Mengawal Seorang Gadis Cantik

Dijara pulang ke rumah, pintu tersingkap mengeluarkan bunyi menderit karena engsel yang cukup karatan dan musti diberi pelumas. Ia jengkel mendengar bunyi yang membuat linu. Saat memberi salam, ibu menerjang langsung memeluk putranya seperti beruang merangkul, memaksa menenggelamkan muka dalam lingkar lengan.

"...Hmm! Ibu, pengap sekali!"

Sewaktu lepas dari bilik sempit yang sulit, menyingkirkan tiap oksigen, karena sangat seperti berada kerumunan penuh berasak-asak Dijara memberontak. Ketika sedang memburu napas, ibu tersenyum lebar dan membawakan sebuah kotak kayu. Dengan muka heran Dijaga menoleh.

Dengan gestur tangan ibu, Liana. Mempersilahkan Dijara membuka kotak ini lewat ekspresi gembira dan tanggal hari ini Dijara mengerti. Berniat pura-pura terkejut. Dalam proses pembukaan, tiba-tiba ayah berteriak bersicepat merebut kontak kayu dan sontak ibu langsung terkesiap, disusul amarah serta memicu pertengkaran pasutri ini.

"Kemarin aku cuma bercanda, keparat!"

"Ah, begitu ya..." Ayah menaruh kotak, berjalan lurus pergi berpamitan, "kalau begitu dadah. Nanti malam pulang."

Lanjut Dijara membuka kotak, selagi ibu mengomel tidak jelas dan alangkah kaget remaja laki-laki ini. Benda yang diinginkan menumpuk satu peti ini. Ramuan pemulih sihir membuat Dijara melengkungkan bibir, dia sangat senang bisa melakukan banyak hal dengan bantu cairan ramuan.

"Kalau begitu. Ibu mau bantu aku, kalau mau, anggap aja ini permintaanku.." kata Dijara menoleh kepada ibu.

"Mm. Tentu!" Angguk ibu, mereka bersemangat ke dapur, lebih tepat ibu Dijara mempunyai semangat membludak melebih semangat pejuang berani tewas. Pikir remaja ini.

Waktu berlalu cepat. Riia pulang tujuan awal melangkah ke dapur, dia menemui istri dan putranya sedang masak sesuatu membuat dia menghela napas, berpikir kalau putra satu-satunya ini seperti ingin bisa segalanya. Buat dia cukup khawatir, kepada calon menantu menyadari jika Dijara mampu melakukan apapun kerjaan di rumah.

"Mm. Kalian sedang memasak..." Tiba-tiba muka ayah bermuram, dia hendak melempar bahan masakan, meskipun ibu langsung mencengkram lengan dia dan memelototi suaminya ini. Menanyakan tujuan lelaki ini.

Melihat reaksi itu Dijara mengerti, manusia penjuru dunia ini belum pernah menkonsumsi makanan umbi atau sayur yang tumbuh di tanah. Muka seolah-olah berkata, mengapa kau memakan tanaman beracun. Terjadi lagi pertengkaran antara pasutri ini. Selagi itu Dijara menaruh mangkuk kayu dan olahan dari, apa yang ditemukannya.

Dengan ekspresi terpaksa pria ini memasukan sepotong ubi kayu rebus, ******* perlahan-lahan masakan istri beserta putra. Usai menelan dia memalingkan mukanya sembari mengatakan, "sekali lagi Dijara memang hebat."

"Hmm. Benar, bukan?" Ibu makan dengan lahap, melihat pemandangan ini Dijara melihat jauh, bayang-bayang keluarga yang dibangun bertahun-tahun mulai terulangi.

Meski suasana ini disukai Dijara, dia mengingat lagi, saat ketika dia kalah karena melindungi anak-anak sekaligus istrinya. Remaja ini memutar otak. Dia musti menghindar dari masalah, terutama bila ada kemungkinan musuh akan menggunakan kelemahan Dijara, yaitu keluarganya.

———

Siska yang tak tertarik, sementara Dijara si masa bodoh menjadi pasangan bisu seribu bahasa. Itu yang dipikir oleh kebanyakan warga kota. Karena tindakan Dijara itu cukup hebat, seperti mengalahkan monster tingkatan bencana maupun memenangkan duelnya melawan Dara, karena itu dia cukup dikenali. Siska juga sama terkenal, semua pemburu dan petualang tahu akan keanggunan.

"Merendahkan."

"Menyebalkan."

Mereka berdua, menatap balik orang-orang secara sama, dengan tempo yang bersusul-susulan memperkuat cara orang lain melihat keduanya. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, Siska meminta Dijara menunggu selagi ia mengambil surat dari serikat pemburuan di kota ini yang sudah menjalin hubungan baik dengan serikat mereka.

"Hei, kau nggak tertarik padaku?"

"Memang kau cantik. Tapi, mungkin bila tertarik mataku cuma peduli sama warna matamu itu, mengingatkan diriku dengan kekasihku.." jawab Dijara, tanpa menengok lawan bicara. Begitu pula Siska memperhatikan hal lain.

Dijara mengerling menilik lekukan wajah Siska, memang dia memiliki kecantikan menawan dan diakui oleh para pemburu di serikat. Yakin, Dijara tau bila sebenarnya dia bertanya pertanyaan bodoh itu karena Dijara tampak sekali tidak peduli. Bahkan muka datar itu sangat kagum.

Barang bawaan mereka cuma satu tas. Dijara tidak perlu bantu membawa, meski mengambil barang dari kota yang cukup jauh, musti jalan kaki. Tak ada seperti kereta yang ditarik oleh suatu mahkluk. Dari perawakan penarik kereta, seperti naga kecil. Jadi Dijara mengerti alasan hanya para bangsawan kelas atas yang diperbolehkan.

"Dijara."

"Ya. Paham banget," jawabnya.

Terlebih lagi cukup merepotkan. Tanpa kereta cepat itu takkan dapat menerobos para bandit, dengan kata lain Dijara musti menghunus pedang. Mereka mulai terkekeh mendapati nona ini hanya memiliki satu pengawal, dari cara bicara meremehkan Dijara yang bermuka malas dan tidak peduli. Dia mengeluarkan lonceng membunyikan benda tersebut seperti sedang merangkai sebuah musik.

Siska tertegun sekali mata berbinar-binar. Gerakan lelaki ini dengan lintasan pedang membentuk bunga, dengan nada suara yang disusun gelang lonceng sedemikian rupa sehingga menghasilkan irama yang digabung tarian, menunjukan gaya berpedang cantik. Seperti ditunjukkan buat seorang perempuan, kala menghibur seorang gadis.

"Serang sekarang!"

Ketua bandit meneriakan perintah. Mereka tak menyerbu bersamaan, setidaknya itu yang dilihat oleh Dijara, yang pertama menyerang secara sembrono dan Dijara mudah menghindari ayunan tombak. Kemudian dia menyerang balik. Alhasil dia terkapar dengan luka dalam di bagian perut. Orang selanjutnya, cukup pintar memainkan pisau, namun dengan gerakan tarinya dia berhasil mengecoh dan menusuk musuh, melumuri pedang ini dengan darah.

Kurang dari semenit mereka jatuh. Dia menghirup udara merasai kelegaan, sebelum menyarungkan pedangnya Dijara menitikkan darah ke depan kaki membuat bulatan kecil. Karena tidak dibunuh Siska memakai gulungan dari ketua serikat, yaitu tuk memindahkan mereka langsung dalam jeruji besi supaya dihukum sesuai aturan negara.

"..."

"Kenapa kau melihat-lihat mukaku?" Tanya Dijara, dalam hati dia membatin, "kurasa dia terkesima. Ekspresi itu mirip kekasihku ketika pertamakali menggunakan teknik pedang ini di hadapannya. Lagipula ini dibuat melindungi istri dan anak-anakku, sekarang aku... Tak melindungi."

Meski ada beberapa pengecualian, bentuk-bentuk bunga yang memiliki pusat tengah mirip mawar memungkinan Dijara melindungi tangkai, tempat dimana kekasihnya itu berada ketika terlibat dalam pertarungan. Kebetulan saja Siska menempati tempat itu, karena dulu ada seorang gadis yang ketakutan melihat darah, ia mengembangkan metode ini agar dia fokus pada tarian dan tak ketakutan.

"Ah.. indah sekali."

"Ha? Seindah apapun itu, cat itu dari darah!" Batin Dijara mengomentari tatapan Siska, yang terkagum-kagum.

Dijara ikut melirik ke belakang. Terdapat gambar mawar merah, dilukis darah para bandit, dengan begitu Dijara membisu membiarkan Siska mengangumi darah sampai kereta yang ditarik mahkluk seperti kangguru mencoret lukisan mawar darah itu. Begitu ia berbalik Dijara sedang melahap sesuatu, yaitu ubi rebus. Saking lamanya lelaki ini menghabiskan beberapa potong ubi sambil melamun.

Siska merona merah, dia menyembunyikan muka tersipu malu, dengan melanjutkan langkah terburu-buru. Dia memasuki hutan diikuti Dijara dari belakang. Namun, dia berhenti sejenak dan terdengar suara jeritan perut, benar Siska merasa lapar apalagi dia melihat Dijara makan.

Terpopuler

Comments

Bewuwang

Bewuwang

hadehhh inima udh jadi heroin bngt siih ! hhaha

2023-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!