Siska terlihat ragu, meragukan makanan yang baru dilihat pertamakali. Itu wajar-wajar saja. Karena Dijara melahap tanpa keraguan, gadis ini menggigit secuil dan mencicipi, sebelum dia memakan dengan biasa. Raut wajahnya pun langsung berubah datar, buat Dijara cukup penasaran alasan Siska seringkali membekam perasaan, namun dia tak memiliki hak agar mempertanyakan perkara tersebut.
Menempuh jarak sejauh antar dua kota cukup memakan waktu, mereka sampai perlu tidur di dalam hutan dan Dijara mendirikan tenda. Sementara Siska membelalakan mata. Ah, Dijara segera paham ekspresi tidak menduga itu dan mendirikan kemah yang lain bersebelahan depan api unggun, bahkan Siska tidak menyangka ada beginian.
"Jujur. Kau aneh," Siska berkata tanpa menolehkan kepala masih terpaku pada tenda yang ujung nyaris menyentuh tanah dibuat dari kain tenun kasar. Siska menghela napas panjang sebelum bergumam, "baru kali ini aku ditemani seseorang, seseorang yang aneh dan selalu tak tertebak."
Jarak orang yang dimaksud tidak jauh. Dia masih mampu menangkap kalimat Siska, jika dia selalu sendirian untuk mengantar atau mengambil barang, maka dia musti tidur beralas daun-daun kering itu. Dijara melihat ke tempat di mana Siska bermaksud akan tidur. Terpikir mengajarkan cara mendirikan tenda, kepada Siska tak merugikan dia.
———
Mereka kembali ke kota Ardaun, dekat gerbang kota ada ayah menunggu menanti mereka sembari berbincang dengan penjaga gerbang. Begitu jelas bahwa Riia adalah orang terkenal, mungkin lebih dihormati. Sudah berulang kali dia berjasa untuk keamanan kota dan sudah berapa banyak monster yang tak tiba di kota, sebab tindakannya.
"Akhirnya pulang, ibumu khawatir sampai melempar ayah keluar untuk mencarimu, lho." Dengan senyum hampa pria ini menggaruk-garuk kepala, sembari bergumam dia melirik Siska, "ngomong-ngomong Siska, tumben sekali kamu tidak menolak untuk ditemani seseorang laki-laki."
"Saya permisi dulu," pamit Siska undur diri.
"Ekspresi datar itu balik," batin Dijara. Melewati gerbang gadis itu berjalan menuju serikat tanpa menolehkan kepala, terkesan seperti tidak peduli bila dunia hancur di esok harinya. Membuat Dijara tersenyum tipis tercampur perasaan rumit, secara fisik dia sangat mirip dengan kekasihnya, bila Siska tak mengikat rambut mungkin saja dia kan langsung memeluk dan mengira bila ia gadisnya.
"Mm. Yah, coba pinjam ranting kayu yang itu, boleh?" Dia menunjuk sebuah ranting kayu, yang memiliki bentuk yang unik membuat Dijara bergumam, "ini mirip sesuatu."
Putra dan bapak balik ke kediaman, sekalian keluar ayah mencari kayu bakar mengingat persediaan bahan bakar menipis. Dijara langsung menerima serangan. Kalau dia memiliki kekuatan seekor ular sawah, maka dapat dipastikan ibu akan membunuh putra sendiri sekali cekik.
Dengan ucapan "Ah!" seperti ingat kan sesuatu, ibu pergi ke dapur dengan lari kecil yang imut. Kini Dijara paham sekali lagi, apa itu keimutan. Sudah lama ia tidak melihat tingkah ibu seperti itu, tidak lama dia kembali membawa sebuah wadah dan mengejutkan Dijara. Ibu berhasil membuat tepung tapioka sesuai arahan yang diberikan.
"Lebih bagus dari buatanku, memang, mustinya serahkan masak-masak kepada perempuan. Buatanku sangat kasar," lirih Dijara menyentuh tepung dari pati ubi kayu ini.
"Nah bila ayah tak sibuk mari kita jualan menambah uang tambahan, bisa?" Dijara menoleh ke ayah, pria itu hendak seperti akan menggeleng tiba-tiba dia mengangguk sembari berkata dengan panik, "tentu saja akan kubantu!"
