Mencari Cairan Ramuan Pemulih

Depan pintu gua, Dijara memberitahu banyak hal kepada anggota sebelum masuk terutama pengguna tombak dan pedang besar. Gua tempat yang sempit. Sulit untuk mengayunkan senjata panjang, bila gegabah yang ada hanya akan mengundang kematian, maka dari itu Dijara meminta mereka untuk memakai pedang pendek hari ini.

Seusai semua anggota tim setuju, kelompok Riia masuk ke dalam untuk memburu monster yang bersembunyi pada gua ini. Bahkan Dijara mendapat informasi jikalau tempat ini adalah reruntuhan kuno, tempat dimana cairan sihir berlimpah menetes dari kristal sihir selama ribuan tahun lamanya. Itu adalah ramuan pemulih energi sihir.

"Monster tingkat lemah. Biar bisa dibunuh dengan mudah mereka memang bodoh, tapi tidak tolol, selama diajari maka bisa sepintar manusia," ujarnya menjelaskan mereka. Mahkluk kerdil seperti perawakan bocah manusia memiliki tubuh kurus kering, dengan warna kulit kuning agak kecoklatan, menculik warga dan membunuh ternak.

Mahkluk kerdil ini cukup mudah diatasi yang jadi masalah yaitu jumlah, semakin lemah musuh, maka semakin besar berupaya mengalahkan kualitas dengan kuantitas. Dijara tidak gegabah. Dia mengamati sekeliling, mencoba untuk menghemat tenaga, tanpa musti melawan mahkluk kerdil sebanyak itu dan menghindari memakai sihir besar.

"Pengintai tolong periksa dengan teliti, ruangan ini punya jalan keluar selain pintu ini?" Dijara menunjuk salah satu ruangan, mereka sudah sampai bawah tanah, alasan dari serikat meminta mereka menyelidiki karena kebetulan gua ini terhubung di bawah tanah jalur pelarian darurat.

Mungkin ini terhubung dengan terowongan yang sengaja dibuat supaya bisa melarikan diri bila sesuatu terjadi, di rumah bangsawan atau istana. Itu yang diperkirakan oleh Dijara. Selepas pengintai kembali Dijara mengeluarkan sebuah kertas, benda ini mengeluarkan panas dan dapat memanaskan sajian. Kegunaan benda ini tuk makanan.

"Kau... Kejam sekali, Dijara."

Remaja ini menaikan bahu pura-pura tak mendengar kata para anggota tim. Meski terkesan kejam itu layak buat dicoba. Mereka bersembunyi sembari melenyapkan aura dan energi sihir, agar tak ketahuan. Dibalik dinding gua semua melihat Dijara, dia menaruh sepotong daging dan membungkus ke dalam kertas pemanas. Membuat yang lain berpikir Dijara bakal makan tapi, justru melemparnya.

Dia bergabung bersembunyi. Asap beraroma mengepul membawa semerbak wangi sedap makan siang Riia, tidak lama kemudian mahkluk itu berbondong-bondong dan memasuki ruangan itu. Dengan cepat Riia menutup pintu masuk dengan sihir tanah. Disitu Dijara keluar, dia mematik api dan membakar seisi ruangan, tentu saja teriakan mereka memancing mahkluk lain di tempat ini.

"Mari kita sembunyi lagi."

"Jangan-jangan..." Riia dengan ekspresi suram berkata, tetapi dia menarik lagi kalimat dan memalingkan muka menebak rencana Dijara. Membunuh semua monster tanpa harus membuang-buang tenaga dan waktu, yang menjadi masalah, yaitu ini terkesan seperti penjahat.

Menurut cerita para pemburu dan petualang yang sudah hampir menjelajahi tempat semacam ini, rata-rata Dijara sudah paham dan mengerti. Karena lingkungan gelap gulita. Monster di sini lebih mengandalkan pendengaran beserta kepekaan terhadap energi sihir, termasuk cara mendeteksi mangsa lewat panas. Karena memahami itu Dijara dapat melindungkan diri supaya tidak ditemukan.

Dalam satu jam kedepan seusai bersembunyi sesudah keributan mereda. Semua keluar mendapati jumlah mayat-mayat monster. Helaan napas panjang keluar di depan Dijara, hampir semua menghirup udara merasai kelegaan dan masam di hati. Apalagi pendekar pedang, dia berulang-ulang menyebut kebanggan dan keadilan.

"Buat apa kebanggan sebagai satria kalau kau meninggal dan mati tanpa bisa hidup lagi, lebih buruk jikalau kau sudah memiliki anak istri. Hah." kali ini giliran untuk Dijara Menghela napas, dia mengecek sekitar dan membunuh mahkluk yang bertahan paling akhir, alhasil mereka hanya tinggal memungut rampasan perang dan pekerjaan usai.

"Tunggu!" Pengintai tiba-tiba bereaksi, lekas semua orang mempersiapkan diri dan pintu masuk ruangan penuh monster kerdil ini berlubang. Beberapa keluar dari dalam. Sebab panas luar biasa, semua tewas dengan kulit yang melepuh dan kulit mereka yang masih hidup mengelupas seperti tersiksa. Tanpa belas kasih mengangkat senjata.

Suara bising itu disusul kilatan cahaya keluar lewat laras senapan, peluru melesat menembus kepala monster. Sembari mengokang Dijara melihat ke semua tatapan ini mengarah, membuat dia heran, padahal ia tak melakukan hal yang salah dan hanya menaikan kedua bahu seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu melanjutkan tugas dari serikat.

"Ah, belum semua ternyata! Tenang saja kan aku tangani kroco ini, tubuhnya emang gede tapi itu doang!" Ucap pemegang tombak, muncul mahkluk seperti cacing yang memiliki kaki, mirip seperti kadal ular bila di bumi. Tanpa takut mati dia menerjang musuh dan melompat sembari hendak menusuk dari atas, namun tombak bukan pilihan tepat, ujung tombak menabrak langit-langit gua dan karena itu lengan kehilangan kekuatan cengkramannya.

"Tch!"

Dia membuang tombak, mengganti ke pedang pendek di pinggang dan menusuk kepala cacing ini. Tetapi karena tiba-tiba beralih senjata, dia tak memberi kerusakan fatal dan melompat mundur. Riia memijak lantai dengan posisi siap maju, tempat sempit ini cocok untuk kekuatan angin yang menyebar kemana-mana, sebab itulah musuh langsung tercabik-cabik sekali menerima serangan Riia.

"Ah, maaf. Tidak mendengarkanmu dan kekeh membawa tombak," ujarnya membungkuk.

"Tidak juga. Aku juga melakukan kesalahan, melupakan monster yang menkonsumsi mayat dan lebih berdiam pada sarang ketimbang membunuh mangsanya." Dijara menarik napas, dia dan rekan-rekan pulang sesudah memeriksa sekaligus membersihkan monster di gua ini.

"Semoga tim penyelidik bisa lebih baik. Jangan sampai seperti saat kita melawan monster tingkat bencana semacam itu lagi, itu udah termasuk malapetaka, nggak sih?" Anggota lain mengungkit masalah itu lagi.

"Hmm. Semua upahku hari ini untuk cairan energi sihir ini saja, Yah."

"Tidak. Upah ayah buatmu saja, pakai upah dari ayah kali ini buat keperluan... Karabin atau senjata apalah yang kamu buat itu," kata Riia menunjuk senapan di punggung Dijara, itu menggantung seperti membawa dahan kayu.

Sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal dan Riia serta Dijara yang melapor, sementara yang lain pulang. Ketika memasuki serikat Dijara langsung ditemui Siska. Dia memberikan secarik kertas tanpa mengatakan sepatah kata, kemudian pergi duduk balik pada posisi resepsionisnya. Membuat Dijara heran meski tak peduli.

Mendadak selepas melaporkan misi kali ini ketua serikat memanggil Dijara. Riia menunjuk sebuah kursi dekat jendela, setelah mengangguk dia menuju ruangan serikat ditemani Siska, kenapa selalu dia? Pikir Dijara merasakan bila akhir-akhir ini gadis judes dalam sikap tenang dan datar ini menemuinya melulu, membuat dia agak kesal.

"Mohon bantuannya..., lalu usahakan untuk tidak menjadi beban bagi kami." Seorang gadis lain, tinggi yang pendek dengan rambut berjuntai sampai bahu dan sepasang belati di punggung bicara kepada Dijara. Pura-pura kenal.

Tiba-tiba Dijara mengambil kertas dari Siska, merogoh ke saku dan membaca apa yang ditulis. Ini surat dari kakek tua itu. Memberikan perasaan buruk, mereka bertiga masuk ke dalam dan melihat ketua serikat, tampaknya ini akan menjadi masalah yang cukup merepotkan.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!