wanita itu terlempar ke belakang menabrak tembok dan jatuh dengan posisi tengkurap. Ahmad yang sudah berlari dari belakang melihat kesempatan dan menguatkan mentalnya. Dia menerjang maju dan menghujamkan sekop nya ke leher parasit itu.

Taang …

Leher wanita itu terkoyak, sekop itu seperti tertahan oleh sesuatu sehingga tidak bisa menembus lehernya. Ahmad yang dekat dengan tubuh parasite bisa melihat cacing yang bergerak menggeliat di leher wanita itu.

Setelah menstabilkan tubuhnya, Jatmiko melihat posisi sekop yang canggung langsung menerjang dan memukul pegangan kayu sekop dengan linggisnya.

Taaang …

Sekop hanya sedikit tenggelam, Jatmiko menggertakan giginya dan memukulkan linggisnya kali ini dengan kekuatan penuhnya.

Taang...Tannng...Taanng...

Sekop langsung tenggelam sampai menembus ke lantai, kepala wanita itu terlepas dari tubuhnya. Darah menyembur keluar dan membasahi lantai.

Ahmad segera mencabut sekop dan menarik lengan Jatmiko dan menyeretnya mundur. Dari potongan tubuh itu terlihat beberapa tubuh cacing yang terpotong menggeliat pelan dan akhirnya berhenti bergerak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!