Perawakan betina berubah karena merasa terancam, dia memiliki kaki belakang panjang dengan tangan depan memendek dan cakar memanjang. Jikalau dibandingkan dengan rupa awal, Dijara yakin bahkan struktur tulang dari monster ini berubah dengan cara yang tak diketahui membuat dia penasaran cara monster melakukan hal itu.
Dijara ingin meneliti, meski begitu dia masih memahami situasi yang mengelilingi mereka mengatakan, "sekarang sudah terkepung!" Salah satu penyihir mengabarkan ke ketua, ketua menghela napas dan berkata, "aku bakalan memakai artefak itu! Kalian cepatlah siapkan pelindung!"
Usai percakapan pendek, semua memutari para penyihir bersikap seolah melindungi selagi mereka merapalkan sebuah sihir. Tak lama tercipta sebuah penghalang yang memutari mereka, selayaknya kubah. Dari dalam kubah Dijara melihat hanya ayah yang diluar pelindung. Dia memegangi pedang dengan konsentrasi penuh, sembari selingkungan angin berembus kencang memutari ayah.
Para monster mulai gelisah. Hitungan kroco memasuki jangkauan Riia, angin tanpa belas kasih memotong mereka, sebelum dapat bersentuhan. Perlahan-lahan jarak yang dapat dijangkau angin Riia memperluas, dia mendekati kumpulan monster dan dengan gerak ayunan kecil seolah-olah membuat puluhan tebasan sekali ayun.
Dijara yang fokus mengamati, dia tanpa sadar mencatat sembari bergumam, "kekuatan yang amat luar biasa. Tadi dia bilang 'artefak itu' berarti, punya artefak kuno."
"Pedang itu memiliki kekuatan artefak kuno, yang dapat memanggil kekuatan besar spirit angin agar membantu dalam pertarungan!" jelas rekan kelompok ayah, dengan semangat menuturkan kata. Menjelaskan kekuatan ayah.
Spirit, mahkluk yang bisa dikatakan sebagai perwujudan dari sihir suci. Dijara tidak tahu jelasnya. Namun, dari sikap siap siaga Riia, dia berdiri tegap berniat menerobos masuk untuk menyerang dua monster paling besar dan Dijara tahu bila dia ingin mengakhiri ini dengan sekaligus dalam satu terjangan. Atau dia tidak mampu memakai kekuatan itu dengan kurun waktu yang lama, pikir Dijara.
"Haaaa!"
Riia terlepas dengan cepat, membunuh semua mahkluk tanpa pandang bulu disekelilingnya membuat Dijara tertegun. Jelas itu kekuatan angin. Sulit untuk dikontrol, maka dia menyuruh mereka menggunakan pelindung agar tak terkena serangan. Meski begitu Dijara mengerti bila kekuatan itu sangat singkat, cocok melawan musuh dengan jumlah banyak, tapi tidak efektif untuk monster yang memiliki pertahanan mutlak diselimuti keseluruhan.
"Yang betina, lihat ketua!" Teriak salah satu anggota, dia menunjuk ke salah satu siluet seperti lingkaran. Semua langsung tercengang menjumpai si betina masih hidup, dia tidak terluka. Hanya Dijara yang tidak tercengang.
Disaat-saat terakhir, entah karena naluri bertahan hidup mahkluk itu mengubah struktur tulang lagi menjadi bentuk yang menyerupai tenggiling menggulungkan badan membentuk lingkaran apabila merasai kematian kan mendekat. Karena Dijara sangat fokus menilik pada musuh, dia lihat si jantan melindungi si betina dan memanfaatkan momentum itu untuk mengubah dirinya.
"Dasar, mahkluk yang disebut monster tingkat bencana ke atas nampaknya memiliki kecerdasan!" Batin Dijara, bersama ekspresi penuh kemauan membongkar tubuh itu. Dijara menghampiri ayah dan menepuk pundak mengatakan, "sepertinya ini pertaruhan beresiko, tetapi apakah ayah mau melakukannya atau lebih kabur saja?"
"Hmm mari kita dengar dulu, aku paham kau mengamati musuh tanpa memalingkan pandang. Kupikir kamu bisa membalikan situasi ini.." ayah menjeda kalimat menatap mahkluk bulat itu, menambahkan, "lagi pula jika kita kembali pulang akan ada denda besar menanti kita saja!"
Sebelum mengungkapkan rencana Dijara mempertanyai para anggota, tentang beberapa sihir yang mereka bisa lakukan dan kesanggupan mereka. Dengan kesiapan yang memiliki kemungkinan. Dijara melirik target mereka, di dalam lapisan pertahanan itu, pasti gelap dan hewan itu pasti tidak mendengar suara dari dalam sisik tebal itu.
Penghalang, sebuah sihir yang menciptakan dinding yang transparan dan bentuk tidak hanya buat melindungi. Meski mereka tidak sadar. Pada akhirnya, sihir ini mampu digunakan untuk menyerang juga dengan metode lain dan Dijara memanfaatkan itu. Dia memerintahkan untuk mengurung ayah serta mahkluk itu dalam pelindung yang berbentuk persegi panjang, jika sudah diberi aba-aba.
"Kita harus paksa monster itu tidak menggulung seperti itu, karena pasti ada bagian tubuh yang tidak terlindungi sisik. Tapi bagaimana..." Dijara menyilangkan tangan mengatakan, "coba kita panah dulu. Kalau serangan fisik tidak mempan, maka.. gunakan sihir api buat kepanasan."
"Menggunakan sihir api berlama-lama tidak bagus, sebab perlindungan dia sangat tebal takkan bisa menembus kulitnya," kata seorang penyihir.
"Bukan menebus. Tapi gunakan sihir api, kelilingi mahkluk itu dengan panas lama-kelamaan dia bakal berubah ke wujud awal.." jawab Dijara, dia menunjuk kepada mereka.
Mereka tampak ragu lalu melihat ketua, si ketua Riia tak menunjukan bahwa dia menentang ucapan Dijara dan mereka semua setuju. Para pengguna pedang berpencar mengusir sekaligus membersihkan kroco-kroco yang berkeliaran dan masih hidup supaya tidak ada gangguan, selagi penyihir menyemburkan api mengurung bulatan.
"Haaa!"
Mulai gerak-gerik monster itu kepanasan dia keluar dari gulungan bola, seperti siput dan cangkang. Merespon perihal tersebut Riia bersiap-siap. Termasuk penyihir lain, dia membalikan badan monster dengan sihir angin sesuai titah Dijara, agar monster tidak tengkurap melulu dan menunjukkan area lembut dibagian bawah tubuhnya.
"Wahai mahkota..."
"Ha?" Dijara melirik ayah, dia seperti sedang membisikan kata-kata semacam mantra. Biarpun dekat, suara angin berembus membuat suaranya samar-samar. Tidak lama kedua penyihir membuat dua dinding, mengurung mereka berdua, alhasil angin hanya mencabik-cabik yang ada di depan dalam lintasan seperti aliran air dalam pipa.
Dia menerka bila serangan itu seperti menyebar, karena itu terlihat lemah. Tetapi jika difokuskan pada satu arah, serangan itu akan sangat kuat bahkan tanpa harus membalikkan awak si monster sisik-sisik itu pecah akibat menerima langsung ribuan sayatan angin sekali tembak.
"Apa yang terjadi?"
"Ha? Jangan bermuka heran dengan berkata 'apa yang terjadi' seperti manusia bodoh." Dijara menggaruk kepala, dengan ekspresi mengejek berkata, "mengapa ayah tidak terpikir metode menyerang seperti itu, sih?"
Semua orang melukiskan kebingungan menghadap dia, cuma ayah dan pendekar pedang besar yang menghela napas. Pria besar itu mendekati Dijara. Dia menepuk pundak remaja ini berkali-kali, seperti paman ramah lagi memuji tindakan keponakan ia kagum pada rencananya dan menerima keberadaan Dijara dengan lebih baik lagi.
Karena ingin tidak berlama-lama mereka membawa yang berharga, lalu kembali ke kota, membawa mayat mahkluk yang luar biasa. Hampir semua warga kota terkagum. Para pemburu ini bisa menumpas monster ini, bahkan dia tak menduga termasuk Riia dan kelompok bahwa prajurit kerajaan sudah bersiap-siap bila mereka tidak kembali.
"Mereka kembali!"
"Kalian benar-benar membasmi monster itu?!"
"Uwah! Gede banget, woi!"
"Hmmh. Semua karena anggota baru kami, Dijara berjasa besar kali ini, berkatnya kami bisa membunuhnya!" Cakap paman pendekar pedang, membusungkan dada seolah ini kerja kerasnya sendiri dan membanggakan Dijara yang menghilang dari tempat mereka. Sesegera mungkin Riia kaget, sifat ayah mulai muncul panik mencari-cari Dijara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments