Dunia yang Baru

Dijara sudah berumur 16 tahun, semua anak yang sudah melampaui umur yang dianggap remaja musti mulai memiliki kontribusi pada pemerintah atau memiliki kerja yang berpengaruh baik pada para bangsawan. Salah satu dari itu semua, menjadi pemburu. Karena sangat simpel bahkan memiliki kebebasan, Dijara tidak berkeberatan.

"Dengan kata lain membunuh monster yang mengancam kehidupan kota, seperti itu?" Dijara memperjelas ucapan, dia dengan muka mageran terpaksa memberikan tanda setuju seraya berbicara, "bisakah kita melakukan sesuatu yang disebut pekerjaan ini besok hari saja. Malas sekali."

Dalam ingatan kurang jelas, Dijara ingat sebuah animasi dua dimensi dari negara Asia timur dalam genre fantasi terdapat serikat petualang. Namun, di dunia ini dipecah menjadi tiga bagian yaitu pemburu dan petualang bahkan termasuk pembunuh bayaran. Karena petualang agak rumit, terutama pembunuh lebih ruwet, Dijara memilih profesi sebagai pemburu lewat saran ayahnya.

Dia mendapat kartu anggota, yang membuat Dijara agak kusam serikat tidak memberi asuransi. Bila dari ingatan hal ini seperti perusahaan gelap, menyediakan pekerjaan berbahaya dan bila mati mereka tidak rugi, sebaliknya bila gagal dalam tugas itu serikat menagih denda besar.

"Mari kita bicara dulu," ayah mengatakan itu, dengan jari telunjuk mengacung ke sebuah kedai makan pinggir jalanan. "Jika tidak lapar pesan minum saja?" Lanjutnya.

Dijara mengerti bila pria ini sangat berharap dia menurut, maka dia ikut dan memesan minuman saja. Betul-betul minuman biasa. Dunia belum berkembang termasuk dari segi konsumsi bahan makanan, melupakan tentang hal tersebut Dijara menunggu topik yang ingin dibawa ayah sampai musti bicara berdua saja, tanpa keberadaan ibu.

"Ibumu menangis tad---!" Ayah tersentak, Dijara menarik kerah baju pria ini dengan posisi siap memukul orang yang menjadi orang-tua kandung laki-lakinya. Lanjut dia berkata, "ibumu menyesal tidak dapat memberimu daya sihir melimpah. Dia khawatir, tertekan pada kondisimu."

"Maaf, Yah jujur kukira kau bajingan yang membuat ibuku menangis." Dijara melepaskan Riia, kembali meletakkan letak tubuh di kursi depan meja menghela napas sembari melanjutkan, "meski bila terjadi aku bakal pukul beneran."

Dengan senyum lega, pria ini meneguk minum sebelum menatap Dijara penuh rasa percaya dan berkata, "kalau itu terjadi buat ayahmu ini sadar dengan dua tanganmu."

Mendengar suara berharap Dijara mengalihkan topik ke awal, ibu menangis memang kebenaran. Alasan ibunya menangis akibat merasa bersalah dia tidak mampu memberi tubuh dengan kapasitas besar, Dijara yang lagi mendengar pengakuan itu tertegun. Lebih terkejut pada seberapa penting sihir di dunia ini, mirip kasta manusia.

Ini kebijakan baru-baru, yang ditetapkan setelah belasan tahun lalu sebelum Dijara lahir. Tingkat kapasitas daya sihir menjadi tingkatan atau derajat individu, seperti satu orang dengan kapasitas sihir besar sangat berkuasa dan memiliki otoritas meraksasa. Ini berlaku untuk negara ini saja, jadi Dijara masih tenang, ada kemungkinan dia tidak bisa menetap terus-menerus di sini dengan aturan aneh.

"Ah, dengan kata lain melarang membicarakan mengenai sihir depan ibu..." Dijara menyilangkan dua tangan depan dada, "begitu?" Lanjut Dijara, menatap tajam kepada Riia.

"... Benar."

"Itu tidak dapat kusetujui, benar-benar tidak!" Tegas anak bercakap kepada orang-tua, dengan mata penuh serius Dijara melempari kalimat pada Riia. Lewat perspektif dari Riia, Adi lebih mengerti situasi dan menawarkan solusi ke hubungan mereka. Seperti seorang konselor profesional.

Seorang wanita akan lebih syok mendengar bisikan dari tempat tersembunyi, ketimbang bicara depan muka. Dari pengalaman remaja ini mengigit bibir, kenangan itu terbit ke dalam ingatan membuat Dijara sangat tidak nyaman dan terbesit sedikit rindu dalam percakapan mereka. Dan pada akhirnya Riia menolak dengan memalingkan muka.

"Ayah takut ibumu sangat tidak terima, itu saja."

"Jadi, sedang menghina ibu bila orang-tua perempuanku itu memiliki otak dangkal? Kata-kata ayah ditelinga Adi seolah berujar 'jika kita bicara tentang itu pada ibu, maka dia bisa menjadi tidak waras esoknya' sangat tak sopan."

Tiba-tiba ayah mengiakan tanpa menyangkal. Dia setuju untuk tidak sembunyi-sembunyi bila akan berbicara tentang perihal sihir. Dijara menghela napas berasa telah lega tidak gelisah. Dia melirik jendela, cahaya mambang kuning matahari menandakan malam akan segera tiba, membuat mereka bersicepat mengunyah dan menelan.

———

Mereka pergi menuju serikat tempat dimana tugas-tugas dipajang, ditambah sebagai pemburu tingkat keempat orang-orang yang terkadang memburu pemula tidak mau berurusan dengan Riia. Dia dapat melihat para pemula yang mendaftar kerepotan. Maka dari itu, Dijara berniat tetap bersebelahan berhindari masalah sebisa mungkin.

"Tes?"

"Benar. Kakak anak dari Tn. Riia, bukan? Tingkatan kakak akan lompat tergantung kemampuan yang dinilai berdasarkan tes ini," kata pendamping tes, dia membawa pedang serta senjata lain. Memberitahu Dijara secara tak langsung segera memilih atau mundur, tak mengikuti tes.

Seorang pemula tak diperbolehkan memasuki kelompok tingkat yang tinggi, karena itu Dijara diberikan tes agar memastikan dia benar-benar berkontribusi dan hanya tidak menempel nama saja. Bahkan tanpa bilang Dijara paham dan mengikuti segala prosedur tanpa meragukan.

Empat tahun terakhir, Dijara diajari teknik berperang gaya bebas ditambah ilmu bela diri semasa di bumi masih melekat di benaknya. Sehingga ia memasang kuda-kuda, menghadap seorang gadis memegang tombak, dengan tumpuan serta sikap siaga yang berandalkan kecepatan.

Dijara tidak bisa menggunakan sihir, hanya mampu untuk melakukan dukungan maka dari itu remaja ini menjejak lantai dan berfokus menyerang. Dia berlari menerjang ke lawan, mengayunkan pedang secara mendatar dan berhasil dihindari karena lawan sangat hati-hati menjaga jarak serta jangkauan senjata. Membuat Dijara terkesan.

"Resepsionis macam apa ini?" Batin Dijara.

Lewat pergerakan dan cara bertahan lawan, dia menilik lirikan mata gadis ini mengikuti ujung pedang Dijara menciptakan sebuah ide di kepala. Sekali lagi remaja ini menerjang balik, dia menyerang secara agresif seperti mulai muak dan melonggarkan pertahanan agar musuh dapat beralih ke serangan. Hasilnya ia mulai menyerang.

Senjata tangkai panjang agak merepotkan, dalam jarak pendek Dijara memanfaatkan kebiasaan musuh yang senantiasa berhati-hati. Dalam momentum cukup tepat Dijara berhasil mengunci pergerakan lawan, dia mematahkan tangkai tombak kayu dan mengakhiri ujian.

"Yaa. Mm.. mari kita nilai," wanita resepsionis tersenyum masam memegangi tombak dengan gagang patah melanjutkan, "keahlian berkelahi kamu cukup sedikit atas rata-rata. Meski sihir sangat sedikit. Jangan tersinggung."

"Lalu. Saya naik ke peringkat berapa?" Dijara mendatangi wanita resepsionis, dia menerima sebuah kartu tanda pengenal dan sebuah kalung. "Ah, tingkatan di posisi ke tujuh? Langsung lompat ke posisi ke tujuh, benar-benar."

Mereka keluar dari area pelatihan, selagi menyelesaikan biaya pendaftaran Dijara meninggalkan ayah untuk melihat-lihat tugas. Seperti dugaan ada melimpah kerja paruh waktu, seperti mengumpulkan kayu bakar terlebih ada menyapu bersih halaman memberi sedikit tawa ke muka Dijara, sembari dia mengambil satu tugas sebagai permulaan dari orang baru. Dia ingin memulai dari awal.

Terpopuler

Comments

Bewuwang

Bewuwang

nolep inima bnran nolep.

2023-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuda Paling Serakah
2 Dunia yang Baru
3 Membasmi Mahkluk Aneh
4 Si Wakil Ketua, Baru!
5 Penghinaan Terhadap Nyawaku
6 Kenangan dan Pencarian
7 Mengawal Seorang Gadis Cantik
8 Senjata Api Pertama
9 Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10 Taman yang Terlantar
11 Dia Ingin Melindungi Seseorang
12 Siska atau Kekasihnya
13 Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14 Kekuatan Malapetaka
15 Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16 Kekalahan Menunggu
17 Strategi Peperangan dari Dijara
18 Akhir Tentara Tengkorak
19 Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20 Cara Kerja dari Artefak
21 Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22 Desa Milik Serigala Es
23 Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24 Jadi, Siapa yang Busuk?
25 Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26 Musim Mencekam Silvi
27 Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28 Amukkan Asal Muasal
29 Memburu Monster Sebelum Kembali
30 Pulang ke Kota Ardaun
31 Keputusan Riia Terhadap Dijara
32 Sekolah untuk Putra Mereka
33 Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34 Pertandingan di Publik
35 Tindakan-tindakan Orang Tua
36 Ketua Kelas itu Diakui
37 Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38 Babak Pertama
39 Babak Kedua Turnamen Akademi
40 Dia Kepala Sekolah?
41 Pertarungan Biasa yang Singkat
42 Memperebutkan Hatimu
43 Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44 Manusia Menjijikan
45 Pangeran Kanah yang Memantau
46 Penonton yang Ricuh
47 Pangeran Kerajaan Arleaft
48 Tunjukan Keseriusan Kalian
49 Yang Mewakili Harapan
50 Kekuatan?
51 Memenuhi Permintaan
52 Tempat Ajaib Ardaun
53 Menemui Dirimu
54 Labirin Bawah Tanah
55 Hewan Meraksasa?!
56 Kejanggalan Investigasi
57 Pembicaraan yang Tabu
58 Kekuatan Silvi
59 Asal Muasal
60 Konflik Dauna Dijara
61 Hati Kecil Mereka Berdua
62 Burung Api Legenda
63 Dalang Pertunjukan
64 Pengakuan
65 Kembali Seperti Semula?
66 Konflik Baru
67 Pembelajaran Baru
68 Teknik yang Mengesankan
69 Entitas yang Paling Tua
70 Sisi Keluarga Jantera
71 Tempat Eksperimen?
72 Buku Harian
73 Kekuatan Jantera
74 Keinginan Para Spirit
75 Keinginan Laura
76 Kekuatan Para Spirit
77 Berikan Kepadaku!
78 Wujud Manusia Terkuat
79 Kelemahan Dijara, yang Baru?
80 Kekuatan Bunga Harapan
81 Perspektif Kedua Penguasa
82 Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83 Tanpa Mereka
84 Pengembangan Senjata Baru
85 Peristirahatan Dijara
86 Bunga Putih Kehidupan
87 Menemui Mereka
88 Pemerintah Gila
89 Mengharapkan
90 Kegilaan Manusia
91 Langkah Dirimu
92 Perlawanan Citra
93 Identitas Palsu Pahlawan
94 Dahulu Kala
95 Memihak Keadilan? Begitulah
96 Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97 Anak Kecil
98 Pelelangan Biadab
99 Pertikaian Kecil
100 Merengek-rengek
101 SEE YOU AGAIN!
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pemuda Paling Serakah
2
Dunia yang Baru
3
Membasmi Mahkluk Aneh
4
Si Wakil Ketua, Baru!
5
Penghinaan Terhadap Nyawaku
6
Kenangan dan Pencarian
7
Mengawal Seorang Gadis Cantik
8
Senjata Api Pertama
9
Mencari Cairan Ramuan Pemulih
10
Taman yang Terlantar
11
Dia Ingin Melindungi Seseorang
12
Siska atau Kekasihnya
13
Serbuan Pasukan Raja Tengkorak
14
Kekuatan Malapetaka
15
Perang yang Sangatlah Sengit Ini
16
Kekalahan Menunggu
17
Strategi Peperangan dari Dijara
18
Akhir Tentara Tengkorak
19
Keluarga yang Buat Iri dan Benci
20
Cara Kerja dari Artefak
21
Tempat Kelahiran Kekasih Menanti
22
Desa Milik Serigala Es
23
Kesalahpahaman Manusia Serigala Es
24
Jadi, Siapa yang Busuk?
25
Hal-hal Baru dan Legenda Dunia
26
Musim Mencekam Silvi
27
Keributan Besar di Kota Pelabuhan
28
Amukkan Asal Muasal
29
Memburu Monster Sebelum Kembali
30
Pulang ke Kota Ardaun
31
Keputusan Riia Terhadap Dijara
32
Sekolah untuk Putra Mereka
33
Sekolah Akademi Sihir Bangsawan
34
Pertandingan di Publik
35
Tindakan-tindakan Orang Tua
36
Ketua Kelas itu Diakui
37
Persiapan Sebelum Turnamen Akademi
38
Babak Pertama
39
Babak Kedua Turnamen Akademi
40
Dia Kepala Sekolah?
41
Pertarungan Biasa yang Singkat
42
Memperebutkan Hatimu
43
Seseorang yang Tidak Ingin Kuakui
44
Manusia Menjijikan
45
Pangeran Kanah yang Memantau
46
Penonton yang Ricuh
47
Pangeran Kerajaan Arleaft
48
Tunjukan Keseriusan Kalian
49
Yang Mewakili Harapan
50
Kekuatan?
51
Memenuhi Permintaan
52
Tempat Ajaib Ardaun
53
Menemui Dirimu
54
Labirin Bawah Tanah
55
Hewan Meraksasa?!
56
Kejanggalan Investigasi
57
Pembicaraan yang Tabu
58
Kekuatan Silvi
59
Asal Muasal
60
Konflik Dauna Dijara
61
Hati Kecil Mereka Berdua
62
Burung Api Legenda
63
Dalang Pertunjukan
64
Pengakuan
65
Kembali Seperti Semula?
66
Konflik Baru
67
Pembelajaran Baru
68
Teknik yang Mengesankan
69
Entitas yang Paling Tua
70
Sisi Keluarga Jantera
71
Tempat Eksperimen?
72
Buku Harian
73
Kekuatan Jantera
74
Keinginan Para Spirit
75
Keinginan Laura
76
Kekuatan Para Spirit
77
Berikan Kepadaku!
78
Wujud Manusia Terkuat
79
Kelemahan Dijara, yang Baru?
80
Kekuatan Bunga Harapan
81
Perspektif Kedua Penguasa
82
Ringkasan yang Terjadi?! Persetan!
83
Tanpa Mereka
84
Pengembangan Senjata Baru
85
Peristirahatan Dijara
86
Bunga Putih Kehidupan
87
Menemui Mereka
88
Pemerintah Gila
89
Mengharapkan
90
Kegilaan Manusia
91
Langkah Dirimu
92
Perlawanan Citra
93
Identitas Palsu Pahlawan
94
Dahulu Kala
95
Memihak Keadilan? Begitulah
96
Pahlawan yang Memilih Takdirnya
97
Anak Kecil
98
Pelelangan Biadab
99
Pertikaian Kecil
100
Merengek-rengek
101
SEE YOU AGAIN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!