"Jadi...hal penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Sera sayang?"
Nyonya Lily tersenyum lembut pada Seraphina yang duduk di seberang mejanya. Kedua wanita itu mengadakan acara minum teh yang hanya dihadiri oleh mereka berdua saja, tak ada Tuan Arthur maupun Theodore yang memang sibuk bekeja.
Seraphina sudah menyusun semua rencananya secara matang-matang, dan kini hanya tinggal mendapatkan persetujuan dari kedua orang tua Theodore langsung, yang selama ini sudah banyak membantu dirinya dan keluarganya sekaligus menghentikan bantuan dana untuk ayahnya.
"Aku....ingin mengajukan cerai pada Theodore.."
Bagai disambar petir di siang bolong, Nyonya Lily nyaris tersedak teh yang tengah beliau minum.
"UHUK! UHUK! A-apa katamu? Kamu ingin mengajukan cerai?!" Nyonya Lily sampai membelalakkan kedua matanya, tak percaya dengan apa yang didengar telinganya.
"Tidak!" Wanita itu menggeleng heboh. "Aku tidak setuju kalian bercerai! Ma-maksudku, bukankah kamu sangat mencintai Theo? Kenapa sekarang ingin bercerai darinya??"
Di mata Nyonya Lily—atau bahkan semua orang yang mengenal Seraphina dan Theodore, sudah tahu benar seberapa bucinnya Seraphina pada sang suami sedari mereka remaja dulu. Ketika tiba-tiba Seraphina ingin mengajukan cerai pada suaminya, jelas itu akan membuat syok banyak orang, tak terkecuali Nyonya Lily yang sudah lama mendukung hubungan sejoli itu.
"Ada apa? Kalau ada masalah, lebih baik dibicarakan dulu dengan tenang dan dengan kepala dingin. Aku tahu benar seberapa sulitnya kamu mempertahankan ikatan kalian, kenapa sekarang ingin menyerah?" Nyonya Lily memasang wajah sendu seraya menggenggam tangan menantu cantiknya dengan lembut.
Nyonya Lily tahu dan paham benar seberapa kuatnya hati dan mental Seraphina hanya demi mempertahankan statusnya sebagai tunangan Theodore di masa lalu. Seraphina telah melalui banyak hal baik maupun buruk hanya demi Theodore yang dia cintai.
"Aku..." Genggaman tangan Seraphina pada gelas kaca miliknya semakin erat. "Jujur, aku sangat lelah..Theo memang memperlakukanku dengan baik sebagai 'pendamping' tapi hanya sebatas itu. Kalau dulu aku mati-matian bertahan di sisinya karena berpikir akan tiba waktunya lelaki itu mau membuka hatinya sedikit demi sedikit padaku bila kita sudah menikah kelak. Tapi nyatanya?" Seraphina tertawa miris. "Semuanya sama saja...dan ini sangat menguras mental dan hatiku..."
Beruntung Seraphina masih dapat mempertahankan tingkat kewarasannya agar tidak tenggelam dalam keputusasaan yang berlarut-larut hanya karena sikap dingin Theodore.
"Meskipun aku bisa melihatnya setiap hari di rumah, bukan berarti aku telah berhasil menarik perhatiannya. Bagi Theo, mungkin aku hanya sebatas 'pajangan' untuk mengisi kekosongan di tempat tinggalnya. Jika aku terus melanjutkan kehidupan rumah tangga yang seperti ini, aku merasa aku akan kehilangan diriku seutuhnya dan berubah menjadi sosok wanita yang mengemis cinta suaminya. Bukankah itu terlihat sangat miris?"
Nyonya Lily dapat melihat senyum getir di wajah menantunya.
Ini pertama kalinya Seraphina menunjukkan sisi lemah dari dirinya yang sebelumnya tak pernah sekalipun diperlihatkan, terutama dihadapan anggota keluarga Edwards yang amat dia segani.
"Aku benar-benar muak dan lelah...rasanya begitu menyesakkan hati. Rasa pedihnya nyaris sama dengan diselingkuhi dari belakang. Mungkin bagi anda, saya terlalu berlebihan menghadapi persoalan ini, tapi itulah yang benar-benar aku rasakan sekarang.."
Hari demi hari terasa seperti dicekik dari belakang dan itu sangat menyesakkan. Seraphina tak tahu sampai mana dia sanggup bertahan melewati siklus rumah tangga yang sama tiap harinya.
"Sayang...maaf, ini pasti berat bagimu, sampai kamu tidak tahan lagi mengutarakan isi hatimu begini.." Bohong jika Nyonya Lily tidak prihatin atas nasib Seraphina yang lebih menyedihkan darinya.
"Aku mengerti.." Sebagai orang pertama yang menjadi tempat curhat Seraphina, Nyonya Lily tak punya pilihan lain selain menjelaskan semua ini kepada suaminya yang mempunyai pendirian cukup keras.
"Aku akan menjelaskan maksud dari permohonanmu ini pada Arthur. Tapi jika dia menentang keputusanmu, aku tidak punya cara lain untuk meluruskan pikirannya. Apa itu tak apa?"
"Itu sudah lebih dari cukup. Untuk selanjutnya, biar aku saja yang menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Terima kasih banyak, maaf aku menyita waktu berharga anda untuk mendengar keluh kesahku yang tidak berguna ini..." Seraphina malu harus meminta bantuan dari Nyonya Lily, tapi apa mau dikata, dia tak punya jalan lain.
Senyum tipis terulas di bibir merah hati milik Nyonya Lily. "Justru aku senang kamu mau berbagi cerita tentang masa-masa sulitmu padaku. Sungguh, aku sudah menanggapmu sebagai anak kandungku sendiri, sama halnya dengan Theo. Aku harap, apapun yang terjadi ke depannya nanti tak akan merenggangkan hubungan baik diantara kita. Aku benar-benar menyayangimu, Sera sayang..." Nyonya Lily tak kuasa menahan lelehan air mata yang sedari tadi beliau tahan.
Seraya menggenggam kedua tangan Seraphina secara erat, Nyonya Lily ingin menyalurkan dukungan emosionalnya untuk Seraphina. Gadis cantik yang selama ini berjuang seorang diri: mulai dari bersekolah hingga merawat ayahnya yang sakit tanpa pernah mengeluh sekalipun. Nyonya Lily sangat menghormati Seraphina dan apapun yang ingin gadis cantiknya itu inginkan.
"Tolong beri aku waktu setidaknya tiga hari ke depan. Mencoba menjelaskan duduk perkara yang terjadi diantara kalian pada Si Kepala Batu alias Arthur bukanlah hal yang mudah, tapi aku tak akan menyerah!" Nyonya Lily sudah memutuskan, bahwa beliau akan mendukung pilihan Seraphina.
Seraphina jadi bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya ada satu orang yang berada di pihaknya, untuk masalah uang bantuan ayahnya, nanti Seraphina akan mengatakannya langsung dihadapan tuan Arthur.
'Untuk bisa lepas dari Theo, aku harus memutuskan semua tali yang berkaitan dengannya..' Ada perasaan tidak rela harus berpisah dengan cinta pertamanya, tapi demi kebaikan mereka berdua, Seraphina pikir ini adalah jalan terbaik.
"Tapi meskipun kamu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga Edwards, bisakah kita tetep berhubungan baik, Sera sayang? Hanya kamu dan aku," pinta Nyonya Lily, dengan ekspresi yang sulit Seraphina deskripsikan.
"Tanpa kamu, aku merasa sendirian. Bisakah kita terus berhubungan walau tidak ada urusan lagi dengan keluarga Edwards?"
Sekarang mungkin Nyonya Lily dapat menanyakan hal itu dengan senyum tipis terpatri di bibirnya. Tapi alasan dibalik permintaan beliau, Seraphina sangat mengetahuinya.
Tanpa pikir dua kali pun Seraphina bersedia menyanggupi.
Menjadi istri kedua dari seorang Presiden Direktur seperti Tuan Arthur bukanlah posisi yang cukup menyenangkan, apalagi Tuan Arthur berpisah secara tak baik-baik dengan istri pertamanya alias ibu kandung Theodore. Tentu saja perceraian Tuan Arthur ditentang banyak pihak terutama dari keluarga besar Edwards yang lebih mendukung ibu Theodore. Sejak dikenalkan sebagai calon istri baru Tuan Arthur dulu, Nyonya Lily sudah menghadapi berbagai kecaman, hinaan, serta gunjingan dari orang-orang yang tidak menyetujui hubungan mereka.
Tetapi dari semua orang-orang yang bersikap buruk pada Nyonya Lily, hanya ada satu orang anak yang selalu bersikap baik dan menyambut kehadirannya dengan senyuman hangat.
Ya, orang itu tak lain adalah Seraphina.
'Sejauh mana kamu pergi, aku akan selalu membantumu, Sera sayang..kamu sangat berharga bagiku. Tanpa kebaikanmu mungkin aku tidak akan pernah berada di posisi ini sekarang. Theo mungkin belum menyadari perasaannya padamu, tapi itu tak menjadi masalah, asalkan kamu bahagia meski tanpa dia...'
'...bukankah ini bagus? Dengan begitu salah satu dari 'orang-orang itu' akan merasakan penderitaan yang sama denganku. Biarkan dia merasakan yang namanya berjuang dan berkorban demi orang yang kita cintai, Sera.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Anita Jenius
7 like + 1/Rose/buatmu thor
semangat ya
2024-04-29
1