Strategi Peperangan dari Dijara

Di serikat pembunuh membawakan barang-barang yang dipinta, mereka mengirimkan ratusan benda aneh dan Dijara memakai teleskop senapan memeriksa sekitaran mencoba untuk mencari tempat yang strategis. Memiliki dua opsi, Dijara memilih kedua tempat tersebut dan menempatkan para pemburu pada beberapa titik di peta.

Alasan satu dekade terakhir, raja kerangka mampu untuk menghancurkan banyak kota karena warga kota dan serikat tidak bertindak. Menunggu prajurit istana datang, tetapi pada akhirnya itu sudah terlambat, kali ini mereka tidak boleh fokus pada pertahanan dan menyerang balik, bagaimanapun juga pasukan ini memiliki satu pemimpin.

"Gali tanah sedalam dan selebar mungkin, para penyihir menghemat daya energi untuk melakukan aksi akhir sementara yang lain ikuti Riia. Lalu sisanya itu pemanah sertai aku dan Siska ikut denganku," Dijara mengulurkan tangan setelah melontarkan titahan, ditatap iri dengki.

Tidak semua pemburu mau ikut rencana pemakai sihir iblis, karena itu regu yang dipimpin oleh Dijara cuma berjumlah sepuluh dan yang ikut rencananya tidak lebih dari seratus orang. Sisa dari mereka mempertahankan kota. Dijara menghela napas, bila dia tidak bergerak, tentu saja kerja keras selama ini kan lenyap begitu saja.

Tempat berkumpul para tentara tulang cukup jauh. Dari tempat tinggi, bukit, terlihat bukan lebih dari dua puluh ribu melainkan lebih lagi dan raja kerangka tidak menampakkan diri membuat Dijara menghela napasnya lalu bersiap. Dia dengan para pemanah akan memanah tengkorak yang akan mendekat atau mengancam, sekaligus menjadi informan dan melihat situasi perang.

"Siapkan suar. Lalu.. pasukan menyergap sudah berada dalam posisi, kita tinggal menghancurkan kristal yang menjadi sumber energi para tengkorak.." ucap seorang pemburu, dia mengamati sekitar dan mengisi busur silang itu dengan anak panah kecil. Buat Dijara terkesan.

Dijara menoleh Siska, Siska yang paham menyentuh jari punggung remaja laki-laki ini. Dia sedang merebahkan diri dengan dada mengarah bawah, membidik kerangka yang menghalangi kristal dan musti menembak cepat agar kristal tidak dihalangi lagi. Pelatuk ditarik kerangka yang menghalangi tumpang, dengan gesit Dijara mengokang dan menembak lagi menghancurkan kristal.

"Penunggang kuda mulai lari kemari!" Kabar pengamat.

"Nyalakan suar merah!" Titah Dijara.

Setelah mendengar perintah. Siska melemparkan obor warna merah, yang berarti pertempuran dimulai.

Tempat berkumpul pasukan raja tengkorak dipisahkan oleh padang rumput liar, rumput itu begitu tinggi sampai bila manusia berjongkok takkan terlihat dan lebih-lebih lagi ini malam hari. Penunggang kuda berjatuhan akibat ulah regu penyergap, yaitu orang-orang dari serikat pembunuh yang tidak peduli akan kematian diinjak kuda.

Meski begitu para penunggang kuda ada yang lolos, itu tugas para pemanah, melihat jikalau rencananya mulai berjalan mulus Dijara lanjut menghancurkan kristal lain dan mengokang senjata dengan cepat. Alhasil dia tersentak kaget menjumpai pelocok senapannya patah.

"Ah, sialan keparat! Mengapa diwaktu seperti ini?"

"Tentu saja senjatamu rusak nak Dijara. Kristal sihir yang menyimpan energi sihir sangat keras, maka ini lebih dari cukup.. kita telah berhasil mengurangi pasukan raja tengkorak lebih banyak!" Kata bapak seorang pemanah.

Dijara menghela napas dia merasakan pusing karena dia sudah memaksakan diri. Peluru yang dia tembakkan itu memiliki tingkat penembusan tinggi, bisa dibilang bahkan dia memakai semua energi sihir yang dimiliki tanpa Siska, peluru takkan keluar. Karena sebelum keluar pun Dijara pasti pingsan maupun tewas sebab kehabisan daya sihir.

Disaat Dijara mengamati arah pertempuran ini. Dia tidak menduga bila pihak lawan memiliki raksasa lebih besar dari naga sebelum, kali ini seperti raksasa besar, bahkan tidak bisa dibilang raksasa tulang karena masih memiliki daging. Lebih seperti genderuwo menurut Dijara, meskipun dalam film di bumi lebih menakutkan darinya.

"Ini tugas si kakek ketua serikat," Dijara tersenyum hampa sebelum melanjutkan, "Siska, nyalakan suar hijau empat kali! Lalu, bisakah dua dari kalian memeriksa sekitar dan memastikan pengintai si wyfern masih berkeliling tidak?"

"Tentu."

"Ya, baiklah."

Dua orang meninggalkan tempat. Dijara juga memikirkan apabila raja kerangka mengirim pasukan agar memutari padang rumput, lalu menyerang kota. Sebab itu dia minta seseorang yang bisa mengintai dari langit sekaligus menjadi pencari raja kerangka, karena perang ini kan usai dengan tumbangnya mahkluk itu. Mereka musti mencari.

"Wah, wah. Pemimpin pihak lawan pasti kebingungan ini."

"Kakek. Cepatlah tukar tempat mahkluk besar itu," kata si Dijara memerintahkan. Kakek menghela napas. Dia tak menyangka akan menuruti perintah seorang bocah, yang semestinya tidak bisa memimpin. Membuat kakek takut.

Mahkluk raksasa itu bertukar tempat dengan meja yang ada dalam lubang, dibuat sebelum mereka berangkat, meskipun bekerja di serikat saja. Dijara tidak hilang akal dan menaruh objek yang ada dalam serikat menuju lubang, tentu saja dia sudah melakukan percobaan dan hasilnya dapat digunakan. Karena Dijara tak ingin gagal.

Ketiga mahkluk dipindahkan oleh kakek. Membunuh satu demi satu, cukup efektif karena tidak usah menguras tenaga dan membuang-buang nyawa. Monster terakhir dipindahkan, tetapi Dijara mengernyitkan dahi merasai akan ada masalah dari monster terakhir. Mirip sekali saat Dijara pergi memburu untuk pertamakali bersama ayah.

"Dia bisa mengubah struktur tulang," Dijara mengigit bibir dan menoleh ke belakang sebelum berkata, "apakah sayap juga mampu diciptakan oleh mahkluk keparat itu?"

Firasat buruk Dijara benar. Mahkluk akhir yang berpindah menumbuhkan sayap, dari kejauhan dia melihat jikalau Liana segera bertindak dan melompat ke angkasa. Pada momen ini Dijara terkesima, ia memutar tubuh mengelak dari serangan dan jatuh sembari membelah dua mahkluk tersebut seperti meteor. Melihat itu ia tersenyum hampa.

"Yah. Pada akhirnya, ibumu sudah mencapai tingkat tiga dan satu tugas lagi dia naik ke peringkat kedua, tetapi ayahmu menikahinya kemudian Liana keluar. Berkata dia akan fokus mengurusmu," jelas ketua serikat memberi penjelasan. Mengingat ia sangat kuat Dijara tak khawatir.

Mereka kembali pada pertempuran, para pembunuh lagi istirahat begitu pula pasukan kerangka tidak berani tuk menginjak rerumputan. Karena sudah menunggu momen ini Dijara minta melempar suar lagi, kali ini menciptakan nyala api warna kuning di langit malam untuk sebuah tanda dan Dijara dengan tim pemanah mundur perlahan.

"Sejauh ini semestinya raja kerangka tidak lagi memiliki pasukan selain tengkorak biasa, semestinya."

"Nak Dijara, rencanamu cukup mengesankan selain dari memindahkan monster ke lubang.." kata ketua serikat, mereka sampai di depan lubang besar. Dari mayat pada lubang semua sihir serangan dilancarkan. Ketimbang membunuh, metode lubang ini mirip seperti penyiksaan.

Selama efektif Dijara akan memakainya. Karena itulah dia bergabung dengan Riia, mereka bersiap untuk memasuki babak akhir, ini waktu dimana seseorang akan merasa waspada terhadap jebakan dan lainnya. Semua lawannya dulu pada saat di bumi akan bersikap seperti itu, mereka akan sangat waspada dan kadang bertingkah ceroboh.

Dijara bersama dua ratus lebih orang kan menyerang dan membasmi semua prajurit tengkorak, tanpa trik maupun jebakan. Mereka akan maju depan memegang senjata.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!