BAB 3. TIBA DI KOTA

Pria muda berjas tadi tiba-tiba berdiri dan menggeram lalu menerkam petugas keamanan stasiun yang membeku melihat orang yang dia pegang menggeram padanya. Sedangkan si perempuan sudah mendapat mangsa yang baru.

Aahh…Toloong…

Dalam sekejap Stasiun Kereta Api berubah menjadi kacau, jeritan dan teriakan minta tolong ada di mana-mana, orang-orang di Stasiun berlarian, keamanan yang hanya segelintir tidak berdaya menangani situasi.

Kekacauan pun menyebar dari dalam stasiun ke luar stasiun, lalu meluas ke daerah sekitarnya dengan kecepatan yang mengerikan.

“Tenang Mat, nanti aku kenalkan dengan teman pacarku … buang jauh-jauh muka masam mu itu” Kata Jatmiko yang masih menggoda temannya.

Ahmad memandangnya dengan tatapan kosong “Kamu saja belum ada pacar, sok-sok an mau ngenalin.”

“Yang penting rencana dulu lah … urusan dapat atau tidak kita serahkan pada takdir.”

Ahmad tidak bisa menahan tawa mendengar ucapan Jatmiko “Ya semoga kamu tidak dapat jatah takdir yang kejam”

Bibir Jatmiko berkedut mendengar perkataan Ahmad “Kamu sudah menghubungi yang punya rumah kontrakan Mat?” Jatmiko berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Tenang, nanti kita tinggal ambil kunci kamar dan bayar uang sewa 3 bulan ke pemilik kontrakan … kamarnya sisa satu jadi untuk sementara kita tinggal satu kamar … kalau kedepannya ada kamar kosong, kamu bisa ambil kamar sendiri.”

“Yaah, sekamar saja Mat kan bisa lebih irit” Ucap Jatmiko sambil menggoyangkan jempolnya.

“Oke, nanti sesampainya di kontrakan kita cari makan ya … jangan sampai lemas, besok senin hari pertama kita masuk kerja” Ahmad berkata dengan serius.

Jatmiko mengangguk dan mengelus perutnya menandakan kalau dia juga lapar.

Mereka berbicara sambil menikmati pemandangan di luar jendela kereta yang cukup besar. Sekitar beberapa jam perjalanan kereta telah sampai ke tujuannya. Keluar dari stasiun mereka segera naik angkutan umum menuju rumah kontrakan.

Kota besar memang berbeda dengan kampung halaman mereka. Jalanan di sini sangat lebar dan banyak gedung tinggi di kanan dan kiri jalan. Kendaraan pribadi memenuhi jalan raya, tentu saja dengan asap knalpot nya juga memenuhi udara dan juga suara klakson yang terasa bising di telinga.

Turun dari kendaraan umum Ahmad mengeluarkan ponselnya “Ayo, pemilik kontrakan sudah menunggu kita.”

Sampai di depan pagar sebuah rumah, Ahmad membunyikan bel dan tak lama pemilik kontrakan keluar membukakan pagar.

Rumah kontrakan ini cukup besar berbentuk huruf L dengan kamar berbentuk persegi, lantai bawah ada 5 kamar, 1 gudang, 1 kamar mandi dan dapur umum dan lantai atas ada 6 kamar dan 1 kamar mandi.

Cukup aman dengan tembok yang mengelilingi bangunan dan pagar depan dari besi, dan ada juga tempat parkir untuk roda 2.

Setelah berbicara dengan Pak Agus pemilik kontrakan, Ahmad mengajak Jatmiko menuju kamarnya yang ada di lantai 2. “Kata Pak Agus para penghuninya lagi pulang kampung, besok pagi biasanya baru pada balik … kita juga dapat 3 kunci, kunci pagar,kamar dan kunci gudang … kalau butuh alat seperti palu atau sapu semua ada di gudang”

Sampai di depan kamar Ahmad membuka pintunya dan tersenyum kecut “Sepertinya kita harus bersih-bersih dulu sebelum makan.”

“Yah sepertinya begitu” Ucap ahmad lirih melihat kamarnya penuh dengan debu.

Mereka berdoa segera mulai bersih-bersih, mengambil sapu dan alat pel dari gudang. Di kamar yang berbentuk persegi, cuma ada tempat tidur, barang lain mereka harus menyediakannya sendiri. Karena mereka hanya membawa pakaian, perlengkapan untuk mandi dan bekerja. Mereka harus melengkapi kekurangan yang lain sendiri. “Yah, pelan-pelan sambil menunggu gaji nanti” Pikir Ahmad yang tidak mau membebani orangtuanya.

“Jat untuk sementara kita berhemat dulu ya, sambil nunggu gajian nanti kita lengkapi keperluan sehari-hari kita” Ucap Ahmad mengutarakan pikirannya.

“Oke Mat, kita pasti bisa … semangat” teriaknya sambil mengusap perutnya “tapi sekarang kita cari warung dulu Mat …laper.”

Ahmad tersenyum melihat temannya “Sama, aku juga sudah lapar … sekalian beli mie instan sama air putih buat sehari-hari.”

“Oke Mat."

Mereka berjalan turun dan mencari warung sederhana di dekat tempat kontrakan dan memesan 2 nasi campur dan segelas kopi untuk berdua. Sambil menikmati kopi, suara pembawa berita di televisi masuk ke telinga mereka.

“Berita penting… Baru-baru ini di seluruh wilayah indonesia dan dunia muncul parasit yang dapat mengendalikan tubuh manusia dan hewan. Parasit ini berasal dari cacing bulu kuda atau Nematomorpha. Cacing parasit ini menular lewat mulut, gigitan dan dari air yang terdapat telur cacing parasite yang siap menetas. Masih belum di temukan bagaimana cara untuk menangkal parasite ini. Menyaring dan memasak air yang akan digunakan akan membunuh telur dari cacing. Rakyat Indonesia dihimbau untuk tetap di rumah dan tidak melakukan kegiatan di luar rumah.”

Penyiar cantik di televisi terus mengulang-ulang berita yang di bacanya. Ahmad dan Jatmiko tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Berita ini terlalu mendadak, terlalu mustahil untuk mereka terima. Mereka hanya berdiri diam tidak memperhatikan kalau penjaga warung dan pembeli lainnya sudah pergi entah kemana, sampai teriakan wanita pembawa berita membawa kesadaran mereka kembali ke tubuhnya.

Aaahh…

“Oh tidak, ini nyata” pikir Ahmad ketika melihat layar di televisi sudah menghitam.

Jatmiko di sebelahnya berbisik sedikit ketakutan “Pak Yanto Mat.”

Ahmad menoleh padanya dan mengangguk “Ehm” dengan cepat dia menghubungi keluarganya dan memberikan informasi dari televisi. Menyuruh mereka untuk mengumpulkan makanan dan bersembunyi di dalam rumah. Tentu saja awalnya Pak Yanto marah di kiranya Ahmad sedang bercanda. Setelah beberapa saat akhirnya Ahmad mengakhiri panggilannya.

Penjaga warung sudah tidak ada di tempatnya, hanya mereka berdua yang tersisa. Otak Ahmad berputar cepat, berpikir apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini. Semua ini terlalu mendadak, terlalu tidak masuk akal baginya. Kemudian dia merasakan tangan menepuk bahunya.

“Tenang Mat, Ahmad yang aku kenal tidak pernah mengambil keputusan dalam keadaan panik” Ucap Jatmiko yang melihat temannya kehilangan ketenangannya.

Ahmad yang tertegun oleh temannya mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam sampai dia merasa lebih tenang.

“Maaf Jat, berita ini terlalu tidak masuk akal” Katanya pada Jatmiko.

“Iya, Aku sendiri masih tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar” Ucapnya “Apa yang kita lakukan sekarang Mat” Lanjutnya.

“pembawa berita tadi menyuruh kita tetap di rumah, jadi saat ini kita cari makanan dan minuman untuk sehari-hari sambil memikirkan rencana berikutnya” Ahmad berkata dengan pandangan yang serius.

“Makanan? kebetulan tempat ini surga nya makanan” Celoteh Jatmiko melihat 5 kotak besar mie instan di sudut warung.

Sudut bibir Ahmad berkedut mendengar perkataan Jatmiko “Di situasi seperti sekarang sepertinya itu ide bagus.”

Jatmiko terkekeh dan mulai bergerak cepat mengambil kotak mie dan air putih kemasan.

Ahmad masuk ke dalam warung dan mengambil beberapa bungkus rokok dan di masukan ke saku celananya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!