Liana mengguncang-guncang putra mereka, dari wanita yang tampak keren dia bertukar mode menjadi ibu sayang anak. Merasai pusing terus digerak-gerakan. Dia menghela napas, mengangkat senapan serbu berkata akan mendukung dari belakang dan ucapan Dijara buat Liana sedikit tenang. Dia kembali menuju posisi ksatria.
Perawakan cukup tinggi, rambut emas setinggi pinggang dengan mata merah agak pucat itu dia bertumpu pada kedua kaki, ia menggenggam pedang. Menentang musuh dengan gagah berani. Sebelum dia berbalik badan, lalu berlari dan memeluk Dijara berubah pikiran akan berada disebelah putra. Membuat Dijara melepas helaan napas.
"Lagi pula apa neng Siska menempel kayak tongeret? Dia ini suamiku, lho."
"Dijara! Beraninya kau merebut istriku?"
"Ayah, jangan membuat situasi menjadi lebih rumit!" Kata Dijara pakai nada membentak menciutkan nyali Riia. Dia beralih memegang pedang melihat Liana tak ada niatan kembali, dengan gesit ia berlari dan mencoba memotong kedua kaki naga kerangka. Sayang dia hanya menggores.
Dijara melepas magasin mengecek peluru hampir penuh, dia tidak memiliki lagi persediaan dan benar-benar menjadi peran pembantu. Saat menyalurkan energi sihir pada pemukul pin, membakar bubuk batu api di dalam peluru dan menembakkan proyektil dengan tinggi sesuai berapa banyak energi yang disalurkan. Jikalau berlebihan akan panas sesudah beberapa tembakan, lalu meledak.
Karena Siska memindahkan energi sihir. Dijara tidak usah khawatir, ada pemasok bahan bakar di belakangnya walau posisi ini sedikit sulit, agar mudah membidik Dijara melepaskan Siska dan ketika merasai sihir hampir habis dia akan mendatangi gadis itu. Dia membidik dengan teleskop yang dirancang untuk jarak jauh, yaitu senapan.
"'Penetrasi peluru tergantung pada seberapa besar kamu memasukan energi sihir' ucap Adi waktu itu." Batin Riia, semua mendapat kedua naga kerangka tumpang dengan lubang pada kepala mereka. Lalu, orang-orang berpikiran penyihir menyerang ini mahkluk dengan kilatan dari sihir cahaya tingkat tinggi.
"Hebat! Belajar darimana kau mantra sihir itu?"
"B-bukan. Yang membunuh kerangka itu, adalah dia.." ujar seorang penyihir, dia menunjuk Dijara yang sedang mengokang senjata dan memilah peluru yang tercampur ulah Siska. Dia amat ketakutan bertemu raja kerangka, meski Dijara tidak memahami betapa berat tekanan itu.
Selanjutnya kedua orang di belakang Dijara maju. Siska merambah kerangka seperti memangkas rumput liar, begitupula Liana. Dengan pedang terselimuti api merah Siska mengambil sikap tinggi, dia menarik pedang ke atas menebas secara tegak lurus dari atas, lalu bawah membentuk garis tegak lurus yang mengeluarkan api.
Api tersebut merebak sekeliling, menjadikan tengkorak menjadi abu. Siska terus mengulang teknik yang sama. Membunuh puluhan prajurit tulang, tetapi staminanya tidak sebesar kapasitas sihir alhasil gadis ini memburu napas, dia kelelahan merasakan capek usai mengayun pedang tanpa henti dan tetap bangkit memandang maju.
"Siska kemarilah!"
Panggilan Dijara membuat gadis ini lengah. Mendadak satu prajurit tulang melompat, nyaris menebas Siska dihentikan oleh Liana, dia menerima pedang lawan dan mengubah haluan pedang. Memanfaatkan celah pada tengkorak, Liana menusuk dan memotong kecil-kecil sebelum melihat Siska tengah berlari menyahut Dijara.
"Semoga putraku tidak menganggap sebagai pemasok energi sihir berjalan," batin Liana, melihat sedikit lekuk senyum diantara kedua pipi Siska, menandakan senang.
Siska memegangi tangan kiri Dijara sambil memandang situasi peperangan ini, prajurit kerajaan dapat datang dalam waktu satu hari. Mereka yang ada disini hanyalah pasukan yang dari awal sudah ditempatkan disini, kalau ini terus berlanjut, kekalahan sudah menunggu pihak mereka karena Dijara tahu mereka tidak memiliki taktik.
Sementara raja kerangka seperti cukup pintar, sedari tadi naga kerangka bermunculan untuk membasmi pasukan yang memasok kebutuhan. Bisa dibilang para tengkorak juga mengitari kota ini. Hendak berbuat sesuatu, namun pada pengintai mengabarkan dan membunuh semuanya, membuat Dijara merinding. Mereka hanya seperti menunggu ketibaan ksatria kerajaan, hanya bertahan dan menunggu dihancurkan. Membuat Dijara cukup geram.
"Menurutmu kita bisa terus mengulur waktu sesampai di sini? Prajurit dari kerajaan."
"Tidak. Mereka takkan datang sebelum kota benar-benar hancur, itulah yang terjadi saat terakhir kali raja kerangka datang ke kota lain..." Juve angkat bicara, dia berkata dengan nada tidak main-main memberi kejut pada Dijara.
Dijara melihat ke kota mengingat di ruang kerjanya dalam rumah terdapat benda berharga. Tidak ingin mengulang dari awal lagi, dia berniat agar para tentara tulang takkan bisa menyentuh kota dan mulai berdiri. Dia tidak memiliki batu api lagi, itu adalah bahan pengganti mesiu yang mudah meledak dan ditumbuk hancur Dijara. Sehingga ia tersenyum kecut harus bertahan dengan sedikit peluru.
Tiba-tiba raja kerangka menarik mundur pasukan melihat kota manusia, Dijara tertawa terkekeh-kekeh kecil dan berekspresi seperti memiliki rencana jahat. Mengetahui raut muka putranya, Riia menarik napas dan mendengar berupa rencana Dijara. Dengan tatapan kedengkian Siska melihat sekeliling. Mereka seperti amat tidak suka Dijara.
"Mm layak dicoba ketimbang diam menunggu kekalahan dan tewas," ujar ketua serikat.
Mereka memang pasukan mayat hidup tapi bukan berarti kekal, dalam diri mereka terdapat energi sihir mengalir agar tubuh dapat bergerak bebas. Alasan raja tengkorak menarik balik pasukan karena daya sihir mulai berkurang, sehingga malam ini waktu yang tepat untuk menyerap dengan anggota kecil dan dia membunuh dalam senyap.
Karena itu serikat pembunuh yang entah dimana serikat mereka dibangun datang. Benar-benar seperti penjahat, dengan jubah dan tudung menutupi sekujur tubuh. Dia duduk depan Dijara, menyimak rencana mereka selama beberapa menit. Kemudian dia menggelengkan kepala, memang taktik Dijara sangat bagus tapi menyulitkannya.
"Kami tak dapat membantu."
"Benarkah?"
"Mm. Bocah, lu mungkin lebih layak di serikat pembunuh ketimbang disini. Kau sedari tadi melihat caraku berdiri dan lain-lain, tenang saja aku takkan berniat membunuh siapapun. Hahaha!" Kata orang bertudung tersebut, kembali duduk, ia mendengarkan permintaan dari Dijara.
Dijara menjual informasi tentang tubuh manusia biarpun ini pengetahuan umum di bumi, ilmu seperti ini sangat terdengar unik dan di luar nalar. Pembunuh membalikan tudung, dia tersenyum lebar mengiakan permintaan dari Dijara dan akan membawakan yang diinginkan dalam tiga atau empat jam kemudian. Yaitu benda berbahaya.
"Luar biasa. Hei Dijara, kau memiliki informasi yang lebih berguna lagi, bukan?"
"Bagaimana tentang yang disebut alkohol? Itu pasti akan membantu dalam membu--"
"Dijara! Seberapa banyak metode membunuh yang kamu miliki?" Tiba-tiba Riia mengguncangkan tubuhnya, buat remaja ini tersenyum masam dan berkata,
"nanti bakalan aku luangin waktu buat diskusi. Tetapi aku mendapatkan pengetahuan ini dengan meneliti sangat menghabiskan waktuku, lho!"
"Ah, paham sekali! Semalaman penuh mencari tahu cara kerja badan mahkluk hidup, sangat menyenangkan, kan?"
"Hoo kau paham?"
Semua yang ada dalam ruangan bermuka suram. Selagi dua orang ini bersenang-senang, semangat berbicara tentang mematikan nyawa seseorang dan nyaris hampir seluruh perempuan di ruangan mau muntah. Mendadak ketua serikat pemburu menghentikan diskusi mengerikan mereka, mereka berkata "heee?!" seperti anak kecil dilarang bermain oleh orang-tua mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments