Cara Kerja dari Artefak

Kerja artefak itu seperti alat yang musti memakai bahan bakar, seperti halnya benda-benda di hadapan Dijara sekarang. Siska membawanya menuju pameran artefak, entah siapa orang-tua gadis ini hingga dapat memasuki acara semacam ini. Tungku depan Dijara menggunakan bahan bakar ramuan pemulih sihir mirip kompor di bumi, bahkan dari bentuk, sangat mirip kecuali bahan bakarnya.

Senapan serbu Dijara memiliki cukup banyak kelemahan, yang merugikan. Karena itu senjata belum sempurna. Karenanya Dijara ingin sekali mendapat cara ampuh agar dia tidak senantiasa membawa ramuan pemulih, sangat merepotkan, apalagi Siska menawarkan masuk ke dalam tim untuk membantunya. Dia sangat tidak menyukainya.

"Ngomong-ngomong Dijara, siapa kekasihmu itu bahkan orang-tua kamu tidak tahu, lho."

"... Dia seorang gadis."

"Tolonglah serius menghadapiku sedikit," kata Siska. Dia menghela napas mendengar respon Dijara. Gadis ini memahami perasaan orang lain, ketika dia bersikap dan berperilaku semacam ini, membuat berpikir bila ini ialah sebuah karma atau balasan. Sikap Dijara acuh tak acuh.

Mereka dalam perjalanan menuju rumah Dijara, satu hal yang dapat membuat Siska bercakap-cakap serius dengan laki-laki ini, yaitu hal berkaitan dengan apa yang tengah dikerjakan oleh dia akhir-akhir ini. Dari informan Riia, Siska tau bila alasan Dijara jarang memperlihatkan dirinya sebab sedang bergelut memperbaiki senjatanya.

Siska duduk di tumpukan kayu bakar. Dia melihat Dijara sedang bongkar pasang alat itu, dalam hati Siska tahu kalau laki-laki ini berusaha sekuat mungkin bertahan di lingkungan yang serba sihir. Jika dia dalam posisi orang ini, maka antara menjadi orang biasa atau berusaha sekuat yang dia mampu. Tetapi Dijara terkesan sangat ingin melampaui kesanggupan dari si manusia, pikirnya.

Dijara tidak menerima upah uang dari serikat, mendapat hasil jarahan seperti kristal sihir dan lain-lain lebih baik untuknya. Karena itu Siska mengetahui bila hari ini Dijara kan membuat sesuatu yang gila. Dengan memanfaatkan artifak, Dijara memakai sebuah kotak kaca persegi, yang seperti wadah cairan kental yang berisi energi sihir pekat.

"Sekarang terasa lebih nyaman, busa memang yang baik tuk pegangan. Lalu kupikir bahan ini lebih enak dipegang ketimbang kayu.." gumamnya memperhatikan sesuatu.

"Padahal hampir semua laki-laki tertarik padaku. Cuman dia aja yang tidak peduli, saat aku berusaha memahami lelaki ini dan sedikit tertarik, aku malah kehilangan batasan. Lalu ku menyukainya, gimana nih?" Tanya Siska dalam hati, muka dia memerah diantara lekukan pipi malu-malu gadis ini tersenyum kecil memperhatikannya.

———

Remaja laki-laki yang penuh semangat dengan hati yang berbunga, itu dilihat Riia pagi ini. Sewaktu dia berbalik melihat Dijara membuat ia seperti berekspresi resah, dia sangat terang-terangan, sehingga Dijara menoleh sambil menyilangkan tangan dan menatap heran kepada ayah selama beberapa detik. Mereka baru kembali setelah dia menginap di rumah kakek menciptakan beberapa benda.

Dapat dibilang Dijara membuat sebuah artefak yang tipe senjata. Dia mencoba menembakkan proyektil dengan beruntun, alangkah terkejut menemukan zirah yang keras dan mahal itu berlubang-lubang. Remaja ini bersemangat untuk menembakkan semua yang dimiliki, dalam perspektif Riia, seperti melihat dia memiliki pedang sihir.

"Mungkin dulu ketika aku pertamakali memegang senjata sihir, ekspresi ayah sepertimu..."

"Yah. Kalian izinkan aku berpetualang nggak?"

"Kamu mau pindah ke serikat petualang? Ngambil misi di dua tempat juga, boleh, kok."

"Bukan, aku mau cari seseora... tidak, maksudku mencari hal baru dan tambah lebih kuat." Dijara mengatakan itu, dengan ekspresi muka sulit melontarkan kata-kata. Pada momen ini Riia membisu tak sanggup berkata-kata lagi.

Pria ini usai mencerna omongan Dijara seketika panik, dia mengira bahwa putra mereka muak pada sesuatu hal maupun alasan-alasan lain. Namun Dijara menyangkal ke Riia, semua itu tidak benar, dia ingin mencari seseorang yang mau ditemuinya. Dengan bentakkan ayah memarahi anaknya karena mengatakan hal yang tak masuk diakal.

Dijara menyadari bila ayah seperti membulatkan tekad, ia melihati kedua kaki dan lawan bicara memahami maksud tatapan itu. Mereka berdua saling menodongkan senjatanya. Riia akan menebas beruntun, terpaksa Dijara melempar senapan, ia menggunakan ilmu bela diri untuk menghalau serangan Riia. Dalam ayunan membabi buta, Dijara sangat kesulitan karena lawan tidak menahan diri.

"Ini kesempatanku!" Batin Dijara.

Ia mengambil sikap tinggi, mengayunkan pedang secara menurun dan Dijara menangkap bilah menggunakan kedua telapak tangan. Lalu ketika Riia memakai tenaga, mendorong pedang bermaksud memotong tangannya, Riia yang pada keadaan kan tersungkur hilang keseimbangan tiba-tiba Dijara menggunakan momentum yang tepat, Dijara gesit menuju titik buta mata manusia.

Dijara menepik punggung tangan Riia, dia melemahkan kekuatan cengkraman musuh dan menjatuhkan senjatanya. Tindak lanjutan Dijara menarik ke belakang, membantingnya sekuat tenaga, usai dijatuhkan sekuat tenaga Riia mencoba berdiri. Belum sempat bertumpu, Dijara menusuk kedua kaki Riia dan melukai lengannya.

"Gah! Jangan bercanda, Dijara, dengan kekuatan segitu kau mau berkelana? Tunggu setidaknya kau berumur lebih dari dua puluh tahun, baru kamu mendapat izinku!"

"Ayah selalu bertarung sendirian, karena cara berpedang yang seperti angin mengamuk dan membabi buta itu. Alasanmu bertarung dengan ibu menggunakan tameng, itu karena ibu memiliki serangan serta teknik pedang yang bagus, namun pertahanannya itu cukup lemah dan kadangkala cukup ceroboh." Dijara tersenyum tipis, lalu mengatakan, "intinya semua orang selalu ku perhatikan."

Ibu melangkah datang, tampaknya mendengar perkataan mereka barusan dan memeluk Dijara. Helaan napas remaja ini sangat jelas. Wanita ini terus mengusap-usap kepala putranya, belaian lembut disertai kata-kata yang manis membujuk agar Dijara tetap tinggal. Namun, Dijara tetap menolak dan bersikeras pergi mencari seseorang.

Dijara melepaskan diri dari pelukan ibu untuk pertamakali sembari mengatakan, "asal ibu tau, sihir maupun racun pelemahan tidak akan bekerja pada tubuh anakmu, tahu."

Mereka berkumpul untuk membicarakan maksud Dijara ingin pergi. Sedari umur lima belas tahun, mereka telah mengetahui jika Dijara terkesan lagi mencari seseorang tetapi berhenti di awal tahun enam belas. Melihat dia membuat senjata, mengumpulkan uang itu memberikan keyakinan pada Riia dan Liana, anak mereka akan pergi.

Dimulai dari ingatan dan mimpi, Dijara tak langsung jelas mengatakan dia lahir kembali. Tetapi mengungkapkan kalau dia terus bermimpi dan memiliki kenangan dengan seseorang, seorang kekasih. Raut muka Dijara sangatlah serius, menutup rapat mulut kedua orang ini dan berusaha untuk tidak menyela cerita lalu rencana Dijara.

"Kamu mendapat izin dari ibu. Tapi bila ada kesempatan pulanglah, ibu sama ayahmu senantiasa menunggu ketibaan putraku ini.." lirih ibu, dengan ekspresi terpaksa tak merelakan kepergian. Yang disembunyi mati-matian.

"Tidak usah khawatir, yah, dalam pencarian ini aku takkan selalu bertarung dan memilih lebih banyak kabur untukku mementingkan nyawaku buat bertahan hidup," kata Dijara menutup rapat dan mengakhiri perlawanan Riia, walaupun dalam hati dia paham Riia mencegah dia pergi tuk mewakili sisi Liana yang tak merelakan keputusan itu.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!