Ucapan ayahnya masih terngiang-ngiang dalam pikiran Theodore. Tak hanya sebatas ucapan semata, tetapi Theodore dapat melihat keseriusan, seolah-olah ada harapan besar dalam sorot mata pria paruh baya itu.
'Aku bukan orang itu...kami adalah dua orang yang berbeda. Tapi meskipun aku mengatakan itu, sikapku terhadap Seraphina tak ada bedanya dengan sikap ayah sewaktu masih bersama dengan ibu..'
Theodore jadi melihat dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa sikapnya pada Seraphina sudah kelewatan batas.
Bukankah sikapnya selama ini menunjukkan bahwa dirinya tak berbeda jauh dari sang ayah?
Theodore menyisir rambutnya ke belakang. Dia pernah berjanji bahwa dirinya tak akan menjadi sama seperti ayahnya, tetapi nyatanya dia juga tak lebih baik dari orang itu. Atau mungkin lebih parah?
Theodore benar-benar menjadi seorang b@jíngan yang tega menyakiti hati perempuan sebaik Seraphina.
Theodore malu atas dirinya sendiri.
Di sepanjang perjalanan pulang, Theodore tak berhenti merenungi kesalahannya. Menyesali tiap detik kebodohannya yang sampai hati mengacuhkan Seraphina, disaat sang istri mencurahkan seluruh perasaannya disetiap tindakannya.
'Aku harus mengubah sikapku. Dengan begitu aku harap Seraphina bersedia menunggu sedikit lebih lama lagi...'
...****************...
"Anda sudah yakin dengan keputusan anda?"
Seraphina mengangguk mantap. Dia sudah menjelaskan situasi dan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini yang mana cukup mengubah alur hubungannya dengan Theodore.
"Saya yakin...tapi jika sikap Theodore kembali seperti dulu lagi, maka saya tak akan berpikir dua kali untuk mengajukan gugatan cerai langsung ke pengadilan."
Sang pengacara mengangguk mengerti. Memang lebih baik ditunda dulu jika masih belum mantap ingin bercerai.
"Saya mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian berdua, Nyonya Seraphina," ucap pria paruh baya itu, seolah tulus dari lubuk hati terdalam.
"Saya pribadi sudah kehilangan orang yang saya cintai...saya harap, baik anda maupun tuan Theodore tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati kebersamaan kalian selagi masih bisa."
Seraphina tersentuh atas ketulusan hati sang pengacara. "Ah..begitu ya..." Seraphina juga berharap demikian. Melakukan banyak hal menyenangkan bersama orang yang dia cintai, menikmati setiap detik yang berharga untuk mengukir kenangan bersama. "Saya juga berharap agar kami bisa bersama sampai maut memisahkan kami...saya sangat mengharapkan itu.."
Mungkin Tuhan sedang memberi jawaban atas doa-doanya secara perlahan. Tak apa, selagi Theodore tidak kembali mendorongnya jauh, Seraphina masih bisa bertahan sedikit lebih lama lagi.
......................
"Sera, aku pulang!" Theodore menutup pintu penthouse secara perlahan.
Hening menyelimuti ruang tamu, tak nampak kehidupan seseorang di sana. Kaki panjang Theodore melangkah menuju kamar yang ditempati Seraphina.
"Sera, apa kamu di dalam?" Theodore berseru dari luar pintu berwarna putih gading yang tampak elegan.
Terdengar suara grusak-grusuk dari dalam sana.
Ceklek
Pintu terbuka, muncullah Seraphina dengan rambut yang masih setengah basah, dan bathrobe melilit tubuh rampingnya.
Pemandangan cantik yang tak biasa Theodore lihat.
"Ya? Maaf, aku baru keluar dari kamar mandi. Ada apa?" Wajah segar Seraphina sehabis mandi tampak sangat cantik dan natural.
Sesaat Theodore terpaku dibuatnya. Dia baru menyadari kecantikan alami yang dimiliki oleh sang istri dan itu berhasil membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Theodore berdeham keras guna mengalihkan pikiran nakalnya. "Ekhem! Tidak, aku rencananya ingin mengajakmu makan malam di luar. Apa kamu mau?"
Ini bukan malam minggu, akhir pekan masih lama tetapi Theodore sudah mengajaknya pergi. Seraphina masih belum terbiasa dengan perubahan sikap sang suami.
"Boleh!" Tapi kesempatan ini tak akan dilewatkan oleh Seraphina. "Bisa tunggu aku sebentar? Aku akan berganti baju secepatnya!" pintanya, sambil berusaha menahan senyum lebarnya.
Theodore tersenyum lega. Seraphina tak menolak ajakannya, ketakutan Theodore seketika sirna dan berganti dengan rasa senang.
"Tentu. Tidak perlu terburu-buru, aku akan menungguimu berapa lama pun yang kau butuhkan."
Senyum terbit di wajah Seraphina. "Terima kasih banyak. Sebentar ya!"
Seraphina pamit masuk ke dalam kamar lalu terburu-buru mencari setelan pakaian yang akan dia kenakan untuk berkencan.
Berkencan?
Bolehlah Seraphina menganggap ajakan Theodore sebagai ajakan kencan?
Ini adalah satu dari impian kecil Seraphina di masa lalu. Meski terdengar sepele, tapi bagi Seraphina ini merupakan kebahagiaannya yang sederhana.
Theodore tak pernah sekalipun berinisiatif mengajaknya kencan sejak mereka masih berstatus tunangan dulu. Semua momen kebersamaan mereka adalah hasil jerih payah Seraphina dengan merayu sekaligus memaksa Theodore supaya mau pergi dengannya. Kalau dilihat kebelakangan, memang Seraphina sebucin itu terhadap Theodore.
Jika memang pada akhirnya mereka tetap akan berpisah, bukankah seluruh effortnya akan menjadi kenangan pahit dan sia-sia? Meski Seraphina tak menginginkan hal buruk itu terjadi, tapi dia tetap harus berjaga-jaga, andaikata sewaktu-waktu Theodore berubah pikiran.
'Rupanya masih sulit sekali menganggapmu hanya sebatas teman disaat hati ini masih mengharapkan cintamu..' Seraphina hanya sanggup tersenyum miris. Meratapi kisah cintanya yang tak semulus orang lain.
'Aku tak boleh membuatnya menunggu lama, tak perlu berdandan juga tak apa 'kan? Toh dia juga tak begitu tertarik padaku...'
Seraphina menatap pantulan dirinya di cermin. Dia hanya mengenakan pakaian kasual karena tadi Theo juga tak berpakaian formal.
'Mari, kita nikmati saja hari ini sambil bersenang-senang! Enyahkan pikiran negatif dan pulang dengan hati riang!'
Seraphina menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang, dia sudah siap. Apapun yang hari ini akan terjadi, Seraphina akan menikmatinya dengan pikiran positif. Mau Theo memperlakukannya baik atau seperti dulu lagi, tak masalah. Asalkan dirinya bisa keluar tanpa membayar sepersen pun, itu pasti akan menyenangkan.
...****************...
Kedua mata Theodore membesar melihat Seraphina yang berjalan menuruni tangga dengan langkah elegannya. Seraphina memang tidak memakai dress formalnya yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang sempurna, tetapi gaya kasual perempuan itu sanggup menggetarkan hati Theodore.
Rambut coklat panjang sedikit curly itu bergerak menyesuaikan irama kaki jenjang Seraphina yang berjalan mendekati Theodore.
"Sudah. Yuk, kita berangkat?"
Theodore dapat melihat kecantikan alami Seraphina tanpa polesan makeup tebal. Hanya bibir tipisnya yang dilapisi lipbalm berwarna merah jambu yang menggoda.
"Ayo. Supir sudah menunggu di lobi basement." Theodore mengulurkan tangan kanannya, berharap Seraphina mau menggandeng tangannya.
Awalnya Seraphina ragu, tetapi dia menggenggam tangan itu untuk menghargai usaha Theodore. Mati-matian Seraphina berusaha memahan debaran jantungnya yang menggila hanya karena sentuhan tangan mereka.
'Ini hanya permulaan, kenapa kau belum juga terbiasa, Sera?' Ingin rasanya berlari sambil berteriak kencang, Seraphina jadi gemas dengan suaminya yang mendadak jadi suka skinship begini.
Setibanya mereka di lobi basement, kedatangan mereka disambut oleh seorang supir yang sudah menunggu mereka dengan sabar.
"Silahkan masuk, tuan dan nyonya." Supir itu membukakan pintu untuk sang majikan.
Tetapi Theodore tak juga melangkah masuk, justru dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Theo?" Seraphina bingung dengan suaminya.
"Bukankah lebih seru kalau kita mengendarai mobil berdua saja? Aku ingin mengajakmu berkeliling kota nanti."
Theodore tersenyum lebar ketika mengatakan itu. Seraphina tak mungkin bisa menolak ide sang suami yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.
Bukankah ini terasa seperti kencan sungguhan? Seraphina sudah tak sabar menantikan destinasi yang suaminya tuju kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments