Serbuan Pasukan Raja Tengkorak

Siska menjelaskan keempat ekor monster bencana, bisa dibilang buruan sekarang ini melebihi jumlah empat dan biarpun ini dikategorikan tingkat bencana rendah. Tetap saja mereka tidak boleh lengah. Dengan mengambil perburuan ini, mereka dapat naik tingkat lebih cepat dari yang seharusnya, kalau berhasil. Walau ada satu orang yang tidak setuju untuk mengambil tugas ini, yaitu Dijara.

Sesudah menjelaskan karakteristik target. Kiara terburu memasuki wilayah target, lagi Siska jengkel mendapati tingkah yang tidak mau mendengarkan strategi. Dengan sepenuh hati, Dijara mengusulkan rencana cadangan kalau mereka tewas maupun strategi tuk melarikan diri.

"Halah. Ini cuman monster tingkat kuat doang, sih. Kamu nggak perlu takut! Kalau kalian bersamaku, pedang sihir milikku kan melindungi kalian berdua, bukan?" Kata Kaira melirik Dijara, dengan senyum tipis bermaksud sesuatu.

Ketika mereka mencapai sarang monster, kata naga saja terlintas pada benak Dijara. Kendati demikian monster tingkat bencana ke atas yang diberi nama. Sudah jelas itu bukan lagi naga biasa, dia memiliki perawakan berbeda dengan bayangan Dijara dan berkelompok. Tidak individu bergerak secara berkumpul menjadi sebuah kawanan.

Entah informasi yang salah. Tiga naga saja yang terlihat dalam gua, itu yang dikatakan Siska yang mendeteksi menentukan posisi mahkluk buruan mereka. Mendadak naga keempat muncul, meraung-raung seperti sedang memanggil dan ketiga mahkluk yang menetap di sarang menyahut suara naga yang nyaring dan panjang tersebut.

"Lihat, mereka kabur karena aku menampakkan diri!" Ujar Kaira membusungkan dada, seolah-olah itu perbuatan yang dilakukan olehnya. Tidak lama suara burung-burung takut mendadak. Bahkan mahkluk seperti naga, takut pada sesuatu dan ini bukan pertanda baik. Pada perkara janggal ini dia minta Siska memeriksa sekitaran mereka.

Siska langsung panik, seperti baru melihat hal tak wajar sehingga dia tidak dapat berpikir tenang dan menyeret Dijara pergi terburu-buru. Dengan napas memburu Kiara mempertanyakan alasan Siska panik. Dengan lantang, mengatakan dengan nada membentak, "para tengkorak berkumpul di satu tempat. Mengelilingi si raja kerangka."

Raut muka semua orang menjadi suram, sembari berlari Siska menceritakan tentang lima belas tahun yang lalu bagaimana raja kerangka, dengan sebutan Deatbon dan para anak buahnya menghancurkan satu kota dalam semalam. Yang menjadi masalah bagi Dijara, penamaan itu dari siapa, kenapa tak langsung menyebut tulangmati.

"S-Selamat tinggal!"

"Oi laki-laki biadab, bawa aku juga, kek!"

"Tch! Benar, dia memang beban!"

"Ah, yang benar saja!"

Kiara memakai gulungan sihir. Dia memindahkan tempat antara cangkir kosong dan dirinya, itu mirip dengan sihir yang digunakan ketua serikat. Dijara melihat ke belakang, sadar mereka sedang diikuti puluhan kuda kerangka, karena mereka sedang kabur dan memilih nyawa mereka berlari sekuat tenaga. Tetapi tiba-tiba Dijara tersandung.

"Sialan. Dua laki-laki di tim ini tak berguna!" Keluh Aila.

"Kamu nggak apa-apa...?" Siska membantu Dijara berdiri, mereka menoleh belakang mendapati pengejar yang menunggangi kuda tengkorak. Dijara mengigit bibir, lalu berasumsi bila situasi akan ruwet jika mereka memasuki kota. Maka menarik senapan serbu, yang menggantung pada pinggang, pilihan yang dimiliki Dijara untuk saat ini.

Rentetan kilatan cahaya menembaki satu persatu, Dijara menumbangkan mereka dari jauh dan bersembunyi dibalik semak-semak. Karena Aila tak bisa menggunakan sihir pereda aura energi sihir, maka dia akan lari ke kota, mengabarkan kejadian ini cepat membawa bala bantuan.

Mereka berdua bersembunyi dibalik semak-semak. Hari yang semakin gelap menguntungkan kedua belah pihak, meski begitu raja kerangka mampu melihat dalam gelap bukan berarti dia memiliki penglihatan malam. Memakai sihir pendeteksi, melihat energi sihir suatu mahkluk, bahkan semua pasukannya itu memiliki kekuatan serupa.

"Dengar, jangan gegabah. Sembunyikan energi sihir besar milikmu itu jangan biarkan posisi kita terekspos."

"Hei Dijara. Kamu gak kesulitan tanpa sihir?" Tanya Siska, membuat Dijara tersenyum tipis balik bertanya peran sihir dalam kehidupan sehari-hari. Tentu Siska menjawab seperti pada umumnya. Lalu, dia menjelaskan arti sihir dalam pemikiran dan sudut pandang orang yang tak bisa.

Sekali lagi Siska terkesima. Dia memang sempurna, tapi dunia ini seakan membenci keberadaan manusia yang senantiasa bersikap serius dan lembut. Pertamakali dia melihat sepasang mata itu, Siska sudah tertarik kepada seseorang Dijara dan merasakan iri cemburu terhadap gadis yang menjadi kekasihnya. Seusai melihat tarian itu.

Siska mengisi peluru ke dalam magasin mengikuti titah lelaki disebelahnya, mereka tetap tiarap sampai tidak melihat lagi para penunggang kuda dan tengkorak yang varian biasa hadir. Jumlah mereka telah melebihi kata curang, bahkan satu kota mungkin takkan sanggup buat memukul mundur mereka tanpa rencana. Seperti biasa, raja musti kalah supaya tentara berseliweran tanpa arah.

"Berika---" Dijara tersentak, dia merasakan pusing seperti memukul-mukul kepala. Membuat ia merasa tak nyaman.

"Kamu.. beneran nggak apa-apa? Energi sihir kamu mulai terkuras habis, lho." Siska berkata-kata, suara dipenuhi kecemasan. Tetapi Dijara tak mampu menjawab. Lelaki ini bertumpu pada kedua kaki, memegang senjata api, dia takkan lari dan kembali bertahan sampai memanggil namanya. Sampai gadis itu menemui dia kan tetap hidup.

Dibalik awan-awan serta cuaca dingin, mereka berbalik menemukan cahaya redup menandakan kota dalam situasi gawat darurat. Itu sinyal untuk mereka. Mereka mulai berlari, menuruni gunung curam merupakan satu keunggulan karena mereka tetaplah tulang dan daging busuk. Mereka kan kesulitan berada di medan seperti ini.

Sembari berjalan mundur, Dijara menembaki tengkrokak yang berpeluang dapat mengejar dan mengabaikan beberapa dari mereka. Kecuali jika jarak sudah sangatlah dekat. Tidak lama kemudian, Dijara tumbang lagi seperti saat latihan membiasakan diri dengan hentakan senjata.

"Sialan..."

Dalam pandangan mata redup, melihat Siska mendekati muka Dijara dan tanpa tahu kelanjutannya laki-laki ini menutup kelopak mata. Tidak berselang lama. Matanya terbuka, mendapati Siska meniduri badan berusaha tuk tidak bersuara. Meski baru terjaga Dijara memahami bila mereka berada di tengah-tengah pasukan dan sembunyi, dengan sihir ilusi. Tetapi benar-benar situasi yang gawat.

Karena dia tak mempedulikan, Siska mulai sulit menahan teriakan karena mereka sangat dekat. Hanya karena dia sudah bangun. Kaki Siska sangat susah untuk diam, pada akhirnya, mereka ketahuan dan nyaris tertusuk pedang. Dijara cepat memeluk Siska, melompat ke area yang tak terlalu dipenuhi pasukan musuh dan menghunus pedang.

"Luar biasa. Raja kalian yang langsung menemui diriku."

"Mm. Dirimu yang luar biasa, perilaku umum manusia itu saat melihatku seperti gadis itu. Kau memang tidak biasa, sebutkan nama!" Raja kerangka mencabut pedang, dia mirip ksatria. Terlebih lagi kuda-kuda itu sangat jelas bahwa setelah menjadi kerangka sekalipun dia melatih ilmu pedang, buat Dijara merinding dalam arti yang lain.

Sebelum berduel satu lawan satu, dia melempar sebuah tas pinggang kecil berisi peluru dan dua magasin pada Siska. Dengan disirami ketakutan dia berusaha keras, memasukan peluru satu-satu, meski jari-jemari tangan ia gemetar berusaha membantu sebisanya. Dijara senyum melihat betapa Siska berusaha, meski takut menghantui dirinya tetap berfokus kepada tugas dan sesekali melihat mata Dijara, mengharapkan kemenangan.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!