Siska melambaikan tangan, dia melihat punggung Dijara semakin jauh meninggalkan secuil sayatan pada hati gadis ini. Selagi memperhatikan Dijara dari balik jendela serikat, sebelum ditelan keramaian pejalan kaki laki-laki itu menoleh, menyenyumi Siska yang sedang mengintip dari balik jendela. Segenap tenaga dia menutup jendela.
Siska menutupi muka, bersembunyi dibalik kedua tangan memekik karena merasai pipinya memerah, "apaan sih!"
"Owh. Siska udah mulai tertarik sama cowok nih?" Tanya bibi Siska, muncul secara mendadak membuat gadis ini mengeluarkan suara aneh seperti teriakan kecil. Sesaat ia berbalik wanita yang menjadi lawan tes Dijara tengah tersenyum lebar, dia adalah bibi Siska. Namun, raut muka wanita ini yang dari jahil, bertukar menjadi sangat serius.
Bibi Siska mengatakan semua yang terjadi. Semangat si Dara petualang veteran, serta Kaira, keponakannya itu menyebarkan kabar. Cuma karena seseorang pemburu melihat Siska berduaan, lahir begitu banyak pemikiran di selingkungan dan ditambah dengan orang-orang yang menganggap bahwa Dijara tak berkontribusi dalam tim.
Kaira sebagai sang tokoh utama, yang merasa. Datang di hadapan Siska dengan muka sok-sokan menggantung pedang sihir. Melamar Siska dengan cincin paling mahal, justru bukan tersentuh, gadis ini menghunus pedang dan berniat memenggal kepala Kaira remaja sombong selagi berjongkok. Walau Siska diam karena bibi menghentikan.
"Laki-laki keparat."
"Benar. Dia laki-laki yang keparat, tenang saja, diriku akan menghabisi Dijara agar kamu terlepas dari hipnotis tari busuk itu!" Kata Kaira, dengan muka serius. Tanpa sadar Siska tidak dapat membendung amarah dan berlari, akan menusuk remaja itu usai melontarkan kalimat tersebut, tetapi Siska menusuk dinding dan alhasil berdecak kesal.
Ketua serikat menuruni tangga. Kali ini ia menatap tajam menanggapi masalah ini serius, berpotensi menjadikan Dijara sebagai musuh. Terlebih lagi ia dituduh melakukan hal seperti menumpang nama. Tanpa kontribusi apapun dalam perburuan, pasti kemarahan Dijara berlipat-lipat, sebagai sahabat kakeknya dia musti melakukan sesuatu.
"Takkan kubiarkan cucu kawanku memusuhi kami. Tanpa Dijara, mahkluk itu pasti menjatuhkan korban jiwa lebih, terlebih lagi kekuatan warisan sahabatku pasti membuat dia menjadi penjahat kuat. Hanya pangeran yang mampu melawan dia.." batin kakek, kata ketua serikat dalam hati.
Selagi orang-orang yang mempercayai Dijara meluruskan kesalahpahaman ini, biar Siska mengaku dirinya tertarik kepada Dijara. Tetap perkataan mereka tidak dihiraukan. Justru yang jadi bahan pembicaraan, menyibukkan diri di halaman belakang rumah, ia fokus pada pengembangan senjata yang tidak keseluruhan mekanik dan memakai sihir seperti model prototipe. Biarpun tidak cukup efektif.
Kilatan demi kilatan cahaya keluar, uap mengepul keluar dari moncong senjata dan lengan Dijara memegangi laras yang tertutup pelindung tangan. Dia melatih bidikan sembari membiasakan hentakkan. Tak seperti memakai senjata untuk penembak jitu, dia harus mengendalikan hentakkan terkendali saat menembak menarget sasaran.
"Ah, pusing sekali.."
Dijara meminum ramuan pemulih sihir. Setiap mengganti dua magasin berisi enam puluh peluru, dia akan merasai pusing luar biasa. Itu tanda-tanda energi sihir habis. Saat akan menembak lagi, ibu dengan Siska terkesima, serupa seperti pertamakali ayah melihat Dijara memakai senapan. Membuat dia heran apa yang dipikiran mereka.
"Dijara. Maafin aku, aku udah lempar kamu ke situasi ini, dan itu beneran..." Siska tiba-tiba terhenti, bibirnya sedang bergetar kemudian lanjut memaksa bicara, "aku beneran tertarik sama kamu, kok. P-Poligami di negara ini diperbolehkan. Bila kamu bersedia membawa diriku."
"Tunggu dulu, Siska. Sebagai orang yang disukai anakku, aku belum mengizinkanmu sebagai istrinya!"
"Ibu, memang aku menyayangimu. Tentu sebagai ibunda, bukan seorang kekasih. Jangan mengatakan seolah-olah aku melihatmu sebagai lawan jenis.."
"Kamu nggak lihat ibu sebagai perempuan?!"
"Tak gitu!" Sangkal Dijara, jarinya melepas pelatuk hendak mendatangi ibu yang berjongkok seperti akan menangis, tetapi mendadak dia kehilangan keseimbangan. Dia jatuh tersungkur hingga muka dipendam tanah. Membuat para perempuan menjerit, sekuat tenaga ayah mendatangi lokasi sumber suara, mendapati mereka memeluk Dijara.
Pria ini menghela napas. Menggendong Dijara ke kamar, sudah mengerti alasan putra mereka tumbang, tetapi tidak seperti dia pasutri ini tak senantiasa mendapatkan solusinya. Diwaktu seperti ini ketidakmampuan mereka sebagai orang tua, membuat keduanya frustasi. Selepas mendapat putra sebaiknya mereka tak mau kehilangan.
Siska menjumpai mimik wajah keduanya, dia meletakkan telapak tangan dan mengisi sela-sela jari Dijara. Selama hitungan detik kemudian putra mereka bangun. Pada momen tersebut, Riia mengamati aliran sihir mengalir itu dari Siska beralih sebagian. Tetapi ekspresi gadis ini seketika berubah selepas Dijara bangun dari pingsannya.
"Siska ikutlah denganku," pinta Riia.
"Menjijikan. Mengapa musti mengikuti kakek tua? Lagi pula, aku datang kemari buat Dija---tidak, maaf aku menyusul sebentar lagi." Siska tersenyum masam usai mengatakan kalimatnya, seperti menyesali perbuatan.
"Tenang saja. Kakek ini takkan berbuat macam-macam denganmu, kok." Sembari lengan menutup pintu, ayah membatin, "sepertinya.. anakku memikat seorang gadis tanpa sengaja. Lebih-lebih lagi, Siska yang terpikatnya!"
Tidak lama Siska datang. Dia duduk bersimpuh menuju
perbincangan hadapan Riia, segera mempertanyakan yang dilakukan Siska, alasan Dijara bisa bangun dengan keadaan energi sihir penuh dan lain-lain. Siska gencar ditanyai, namun karena dari awal Riia mengerti sehingga dia tidak dapat mengelak dan mengungkapkan segala.
Bisa dibilang wadah sihir dalam tubuh Dijara sebatas dari pada dasarnya kosong, bahkan setengah dari orang yang memiliki kapasitas paling rendah. Dari reaksi Siska tadi, Riia menduga jikalau mengetahui seberapa besar ukuran daya tampung sihir Dijara. Bukan hal yang sulit. Maka dari itu dia memegangi pegangan pedang, bersiap menebas.
"Saya takkan membiarkan orang lain tahu. Meskipun gitu, ada syarat yang ingin aku ajukan."
"Hukum negara ini lemah, membunuhmu tanpa membuat para ksatria negara tahu takkan sulit bagiku. Ingatlah itu, kau hanya memiliki sihir yang nyaris tidak memiliki batas, benar bukan?" Ucap Riia, tatapan mata penuh tekad, dia memegangi pedang dan tanpa mengalihkan pandangan.
"Beritahu saya, siapa yang menjadi mantan kekasih Dijara kalian mungkin tahu..." Lirih Siska, mengatakan syarat tersebut dengan suara yang membisik. Tapi masih dapat didengar Riia, meski Riia hanya menjawab, "hah!" Dengan suara keras kedua orang ini masing-masing kebingungan.
Dengan tanpa kesimpulan, Siska tak mendapat informasi apa-apa mengenai kekasih Dijara. Esok harinya mereka bertemu di serikat, namun setidaknya Siska menemukan kabar baik. Ia mengetahui dari Riia, gadis semacam apa yang sekiranya membuat laki-laki tersebut tertarik. Meski hanya berwaktu semalam Siska bisa mewujudkan tujuan.
Dia terus-menerus memandangi, terutama pakaian yang dikenakan Siska. Seraya berjalan mengikuti kedua orang, mereka saling melihat, selagi Siska sadar bila Dijara mengamati pakaian dan Seperti sedang menilai ia puas memandang muka laki-laki ini. Namun, dalam hitungan beberapa detik dia membuang muka dan merona merah.
"Berhentilah menatapi Siska, dasar cabul!"
"Ah, tidak seperti itu. Melihat Siska yang dibalut pakaian tertutup sopan seperti ini membuatku terkesima saja, tetapi kalau kau berpikir seperti itu... Baiklah." Anggukan Dijara dibarengi dengan helaan napas, dia membuang muka, tidak lagi melihat Siska sampai menuju titik tujuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments