Kekuatan Malapetaka

Membalas tatapan Siska tersebut, Dijara kembali selesai berkontak mata dan menatap raja kerangka. Momentum ini mengharuskan Dijara menyerbu duluan, tetapi dia tak boleh gegabah, terutama melawan tingkat malapetaka dan fokus. Dia melirik Siska mengisi magasin tetapi tidak benar, dia ketakutan. Tiap mengisi pasti ada yang jatuh.

Dijara melihat ke seluruh tubuh, meski disebut tengkorak tidak sepenuhnya benar. Masih ada seonggok daging bergelantungan. Remaja laki-laki ini menarik napas kuat, mencondongkan tubuh, membalik cengkeram tangkai pedang dan menggunakan sihir penguatan tubuh. Pusat ke kaki tidak yang lain, ia mengincar kegesitan dan cepat.

"Kau tampaknya seorang pembunuh atau pemburu, kalau berapa tingkat yang kau miliki?" Tanya raja kerangka, ikut mengambil posisi meletakan bilah setinggi bahu dengan tangan lain lurus, seperti sedang membidik targetnya itu.

"Tingkat tujuh!"

Selesai berteriak, mereka memelesat bersamaan beradu pedang dengan gerakan masing-masing. Dalam amatan Dijara itu serangan tebasan tunggal. Dia berniat akan menangkis serang raja kerangka, lalu cepat melancarkan serangkaian ayunan menetapkan sasaran pedang. Tapi kali ini kejayaan dalam rencana tak berpihak pada Dijara.

Dia unggul dalam kecepatan, dengan dua pukulan bilah Dijara berhasil membelokan arah pedang lawan dan ketika dalam proses menarik pedang supaya menebas musuh. Dia dihentikan tangan ketiga, raja tengkorak ini mampu menumbuhkan tulang, alhasil kedua tangannya diblokir membuat pergerakan Dijara sangatlah terbatas.

"Kecepatanmu berada di tingkat ketiga pemburu, namun kamu salah bertindak. Jangan memperlakukan monster seperti manusia. Mm.. kau malah mau fokus mengekang pergerakan dan mengincar bagian rentan tubuh, sangat tidak seimbang, ilmu pedang dari pemburu dan teknik membunuh dari pembunuh.." komentar si raja tengkorak.

Dijara menyundul kepala raja kerangka, merasai getaran yang diakibatkan manusia ini dia melepaskan tangan ketiga dan mundur. Darah mengalir dengan luka tusukan yang dalam. Remaja ini menutup sebelah mata, tiap-tiap detik lukanya sembuh perlahan, tetapi raja kerangka ini berniat maju dan terpaksa Dijara bertarung pada kondisi yang sangat tidak menguntungkan. Sambil merasai sakit.

Dia mengingat dalam ingatan, pernah melawan manusia dengan empat tangan dulu maka berniat untuk menang, namun bila tidak memungkinkan dia akan mundur. Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Karena itu dia bermaksud akan pamitan, setidaknya memberi musuh luka fatal dan mendapat kesempatan kabur. Setidaknya itu yang dipikir.

"Ap--!"

Tanpa dapat memproses yang terjadi. Tulang tajam duri, seperti tulang ekor menusuk dari belakang dan Dijara melihat jika raja kerangka menumbuhkan ekor, melewati tanah seperti cacing lalu menusuk. Dijara memberontak dia melepaskan diri dan menahan pedang yang sudah menyentuh bahu, saat muka mereka berdekatan merasai seperti sedang bingung ia mempertanyakan hal tersebut.

"Mengapa kau masih hidup tanpa jantung. Padahal diriku yakin sudah menghancurkan jantungmu..."

"Hmm. Dasar, antagonis novel yang sering kubaca biasa menikmati dan menyiksa dulu. Kau tidak naif, ya."

"Kalian manusia seringkali selebrasi seusai nyaris meraih kemenangan, padahal kalian bukan 'mendapatkan' melainkan baru 'meraih' benda yang kalian inginkan."

"Mm?... Tampaknya kau seperti sedang membicarakan diri sendiri, lho." Dijara mendorong pedang, mereka segenap kekuatannya bertanding berebut kemenangan.

Dalam pertarungan ini ia seringkali melakukan kebiasaan waktu melawan manusia, karena itu melangkah mundur meminta magasin yang diisi Siska. Dengan tangan masih menggigil gadis ini menaruh dua wadah peluru, satu penuh sementara yang lain lagi, hanya lebih dari separuh dan mereka hampir dikelilingi. Siska berdiri merapalkan mantra penyembuhan tuk menutup luka-luka kecil Dijara.

Dijara menggenggam erat pegangan pedang. Dia berlari ke depan dengan kecepatan luar biasa, dengan gerakan mengecoh dan menebas terus menerus dalam bentuk lintasan lurus. Raja tengkorak langsung menjaga jaraknya mendapati Dijara mulai terbiasa, membuang tanggapan terhadap situasi melawan manusia dan lebih menggerak tubuh seperti yang diajarkan Riia. Meski melewati batas.

"Ah, kau memaksakan diri."

Pada momen Dijara memuntahkan begitu banyak darah, raja kerangka memanfaatkan kesempatan menendang musuhnya hingga terpental dan menabrak batang pohon sebelah Siska. Siska mendatangi remaja laki-laki tersebut dan melihat keadaannya, saat-saat seperti ini dia justru diam tanpa melakukan apa-apa, membuat Siska jengkel.

"Kekasihmu sudah tumbang, kekuatannya tak diragukan sangat kuat. Tetapi dia masih mentah. Bagiku yang sudah melewati ribuan tahun mengakui remaja itu, selaku orang terkuat di dunia ini. Meski sayang sekali.. takdir tak menghendaki dan sihir mencampakkan dirinya. Sebab itu bergabunglah denganku, kalian berdua, kalian akan selalu bersama dan kematian takkan mahu menyentuh kalian!"

"Ha? Dasar keparat. Tak mungkin bagiku buat menyentuh tuanku, dia mahkluk pertama yang ku hormati dan ku jadikan majikanku." Dijara membuka mata, tetapi tekanan dari intimidasi luar biasa terpancar diaura kuat miliknya.

"Apa itu kamu, Dijara?"

"Bukan, neng. Tuan sedang tidak sadar. Dia dalam tubuh yang tidak prima.. legenda sepertinya takkan mati cuma karena ini. Benar, bukan tuan Adz---" tiba-tiba tangan kanan Dijara menutup mulut sendiri, "diamlah Mair kapan aku memberikan izin untuk mengambil alih tubuhku ini?"

Mirip seperti duel dengan Dara, aura yang terpancar dari tubuh Dijara berkeliaran membunuh para anak buah raja kerangka. Lebih tepat seperti tiba-tiba mereka pecah menjadi kumpulan tulang, tidak tersusun. Raja tengkorak mundur perlahan mengungkapkan ketakutan, saat Siska terkejut melihat suatu energi yang luar biasa dari Dijara.

Tahu-tahu Dijara memburu napas merasakan sakit yang luar biasa, dia berpikir bahwa hal semacam ini bukan apa-apa. Tetapi dia meremehkan. Karena bukan berarti ini tubuh lamanya, begitu Siska menyadari bahwa Diraja sudah dalam kondisi parah dia merogoh-rogoh tas dan mencari benda yang berguna. Hanya ada satu gulungan sihir ini yang dapat digunakan untuk memanggil bantuan.

"Anakmu sekarat! Cepatlah datang kemari!"

Siska menciptakan seekor burung dengan sihir cahaya, ia mengikat gulungan sihir tersebut dan menerbangkan burung cahaya tersebut. Hingga bantuan Riia datang. Dia berupaya menyembuhkan Dijara, tetapi karena tak sadar dan tidak bernapas gadis ini panik. Dalam beberapa saat setelah itu ia mencoba mendengarkan detak jantungnya.

Gadis ini memeluk tubuh dingin Dijara. Ia tertahan-tahan menahan tangisan, biar tidak lama lelaki ini meraih senapan serbu dan membidik langit setelah melepaskan peredam. Siska dilanda kebingungan serta kelegaan. Dia masih hidup, dengan keadaan fisik hancur saja, dia dapat pulih dan tubuh mampu berfungsi normal. Karena itulah Dijara berusaha mengambil ramuan pemulih energi sihir.

"Setetes pun tidak apa, asalkan---" Dijara dengan lemah, berkata tiba-tiba Siska mendekatkan muka ke wajah. Sangat dekat mengurangi jarak hidung mereka sampai bersentuhan, bahkan Dijara dapat melihat mata Siska.

"Hmm!?"

Dijara terkejut Siska melekatkan bibir, jika dalam kondisi normal dia akan menendang gadis ini. Tetapi dia lemah tidak berdaya. Beberapa saat setelah itu, entah mengapa sihir Dijara pulih dan dia melihati Siska yang tersipu malu membuang muka. Dia menembakkan peluru memberi morse kepada Riia, kalau ayah mempelajari serius, maka dia dengan mudah dapat menemukan posisi mereka.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!