“Aku mendapat pesan dari seseorang di internet, dia bilang akan bergabung dengan kita di sini, dia juga membawa banyak bawahannya, hmm…dia juga tahu tentang negara besar yang mengirimkan pasukan dan ilmuwan kesini bagaimana menurut kalian.”
“Hmm, berita itu memang terlalu besar, aku tidak terkejut kalau itu akan bocor” Ujar Akari di sampingnya.
Orang di dalam rumah mendengar pembicaraan penting segera keluar dari rumah dan bergabung di teras rumah, yah kecuali 2 anak kecil yang kecapekan dan tertidur. Tommy dan Sulton membawa serta piring makannya dengan mereka.
“Berarti kita perlu mencari rumah yang lebih besar.”
“bawahannya hampir memenuhi satu Gedung apartemen di ibu kota” Sahut Ahmad.
Karena tidak ada yang bicara Jatmiko menyalakan rokoknya “Ahh sunyi sekali malam i…Aduuh
Bu apa salahku?” Ucap Jatmiko sambil mengelus kepalanya yang di pukul Bu Yanto.
“Sejak kapan kamu merokok? Kerja saja belum malah merokok” Bu Yanto memarahi Jatmiko.
“Iya-iya Bu aku matikan” Ahmad dan yang lainnya terkekeh melihatnya.
“Darling, apa di sekitar sini ada bangunan besar yang di sekitarnya hanya tanah kosong? Tanya Rose.
“Hmm, ada tapi agak jauh, kabarnya villa itu milik seorang pejabat di Ibu Kota.” Ujar Bu Yanto.
“Itu saja, nanti orang yang datang bisa membangun rumah di sekitarnya.” Ujar Rose
“Hmm, Baiklah, kalau begitu kita tinggal menyiapkan persediaan makanan dan peralatan yang di butuhkan.” Kata Ahmad.
“Serahkan itu pada kami Mat, kami akan ke kota kecil terdekat dan mencari semuanya di sana” Kata Jatmiko merangkul Tommy dan Sulton.
Mereka mengangguk “Kami bisa membawa apa saja kan Mas? Tanya Sulton.
“Ya asalkan tidak berisik ton.”
Keesokan harinya mereka berjalan menuju Villa, akses menuju villa sangat nyaman dengan jalan yang sudah di aspal dan cukup lebar. Beberapa bangunan yang berjauhan terlihat di kanan dan kiri mereka. Karena mereka sudah di kaki gunung, cuaca terasa agak dingin, pepohonan nampak berbaris dimana-mana. Dulu Ahmad dan Jatmiko sering kesini dan mendengarkan banyak suara burung yang berkicau, tapi sekarang tidak ada satupun suara burung yang bisa mereka dengar.
“Pemandangan ini mengingatkanku dengan rumah” Ujar Akari tiba-tiba.
“Ya pemandangan ini memang sangat indah, di tempatku berasal hanya Gedung pencakar langit d sekitarku” Rose merentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata.
“Dulunya daerah ini memang terkenal dengan cuacanya yang dingin dan pemandangannya, sayang sekali banyak orang yang menebang hutan hanya untuk membangun villa” Bu Yanto berucap.
“Yah setidaknya kita harus berterimakasih pada orang yang membangun villa di depan kita” Ahmad berkata sambil melihat bangunan putih 2 tingkat yang di kelilingi tembok tinggi.
Jatmiko mengeluarkan linggisnya dan segera merusak gembok besar yang terpasang di pagar tinggi berwarna putih.
“Tempat yang bagus” Ujar Pak Jaka melihat villa di depannya.
Mereka segera masuk dan melihat ada kolam kosong di depan rumah. Dinding lantai pertama yang terbuat dari kaca memudahkan mereka melihat ke luar, ruangan untuk menerima tamu terpisah dari bangunan utama. Ada 4 kamar tidur, dapur dan ruang keluarga di lantai pertama, sedangkan di lantai 2 terdapat 6 tempat tidur dan 1 ruangan untuk bersantai.
Rose tidak bisa menahan senyumnya saat melihat kamar tidur yang besar dan ada kamar mandi pribadi.
“Kalian bisa memilih kamar kalian sendiri, Jat kita lihat tandon air di atas, coba kita kasih penyaring agar telur cacing itu tidak masuk, di tambah pemanas air kurasa kita bisa mandi dengan normal lagi”
“Oh serahkan soal tandon padaku Mas, kebetulan aku punya pengalaman” Sahut Pak Jaka percaya diri.
“Syukurlah kalau begitu aku harus merepotkan Pak Jaka”
“Ehm...Jangan khawatir”
Mereka pun berpencar dengan kesibukannya masing-masing. Ahmad dan Bu Yanto memilih kamar di lantai pertama sedangkan yang lain memilih kamar di lantai 2. Ahmad ya sedang di dalam kamar sedang berbincang dengan 2 wanitanya. Terlihat Rose yang melotot kearah Akari, berdebat tentang kamar yang harusnya terpisah. Ahmad yang berada di tengah mereka hanya diam melihat istrinya.
“Baiklah sekarang jawab aku, kalau Anata tidur di kamarku apa kamu akan menerobos masuk seperti yang dulu?” Tanya Akari seperti biasa dengan nada tenang.
Rose yang mendengar kata-kata Akari menggertakan giginya, diam tidak menjawab.
“Hmm, aku tahu itu.” Ujar Akari melirik Rose yang terdiam.
Melihat mereka tidak bersuara lagi, dia berbicara “Baiklah kita semua tidur bersama untuk saat ini, sekarang aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting dengan kalian.”
Ahmad melihat mereka hanya mengangguk dan melanjutkan “Jadi, kalian tahu kan kalau meteor itu jatuh di danau, dan danau itu letaknya tidak jauh dari kita”
Para wanita mengernyitkan alisnya menatap Ahmad.
Ahmad merogoh ponsel di saku celananya dan memperlihatkan posisinya sekarang dan menunjukkan lokasi danau “Jangan khawatir, danau itu sekitar 6 jam dari sini, jadi tempat ini masih aman, dan aku punya beberapa kecurigaan tapi aku harus mendekat dan melihat danau itu sendiri…yang aku ingin katakan, aku hanya bisa mengajak salah satu dari kalian, aku juga ingin seseorang yang aku percaya untuk menjaga Ibu dan Sisca di sini, Jatmiko juga sebentar lagi sibuk mencari barang di kota.” Ahmad memandang kedua wanitanya.
“Aku akan menjaga Ibu dan Sisca, aku tidak pintar seperti Rose, anata butuh Rose di danau nanti, aku hanya ahli menebas” Jawab Akari tenang.
Ahmad tersenyum dan mengelus pipi gadis samurai “Kamu juga pintar Akari, jangan merendahkan dirimu sendiri, kalau begitu aku dan Rose akan berangkat sekarang.”
“Sekarang?” Suara kompak mereka terdengar seperti music di telinga Ahmad.
“Hmm, kita tidak punya waktu, aku harus melihat danau itu sebelum lebih banyak lagi orang yang datang ke danau” Ucap Ahmad tenang.
“Baiklah” Rose menganggukkan kepalanya.
“Anata karena aku bersedia tinggal…aku…aku, ingin hadiah nanti malam” Akari sedikit malu-malu yang malah terlihat imut.
“Hmm, tentu” Ahmad mencium Akari dan segera bersiap.
“Oi Mat kamu nitip apa di kota?” Teriak Jatmiko yang sudah berjalan agak jauh darinya, Tommy dan Sulton di sampingnya.
“Tidak ada, hanya barhati-hatilah.”
Jatmiko hanya menunjukan jempolnya dan berbalik.
Ahmad pamit ke Ibunya yang berada di dalam pagar dengan 2 anak kecil dan Akari. Melihat ke atap bangunan Pak jaka melambaikan tangan padanya. Ahmad menganggukan kepalanya dan berjalan pergi dengan Rose.
Cukup lama mereka berjalan menyusuri hutan tidak ada akses jalan buatan manusia kearah danau tersebut yang memang cukup terpencil. Mereka juga tidak bertemu dengan death kisser manusia atau hewan. Rose yang berjalan di sampinya melihat kearahnya dan berbicara “Darling, apa kamu tidak percaya dengan orang dari negara lain?”
Ahmad menatap Rose dan menggelengkan kepalanya “Sayangnya tidak, Aku hanya mempercayai keluargaku” Ahmad berhenti dan meraih tangan Rose “Coba kamu pikirkan, sebuah batu yang mampu membuat cacing kecil berevolusi menjadi monster menakutkan, menyebar ke seluruh dunia hanya dalam beberapa hari, mampu mengontrol tubuh manusia” Ahmad diam dan menunggu respon Rose.
Rose yang mendengar perkataan Ahmad mengernyitkan alisnya “maksudmu mereka akan memanfaatkan batu itu untuk menguasai dunia? Tapi Papaku…”
“Honey, aku kan sudah bilang kalau aku mempercayai Papamu”
Rose berpikir lagi “Maksud kamu negara lain?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments