"Bwahahahaha! Ada apa denganmu?! Kau cemburu hanya karena interaksinya dengan lelaki lain? Dude, jangan berlebihan! Nanti kau dicap lelaki posesif oleh Seraphina!"
Ingin rasanya Theodore menyumpal mulut temannya karena berani menertawakan dirinya perihal kecemburuannya yang tiba-tiba muncul.
"Bwahahahah! Seorang Theodore Edwards yang terkenal dingin dan kaku bahkan kepada istrinya sendiri tiba-tiba merasakan cemburu? Kau benar-benar lucu!"
Entah itu sarkas atau sindirian, Theodore ingin menimpuk mulut teman baiknya yang bernama lengkap Stevan Alexander itu.
"Oh, shut up!"
Buk
Bantal sofa mendarat tepat dimuka Stevan. Kunjungannya ke kantor Theodore rupanya tak sia-sia, dia justru mendapatkan cerita menarik dan mengguncang perut seperti tadi. Oh, jika semua orang mendengar hal ini, bisa-bisa Theodore pulang sambil menyembunyikan muka gara-gara malu.
"Berani kau bocorkan hal ini, jangan menangis memohon dibawah kakiku kalau bisnismu terjun bebas!"
Theodore dan ekspresi seriusnya yang menyeramkan. Seketika Stevan membungkam mulutnya rapat-rapat sambil membuat gestur tangan mengunci mulut dan bersumpah tidak akan sembarangan mengumbar rahasia Theodore.
Theodore mendengus kesal. Bukannya membantu menemukan solusi, justru semakin membuatnya pusing.
"Kalau kau tidak bisa jadi berguna, lebih baik cepat angkat kaki. Aku banyak kerjaan." Pengusiran kasar bukan hanya kali ini didapatkan Stevan. Ini selalu terjadi, setiap kali dirinya datang berkunjung tanpa membuat janji diawal.
"Eyy~ Jangan kaku begitu, aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu yang tadi, kenapa main usir dulu sih!" Stevan mendudukkan bokongnya di sofa panjang yang ada di tengah ruangan.
"Hmm..memang sulit sih, mengingat istrimu itu cantik luar dalam. Kau saja yang selama ini menutup mata pada dia. Kalau kau benar-benar serius ingin berbaikan dengannya, maka kau harus mengubah sikap dan tindakanmu dulu. Perempuan lebih suka bukti, bukan omongan manis saja," nasehat Stevan untuk sang sahabat.
Kalau itu sih, Theodore juga tahu. Lagipula dia bukan tipe lelaki banyak mengumbar omongan.
"Aku tahu, yang lain?"
Stevan berpikir lagi. Ini seperti memberi petuah untuk sahabatnya yang baru pubertas dan menyukai seseorang di usianya yang beranjak dewasa.
"Menurutku Seraphina bukan tipe perempuan yang banyak menuntut. Asal kau bisa memberinya sesuatu yang paling dia butuhkan, aku rasa jalanmu akan semakin mudah untuk meraih hatinya lagi."
Menjadi sahabat sekaligus saksi hidup Theodore sedari kecil membuat Stevan tahu luar dalam sahabatnya itu. Bagaimana hubungan Theodore dengan keluarganya, lalu cerita dibalik pertunangan bisnis antara Theodore dan Seraphina, yah, setidaknya Stevan ada disetiap momen penting itu.
"Selama ini kau terlalu keras pada dirimu sendiri dan Seraphina, sehingga membuatmu menjauh dari apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya. Theo, kau mungkin kaya raya dengan segunung harta dibawah kakimu, tapi harta saja tak akan membuat hatimu bahagia luar dalam. Itu hanya kebahagiaan semu yang bisa hilang kapan saja. Sekarang coba tengok belakangmu, ada seseorang yang selama ini setia menunggumu dan memberikan kasih sayangnya secara cuma-cuma. Mestinya kau bersyukur atas itu."
Theodore tertegun mendengar nasehat panjang lebar dari Stevan. Tak disangka, orang dengan peringai santai dan carefree itu bisa mengutip sejumlah kalimat bijak sampai membuatnya terenyuh.
"Kau bilang kau benci ayahmu dan tidak ingin menjadi sama sepertinya. Tindakanmu di masa lalu sangat mencerminkan orang itu tanpa kau sadari. Aku harap kau bisa berubah sedikit demi sedikit. Aku tak ingin kau menyesal karena kehilangan sesuatu yang berharga, oke?"
Senyuman lebar Stevan tampak tulus mendoakannya, Theodore mengangguk mantap. Untung dia menyadari kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
"Terima kasih. Kau memang bisa diandalkan disaat penting seperti ini, Stevan."
.............
"Kau serius mau kembali ke bibimu? Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang berbahaya kepadamu??" Irene khawatir bukan main.
Tak ada angin tak ada hujan, Seraphina berkata dia akan mengunjungi rumah ayahnya yang kini ditempati oleh keluarga bibinya.
"Aku akan menjenguk ayah setelah itu. Aku ingin mereka angkat kaki dari rumahku karena aku sudah tidak lagi membutuhkan mereka..." Seraphina mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi tiap kali mengingat kebusukan keluarganya bibinya.
"Aku sudah menyuruh mereka pergi waktu itu, tapi mereka malah pergi liburan selama dua bulan lalu pulang setelah kehabisan dana. Aku mendapat laporan dari asisten Tuan Arthur, kalau mereka berani menagih uang alih-alih untuk biaya jaga ayahku! Argh! Rasanya ingin kutendang saja mereka!" Seraphina mengusap wajahnya yang kacau.
Irene berdecak kesal. Gemas juga mendengar cerita Seraphina. Dia tahu kalau keluarga bibi dari pihak ibu Seraphina itu orangnya licik dan jahat, tapi sampai setega itu meminta uang dengan menggunakan ayah Seraphina sebagai kambing hitam sih sudah kelewatan batas!
"Perlu kutemani? Firasatku sedikit tidak enak sekarang."
Tetap saja...membiarkan Seraphina pergi ke sana seorang diri sama saja seperti mengumpankan mangsa ke kandang predator.
Namun Seraphina menggelengkan kepala, menolak tawaran Irene.
"Tak perlu. Aku hanya ingin mengambil surat-surat penting di rumah, takutnya mereka bermain kotor di belakangku. Aku akan pulang secepatnya."
Seraphina kadang bisa menjadi orang yang keras kepala, maka dari itu, satu-satunya orang yang bisa Irene andalkan di situasi genting seperti sekarang hanya ada satu.
To Mr. Edwards
Tolong susul Sera ke rumahnya sekarang juga! Aku takut terjadi pertengkaran di sana!
.............
"Berani benar kau datang ke sini lagi. Cih, kudengar-dengar, kau tidak jadi cerai? Apa kau belum rela melepas suamimu yang kaya raya itu?"
Kedatangan Seraphina disambut sinis oleh Rachel, anak dari bibinya yang sangat tidak suka kepadanya. Entahlah, sedari kecil Rachel dan dirinya memang tidak bisa akur. Selalu saja berakhir dengan pertengkaran bahkan adu kekuatan.
"Minggir, aku tidak punya urusan denganmu."
Sikap ketus Seraphina membuat Rachel emosi bukan main.
Tanpa aba-aba dia menarik rambut Seraphina sampai sang empunya rambut nyaris terjungkal ke belakang.
"SAKIT! KAU GILA?!" Seraphina memekik kesal.
Rachel melotot, tanpa melepaskan tarikannya pada rambut panjang kecoklatan milik Seraphina.
"KAU WANITA RUBAH! DASAR TIDA TAHU DIUNTUNG! SUDAH BENAR KAU MENIKAH DENGAN MILYADER MUDA ITU, KENAPA INGIN BERCERAI, HAH?!"
Rachel sangat emosi terhadap Seraphina. Dia tak menyangka sepupu bodôhnya itu nekat mengajukan cerai pada suaminya yang diidam-idamkan kaum hawa di seluruh muka bumi.
"Itu bukan urusanmu! Lepaskan cengkraman tanganmu selagi aku masih sabar!" ancam Seraphina balik.
Mendengar keributan dari arah depan pintu, Nyonya Vivian tunggang langgang lari menuju ke tempat kejadian. Dia melihat anak semata wayangnya sudah beradu dengan Seraphina yang entah sejak kapan tiba di kediaman mereka.
"BERHENTI!!! BERHENTI BERTENGKAR, KALIAN BERDUA!!" pekik Nyonya Vivian emosi.
PLAK
Disaat Seraphina lengah, Rachel berhasil mencuri satu tamparan pada pipi kanannya.
"RASAKAN ITU, DASAR WANITA IDĪÔT!!"
Kesabaran Seraphina sudah habis. Dia tak bisa mentolerir tindakan Rachel yang semena-mena padanya.
"Waktu kalian sudah habis di sini. Angkat kaki dari rumahku, atau kubawa kasus ini ke jalur hukum!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments