Dijara telah menyimak arah obrolan, alasan empat orang ini berkumpul tidak lain karena serikat kini menganggap mereka digendong. Biar berkualitas sekalipun musti bisa dimulai dari awal, tak heran Dijara menjadi bahan omong dan disangka menumpang nama. Tanpa berkontribusi terhadap pertarungan, perkara tersebut sangatlah berat.
Untuk membuktikan kelayakan mereka perlu bersama di dalam satu kelompok, setidaknya sampai tingkatan dari peringkat yang wajar untuk pencapaian mereka. Dari semua yang ada di dalam, cuma Dijara yang mempunyai beban lebih besar, ia musti berada dibawah satu tingkat dengan Riia supaya dapat masuk ke tim tersebut nanti.
"Kalau begitu, lebih baik kalian berkenalan terlebih dahulu sebelum mengambil tugas. Hari ini ada misi untuk kalian dan tentu saja.." ketua serikat menjeda kalimat, sebelum dia lanjut bercakap bibirnya berkedut, "pihak serikat akan memilihkan tugas buat kalian. Jadi anggaplah hukuman."
"Berburu itu kerjaan sampingan," kata Siska.
"Cuman.. kagak ambil tugas sebulan, kok musti dihukum gara-gara gitu doang, sih?" Gadis di depan pintu masuk angkat bicara, tampak agak sangat kesal mendengarkan.
"Siska pilihlah salah satu. Lalu, untuk Alia, kau itu sama saja seperti meninggalkan tanggung jawab! Walau tak ada kerugian bagi rekan setim.. tak boleh," jawab ketua.
Sementara seorang laki-laki, dengan muka berlagak sok tampan dia mengamati muka Siska dari belakang yang sedang protes dengan suara pelan. Meski terpaksa dan cukup marah Dijara menerima. Pada akhirnya, pada hari esok mereka harus menerima misi perburuan seekor monster dan semua setuju. Dijara melihat muka seakan berkata "mau bagaimana lagi" mengental di muka Alia.
Singkat cerita, mereka berangkat memburu seekor sapi Dijara tidak memusingkan itu. Tapi dia tidak mampu mengatur tim ini. Berniat ingin menghabisi target, Karia dan Alia malah maju membuat kekacauan sehingga dia bersama Siska pasti akan kesusahan membidik. Mereka menaiki tempat tinggi tuk bisa melihat seluruh kawanan.
"Senapan bolt-action, tiap menembak harus mengokang agar peluru masuk ke ruang dan siap ditembakkan. Ini agak merepotkan tapi.. dapat diandalkan," gumam Dijara.
Mengandalkan teleskop 3X Dijara membunuh beberapa sapi yang melindungi pemimpin kawanan. Alasan harus membunuh si pemimpin, agar para pemburu pemula nanti tidak kesulitan dan dapat mengambil tugas ini juga sebagai pemasok bahan makanan warga. Karena Dijara tau bila saat ini orang-orang, lebih memilih berburu ketimbang bertani dan mendadak mencari yang dimau.
Setiap selesai menembak Dijara menarik pelocok senjata dan menghabiskan lebih dari dua puluh peluru, agar Siska dapat menghabisi koordinator atau pemimpin kawanan. Melihat tugas selesai Dijara menarik napas, jikalau kedua manusia itu bersikap tenang, maka mereka takkan harus membuang waktu sepanjang sore. Apalagi peluru mahal.
"Mengapa memungut wadah anak panah itu?"
"Masih bisa diisi ulang," jawab Dijara. Memungut semua selongsong peluru berserakan sambil membatin, "apa orang-orang akan menganggap melempar anak panah?"
Tanpa basa-basi mereka menerima tugas lagi. Pemimpin kelompok ini Siska, tapi sebagian besar diambil alih oleh Dijara dan kedua sisanya hanya seperti seonggok perhiasan. Karia pengguna pedang sihir. Dia mempunyai ilmu pedang, tetapi sikap yang dimiliki sangat buruk dan mengingatkan Dijara akan orang yang familiar baginya.
———
Dijara mampir ke kakek. Dia memeriksa pembuatan dari komponen senjata, bagian yang paling penting dibuat dengan teliti dan bahan-bahan berkualitas. Membuatkan berbagai benda kecil rumit, kakek jengkel. Namun ketika Dijara menaruh sekantong uang dia menarik decakan kesal dan tersenyum, mencubit pipi dari cucu tersayang.
"Ah, pin belum selesai. Yang kau bilang sebagai jantung mesin susah dibuat. Kakek pikir, kamu harus menyerah dan menempelkan sihir seperti model awal.." ujar kakek.
"Udah kubilang. Rentetan peluru akan keluar, setiap satu tembakan akan menguras energi sihir cucumu ini. Kalau memakai senapan tembakan satu-satu aku masih sanggup, bila gencar peluru..." Dijara tidak melanjutkan kalimat, mengerti kakek berekspresi itu karena paham.
Sekeluarga menyembunyikan fakta bahwa Dijara takkan mampu melancarkan sihir serangan, jika memaksakan diri mungkin bisa tapi sangat terbatas dan lemah. Untuk bisa memakai sihir penguatan diri saja Dijara bersyukur, karena itu lebih bermanfaat dan dapat digabung dengan teknik pedang tarian bunga. Memberi kekuatan tambah.
Memang benar. Membuat mekanisme piston semacam yang mirip, benar-benar sulit. Terlebih lagi kakek ini bukan orang dari peradaban maju. Dijelaskan sedetail, semirip mungkin kemungkinan kakek tak dapat paham dan Dijara perlu mencari cara lain. Agar dia dapat menembakkan lebih dari tujuh puluh peluru dalam sehari.
"Ngomong-ngomong bagaimana tim barumu?" Tanya kakek, selagi membersihkan senapan prototipe yang sudah digunakan selama seminggu penuh. Alasan Dijara datang kemari bukan hanya untuk melihat pembuatan senapan serbu, juga membongkar dan membersihkan.
Selepas membersihkan senapan dia pergi ke titik temu menjumpai Siska. Dengan pedang di pinggang beserta penampilan selayaknya putri, dia lebih mirip anak bangsawan ketimbang rakyat kecil. Bila dilihat dari luar saja. Sifat dingin itu bahkan tidak mencerminkan orang besar, lebih seperti seorang penyuka sepi, bagi Dijara.
Namun kali ini Siska terpandang agak lain. Penampilan gadis itu seperti berkehendak bercengkrama, tanpa melupakan kemanan yaitu pedang tergantung. Anggun senantiasa tenang yang diwarnai kecantikan dengan postur dewasa, menarik perhatian semua para laki-laki, kecuali Dijara satu-satunya yang sama sekali tak terpikat.
"Tugas kita itu besok. Hari ini aku ingin mengajakmu jalan bersamaku," Siska mengatakan ajakan kepada lelaki ini.
Melepas penat setelah sekian lama, Dijara mengangguk bersedia menemani gadis ini dan ikut mengikuti langkah kaki. Mereka berjalan dari gerbang selatan menuju gerbang utara. Dari kejauhan Dijara melihat taman penuh bunga, akan tetapi sangat tidak terurus. Cukup terkesima melihat bunga-bunga taman Dijara pertamakali kemari.
Siska mengurangi jarak dengan Dijara, dia memberikan tatapan serta ekspresi yang sedang merangkai kata. Karena lama-lama niat Siska terlihat gadis ini langsung berpinta, "tolong perlihatkan tarianmu lagi kepadaku."
"Berikan alasan kepadaku, dulu. Baru kabulkan."
"Entah mengapa aku ingin melihatnya lagi. Cuma itu saja yang aku pikirin," ujar Siska sembari menunduk.
Dengan helaan napas Dijara berdiri tengah-tengah bunga berharap bila dia menari, tanpa melibatkan pertarungan ingatan akan kembali pulih sepenuhnya. Dia memakaikan gelang rantai dengan lonceng, kemudian menghunuskan pedang, memulai posisi agak rendah dan melihat Siska yang sudah tidak sabar. Seperti anak kecil menontonnya.
Orang lalu-lalang ikut terkesima, meski begitu mereka ini terfokus kepada Siska. Seperti mendapatkan kehebohan seorang petualang itu berlari melewati gerbang. Selagi gadis berambut merah ini berbinar-binar, dia sangat telah lama menanti, kini Dijara menunjukan setiap gerakan yang memiliki arti melekatkan kesan tertentu pada Siska.
Selama menonton Siska yang awal memiliki ekspresi raut muka gembira perlahan diam, seperti menyadari sesuatu membuat dia kebingungan dan heran. Setiap gerakan seperti mencoba mengatakan sesuatu. Termasuk tarian, tersirat kisah yang tidak diketahui Siska, entah kebencian maupun kemarahan Siska tidak paham. Dia hanya dapat melihat kepiluan seorang laki-laki yang nyaris putus asa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments