Langit menjadi latar, semerbak wangi bunga magis untuk berembus mengikuti angin menjadi pelengkap panggung dan susunan suasana. Di bawah gemawan berarak awan seorang remaja laki-laki, berdiri dengan berwibawa menjawat pedang, dalam hati ia terbakar amarah meruak rata. Dilukiskan dengan lekuk ekspresi yang agak rumit.
Dengan setiap gerakan yang dilakukan tersirat warita kan beriringan meluncur dalam harmoni, dengan dentingan lonceng di pergelangan tangan kiri menyusun irama sedemikian rupa. Mengandung irama dan keharmonisan melambangkan kekuatan, lalu kelemahan. Dia menari membungkam, dengan kata-kata yang tidak terucapkan.
"Ini sangat..."
Mata Siska berbinar-binar menandakan kegembiraan hati melihat laki-laki dengan tarian pedangnya, namun lambat laun gadis ini merasakan suatu keganjilan. Di sekeliling sederet bunga mekar terbuka, mengelilingi si penari yang sibuk memandang jauh melebihi jarak angkasa, tercipta melingkar cantikan mempesona. Disusul kelopak bunga berkeliaran sekitar, dengan muka penuh akan kesedihan.
Seorang gadis menyaksikan, terpikat pada laki-laki yang memandang jauh melewati diri gadis itu meski mata saling bersua, Dijara tidak mengindahkan. Terpaku pada langkah kuat, memijak tanah dengan lembut, ia terpaku pada tarian itu menjadi saksi-saksi keindahan dan peduli.
Diantara gerakan serta lompatan, Dijara mengungkapkan cinta yang tak terhingga, menceritakan kisah yang penuh kegembiraan membungkus sebuah penyesalan. Isi tarian pedang indahnya, menyatukan dua jiwa yang sedari awal sudah bertaut, mengisi hati dan pikiran hampa menyulam kehidupan pada mimpi tak terpisahkan, lalu menyisihkan.
Dengan alunan denting lonceng lembut, puncak tari yang mengukir senyum dalam memori, menguak seluruh dalam melodi. Dijara membungkukkan sembari meratapi, melihati dunia indah yang dimiliki. Berharap semua kisah yang berlalu, abadi terungkap di nyata melewati tarian ini.
"Benar-benar, kamu seperti bercerita dengan gaya." Siska bertepuk tangan, berkata dengan senyuman tipis yang sedang menyembunyikan sumringah. Biarpun sedikit dia terlihat ingin mengucapkan suatu, tetapi memendamnya.
Seraya menghadiri acara festival, mereka bercengkrama berdua menikmati perayaan mengenai musim ini dan masyarakat merayakan dengan suka ria. Sembari mereka berkeliling, mencoba berbagai permainan dan mencicipi makanan hampir disemua kedai sebrang jalan. Meskipun Siska mencoba bersikap seperti si judes, secara natural dia langsung bertukar sikap ke sifat asli hadapan Dijara.
Siska berkata ia melihat ekspresi Dijara, saat menari dia seolah-olah menunjukan kecintaan beserta kebahagiaan dalam awalan saat memulai tarian. Namun, saat-saat terakhir Dijara seperti mengungkapkan marah dan benci lewat gerakan tegas. Lebih agresif memainkan pedang.
"Jadi, aku pikir kamu menciptakan gaya berpedang yang unik itu bukan sekedar buat tarung, maka aku inisiatif ingin melihatnya sekali lagi dan kamu seperti..."
"Ingin melindungi seseorang," lanjut Dijara menambahkan kalimat Siska. Lelaki ini benar-benar melihat diri gadis yang dicintainya dalam penampilan dan kelakukan Siska, sehingga dia sangat lupa, bersikap sebagaimana Dijara tanpa ingatan masa lampau. Membuat dia ketakutan bila sampai titik dimana Dijara berusaha ingin melupakannya.
Dia tak ingin kutukan itu lenyap, biar gadis itu senantiasa seakan-akan mengutuk dan memenjarakannya. Laki-laki ini tidak peduli. Dirinya tetap menghadapi Siska, sebagai manusia biasa sekaligus Dijara. Dia menghela napas panjang memandang tinggi langit melihat seekor burung, selagi para bangsawan dan keluarga kerajaan menaiki kereta menyapa rakyat dikawal pawai barisan tentara ini.
Siska menoleh kepada laki-laki di sebelah, terdapat muka yang sedang memikirkan sesuatu hal. Sewaktu pikiran ia melayang kemana-mana, Siska menarik Dijara kembali ke kota bagian selatan dan dalam perjalanan menuju serikat seluruh pemburu memandangi Dijara. Tajam beserta penuh ketidaksuka mereka terhadapnya terang-terangan.
"Kau lakuin apa?"
"Mengapa kamu kembali ke setelan pabrik?" Tanya Dijara sambil melengkungkan bibir, tanpa diduga olehnya dia melihat gadis ini tersipu dan langsung membuang muka.
Mereka berpisah depan serikat, karena bila tak ada tugas dia berniat untuk malas-malasan sampai sore, kemudian membantu kakek agar cepat selesai. Sepanjang jalan menuju rumah ada orang-orang, yang selalu saja melihati Dijara seolah-olah ia penjahat. Tanpa memikirkan perihal tersebut remaja laki-laki ini tetap maju menuju rumahnya.
Sebelum masuk sudah ada Riia, ayah. Menunggu pulang putra satu-satu yang dimiliki dengan ekspresi cemas, kemudian bergegas menyeret Dijara masuk kedalam dan memintanya duduk. Dengan heran Dijara duduk bersila, disusul ibu setelah menaruh minuman dan bersimpuh di hadapan mereka berdua seperti mendiskusikan sesuatu.
"Mengapa. Mukaku sekarang kelihatan semacam seekor monster, sampai para pemburu melihatiku?" Dijara melempar pertanyaan, dia melirik ayah sesudah berkata.
"Tak. Mukamu sudah tampan," pria ini mengangkat muka seperti sedang membanggakan lekuk muka. "Karena kamu mewarisi ketampanan ayah!" Tambah dia kedalam kalimat awal, membuat Dijara menatap dengan jijik, sama seperti ibu memperlakukan pria ini dengan begitu.
Membuang candaan ini Riia menjelaskan situasi seketika mereka pergi ke festival, kabar kalau Siska dan Dijara itu berduaan langsung menyebar seisi kota bagian selatan waktu mereka pergi. Namun, yang paling salah ialah satu karangan, Dara dan Kiara mengubah berita yang beredar menjadi tuduhan tidak berdasar tanpa bukti. Alhasil warga kota ada yang percaya dan tak. Sisanya itu netral.
Siska bisa dianggap salah satu bangsawan, karena kasta lebih memandang kapasitas besar energi sihir dan gadis itu memiliki kapasitas terbesar. Berada pada peringkat dua, seusai seorang pangeran yang hampir menjadi yang terkuat, karena belum pernah kalah dalam sihir maupun ilmu menggunakan senjata. Dia seorang jenius yang lahir.
"Lalu mengapa? Dia yang ingin menemui diriku, lagi pula ayah yang memberitahu bahwa Siska dan yang lain menunggu di gerbang, bukan!" Kata Dijara mengeluarkan sedikit emosi. Dia tak suka menjadi bahan gosip ibu-ibu.
Ayah tersenyum masam, dia menunjuk ibu seperti sales yang menunjukan produk unggulan mereka, "ibu kamu nyaris membunuh seorang nenek-nenek karena mereka mengejek kamu. Dijara memakai ilmu dari iblis, katanya."
"Bukankah iblis sudah punah dibantai kalian manusia, lalu apa hubungan kekuatan iblis denganku?" Gumam Dijara dia menundukkan kepala, merasakan bila ini bakal ruwet.
Kemudian mereka bercerita lagi, Dara yang menyebarkan informasi jikalau Dijara menggunakan ilmu jahat dari iblis untuk menyesatkan hati gadis malang itu. Dengan tarian aneh, mempersembahkan Siska tuk kebangkitan ras dari iblis. Ditambah Dara menyakinkan saat mereka berduel, ada sosok iblis berada di belakang Dijara ikut bertarung.
Merasa sudah cukup, tiba-tiba Kaira memasuki cerita ini menambah emosi Dijara betapa merepotkan dia dalam perburuan maupun hal lain. Hal tak masuk akal lain yaitu Dijara pergi ke festival, untuk mempengaruhi anak gadis dari seorang bangsawan, merencanakan merebut kuasa negara lewat orang dalam membuat Dijara penuh emosi.
"Tuan, mari kita bunuh mereka!" Tiba-tiba suara Dijara ini menjadi berat, mengagetkan kedua orang tuanya. Reflek usai mengatakan itu dia memukul diri sendiri dan berteriak, "isi hati keluar sendiri, jangan dipikirkan. Haha."
"Biar ibu saja. Dulu ibu saat menjadi pemburu berada di peringkat ketiga, mereka hanya debu bagi ibu.." kata Liana, ibu Dijara. Sontak saja ucapan itu membuat Riia panik bersicepat menyeret masuk ibu, tapi ucapan dari ibu memang ada betulnya, dia langsung membuat mati rasa tangan ayah sewaktu ia memeluknya dari belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Bewuwang
kyk puisi kata katanya. bagus Thor!tpi bkin agak bingung /Smile/
2023-12-02
1