"Apa kamu mau keluar denganku hari ini?"
Seraphina tertegun sesaat ketika ajakan itu dilontarkan padanya. Dirinya bahkan baru saja bangun dari tidur pulasnya setelah semalaman suntuk memikirkan perkataan Theodore yang membingungkan.
"Ke mana?"
Otak Seraphina belum bisa mencerna situasi saat ini dengan baik.
"Ke mana saja tak masalah. Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi belakangan ini?"
Theodore tampak berbeda dari biasanya. Ekspresi lelaki itu tampak cerah dan energik, seolah sedang menantikan hal seru.
"Eum...aku...tidak tahu mau ke mana.."
Theodore memberikan seulas senyum tipis yang lagi-lagi membuat Seraphina tertegun ditengah keheranannya.
"Kalau begitu, apa kamu mau ikut denganku?" Ajakan baru, yang tak bisa Seraphina mengerti.
"Apakah harus?"
Ya, apakah dia harus ikut?
Di saat Seraphina ingin memantapkan diri untuk menutup pintu hatinya, mengapa lelaki itu tiba-tiba berubah sikap?
Jelas ada hal aneh yang terjadi pada Theodore.
"Iya. Karena aku ingin mengajakmu pergi." Theodore ingin menggunakan waktunya sebanyak mungkin.
Meski sedikit terlambat, Theodore ingin memastikan dengan lebih jelas tentang perasaannya terhadap Seraphina.
"Aku tahu kamu mungkin kebingungan, anggap saja hari ini aku ingin mengajakmu pergi liburan sebentar."
Theodore sadar, dirinya telah melewatkan banyak momen spesial yang umumnya dilakukan oleh sepasang suami istri dan mengabaikan Seraphina secara dingin.
Walau hanya sesaat, Theodore ingin memberikan sedikit kesenangan untuk Seraphina.
"Tapi kalau kamu keberatan, tak apa. Mungkin kita bisa pergi lain waktu." Memaksa juga bukan ide yang bagus, Theodore bisa membawa Seraphina pergi kapan saja di lain waktu.
Sementara di lain sisi, Seraphina tengah bergulat dengan isi hatinya.
Jelas ajakan Theodore sangat menggiurkan hatinya, tetapi batinnya yang lain mengatakan untuk berhenti dan tidak mudah terpancing oleh ajakan manis Theodore yang mencurigakan.
Sikap Theodore sungguh membuat Seraphina bingung bukan main.
"Kenapa....kenapa baru sekarang?" ucapan itupun lolos dari mulut Seraphina.
'Kenapa sekarang? Bukankah kau sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya, Theo?' Seraphina ingin menuangkan rasa frustasinya tapi tak bisa.
Pertanyaan simple yang membuat Theodore bungkam seribu bahasa.
Ya, Theodore sadar dirinya sudah jauh tertinggal di belakang Seraphina. Tetapi bagi Theodore, selagi masih ada peluang maka dia akan mempergunakannya semaksimal mungkin.
"Maaf...aku akui aku sudah keterlaluan padamu. Mungkin tindakanku selama ini sudah menyakitimu. Aku ingin memberikan sedikit kenangan indah untukmu, apa itu sudah terlambat?"
Mata Seraphina semakin memanas. Sebisa mungkin dia mencoba bertahan untuk tidak menangis di depan Theodore.
'Kenangan indah päntâtmu! Kau benar-benar pandai menarik ulur perasaan orang, Theo!' Batin Seraphina menjerit kesal, namun godaan Theodore sulit untuk ditolak.
'Apa dengan ini, kamu berniat membuka hatimu untukku? Apa kamu melakukan ini murni dari lubuk hatimu sendiri atau karena tuntutan orang lain?' Banyak sekali yang ingin Seraphina tanyakan, dan untuk menemukan jawabannya, mungkin adalah dengan mengiyakan ajakan Theodore.
Meski hati masih diselimuti keraguan, pada akhirnya Seraphina mengangguk mengiyakan.
Seraphina ingin tahu, sampai sejauh mana Theodore ingin memperbaiki kesalahannya.
"Baiklah, aku mau. Aku serahkan tujuan kita kali ini kepadamu. Bisa kan?" Ini adalah permintaan pertama Seraphina setelah sekian lama.
Rasanya bak nostalgia. Theodore ingat bagaimana dulu Seraphina selalu memaksanya untuk pergi bersama, entah hanya sekedar nonton film atau makan malam bersama. Tapi setelah menikah, dan Theodore memilih menyibukkan diri pada pekerjaan, ajakan Seraphina juga semakin berkurang bahkan sangat jarang mereka pergi bersama.
"Oke. Serahkan semuanya padaku!" Pada kesempatan emas ini, Theodore akan memberikan liburan singkat yang terbaik untuk istri cantiknya.
"Kamu bisa bersiap sekarang, katakan padaku kalau kamu sudah selesai berdandan."
Wajah ceria dan berseri, baru kali ini Seraphina melihat ekspresi Theodore cerah seperti mentari.
'Dia dan wajahnya yang tampan. Ughh,,Irene akan mencekikku kalau dia tahu aku jatuh ke dalam pesona lelaki itu lagi!' Seraphina jadi frustasi sendiri.
Niat hati ingin berhenti memikirkan Theodore, tapi malah dirinya kembali terjebak dalam jeratan pesona lelaki tampan itu. Lagian siapa sih, yang sanggup menolak ajakan si Billionaire muda itu?
'Kalau begini sih, rencanaku untuk move on bisa gagal total! Arghhh! Kenapa baru sekarang sih, Theo!?'
Seraphina menjambak rambutnya gemas gara-gara sikap suaminya yang di luar prediksi.
...♤...
"Se-serius kita naik ini?!"
Mulut Seraphina tak bisa mengatup dengan benar begitu melihat sebuah kapal pesiar tinggi yang bersandar di pelabuhan tempatnya berada sekarang.
Ya, tidak salah lagi.
Kapal pesiar raksasa yang seumur hidup cuma bisa Seraphina lihat di iklan.
Dengan senyum bangganya, Theodore mengangguk mengiyakan.
"Aku salah satu investor yang mendanai perakitan kapal ini. Karena kita belum pernah naik kapal pesiar, jadi aku berinisiatif mengajakmu naik."
Seraphina memandang Theodore speechless. Dia tahu kalau Theodore kaya, tapi ini masih saja mengejutkan dirinya yang tak terbiasa dengan kemewahan dunia.
Theodore mengulurkan tangannya pada sang istri. "Hati-hati melangkah. Aku akan berjalan di belakangmu."
Sikap gentle yang sukses membuat hati Seraphina berdebar tidak karuan.
Sambil menahan malu, Seraphina berjalan naik dengan bantuan dari Theodore.
"Oh, maaf kalau sebelumnya aku tidak bertanya untuk memastikan. Apa kamu bisa mengambil cuti selama seminggu?" Theodore tiba-tiba bertanya.
"Seminggu? Memangnya ada hal penting apa?"
Theodore benar-benar lupa memberitahu Seraphina sebelum keberangkatan mereka, dia pun memberitahu, "Kita akan pergi berlayar selama seminggu. Maaf, aku lupa memberitahukanmu sebelumnya."
...♥︎...
Benar-benar luar biasa!
Seraphina tak berhenti menggumamkan kata takjub melihat kemewahan dan keindahan kapal pesiar yang membawanya berlayar bersama Theodore untuk seminggu ke depan.
Ini kali pertama bagi Seraphina menginjakkan kaki ke dalam sebuah kapal besar nan spektakuler, yang mana suaminya sendiri menjadi salah satu penyuntik dana dalam pembuatannya.
"Ternyata tidak sia-sia aku menggelontorkan biaya besar untuk mendanai kapal ini," ujar Theodore bangga.
Awalnya Theodore hanya iseng, karena dia belum pernah mencoba peruntungannya di dunia bisnis pariwisata seperti ini, tapi ternyata cukup menguntungkan juga. Terlebih lagi, dirinya bisa melihat ekspresi takjub dan senang yang ditunjukkan oleh Seraphina.
"Apa kamu senang dengan kejutanku ini?" Theodore merangkul pundak sempit Seraphina yang sedikit terekspos karena model pakaiannya.
Tanpa berpikir dua kali, