Membasmi Mahkluk Aneh

Karena misi musti dikerjakan bersama, bila berada dalam kelompok setidaknya harus ada lebih dari setengah anggota kelompok setuju berpartisipasi dalam tugas dan keputusan ketua tidak berpengaruh. Dijara memperjelas ucapan, bersikukuh ingin mencari tanaman herbal sambil mencari kayu bakar dan mengambil sebagian tanaman.

Dia belum terlalu paham perkara monster ini, selagi bisa mencari informasi tentang mereka dan membeli buku yang berkenaan dengan monster. Seusai mendapatkan persetujuan dari rekan-rekan kelompok, ayah anak cepat keluar dari kota mengumpulkan kayu bakar. Ekspresi mereka benar-benar berkebalikan, ke senang dan malas.

"Remaja lain bersemangat mau berburu, lho. Kenapa kau malah bersemangat mencari tanaman obat? Padahal lebih mudah kamu mempelajari sihir penyembuh---tidak, ayah takkan bertanya-tanya lagi, deh."

Mendekat menepuk pundak mengatakan, "Baguslah bila Tn Riia paham, itu memudahkan raga saya dan pikiran ruwet.." Dijara menarik napas lanjut berkata, "karena ada satu nyawa dalam diriku. Setidaknya peluang bertahan hidupku tinggi, dari para pemula yang mati diawal tugas."

Pemula bukan singkatan pemburu lama berpengalaman, maka enam dari sepuluh kelompok yang baru dibentuk tewas. Maka dari itu Dijara tidak ingin mengambil resiko, meski ditertawakan bahkan disebut pengecut mengingat dia ada dalam kelompok peringkat tinggi bukan berarti kematian tak dapat menyentuh, meski ia tak berniat mati.

"Hei. Yah, ini segini sudah cukup?" Dijara memperlihatkan keranjang penuh tanaman, "aku udah berkeliling sekitar sini tidak ada lagi tanaman serupa. Mungkin udah habis."

Karena tanaman lebih dari yang diminta serikat mereka berniat mencari kayu bakar ke hutan, namun mendadak rekan-rekan ayah datang dan menjelaskan sesuatu perihal yang amat mendesak. Menggebu-gebu dengan kehadiran monster yang mengancam kota, ada kabar bila monster tingkat bencana terlihat mendekati kota.

Dijara menghela napas bahwa mereka cuma melihat dari uang upah besar, terkesan tidak mempedulikan nyawa. Biarpun begitu dia tahu bahwa seorang veteran tidak kan memiliki pemikiran semacam itu, terutama ayah yang sudah dikenalinya. Bisa saja dia menolak ajakan mereka menonton saja, tapi ia ingin melihat cara tarung mereka.

Pertamakali Dijara keluar dari perbatasan. Setiap kota di seluruh dunia tidak bisa dibilang sebagai, rakyat menaati perintah raja dari negara. Sistem dunia ini sangat beda jikalau dibandingkan dengan bumi, kota-kota di negara ini punya peraturan sendiri yang dibuat penguasa wilayah mirip seperti negara bagian. Meski ada kota dengan ukuran benua Dijara tak kaget seusai mengetahui hukum.

"Bencana.., jadi itu monster peringkat bencana semacam binatang melata?" Dijara bergumam, dengan ekspresi kebingungan jika mengaitkan mahkluk itu sebagai kadal Dijara menghela napas mengatakan, "aku bakalan lempar pedangku bila senjatamu patah. Yah. Tenang saja, kok."

"K-Kali ini ayah nggak bakal mematahkannya agi, jangan harap.." ayah menjawab terbata, dia bermuka masam.

"Dik Dijara, perhatikan saja dari jauh. Jangan maju sendiri atau ikut campur," ucap kawan ayah. Mereka berbaris pada posisi masing-masing dan Dijara ditengah-tengah penyihir, berperan menjadi kekuatan tempur terkuat. Dia tidak heran bahwa mereka bakalan mengukur waktu hingga para penyihir menyelesaikan mantra, selagi garis depan melemahkan monster buruan dan menjadi umpan.

Fisik besar, dengan kaki empat berekor dua dan memiliki sisik mengkilap sepanjang badan. Warna yang terlihat dibalik sisik hijau agak kuningan. Begitu terancam karena keberadaan mereka, mahkluk ini mengembungkan perut dan berpose seperti akan menyerang. Beberapa pemakai pedang mencoba melukai kaki, sayangnya sisik mahkluk tersebut melindunginya secara keseluruhan tanpa belah.

Akibat itu gerakan monster ini lambat dan kaku. Sangat mudah buat dihindari, meski bila terkena hantam sekali saja takkan memberi kerusakan yang secuil. Riia menoleh ke garda belakang, para pemantra sudah siap lewat isyarat gestur tangan penyihir berkata mereka kapan saja dapat melancarkan serangan. Melihat tanda tersebut Riia menjejak tanah sekuat tenaga, sembari dia menancapkan pedang dan menekan tangkai sekuatnya.

"Lepaskan!" Teriak para penyihir, menembakkan sebuah pancaran cahaya yang diikuti akar merambat keluar dari tanah. Sihir tanaman itu berasal dari ayah. Dia membatasi gerakan musuh, agar rapalan para penyihir tidak sia-sia, alhasil suara dentuman amat besar tercipta.

Dijara membuka mata, debu-debu mulai tersapu angin sehingga dia mulai dapat melihat. Matanya membelalak, dengan gerakan cepat, membelakangi ayah yang tengah lengah dan menahan kaki mahkluk ini, nyaris mengeprek ketua kelompok. Bergegas ayah mencabut pedangnya kembali dan terpelesat, melukai dua kaki depan monster.

Lawan menarik balik kaki, menjaga jarak dengan mereka semua seperti sedang mewaspadai musuh. Tiba-tiba kadal ini bergetar. Dari tadi musuh menutup mulut. Dia menganga sontak berteriak, "hah!" mengagetkan Dijara tidak menerima fakta bahwa monster ini ompong, tanpa satu pun gigi. Meskipun perawakan lebih mirip karnivora.

"Ia bukan hewan bencana level rendah tapi bencana level berbahaya!" Ayah menggigit bibir berekspresi kesal, dia memerintahkan, "biar aku dengan wakil komandan untuk menghadapinya. Kalian semua kembali lapor ke serikat."

"Bisakah aku---"

"Tidak ayah tak jamin bisa bertarung sembari melindungi kamu. Pergi bersama yang lain, cepat!" Sela Riia teriak, meneriaki anaknya Dijara dengan ekspresi sangat serius.

Dijara tidak melawan, menuruti titah ketua meski dalam benak dua tahu jikalau mungkin mereka takkan dapat lolos dengan mudah. Seperti terkaan Dijara. Pada kroco alias anak buah si kadal, memblokir jalan dan begitu tau bila mereka terkepung Riia panik hingga sulit mengambil keputusan. Sehingga dia memerintah melindungi Dijara.

"Tch. Kami bukan pelindung anak kecil, minggir kau dasar beban!" Kata seorang anggota, dia memakai sihir tembus pandang digabung penguat kelincahan dan cepat. Kabur karena masih menyayangi nyawa, Dijara paham tapi tindakan yang dilakukan pria kurus itu cukup berlebihan.

Diakibatkan jumlah anak buah monster memenuhi area sekitar, dia terbunuh dalam percobaan melarikan diri sendirian. Dijara menghela napas. Berbalik melihat jika ayah ketakutan, karena kehadiran anak dalam bahaya dan semacam akan bertindak gegabah. Membuat Dijara menelan ludah melihat kondisi gawat mereka saat ini.

Ditambah monster ini mengubah bentuk, sisik menempel pada punggung merebak seperti bunga mekar dengan postur tubuh mulai mengubah bentuk. Sekarang monster ini mengabaikan pertahanan, dia melepas zirah demi bergerak bebas dan ratusan gigi kecil memenuhi mulut membuat Dijara serta yang lain terkejut tanpa main-main.

Dijara mengayunkan pedang, membelah monster kecil di depan muka lalu bercakap, "lebih fokus melumpuhkan atau mengunci pergerakannya dan menembus sekumpul monster kroco untuk mundur mengatur strategi dahulu!"

"Benar kata anakmu. Jernihkan pikiranmu, terlebih dahulu ikuti perkataan anakmu!" Kata salah satu anggota.

"Jangan. Para penyelidik tidak teliti dan melewatkan satu hal, hewan ini betina, kemudian kroco yang mengepung kita anak-anaknya," ayah menelan ludah melihat sekeliling sebelum melanjutkan, "yang tidak lain ada penjantannya!"

Belum puas diperburuk situasi, dugaan Riia langsung dan muncul sesaat usai dia memperingatkan semua orang, monster lain yang lebih besar datang. Benar, kepala dari gerombolan monster datang memperparah keseimbangan yang dari awal sudah tidak seimbang lagi.

Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!