Orang yang muncul. Mengganti posisi Dara menjadi meja untuk menghindarkan serangan Dijara, datang dengan bertepuk tangan dan pertanyaan. Selagi itu Riia langsung mendatangi putranya, dia berdiri disebelah Dijara untuk menenangkan amarah ia. Meski remaja ini masih emosi.
"Mm. Jadi, anda lebih marah karena Tn. Dara menghina nyawa... Bukan, sesuatu seperti yang anda hormati?"
"Lalu siapa kau? Biarkan aku memotong lidahnya terlebih dulu, baru kita bicara!" Kata Dijara penuh akan emosi.
Orang dengan cara berpakaian eksentrik datang sebagai pemimpin serikat ini. Selesai meminta maaf. Mereka pulang, tanpa memanjangkan masalah ini dan sebagai itu Dijara meminta ganti rugi berupa uang untuk pakaiannya yang sobek, sekalian meminta upah mereka buat hari ini.
Hanya Juve yang tidak kembali. Dia dimintai untuk bicara dua mata dengan pemimpin serikat, maka dia tetap tinggal dan berbicara mengenai kejadian barusan. Sebab mental Dara langsung turun ketika berhadap-hadapan dengan Dijara, hanya ia yang agak dekat dengan mereka.
"Kau menyadarinya, bukan? Ketua serikat."
"Begitulah. Itu bukan sekadar tarian aneh, meski ini hanya asumsi saja Nak Dijara menggambar tanaman yang disebut sebagai bunga anggrek, lalu dia menyerang pada Dara dan sesuatu yang tak terlihat menyerang mengikuti gerakan si Dijara," ucap kakek ini mengungkap pendapat.
"Benar! Malaikat maut..., sosok hitam itu. Bocah itu musti dihabisi, sebelum---ma.. sebelum!" Dara bertingkah aneh, dengan perilaku seperti orang gila dia seakan-akan meyakinkan mereka berdua bila ada sesosok makhluk di belakang punggung Dijara. Menguatkan perkataan ketua.
Ketua serikat menghela napas. Dia mengambil sebuah kristal hitam, meletakkan benda tersebut atas meja memperlihatkan rekaman pertarungan mereka. Karena setiap ada pertikaian, layaknya CCTV kristal hitam yang menggantung di langit-langit akan merekam semua kejadian sampai ketua serikat datang melerai mereka.
Mereka memutar rekaman itu, berkali-kali. Namun bagi Dara itu seperti penyiksaan dan melarikan diri akibat tidak tahan lagi melihatnya. Juve memandangi dengan serius, dia sangat ingin mengetahui Dijara melakukan sihir macam apa sampai semuanya membatu ketakutan.
"Ah, Juve lihatlah baik-baik. Tepat saat sebelum setengah meter pedang nak Dijara menyentuh meja, meja itu telah terpotong rapi berbentuk bunga anggrek!" Kata kakek.
"Benar. Ini membuktikan bila.. tarian itu meminta kepada sesuatu sosok yang dilihat Dara, untuk menyerang target dengan serangan seperti bentuk bunga ini," gumam Juve.
"Ini mungkin kekuatan mahkota, lagi pula Riia keturunan orang itu.. jadi wajar bila nak Dijara memiliki kekuatan semacam ini, tapi kurasa terlalu cepat. Jadi, Juve tolong awasi anak ini jangan sampai dia memusuhi manusia!"
Mereka berdiskusi sangat lama. Membicarakan tentang garis keturunan, hingga fajar menyingsing Juve baru hendak meninggalkan gedung serikat pemburu sesudah dia membicarakan banyak hal dengan ketua serikat pemburu, si kakek tua. Dengan ekspresi rumit dia melihat ke lantai yang tergores teratur, dengan bentuk bung
———
Dijara berkeliling kota sendirian, karena adegan melawan seorang pemburu peringkat 6 membuktikan jikalau dia dapat menjaga diri sendiri. Sedari dulu saat berkemauan membeli barang, dia senantiasa ditemani mau ibu ataupun ayah sangat protektif terhadap anak mereka ini.
Walau Dijara tidak terlalu senang. Dunia ini menganggap makanan dari tanaman berumbi, seperti sayur-sayuran yang tumbuh di tanah dianggap berbahaya. Karena agak senggang Dijara memasuki hutan, tempat dimana para monster sudah dibabat habis para pemburu, bahkan dia melihat ada beberapa kelompok pemburu bolak-balik.
"Oh kau putra Riia? Hutan ini sudah tidak ada buruan lagi, lho. Cobalah ke hutan di selatan."
"Tidak. Aku sedang mencari tanaman, lagi pula kalian tak menghancurkan area sekitar sampai pada tumbuhan mati, bukan?" Dengan muka memelas, Dijara bertanya ke pemburu yang menyapa. Dengan begitu dia bisa tenang mencari yang dimau tanpa cemas, meski tetap waspada.
Ekosistem disini sangat sama dengan bumi, bukan mirip lagi. Yang membedakan hanya ada monster saja. Karena itu Dijara mengambil segala yang dikenali, dalam sebuah ingatan-ingatan samar mengetahui bila dulu dirinya seringkali bercocok tanam. Untuk menghemat keuangan.
Tiba-tiba saat hendak mencabut ubi jalar, terhenti sesaat mengingat momen anak-anak berlarian di kebun dan ibu mereka sedang memukuli serangga. Dia melengkungkan bibir, mulai merindukan anak-anak yang selalu berlarian dan ketika remaja meminta saran percintaan kpada ayah membuat pemilik ingatan ini tersenyum dengan hampa.
"Maafkan ayah, kalian tau juga bila usiaku sudah seratus tahun tapi perawakan seperti umur dua lima. Kalian itu sudah punya anak juga. Pasti paham... Bila..." Dijara menghentikan gerak bibir, dia tanpa sadar menitikkan air mata dan bersicepat menyekanya dengan jari bergetar.
Dunia bumi tidak memiliki sihir, hanya segelintir manusia yang mampu melakukan keajaiban seperti itu dan itu termasuk Dijara. Maka seharusnya mereka paham kalau kematian ayah mereka itu hal wajar, meski demikian dia tidak dapat membayangkan anak-anak mereka berteguh menghidupkan mereka lalu depresi, karena tidak mampu.
"Tidak. Mereka anak pintar, pasti memahami realita dan semoga..." Dijara berdiri sembari menatap angkasa mengulang kalimatnya, "semoga kalian tidak mewarisi sifat serakah terhadap orang-orang yang kalian cintai itu."
Dijara pulang dengan karung goni berisi sayuran beserta buah-buahan yang berasal dari hutan ini. Dia melihat ke sekeliling, ada tumpukan ranting dan seorang wanita lagi mengumpulkan kayu bakar. Sontak dia tersentak karena melupakan tugas itu. Dengan ekspresi terpaksa, lelaki ini tergesa-gesa menyimpan hasil jarahan hutan ke rumah.
"Ah, bolak-balik seperti ini melelahkan bahkan hari nyaris malam." Dijara meregangkan tangan, sesudah menaruh kayu bakar di halaman serikat dan tinggal membuat laporan kepada serikat. Dia memasuki serikat, sepi tanpa pemburu lain, selain para pekerja dan beberapa orang.
"Ah, nak Dijara ada apa?"
"Laporan. Serikat sudah tutup?" Tanya Dijara melihat ke sekeliling, semua sedang beres-beres. Setelah dijawab, mereka tidak memperbolehkan pemburu mengambil misi hari ini, jikalau datang sekedar laporan masih boleh asal selain itu tidak. Mendengar jawaban itu Dijara pergi.
Dia menemui salah satu gadis yang tengah diam depan meja, seorang gadis berambut merah terang berdiri dengan anggun. Dijara menghadap dan menaruh kertas tugas, sikap orang ini sangat acuh tak acuh, membuat Dijara merasa dia tidak ramah. Seperti senantiasa cuek.
"Siska. Tolong kamu ambil barang-barang keperluan kita, besok hari, bisa?"
"Tentu." Jawab Siska.
"Ah, bersama nak Dijara sebagai ganti denda," kata ketua serikat dengan muka polos. Dijara menghela napas dia memang telat, meski cuma dua jam, dia musti menepati perjanjian dan upah masih diberi asalkan mengawal Siska, resepsionis judes ini. Bahkan dia jarang berbicara.
Sekali lagi Dijara memperhatikan Siska, gaya rambut ikat menjadi satu di kepala bagian belakang setelah disisir kebagian belakang, alias menyerupai ekor kuda. Tak ada yang menarik bagi Dijara, selain warna mata merah muda itu, mengingatkan kepada dirinya untuk mencari secepat mungkin keberadaan gadis itu. Ini lebih cepat lebih baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Bewuwang
oh ni siska ini bklan jdi heroin MC Thor?
2023-12-02
1