Ajakan Mendadak

"Eh, liburan? Mendadak sekali?!"

Irene nyaris tersedak ketika Seraphina tiba-tiba mengajaknya pergi berlibur ke luar kota.

"Kau tahu 'kan pekerjaanku tak bisa ditinggal begitu saja?! Kenapa mendadak sekali mengajak liburannya?!"

Rasanya Irene ingin sekali mencakar wajah polos sahabatnya yang seenak jidat mengajaknya liburan berdua, di tengah padatnya pekerjaan yang menggunung.

"Maaf...aku tahu kamu sibuk, tapi tidak ada orang lain yang bisa aku ajak pergi selain dirimu. Kalau tidak bisa, tak apa. Akan kupikirkan jalan lainnya."

Sebenarnya Seraphina juga tak enak kalau mau mengajak Irene. Sahabatnya itu pasti sibuk sekali, apalagi menjelang akhir tahun yang sudah nampak di depan mata.

Irene menghela nafas berat. Tak enak kalau menolak ajakan Seraphina, tapi pekerjaan juga tak kalah pentingnya bagi kelangsungan hidup Irene. Mau tak mau, dengan berat hati Irene terpaksa menolak ajakan Seraphina secara tegas.

"Maafkan aku, sayang...kali ini aku tak bisa menemanimu pergi. Maaf ya?"

Seraphina mengulum senyum kecut. Yah, sudah dia tebak sebelumnya, tapi tetap saja rasa kecewa itu hinggap di hatinya.

"Aku mengerti, tak apa. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untukku."

Kedatangan Seraphina kali ini juga mendadak sekali sampai Irene tak sempat merapikan ruangannya yang masih berantakan.

Keduanya hanya sempat mengobrol sebentar, dikarenakan jadwal meeting yang padat mengharuskan Irene pergi secepatnya. Meski kecewa dan sedih, Seraphina tetap harus menyemangati Irene yang sedang berjuang keras.

Tak seperti dirinya yang bisa mengambil izin kapan saja, Irene harus tetap menjalankan tugasnya sebagai karyawan yang teladan.

.......

"Huft...siapa yang bisa aku ajak pergi ya?"

Sepulang dari kantor Irene, Seraphina tak langsung kembali ke penthouse Theodore, dia memilih menenangkan pikirannya sambil menikmati pemandangan jalanan dari dalam kafe yang berada di pusat kota.

"Nyonya, apa anda masih ingin berlama-lama di sini?"

Sampai salah seorang bodyguard yang mengawasi Seraphina bertanya pelan padanya.

"Kenapa memangnya?" Tak biasanya mereka bertanya seperti itu. Mau selama apa dan kemanapun Seraphina pergi, biasanya tak ada yang peduli.

"Tuan menyuruh anda datang ke kantor beliau jika sudah selesai makan siang. Kapanpun tak masalah, pokoknya Nyonya harus ke sana setelahnya."

Seraphina nyaris menyemburkan kopi yang baru dia teguk. Tak menyangka sosok yang amat dia hindari justru melakukan sesuatu yang sangat di luar prediksi begitu.

"Ada urusan apa?"

Bodyguard itu menggeleng pelan, tanda tak tahu.

Meski dilanda penasaran, Seraphina tak mau berharap banyak. 'Mungkin urusan rumah atau kantor, biasanya 'kan begitu.' Seraphina berupaya mensugesti dirinya agar tidak salah paham.

Pada akhirnya Seraphina tetap datang ke kantor sang suami setelah menghabiskan kopi susu yang dia pesan di kafe tersebut.

Seraphina datang tanpa membawa apa-apa, bahkan satu bungkus makan siang untuk suaminya pun tidak. Ya, karena untuk apa?

Membawa hanya untuk dibuang?

Seraphina tak mau melihat hal menyakitkan itu lagi.

Jadi, disinilah Seraphina berada. Di gedung berlantai 15 yang tak lain adalah kantor milik perusahaan suaminya.

Biasanya Seraphina datang dengan senyuman lebar nan manis, menyapa siapa saja yang ada di sekitarnya dengan hati yang gembira. Tapi kini hal itu tak lagi Seraphina lakukan. Kaca mata hitam serta masker berwarna senada seolah menjadi tameng untuk menutupi kesedihan hatinya.

Para pegawai yang mengenal Seraphina sebagai istri dari boss mereka pun terheran-heran dalam hati. Pasalnya sikap Seraphina sangat tak biasa, seolah sedang menutupi sesuatu yang tak seharusnya diketahui orang luar. Oleh karena itu, tak ada satu pegawai pun yang berani menyapa Seraphina di sepanjang perjalanan menuju lantai 14, tempat sang suami berada.

"Oh, Nyo-Nyonya Seraphina! Selamat datang! Ingin bertemu dengan Tuan Theodore ya?" Sekertaris andalan Theodore yang bernama Lucy menyambut kedatangan dari sosok idolanya dengan energik.

Lucy memang gadis penuh semangat dan energik, berbanding terbalik dengan Theodore yang dingin dan cukup mengintimidasi dengan tatapan matanya yang garang.

Seraphina melepaskan kacamata hitamnya sambil tersenyum tipis. Tanpa dijelaskan pun, Lucy sudah mengetahui tujuan kedatangan Seraphina ke ruangan sang atasan.

Dengan semangat Lucy pun memberitahukan Theodore mengenai kedatangan Seraphina.

"Masuk saja." Suara rendah Theodore mengalun melalui sambungan telfon.

"Tuh, sudah dipersilahkan masuk, Nyonya. Saya heran, kenapa Nyonya masih harus meminta izin dulu sebelum masuk. Saya kira menjadi istri dari seorang Boss besar, anda jadi mempunyai keuntungan tersendiri," bisik Lucy, dengan mindsetnya yang terkadang masih polos.

Seraphina hanya tersenyum tipis, tak ingin menanggapi secara serius.

'Aku pun tidak tahu..sampai kapan aku bisa datang secara bebas ke tempat ini di masa mendatang...' Seraphina membatin miris.

Lucy jelas tidak tahu apa-apa soal hubungan rumah tangga Seraphina dan Theodore, gadis yang lebih muda 3 tahun dari Seraphina itu memang selalu berpikiran positif atas segala hal.

"Tetap saja, ada banyak hal di dunia ini yang mempunyai batasannya. Termasuk salah satunya bersikap sopan tidak bisa seenaknya sendiri. Apalagi jika orang yang kita hadapi itu kedudukannya lebih tinggi dari kita, kita harus menjaga sikap kita di depan mereka," jawab Seraphina seadanya.

Lucy mengangguk mengerti, sebelum Seraphina pamit masuk ke dalam ruangan sang suami.

Jantung Seraphina masih saja berdebar kencang ketika tangannya memegang knop pintu ruangan Theodore. Menghirup aroma khas sang suami yang terpancar di penjuru ruangan, melihat dan memandangi wajah tampan yang tengah serius mengerjakan pekerjannya. Semua itu masih Seraphina rasakan dengan jelas.

Bahwa hatinya masih terisi penuh oleh sosok lelaki itu.

"Sera...akhirnya kamu datang."

Deg

Ah, ini gawat.

Senyuman tipis Theodore bisa saja menggoyahkan tekad Seraphina.

'Kuatkan dirimu, Sera! Jangan termakan godaan besar di depanmu!'

'...karena itu semua hanyalah akting semata...'

Kata-kata yang sanggup menurunkan kepercayaan diri Seraphina.

Seraphina sadar, sikap ramah yang ditunjukkan Theodore pasti berkaitan dengan suatu hal.

Lantas Seraphina mendudukkan dirinya di sofa panjang yang tersedia di tengah ruangan itu, mengabaikan sapaan Theodore yang kini memusatkan fokusnya pada dirinya.

"Kenapa memakai masker? Kamu sakit?"

"Tidak...hanya ingin saja. Jadi, ada keperluan apa sampai memanggilku kemari?" Seraphina to the point pada urusan mereka.

'Kenapa dia jadi secuek ini? Apa terjadi sesuatu?' Theodore yakin ada yang salah dengan Seraphina.

Theodore juga sadar, tak ada senyum yang menghiasi wajah cantik sang istri.

'Tunggu—cantik? Kenapa aku menyebutnya cantik?' Theodore tercengang sesaat atas pemikirannya sendiri.

'Seraphina memang cantik sih, tapi bukan itu fokusku sekarang..' Theodore merasa ada sedikit kesalahan juga dalam dirinya.

Lalu Theodore menggeleng pelan, berupaya mengenyahkan pikiran konyolnya yang benar-benar di luar dugaan.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam nanti. Kemungkinan aku pulang lebih cepat hari ini, apa kamu mau mengunjungi suatu tempat denganku?" Entah mengapa, Theodore perlu melakukan sesuatu untuk Seraphina. Setidaknya, untuk mengembalikan mood istrinya yang kelihatan buruk belakangan ini.

Ajakan yang begitu tiba-tiba dan tak terduga dari seorang Theodore sedikit mencengangkan Seraphina.

"Kenapa? Ada apa? Apa orang rumahmu mencurigai kita lagi?" Tak ayal, pertanyaan itu muncul dalam benak Seraphina.

Theodore hanya menggeleng pelan, fokusnya kini tertuju pada lembaran berkas yang harus dia selesaikan siang ini juga.

"Sudah lama kita tidak pergi berdua. Aku akan menemanimu pergi, kemanapun kamu inginkan. Jadi, tinggal beritahu aku tempat mana saja yang ingin kamu datangi nanti."

Aneh, satu hari yang aneh.

Seraphina tak pernah bisa menebak jalan pikiran Theodore yang sulit dimengerti. Padahal seharusnya Seraphina menghindari Theodore demi kesehatan mentalnya, tetapi lelaki itu justru menariknya lagi tanpa memikirkan perasaannya.

Haruskah Seraphina menerima ajakan Theodore?

Mungkin lelaki itu mengajaknya bukan karena ada perasaan bersalah, tapi karena ada suatu hal khusus. Meski tahu begitu, mengapa hatinya lagi-lagi tergoyahkan dengan mudah?

Bolehkah Seraphina berharap Theodore bersikap seperti ini setiap harinya?

Jadi, setelah berpikir panjang, pada akhirnya Seraphina mengiyakan ajakan Theodore.

Terpopuler

Comments

Milo28

Milo28

miris banget

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!