Kali ini hampir semua pemburu berpartisipasi serangan mendadak, mereka menyerbu bersamaan mengikuti Liana yang memimpin pasukan mulai sekarang. Karena Dijara tidak memiliki karisma sebagai ketua. Dia lihat, bahwa ibu benar-benar sangat kuat dan seperti mampu melakukan apa-apa. Pada setengah jam mereka sampai.
"Mari kita menyombongkan nyawa kita depan para mayat hidup itu!" Teriak Liana, mendengar itu semua digaris depan bersorak-sorai. Dia melihat kalimat penyemangat itu seperti hinaan, lebih seperti sindiran dan hinaan pada waktu yang sama. Cuma Dijara yang tidak mendapatkan semangat, Dijara enggan mendengar candaan garing itu.
Suasana pecah ketika para pasukan tulang tercerai-berai kehilangan arah, begitu pula raja mereka menampakkan diri dan Dijara langsung membidik. Sambil menahan tiap hentakkan senjata, gencar menembakkan peluru namun karena susah mengenai kepala, Dijara hanya menembaki tulang rusuk sebagian besar peluru melewati sela tulang.
Karena tembakan itu Liana menyadari keberadaan raja, ia menyerahkan semua kepada yang lain dan mengejar mahkluk tersebut. Dia musti diburu sampai mati. Jika tak sepuluh tahun lagi, mungkin dia akan meneror manusia kembali dan siapapun tidak mau itu. Wanita itu melewati kumpulan barisan tentara mayat hidup, kemungkinan dia melarikan diri cukup tinggi, karena itu Dijara menghela napas dan ia merogoh tas mengeluarkan dua buah beda.
"Siska tolong menjauhlah dariku."
"Nggak mau."
"Maksudku bukan begitu, lagi pula kita belum jadi kekasih tau. Dasar bebal!" Dengan sedikit keluhan, Dijara mundur dan mencabut pin pengaman melempar granat sekuat mungkin. Alhasil ledakan amat besar melebihi ekspektasi bahkan meninggalkan kawah besar, sekitar tujuh meter.
Para pembunuh membawa berbagai benda, meskipun itu Dijara tidak dapat memanfaatkannya dengan baik dan terlalu berharap. Walau disebut granat. Itu lebih seperti ia menahan ledakan batu api, dengan pin, lalu mencabut pin dan melempar sebelum sumbu dalam wadah mencapai batu api. Dia tidak menyangka ledakannya kan sekuat itu.
Dia menemui Riia, Riia sedang meneguk minum sembari menyembuhkan luka. Karena diminta membuatkan peluru kepada kakek dia bertanya, namun Riia menghela napas, berkata, "membuatnya cukup mudah tapi ayah mertua berkata 'menumbuk batu api sangat susah' wajar saja karena cuma kamu yang bisa menjadikannya bubuk."
Intinya batu api pada awalnya tidak dapat dihancurkan, sedikit saja terkena bunga api atau percikan akan langsung meledak, karena itu mereka menggunakan alat sihir semacam penumbuk seperti palu. Ketika dialirkan energi sihir alat akan menghasilkan pukulan berkekuatan tinggi tergantung seberapa besar energi dialirkan dan membubukkan apapun, tetapi batu api sangat sensitif, alat itu meminimalisir percikan bukan menghilangkan.
"Karena aku memiliki energi sihir yang rendah, maka..."
"Ketika baru disentuh saja. Batu langsung meledak, tapi ketika kamu melakukannya sama sekali tidak." Riia menghela napas, berkata, "tetapi apa sih yang enggak buat putraku kurang ajar ini?"
Riia menaruh peti kayu besar. Dijara membelalakan mata mendapati sekotak penuh hanya peluru terlihat, dia membuang muka dan menyembunyikan senyuman lebar dengan menembaki kumpulan kerangka hidup. Sehingga peluru habis dia balik menghadap ayah. Dia memakaikan topeng tebal, dengan muka datar, tetapi dia tidak dapat.
"Kami bukan memukul batu api, tapi mengelus-elus pakai alat penghancur itu, anggap aja ini hadiah," kata ayah.
"Njir mana ada bapak hadiahkan bahan peledak ke anak mereka. Tapi kalau ratusan ribu mah jumlahnya, mau bagaimana lagi.." Dijara tersenyum hampa, memalingkan muka dengan ekspresi datar. Masih berusaha pura-pura.
Riia berdiri. Dia menghunus pedang, dalam langkah yang samar-samar Dijara mendengar bisikan, "bapak mertua salah banget, Adi kagak senang malah dia menganggap diriku orang aneh. Memberi bahan peledak pada anakku."
"Tidak. Aku senang, kok, yah!" Dijara menaikkan jempol, dia bicara dalam hati.
Walau pasukan mayat hidup dapat dibilang cukup lemah. Tetaplah korban berjatuhan karena itu, Dijara berinsiatif untuk menembakkan semua peluru yang dibawa dan meminta rugi pada ketua serikat nanti akibat melakukan gencaran peluru. Dia hanya membawa dua magasin isi enam puluh dan dua magasin tiga puluh, dia sama sekali tidak mengira akan menghujani satu pasukan mayat ini.
Siska dengan pedang terselimuti api menusuk lawan, dia melompat dan memutar pedang dalam bentuk garis lurus, menciptakan api melingkar yang terlepas dengan cepat. Dia membunuh belasan prajurit sekaligus. Dalam situasi ini Dijara menghela napas, karena tiap dia hampir pingsan karena energi sihir Siska datang memulihkannya.
Dijara mengarahkan bidikan, tangan kiri menggenggam erat pelindung tangan dari panas. Dia merasai jikalau meskipun kayu tidak mengalirkan panas, tetap saja dia rasa telapak tangan tidak nyaman, sembari memikirkan hal-hal yang kurang dari prototipe ini Dijara menarik pelatuk. Sekitar waktu dua puluh detik sejumlah proyektil membunuh puluhan pasukan tengkorak sekali serangan.
"Apa-apaan anak si Riia, memang bapaknya bisa lakukan seperti itu juga. Tapi diusianya yang seperti ini..."
"Andaikan aku melatih anakku selama empat tahun juga."
"Sudahlah jangan jadikan anakku bahan omongan kalian, lebih baik kalian menyingkir, biarkan dia mencoba-coba seperti biasa.." ucap Riia, dia melihat kepada Dijara yang sedang tersenyum dalam situasi ini.
Si ayah melengkungkan bibir, meski anak kecil itu tumbuh menjadi pribadi yang sulit dimengerti sebagai seorang ayah dia cukup bahagia. Dari pertamakali melihat sebuah peringatan festival, dia mampu membuat hal luar biasa, meski dengan modal dan biaya luar biasa pula. Itu sangat sepadan untuk hasil akhir bagi Riia, meski belum selesai.
Seminggu setelah Dijara mengurung kamar dan melihati sebuah ranting, karena mengira dia bosan Riia mengajak dia keluar untuk melihat festival. Pada perayaan dari seorang anak raja menikah. Sebuah suara peringatan, dia melihat seorang prajurit menyulut api belakang bambu, entah apa yang ada dalam alat tersebut. Keluar ledakan bising dari benda itu, pertanda pernikahan mereka usai.
Namun, saat itu sorot mata Dijara seperti terkesan. Lalu saat pulang dia begitu senang dan mengurung diri selama beberapa hari, bahkan malas tuk berlatih pedang melewatkan makan malam juga. Mengingat hari itu Riia menghela napas, ia merasa bila sudah memberi inspirasi kepada putranya untuk membuat senjata mengerikan itu.
"Anjing bangsat! Kok bisa macet?!"
"K-kenapa anakmu ini kasar sekali kalau kesal."
"Juve jangan terlalu jujur. Entah darimana umpatan yang keluar dari bibirnya itu," ujar Riia mengingat-ingat kapan dia atau Liana mengucapkan ucapan kasar semacam itu.
Mengesampingkan ucapan kotor itu. Riia menengok ke efek yang disebut senapan serbu itu, sekitar empat ribu prajurit tulang mati karena proyektil peluru menembus dan melewati prajurit di belakang. Sekiranya setiap satu peluru membunuh belasan prajurit tulang, melihatnya saja membuatnya menelan ludah bila membiarkan Dijara.
Semua orang mulai bersemangat. Jumlah tengkorak kini mulai berkurang drastis. Tidak mau kalah dari Dijara, para penyihir menggempur dengan dahsyat menggunakan sihir-sihir terbaik dan berskala besar mereka. Bahkan ada beberapa laki-laki, yang mengira Siska suka kriteria lelaki yang bisa melakukan sihir skala besar dan setelah itu senapan serbu milik Dijara disebut sebagai alat genosida.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments