BAB 14. REKAN BARU

Akari dengan tenang memasukan mata tombak ke dalam tas punggungnya dan duduk diam di sofa. matanya menatap ke pintu kamar, entah apa yang ada dalam pikirannya.

Keesokan paginya di dalam kamar apartemen. Ahmad membuka matanya dan melihat wanita cantik masih memeluknya. Dia tersenyum kecut melihat Rose yang masih tertidur. Wanita yang cemburu memang sangat menakutkan, perut Ahmad terasa kosong, dia tidak makan semalaman, karena Rose tidak memperbolehkannya keluar dari kamar.

Menghela nafas pelan sambil memainkan rambut pirang Rose dia berbisik lirih “Rose, sayang, sudah pagi ayo bangun.”

Bulu mata Rose bergetar, perlahan matanya terbuka dan dengan senyum menyapa Ahmad “Selamat pagi juga sayang, ahh…baru kali ini aku bisa tidur nyenyak.”

“Hmm, Aku juga tidur nyenyak semalam…”

Kruukkkk…

Mulut Ahmad membeku ketika suara perutnya menggema di dalam kamar.

Rose tertawa mendengarnya “Ayo keluar aku akan memasak sesuatu yang enak untukmu.”

Ahmad hanya mengangguk dan mereka berdua segera memakai pakaian mereka. Ahmad melihat tubuh indah rose dan memeluknya dari belakang “Terimakasih Rose.”

Rose tersenyum dan memegang tangan Ahmad yang memeluknya “Aku melakukannya karena aku menyayangimu Ahmad, ayo, aku pasti membuatmu kelaparan” Rose menyeret Ahmad keluar dari kamar.

Akari yang tidur di sofa terbangun ketika mendengar pintu kamar terbuka “Selamat pagi anata.”

“Hmm selamat pagi Akari, kenapa kamu tidur di so….”

Kruuuukk…

Ahmad tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perutnya tidak berhenti bersuara “Ah, maaf, aku sedikit lapar.”

Akari tersenyum dan bangkit dari sofa “Hmm, kamu tunggu sebentar, aku akan membuatkan sesuatu untukmu.”

“Tidak perlu, aku yang akan membuatkannya makanan” Rose berkata sambil berlalu ke dapur.

“Hmm, aku tidak perlu ijinmu untuk membuatkan anata makanan.” Akari berjalan cepat ke dapur.

Ahmad berdiri diam di tempatnya, tidak mengeluarkan satu pun suara.

“Ehem…pagi hari ini sangat meriah…hoammm” Celoteh Jatmiko yang mengintip dari kamar sebelah.

Ahmad menoleh ke temannya dan berbisik lirih “Jat, carilah wanita satu saja, jangan meniruku.”

Jatmiko tidak bisa menahan tawanya melihat temannya berbisik menasehatinya “Jangan khawatir Mat, aku sebagai teman hanya bisa mendoakanmu semoga umurmu panjang.”

Sudut mulut Ahmad berkedut mendengar ejekan temannya.

“Duduklah di sofa, kamu pasti lelah bekerja semalaman, aku bikinin kopi” Ujar Jatmiko terkekeh sambil berjalan ke dapur.

Ahmad menghela nafas pelan dan berjalan ke jendela, melihat Jalanan yang sudah kering dan tak ada death kisser yang terlihat. “Hah, untunglah hujan kemarin hanya sebentar.”

“Yah untungnya, kita bisa melanjutkan perjalanan kita” Ujar Jatmiko dari belakangnya.

“Bukannya kamu mau bikin kopi Jat?”

“Suasana di dapur mengingatkanku ketika di ruangan guru BK waktu kita sekolah, nanti saja kopinya” Ujar Jatmiko dengan senyum kecutnya.

“Haah…”

“Haah…”

Mereka mendesah bersama dengan alasan yang berbeda, mengeluarkan sebungkus rokok, menikmati batang berasap dengan senyap.

4 sosok manusia terlihat baru saja keluar dari apartemen. 3 dari mereka memegang tombak di tangannya sementara yang satu hanya memegang pedang.

Mereka berjalan menyusuri Jalanan, menghindari mobil yang parkir se-enaknya. Dari kejauhan terlihat seorang pria melambaikan tangannya pada mereka.4 orang itu berhenti sejenak, Ahmad tidak dapat melihat wajah pria itu karena masih jauh.

“Siapkan senjata api kalian, kita tidak tahu maksud dan tujuan orang di depan kita, dan tetap waspada” Ahmad berkata pada rekannya. “Ingat, gunakan senjata api kalau kita terdesak saja.”

“Ahh akhirnya kamu berguna juga teman lama ku” Ujar Jatmiko mengeluarkan pistolnya.

Rose sudah siap dengan pistolnya sendiri “Darling apa kamu ingin senapan ku?”

“Tidak untuk saat ini, Akari, kamu tidak ada senjata api? Ahmad melihat Akari yang masih tenang dengan katana nya.

“Tidak perlu anata, aku cukup ini saja” Jawabnya sambil menepuk sarung pedangnya.

Ahmad mengangguk “Baiklah, Aku dan akari akan maju duluan untuk berbicara dengan orang itu, kalian berdua melindungi kami dari belakang.”

Rose sedikit mengernyitkan alisnya “Jat, kamu bisa memegang senapan?”

“Hmm, ya aku pernah mempelajarinya di internet.”

Ahmad yang bingung dengan perkataan Rose hanya bisa diam saja dan melihat apa maksudnya.

“Bagus” Rose melepas senapan serbunya dan beberapa amunisi lalu menyerahkannya ke Jatmiko “Ini kunci pengamannya” Kata Rose menunjukan pengaman senapan “Kamu di belakang melindungi kami bertiga.”

Ahmad yang menyadari maksud Rose hanya bisa tersenyum kecut. Sementara Jatmiko senang melihat mainan barunya “Oke sis, serahkan padaku.”

“Baiklah ayo kita mendekat” Ahmad dan 2 wanita cantik berjalan di sisi kanan dan kirinya menghampiri pria mencurigakan itu.

Ahmad berjalan sambil melihat di sekitar pria itu, ada 2 anak muda dan 1 anak kecil yang berdiri di belakang etalase toko pakaian.

“Aku tidak berniat buruk Mas, tolong jangan curiga” Pria itu berkata setelah melihat kami yang bergerak dengan hati-hati.

Ahmad mendekat perlahan “Ada apa Pak?”

Pria itu menghela nafas melihat lelaki muda di depannya yang masih berhati-hati “Aku kemarin melihatmu memasuki apartemen itu dan melihat kalian mempunyai senjata, aku dan anak-anakku hanya ingin pergi dari kota ini Mas, tolong ajak kami Mas” Pria paruh baya itu berbicara sambil meneteskan air matanya.

Ahmad melihat 3 anaknya, 2 laki-laki mungkin agak sedikit di bawah umur Ahmad dan 1 anak perempuan seumuran Sisca.

“Bagaimana menurut kalian?” Ahmad bertanya pada 2 wanitanya.

“Apa mereka bisa menghadapi death kisser? Aku tidak mau membawa beban yang hanya bisa makan dan tidur” Ucap Rose.

Pria itu bergidik mendengar kata-kata Rose “Kami akan belajar, asal kamu mengajari kami, kami pasti bisa melawan monster itu.”

Ahmad memuji kepintaran Rose dalam benaknya “Akari? bagaimana menurutmu?”

“Terserah anata, aku akan melakukan apapun yang anata mau” Sahut Akari dengan tenang.

“Tolong Mas, hanya kamu yang bisa menolong kami, persediaan makanan kami hampir habis.”

“Baiklah, seperti yang istriku bilang aku ingin kalian belajar melawan monster itu, kami tidak ingin beban.”

Rose tersenyum lebar mendengar kata-kata Ahmad memanggilnya istri. Akari hanya diam dengan tenang tapi terlihat tangannya sedikit meremas pedangnya.

Pria itu memegang tangan Ahmad sambil menangis “Terimakasih Mas, terimakasih, kamu menyelamatkan hidup kami sekeluarga.”

“Sebaiknya kita masuk dulu” Ahmad melambai ke arah Jatmiko mengajaknya masuk toko.

“Kemasi barang kalian, kita akan segera pergi” Ucap Ahmad ke pria paruh baya itu.

Pria itu berlari ke anak-anaknya dan mulai mengemasi barangnya. Jatmiko segera menyusul dan Memasuki toko, melihat ada tas gunung yang terpajang di toko, dia segera mengambilnya.

Rose dan Akari melihat pakaian wanita dan segera memilih beberapa.

Ahmad berdiri di dekat pintu toko sambil mengawasi sekitarnya. Pria itu datang Bersama ketiga anaknya mendekati Ahmad “Sekali lagi terimakasih Mas, perkenalkan nama saya Jaka, ini anak saya Tommy, Sulton dan Melati”

Ahmad mengangguk dan menjabat tangan mereka “Aku Ahmad, 2 wanita tadi istriku, Rose dan Akari, lelaki yang di sana Namanya Jatmiko, saudaraku” Ucap Ahmad seraya menunjuk ke Jatmiko.

Melihat tas biasa yang mereka bawa Ahmad berbicara “Lebih baik kalian mengganti tas dengan yang lebih besar, masukan beberapa pakaian, nanti sisanya kita isi dengan makanan, semakin banyak makanan semakin lama kita hidup.”

Pria itu diam sejenak “Ah, aku mengerti, Tom, Ton, ikut Bapak.

Melati di sini sama Mas Ahmad ya” pria itu pergi dengan 2 anaknya.

“Kakak Ahmad istrinya cantik cantik” Celetuk Melati di sampingnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!