"Apa anda sudah mantap ingin mengajukan cerai, nyonya Seraphina?"
Beberapa detik Seraphina terdiam, memikirkan kembali alasannya yang hendak mengugat cerai suaminya tersayang, Theodore.
"Saya sudah memikirkan ini beratus-ratus kali, tetapi pada akhirnya, saya lelah. Saya ingin menyudahi segalanya." Ini adalah jawaban tegas yang dapat Seraphina berikan.
Saat ini Seraphina tengah berada di kantor pengacara yang dia sewa untuk membantunya maju melawan Theodore. Dengan bantuan Irene, pada akhirnya Seraphina memberanikan diri menginjakkan kaki di kantor ahli hukum guna memperlancar urusannya menangani kasus perceraiannya.
"Bukannya Tuan Edwards adalah pria yang diidam-idamkan banyak kaum hawa? Mengapa anda justru ingin mengugat cerai beliau? Apa anda yakin tidak akan menyesal di kemudian hari?"
Pertanyaan klise, tapi jawaban Seraphina tetaplah sama.
"Tak ada perkembangan, yang ada hanya nelangsa. Aku tak mau menjalani kehidupan dibalik bayang-bayangnya saja, tuan. Maka dari itu, saya mantap ingin mengajukan cerai."
"Apa anda sudah mendiskusikan hal ini dengan Tuan Edwards?"
Belum.
Seraphina bahkan takut menghubungi suaminya.
Seraphina takut melihat wajah pria itu, dia khawatir hatinya akan kembali goyah.
"Aku akan membicarakan hal ini dengannya, sepulangnya dia dari perjalanan bisnis."
Pengacara itu mengangguk paham. Banyak dokumen yang harus Seraphina serahkan sebelum mengirimkan surat gugatan ke pengadilan. Sembari menunggu kepulangan Theodore, Seraphina sudah menyicil apa saja yang diperlukan dalam ajuan cerainya.
Ini cukup menguras mental serta fisiknya, aka tetapi Seraphina tidak akan mundur. Cepat atau lambat, dirinya ingin terbebas dari bayang-bayang Theodore.
"Anda bisa menyerahkan dokumen persyaratan lain yang belum dibawa hari ini, anda bisa menghubungi saya kapan saja untuk pertemuan selanjutnya, nyonya Seraphina."
Seraphina mengangguk mengerti. Seraphina masih harus menunggu Theodore untuk meminta beberapa dokumen yang harus dipenuhi, kalau bisa sih secepatnya.
"Nyonya Lily ingin berbicara dengan anda, nona." Sampai salah seorang bodyguard yang mengawalnya hari ini memberi info.
'Pasti beliau ingin membicarakan soal putusan ceraiku...apa aku tolak saja ya?'
Seraphina ingin menjauhkan diri secara perlahan dari keluarga Edwards. Setidaknya sampai masalah hatinya dengan Theodore terselesaikan.
Seraphina juga yakin kalau Nyonya Lily sedang berusaha semampu beliau untuk menghentikan perceraiannya ini, sayangnya apa yang telah Seraphina putuskan tidak bisa diganggu gugat lagi.
'Mungkin....jika Theo sendiri yang menentang keras perceraian ini...aku mungkin bisa memikirkannya lagi...tapi, apa itu sebuah kemungkinan?'
Rasanya mustahil, nyaris tak ada harapan. Yang ada hanya semu.
Biarlah semua berjalan seadanya dulu, sampai surat gugatan ini sampai ke tangan orang yang bersangkutan.
Hati Seraphina sama sekali tidak merasa tenang, cenderung gelisah. Memikirkan pilihan apa yang akan diambil Theodore terkait perceraian mereka, membuat hati Seraphina resah bukan main.
Masih ada beberapa lagi sampai Theodore kembali, Seraphina akan melatih hati dan mentalnya. Apapun keputusan Theodore, Seraphina akan menerimanya dengan lapang dada.
Sebab hati tak bisa lagi dipaksakan , Seraphina akan memberikan Theodore kebahagiaan, sekalipun harus dengan sebuah perpisahan.
...♤...
Hari yang berat, Theodore telah tiba di tanah kelahirannya lagi setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam lamanya.
"Apa langsung pulang ke penthouse, tuan?" Supir yang menjemput Theodore bertanya.
Entah mengapa, feeling Theodore tidak nyaman sekarang.
"Iya, Seraphina sudah pulang ke sana kan?"
Sang supir diam tak menjawab, sedangkan salah seorang bodyguard yang duduk di sebelah supir bingung harus menjawab bagaimana.
"Nyonya Seraphina ada di Penthouse, tapi biasanya jam segini beliau akan bergegas ke apartemen nona Irene." Salah satu kebiasaan baru Seraphina yang agak mencurigakan sejak Theodore tinggal.
Seraphina tak pernah tidur di penthouse ketika malam, wanita itu akan pergi keluar lalu mendatangi apartemen lamanya yang ditinggali bersama Irene sebelum menikah. Theodore tak ingin mengulik lebih lanjut, maka dari itu dia diam sampai detik ini.
Bahkan kabar kepulangannya semestinya sudah diketahui oleh sang istri. Tapi apa yang Theodore dapati?
Istrinya hendak pergi menginap ke tempat lain, bukanya menyambut kepulangan suaminya.
'Ah, ada apa denganku? Seharusnya aku tak perlu bereaksi aneh atas hal sepele itu. Tapi...kenapa aku tidak tenang?'
Muncul perasaan kesal dan tak suka mendengar bahwa Seraphina lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Ini aneh, Theodore jadi bingung sendiri.
"Apa dia sudah berangkat? Kalau iya, kita ke apartemen Irene saja untuk menjemputnya."
"Baik, tuan." Sang supir melajukan mobil sedan mewah itu menuju alamat yang sudah dihafal di luar kepala.
Sementara itu, di kursi belakang, Theodore merenungkan perasaannya sendiri.
Apakah dia sudah mulai menyukai Seraphina?
Apa perlahan dirinya bisa menerima Seraphina sebagai istri yang akan menemaninya sampai tua?
Theodore terus memikirkan jawaban atas perasaannya dilemanya itu.
'Aku mungkin bisa menemukan jawabannya setelah bertemu dengan Seraphina.'
...♤...
"Kenapa cemberut? Apa kau menemui hal sulit?"
Irene menyuguhkan segelas coklat hangat pada Seraphina yang termenung di meja bar.
"Aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa....rasanya semua menjadi hambar.."
Tak ada gemerlap keceriaan dalam sorot netra coklat Seraphina. Irene tahu, sahabatnya sedang mengalami krisis terendah dalam hidupnya.
"Kamu hanya terlalu lelah, cinta yang begitu besar sudah menyedot hampir seluruh energimu. Sudah sewajarnya kamu akan merasa kosong dan lemah ketika masanya hampir habis. Tak apa, yang kamu butuhkan hanyalah bersandar dan beristirahat sejenak."
Irene menggenggam erat tangan Seraphina yang cukup terasa dingin.
"Jangan menyerah, ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari lembaran barumu. Kegagalan hari ini, akan membawamu pada kejayaan di masa depan. Kamu harus tegar!"
Irene benar, tak ada gunanya bermuram durja. Lagipula ini adalah langkah yang dia ambil sendiri, Seraphina harus siap kehilangan segalanya, kehilangan cintanya, kehilangan Theodore.
Ah...Theodore...
Wajah laki-laki itu jadi lebih sering muncul dalam benaknya, hal inilah yang membuat hati Seraphina semakin terbebani.
Tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk mata. Seraphina lelah menangis, tetapi hatinya seolah tiada lelah menangisi soal asmaranya yang buruk.
Ting tong
Bel studio berbunyi. Irene yang sama sekali tak menaruh curiga buru-buru lari ke depan hendak melihat siapa gerangan yang berkunjung malam-malam begini.
"Siap—The-Theo!?" Irene terkejut melihat siapa orang yang mendatangi apartemen sekarang.
Mendengar nama Theo disebut, Seraphina menghapus genangan air matanya sebelum jatuh makin banyak.
"Seraphina ada di sini kan?" Theo bertanya langsung ke inti.
"I-itu..."
"Kau mencariku?" Seraphina muncul, dengan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Ayo, pulang."
Baik Irene maupun Seraphina dibuat keheranan dengan sikap Theodore yang tak biasa.
"Aku mau menginap di sini."
"Tidak, kamu akan pulang bersama denganku."
Theodore dan perkataannya yang tegas tak terbantah.
Seraphina yang kebingungan hanya pasrah ketika Theodore menyelonong masuk lalu menarik tangannya untuk pergi.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu setelah ini, aku harap kau tidak keberatan aku menyita sedikit waktumu," ucap Seraphina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Milo28
pasti sulit bgt...udah cinta selama itu
2024-04-09
0
Milo28
selamatin mental dlu ya Ser
2024-04-09
0