Liana memungut tombak yang tergeletak bekas tentara raja tengkorak, melantingkan senjata tajam bertangkai tersebut hingga pergerakan raja tengkorak terhenti. Dia menengok ke belakang, dengan terlihat seperti berhela napas, raja kerangka mencabut pedang menyadari jikalau dia takkan mampu kabur dari ksatria wanita ini.
"Hmph.. mari kita akhiri ini, kau takkan bisa kabur setelah melukai putraku!"
Dalam hentakkan kaki itu raja tengkorak tidak bergeming, Liana tiba-tiba menginjak tanah sekuat tenaga dan menghilang dari pandangan lawan. Dia muncul sekelebat bayang, menebas beruntun dari belakang, meskipun raja kerangka berhasil mengalihkan setiap haluan pedang dia terlihat tidak senang. Dia memegangi leher menemukan goresan pedang, membuat raja berdecak penuh jengkel.
Liana menampakkan diri. Ia menggaris lengan melumuri bilah pedang dengan darah, hal tersebut melukiskan ekspresi tidak terduga dari raja kerangka. Itu merupakan teknik pedang tingkat tinggi dari bangsa iblis, bahkan seorang raja iblis memerlukan waktu bertahun-tahun tuk menguasai, yaitu melumuri pedang dengan darah yang dipenuhi daya sihir pekat yang mengalir pada tubuh iblis.
"Jangan-jangan kau..."
"Beraninya kau mengangkat pedangmu kepadaku, putri dari raja iblis ini," ungkap Liana, dia melengkungkan bibirnya menunjukan seringai serigala yang menakutkan.
"Lantas mengapa Anda menghalangiku untuk memenuhi kota itu dengan pasukan hamba?!"
"Bila kau mengambil alih kota. Keluargaku akan pergi ke kota lain, tetapi anakku kelihatannya tidak mau hal tersebut karena dia meneliti banyak hal di ruang kerjanya. Lalu... Dosamu yang paling besar itu menyakiti anakku!"
"Remaja itu?... Ah, semuanya masuk akal, dia mempunyai aura luar biasa mengerikan saat mati dan bangkit lagi."
Liana mengubah sikap mengancam, dia berpose seperti mengangkat pedang ke langit dan darah itu menguap menyerap kedalam bilah. Wanita ini melangkah dengan cepat, dia memijak tanah dan mengayunkan pedangnya menebas raja tengkorak, walaupun lawan menangkis dia tersenyum. Begitu sadar dan hendak melompat mundur, raja tengkorak terpotong, darah keluar dari bilah dalam bentuk benang tipis memotong segalanya yang disentuh.
Raja tengkorak mundur perlahan-lahan, selagi lawannya, Liana menghela napas dan berucap, "menyedihkan."
Wanita ini mengibaskan pedang tiga kali, menghasilkan badai kecil dengan benang menyebar, menyebabkan segala sesuatu terpotong kecuali Liana pada jangkauan beberapa meter. Semestinya pertarungan telah berakhir sedari tadi, tetapi raja kerangka tetap berdiri. Liana lihat bila bala bantuan kan datang, maka musti mengakhiri ini.
Raja kerangka tidak bisa melawan karena intimidasi dan pergerakan Liana yang cepat, karena itu dia geram kemudian mengambil bentuk raksasa. Jika dia tidak bisa mengimbangi kecepatan, maka perkuat pertahanan dan kekuatan. Dia menjadi lebih besar tanpa perubahan yang berarti pada perawakan, tulang-tulang tumbuh menjadi cambuk, memburu Liana yang lari memutar menghindari.
"Usaha sia-sia..." Lirih Liana.
Semua benang yang terurai menggumpal menjadi bola benang, berada di ujung pedang. Liana menarik napas fokus menatap musuh. Dia memijak kuat, lalu berlari menerjang musuh dengan kecepatan menyilaukan dan menggunakan momentum tepat, mendorong musuh dengan bola benang tersebut, sewaktu musuh mundur akibat dorongan kuat bola benang itu memasuki tubuh.
Benang itu memberontak didalam tubuh mengikis secara brutal, akibatnya raja kerangka memekik kesakitan dan mencoba mengambil benang-benang tersebut. Tetapi dia hanya menusuk-nusuk diri sendiri, sehingga dia bunuh diri, karena tidak mampu menahan sakit. Benang-benang itu tidak bisa memotong tubuh sebesar itu, maka Liana mengambil taruhan dia merasai rasa sakit dan bunuh diri.
"Yah. Kalau dapat menahannya kurasa itu tugas Riia, lagi pula, semestinya siapa yang pahlawan di sini?" Batin Liana, melihat Riia dan anaknya berlari kemari memimpin bala bantuan dari kerajaan. Ia tersenyum bisa melindungi satu-satunya keluarga yang dimiliki Liana, untuk saat ini.
Sesudah mengakhiri perang ini, mereka kembali menuju serikat dan bersyukur mampu melewati ini sebelum prajurit kerajaan datang. Liana memeras si ketua serikat meski diberi upah sesuai, dengan ancaman dan berbagai hal, Dijara yang melihat kelakukan ibu, ia diam menyimak sembari minum dan menikmati kudapan. Siska membuatkan sebuah camilan berdasarkan resep Dijara.
"Udah kubilang, aku bukan bagian dari serikat ini! Semesti diberi upah lebih banyak lah, elu paham atau lagi ngeremehin gue huh ketua keparat?" Liana menunjuk ke ketua serikat, "kalau kagak gue kagak mau bantuin lagi kalo ada bahaya malapetaka lagi! Elu ini paham kagak?!"
"Memang kami belum pernah mengatakan kata kasar di hadapan Adi, tetapi melihat dia kembali saat menjadi pemburu dan sebelum jadi istriku. Ya wajar saja Adi jadi sangat kasar, itu turunan. Benar," gumam Riia melihatnya.
"Emang anjing tuh orang. Mau ambil kristal doang kagak diberi, harus dapet persetujuan dari pihak serikat dulu, persetan dengan persetujuan!" Kata Dijara mendatangi ibu dan menambah beban mental kakek, si ketua serikat.
"Ketua kasihan, hentikan anak dan istrimu.." pinta Juve ke Riia, Riia hanya tersenyum masam menanggapinya.
Setelah itu mereka bertiga berjalan pulang, Riia menoleh kepada Dijara sedang melahap sesuatu dan istrinya lagi membelai putra mereka. Bisa dibilang remaja laki-laki ini manja pada ibu, begitu pula ibu memperlakukannya. Biarpun ini tidak baik menurut orang-orang, tapi Riia tidak bisa melepas momen manis ini, dia lebih bahagia miskin seperti ini ketimbang dikelilingi harta tanpa kebahagiaan.
Remaja seusia Dijara seringkali memberontak, meskipun perilakunya cukup berbeda terhadap anak-anak lain, Riia melihat sesuatu yang lebih dalam. Putra mereka ini memiliki pola pikir aneh, terlebih lagi lahir pada keluarga yang aneh pula. Riia menghela napas berpikir skenario macam apa yang terjadi, bila Adi tahu masa lalu mereka.
"Ibu, pengin beli buku dulu."
"Mm. Boleh, kok sayang~"
"Jangan terlalu memanjakannya."
"Kenapa kau kelihatannya cemburu gitu?" Liana menarik Adi kedalam pelukannya sembari mengatakan, "kayak suamiku aja perkataanmu itu. Menjijikan sekali!"
"Aku ini memang suamimu, Liana." Riia mendekat, sambil tersenyum lengan membelai rambut putranya, melihat bila dia sangat tenang jikalau dekat ibunya. Terlebih-lebih karena tengah mengulum permen dia terlihat seperti anak-anak, membuat Riia berpikir, ketika bersama si ayah Dijara bersikap seperti orang dewasa dan sesaat didekat Liana bertingkah mirip anak kecil yang amat ingin manja.
Pada momen ini, Riia juga menyadari suatu hal mengenai pandangan orang-orang. Terkadang tatapan kekaguman sekaligus iri melihat keharmonisan keluarga mereka, ada pula sorot mata kebencian dan kedengkian seakan mengatakan "keluarga macam apa itu" atau "keluarga itu sangatlah aneh" memenuhi sekitar, tetapi Riia tak peduli.
"Kamu capek, kan? Pas pulang nanti ibu buatin makanan yang kamu sukai."
"Lebih pengin tiduran, fisik aku pegel banget apalagi esok aku musti benerin senjataku."
"Mm." Ibu mengangguk dengan semangat mengatakan, "kamu boleh pinjem pangkuan ibu buat tiduran lagi, lho."
"Udah saatnya kamu punya seorang gadis yang bisa jadi tempat bersandar, jangan manja terus pada ibumu," ujar ayah sebelum memalingkan muka dan berkata, "padahal belum pernah sekalipun manja pada ayahmu ini. Hahhh."
Seusai helaan napas, Dijara melihat ke ibu, ibu membuat senyum kecil dan menggandeng tangan suaminya itu selagi Dijara bercanda menawarkan untuknya digendong Riia menanggapinya serius. Pada akhirnya, mereka balik ke rumah dengan ia menggendong putra mereka sambil bergandengan dengan istri, seperti awal-awal menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments