Penghinaan Terhadap Nyawaku

"Untuk kedatangan wakil ketua, baru!"

"Yeay!"

Alhasil yang dicapai Dijara benar-benar dihargai mereka semua, termasuk serikat. Karena prajurit dikerahkan berarti ancaman sudah bisa dipastikan mempengaruhi seisi kota, maka serikat memberi tambah upah hingga mereka semua mengadakan pesta. Biarpun Dijara tidak suka menonton ayah didekati oleh banyak perempuan.

Sadar akan tatapan itu Riia menjauhi para wanita itu, dia tidak berkuasa melihat balik istri maupun anak. Mereka benar-benar memiliki mata yang sama. Dia seperti sedang ditatap oleh Liana, istrinya. Dengan helaan yang lemah dia menggeser cangkir air sari buah pada Dijara.

Dijara memikirkan alasan mengapa tidak ada wakil ketua dalam kelompok ini, yaitu kepantasan. Lelaki ini terlalu kuat dan karena itu posisinya tidak tergantikan. Tidak lain mereka menganggap Dijara, anaknya ini mampu untuk menjadi Riia bila diperlukan membuat menghela napas.

"Ah, Dijara tugas pengumpulan kayu harus diselesaikan besok siang~"

Melupakan hal tersebut Dijara tersedak. Mbak-mbak dari resepsionis mengatakannya dengan nada ceria, buat Dijara sangat campur aduk, karena itu menerbitkan ingat lama. Ingatan yang sudah bertahun-tahun. Dalam benak dan gambaran samar, Diraja melihat senyum manis nan imut merekah dalam lekukan pipi tersipu, mekar seperti bunga yang paling indah dalam sejarah. Baginya pribadi.

"Ada apa, Adi?"

"Tak apa. Tenang saja, cuma aku mendadak malas untuk mengumpulkan kayu..." Dijara menghela napas panjang menoleh ke resepsionis, "kenapa tugas itu digabungkan dengan mencari tanaman herbal?" Tanya ia, memiringkan kepala menatap kepada orang yang ditanyai mendekat.

Simpelnya karena itu tugas remeh. Mendengar itu saja ia paham, lalu lanjut menyantap hidangan sembari berpikir beberapa hal kedepan dan menyiuk berulangkali. Dengan muka bermuram mengingat-ingat saat terakhir, waktu babak belur akibat kekuatan tiak masuk akal dan betapa lemah dirinya waktu itu tidak bisa melindungi satu gadis.

"Oi bocah."

"Ada ap---ugh!"

Seorang pria datang, menyeru kepada Dijara sebelum memukul dadanya hingga terpental tujuh meter dari tempat duduk. Lekas Riia cepat menangkap putranya tersebut, melihat bila dia muntah darah, akibat pukulan telak dan jarum dengan cairan aneh menusuk Dijara membuat remaja laki-laki ini muntah darah terus-terusan.

"Keparat! Apa yang kau lakukan?" Riia terpelesat sangat cepat, mencabut pedang dari sarung dan mereka cepat beradu pedang dengan tempo cepat. Mata orang biasa takkan bisa mengikuti gerakan mereka, sehingga tidak ada yang menengahi perkelahian ini dan beberapa pihak dari serikat berupaya meleraikan pertarungan mereka.

Dijara perlahan membuka mata, dia melihat rekan-rekan kelompok ayahnya langsung bertanya, "mengapa.. apa yang terjadi padaku barusan? Lalu..." sekuat tenaga dia coba berdiri lanjut menambah ucapan, "suara berisik ini."

"Dara pasti mencoba membunuhmu agar tak mendapat penalti dari serikat, karena kelalaian dalam tugas menyelidiki di wilayah tersebut dan salah menilai tingkat bahaya monster yang kita lawan.." jelas paman pendekar.

"Bukan, kah ini seperti menambah masalah?"

"Tidak. Dengan ketidakadaan dirimu, maka semua akan baik-baik saja untuknya karena kamu bisa dianggap orang yang mengalahkan monster tadi," tambah paman.

"Logika macam apa itu? Apa coba," kata Dijara menghela napas sambil bertumpu pada kedua kakinya segenap kekuatan berdiri. Dia mengambil ramuan pemulihan dan meneguk, setelah itu dia menghunuskan pedang melihat bila Riia, ayah sedang kesulitan tuk melindungi putranya.

Dijara berlari memberhentikan gerak bilah pedang lawan dan membelokkan arah ayunan. Tiba-tiba ayah tumbang, mengingat dia melancarkan serangan seperti itu tadi, wajar saja bila Riia kesukaran berdiri. Sehingga Dijara kali ini mengambil alih pertarungan. Dia tidak percaya diri bila berhadapan dengan monster, sementara manusia... sama sekali tidak ditakuti. Bahkan bisa dibilang keahlian.

Dia menggunakan sihir intimidasi, memprovokasi supaya lawan berpusat kepada dirinya dan dia bisa mengamati tingkah musuh. Tidak lama kemudian mereka saling beradu senjata, dengan ekspresi Dara yang jengkel diikuti takut, suara denting pedang memenuhi ruangan serikat.

"Putra Riia! Habisi dia cepat...!"

"Gue udah taruhan. Lu musti menang Dara!"

"Kalahkan dia, anak baru!"

Sorak-sorai pecah karena pertikaian sengit. Selagi masih dalam suasana panas, Riia menyeret kaki kanan yang terkilir mencoba mendekati mereka. Namun, mendadak Dijara melompat ke belakang dan begitu pula Dara yang menjaga jarak sebisa dia seperti bermaksud akan kabur.

Dijara memasang gelang dengan ada hiasan sekumpulan bunga mengelilingi lonceng, itu sebenarnya lonceng dengan tali rantai dijadikan gelang oleh remaja itu. Meski Riia tidak paham alasan putranya memakai itu ketika kan serius, dalam berperang, namun dia membatin dan tahu perkara ini harus dihentikan. Membuat Riia bersikeras.

"Hentikaa---ugh!"

"Riia, jangan paksakan dirimu, bukankah kau sudah bilang keahlian berperang Dijara hampir melampaui dirimu?"

"Lonceng dan tarian aneh..." Riia menelan ludah sebelum melanjutkan, "tanda putraku akan mulai serius dalam pertarungan. Juve, hentikan sebelum Dara terbunuhnya."

Juve si pendekar pedang besar mengangguk. Dia berlari mendekati pertarungan, sementara itu Dijara menggerak lengan kiri dengan gaya aneh seperti sedang melakukan ritual dan mirip menjadi seorang penari, penari yang mempersembahkan tarian badan itu pada seorang raja. Sekejap para penonton tertawa mendapati gerakan aneh, akan tetapi Juve terhenti, begitu pula semua penonton.

Dua mata memiliki tatapan lembut, dengan bentuk yang tajam yang senantiasa melihat segala sesuatu dengan cara lemah sekaligus tajam tegas, tapi kali ini tatapan Dijara berubah. Satu hal yang dapat digambarkan yaitu...

"Tatapan mencekam," Juve membatin. Insting bertarung yang dimiliki oleh dia menghentikan kedua kaki yang waktu ini sedang gemetar dan bulu kuduk bergidik ngeri menatap mata Dijara, ialah sebuah teror mata manusia.

Pupil mengecil, disusul mata melotot dan tatapan mata penuh tekanan membuat Dara mundur perlahan-lahan menyesap ketakutan. Lemas tak berdaya. Kekuatan tuk menggenggam pun lenyap, ia terduduk mendapati maut, seorang manusia yang memiliki siluet bayangan malaikat kematian berdiri tegap berkuda-kuda siap tuk menerjang.

"Mengapa kau menjatuhkan pedangmu seusai menghina sang nyawa milikku?... Ah, biarlah.." Lirih Dijara menghela pedang ke belakang, membalik cengkeram tangkai sambil membunyikan lonceng berulang-ulang kali, Dijara perlahan menempatkan bilah pedang pada baku tangan kiri mengatakan, "tarian ini kan persembahkan untukmu."

Dijara mengambil sikap tinggi, dia terpelesat tanpa suara dan hantaman pedang membuat semua terdorong akibat udara yang dihasilkan gerakannya. Namun, setelah aksi seolah melakukan tebasan tunggal itu berakhir ada kejanggalan, yaitu Dara bertukar tempat dengan meja dan Dijara memotong-motong perabot itu sekali gerakan.

"Ah, nyaris aja. Terlebih lagi teknik pedang yang digabung dengan tarian persembahan..." orang itu tiba-tiba datang bertepuk tangan dan menjeda ucapan setelah melihat terdapat ukiran bunga anggrek lantai bawah puing-puing meja, "jadi lantai yang tersayat rapi ini berbentuk seperti bunga. Bila boleh tau Nak Dijara, nama bunga indah ini?"

"Itu bunga anggrek," jawab Dijara seraya menyarungkan pedangnya kembali, dengan ekspresi tak puas karena bisikan Dara sebelum dia serius meladeninya. Mengigit bibir karena ketidakpuasan. Remaja ini menatap tajam.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!