Sejujurnya Dijara sangat kesulitan tuk melawan monster, dia dulu terbiasa melawan manusia dan mempelajari bentuk tulang dan cara kerja tubuh manusia. Walau kini ilmu itu tak berguna. Dia memerlukan senjata yang dapat melawan keduanya, sekaligus dan mampu digunakan pada berbagai skenario, yaitu senapan atau senjata api.
Jarak menengah hingga jauh lebih baik. Bagi Dijara yang berasal dari dunia yang perkembangan teknologi cukup maju, karena orang-orang tidak mengembangkan hal semacam sihir yang kemungkinan takkan membuat maju peradaban. Malah menghambat karena sihir itu seperti kemudahan, dimana segala bisa dilakukan tanpa kecuali.
"Mulai besok, kurasa bakalan menyarankan buruan yang dapat dimanfaatkan.."
Pria itu terkapar di lantai menonjolkan perut selepas dia menikmati makanan, biar awalnya mengecam tindakan Dijara yang semena-mena membawa tanaman yang disebut-sebut beracun. Justru dia yang malah paling tak waras mengambil porsi diluar nalar. Dengan senyuman jahil, Dijara menyeringai tipis mengajak olahraga besok.
———
Satu bulan berlalu, bahan-bahan lebih dari cukup hanya untuk menciptakan senjata gagal. Kali ini seusai Dijara melakukan uji coba. Ledakan dan hal-hal lain tidak dapat dipungkiri, yang paling bodoh Dijara lupa peran gravitasi, meski ini dunia lain kekuatan gaya tarik masih ada. Aspek penting dilupakan oleh Dijara, alhasil malah seperti lagi membuat mainan bedil-bedilan yang tetap melukai, meski dapat dibilang tak berguna jika dibawa bertempur.
Dia kembali ke tukang besi, kakek dari ibu memiliki toko besi dan berprofesi sebagai pandai besi membuatkan berbagai senjata buat dijual. Dengan bantuan dari kakek Dijara berhasil mencapai kesimpulan dan belajar dari berbagai macam kesalahan, agar berhasil dia tidak udah terburu-buru dan menulis alasan sebab serta solusinya.
"Liana, bilang ke anakmu ini kalo membentuk besi pakai sihir tidak segampang itu!"
"Bapak. Ikuti saja kata-kata Adi, lagi pula bapak pula udah lihat pencapaian macam apa aja yang diraih cucumu ini, bukan?" Ibu tiba-tiba merangkul, dia dengan bahagia membanggakan putranya ini. Selama sebulan ini mereka yaitu kelompoknya Riia mulai terkenal, kedatangan Dijara membawa angin baru dan mendatangkan berbagai hal.
Kembali lagi ke pengembangan senjata, mereka memulai bicara mengenai yang ingin dibuat Dijara. Laras senjata seharusnya memiliki alur-alur melingkar dalam pembuluh senapan, agar sewaktu proyektil melewati keluar dalam keadaan berputar dengan tujuan menstabilkan peluru saat terpelesat keluar dari laras dan tetap keluar sejajar.
Tentu saja laras musti tahan panas dan gesekan peluru, karena itu bahan-bahan cukup langka didapatkan. Mau tidak mau Dijara perlu menggunakan apa yang didapat dari monster buruannya. Karena itu cucu meninggalkan kakek untuk menyelesaikan permintaannya, selagi dia mencari bahan-bahan lain dan kembali menuju ke serikat.
"Bisa berikan aku benda-benda ini?" Tanya Dijara sembari memberi secarik kertas, lekas wanita resepsionis ini bermuka muram. Seperti tidak sanggup menerima pinta darinya. Tiba-tiba Siska datang, ia mengambil alih kendali dan membicarakan ketersediaan benda yang dipintai oleh Dijara bahkan menawarkan untuk memajang misi di serikat. Ia menolak dan membeli yang ada untuk saat ini.
Semua memperhatikan Dijara, mereka menganggap bila dia seorang pengklaim hasil buruan. Karena mengatur strategi pekerjan Dijara. Menurut aturan serikat pemburu dialah yang paling berjasa, tetapi itu menimbulkan kesan seperti orang yang tidak melakukan apa-apa, namun mendapat hasil lebih dari orang yang paling berkeringat.
Siska kembali membawa karung besar, dia memberikan semua benda itu selagi menghitung jumlah, mendadak ayah datang dan berkata, "biar ayah aja yang bayar. Bawa aja sekarang, kita sore mau lanjut usahakan cepat nanti."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments