Sesampai depan kota, dia memperingatkan prajurit yang mengamankan tempat masuk tetapi dia tak mendapat kepercayaan. Gadis ini mengigit bibir. Dia mencari-cari Kiara, sesudah bertemu laki-laki ini malah duduk sembari makan siang dan Aila emosi. Memulai mencari keributan melihat dia tidak melakukan apa-apa, menikmati makan.
Keributan pecah di dalam serikat menarik perhatian dari para pemburu lain, termasuk Riia. Dia tahu bahwa kedua orang itu tim putranya. Meskipun begitu tidak ada tanda Dijara sudah pulang, membuat Riia cukup cemas, tapi karena Siska bersama mungkin Dijara sedang berduaan.
"Kenapa kau lari dari pertempuran, bego!?"
Setelah mendengar ucapan itu Riia bersicepat keluar dari serikat menemukan para prajurit sedang menembaki burung cahaya. Pada langit malam, sihir itu amat terlihat membuatnya jadi sasaran empuk. Ketika burung itu mati suara menggema, lewat gulungan sihir rekaman suara, dia mendengar suara Siska berkata sekarat dan anakmu.
Tanpa pikir panjang Riia berlari secepat angin. Semuanya yang melihat Riia panik merasa ada yang salah, terutama Juve melihat tingkah laku itu dan langsung menemui semua anggota tim. Sementara waktu melewati gerbang suara tembakan terdengar, Riia sesegera mungkin berlari menuju sumber suara tersebut. Sembari memahami arti kode yang diberikan oleh Dijara, "malapetaka" isi kode itu.
———
Riia menemukan Siska sedang memapah remaja laki-laki yang kelihatan lemah. Dengan pendek Siska memberi penjelasan situasi. Sebelum kembali, ia mendaki gunung melihat dari daratan atas bahwa memang benar pasukan tengkorak berkumpul, dengan jumlah yang tak main-main melebihi dua puluh ribu. Membuat Riia mengigit bibirnya.
Dijara terbaring hingga keesokan hari. Kedua matanya itu terbuka, mendapati langit-langit asing dan ranjang yang berbeda sewaktu berusaha memahami. Dijara melihat ke sebelah ada Siska sedang terlelap, laki-laki ini menghela napas. Sebelum dia betul-betul menendang gadis ini dan lanjutkan tidur. Siska yang bangun langsung tersenyum.
"Dijara! Kenapa sikapmu seperti itu pada seorang gadis yang menyelamatkan nyawamu?" Tiba-tiba ayah berdiri, dia membentak anaknya yang baru bangun, lalu Dijara tidak lama bangun kemudian terduduk dengan bersilang melipat kaki di atas ranjang mengatakan, "jadi kau tahu?"
"Ha?" Riia bermuka bingung.
"Kau tau ada lawan jenis tidur dengan anakmu. Mengapa diam seperti itu? Otakmu sudah gila!" Kata Dijara, dia marah-marah membuat suasana ruangan menjadi sunyi.
Juve, kakek, ibu, dan Riia mempunyai pikiran yang sama, lalu mempertanyakan siapa seorang gadis serta remaja laki-laki disini. Tiba-tiba dalam situasi hening ini Siska selaku tersangka berdiri, memberi tatapan kosong Dijara dan menghela napas. Dia bersimpuh sambil memegangi tangan, kemudian ia mencium bagian atas lengan Dijara.
Semua tertampak kaget, termasuk Dijara. Pengetahuan umum tentang pernikahan. Lebih seperti seorang istri mengabdikan diri kepada seseorang, meski kebanyakan melakukan itu karena kastanya lebih rendah dan melihat perihal ini Dijara kebingungan segera menatap pasutri yang melahirkannya. Dia langsung mengencam Riia yang membuang muka ketika Dijara menatapnya, dalam hati.
"Siska. Jelaskan ini semua, tentangmu."
"Sebenarnya..."
"Prajurit kerajaan udah memenuhi tempat!" Bibinya Siska memasuki ruangan, setelah mengabarkan perihal tersebut semua keluar ruangan kecuali Siska dan Dijara.
Dijara beranjak dari ranjang. Dia kembali memakaikan tas pinggang, sembari mengecek banyak hal untuk perang tidak berkata apa-apa dan dia cuma memasang aksesori tambahan untuk senapan serbu. Melihat Siska membisu Dijara menarik napas, selepas berhadap-hadapan dengan remaja laki-laki ini, Siska mengigit bibir dan salah tingkah.
Yang ditanyai tentang sebab energi sihir Dijara pulih, dia benar-benar serba susah dalam bertingkah laku. Tak lama setelah ditatap lama Siska, akhir membuka mulut berkata bila dengan cara tertentu keluarga Siska dapat mengontrol energi sihir seorang individu atau pribadi.
"Ini pertama kali aku mengontrol energi sihir seseorang dalam hidupku. Cara kami memindahkan energi sihir, melewati kontak fisik intim seperti yang kulakukan tadi kepadamu. Jadi, bisa dibilang aku menjalin kontrak bersama. Kamu itu yang pertama buatku, tenang saja."
Siska lebih menjelaskan lebih detail. Bisa dibilang kontrak sementara, alasan ketika tubuh Dijara mati dan tiba-tiba energi sihirnya pulih sudah terjawab. Karena perkara bisa dibilang ini rahasia, Dijara mencabut pedang menggores tangan memakai pedang dan memintanya meminum darah secara diam-diam. Membuat Siska semakin heran.
"Senyawa dalam protein inti sel yang mewarisi sifat dari keturunan ialah syarat kontrak, lakukan dengan normal!"
"B-Baiklah.." Siska gemetar, dia meneguk beberapa tetes darah lewat cangkir selagi Dijara mengikat pergelangan dengan perban. Tidak lama biar Siska minum setengah dari isi cangkir kayu tersebut, tak terjadi apa-apa, hingga membuat Dijara berkeringat dingin dan terheran-heran.
Bersikeras kontak lewat darah, tiba-tiba Dijara bercakap mungkin bila lewat menghisap darah pemberi energi menciptakan perdebatan diantara mereka. Semua yang menghasilkan bentakan, bahkan orang-orang dibawah mendengar pembicaraan mereka. Lama-kelamaan Siska yang asalnya menolak mendadak tersentak dan mahu.
"T-Tapi kamu musti gigit di pipiku."
"Tidak perlu mengigit. Gunakan pedangku, setetes saja tidak apa-apa.." kata Dijara menyodorkan sebuah pisau, melukiskan ekspresi tidak menduga pada Siska. Karena kali ini Siska bersikukuh mereka tidak menemukan puncak, hingga pintu terbuka dan bibi Siska memasuki ruangan, mendorong keponakannya ke rangkulan Dijara.
Siska tersipu malu memegang erat, melingkarkan lengan bahkan Dijara mengetahui jikalau gadis ini menguatkan kekuatan dengan sihir. Terasa seperti dicekik ketimbang dipeluk. Namun, pada akhirnya sentuhan fisik memang mengalirkan energi sihir dan diperkuat dengan hubungan akrab agar lebih berpengaruh. Buat dia menghela napas.
Usai setengah jam berlalu, Dijara keluar ruangan disusul Siska mengikuti dengan muka datar. Dia memiliki bakat sebagai aktor, pikir Dijara. Melihat situasi beserta kepanikan warga kota sedang evakuasi monster tingkat malapetaka bisa semerepotkan itu. Sadar akan hal itu, Dijara bergegas ikut menaiki kereta kuda bersama Juve.
Juve mengangkut barang keperluan tentara. Terlihat oleh Dijara, prajurit mereka sangat mengandalkan ramuan dan senjata sihir serta benda-benda pendukung lain. Sewaktu sampai di garis depan Dijara lebih kaget lagi. Ayah-ibu bertarung sebagai tim, tapi tak seperti dugaan, daripada sebagai pelindung malah sebalik dia memegang tameng.
"kenapa langkah ibu lebih cepat dari ayah...?"
"Benar, maka demi mengimbangi itu Riia menggunakan perisai lebih melakukan dukungan dan perlindungan memakai angin," ujar Juve sambil menurunkan muatan.
Riia menahan serangan monster kerangka raksasa selagi bertahan, lalu ibu muncul dari belakangnya berlari dari lengan raksasa dan memenggal kepala begitu mendekat, membuat Dijara bingung. Kadang Riia mencengkram kepala musuh, dan dengan gesit Liana, ibu memotong itu sekali tebas membuat bulu kuduk Dijara agak merinding.
Meski tidak dapat mendengar, Dijara tahu bahwa Liana memberi instruksi kepada Riia dan mempertahankan kerja sama. Tiba-tiba tiga ekor naga tengkorak muncul. Sehingga para pemula mundur, yang ikut hanya veteran dan anggota-anggota serikat percaya diri. Termasuk si Dijara memberi kepanikan kepada Liana, dia cepat kembali mode ibu dan sisi ksatria hilang entah kemana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments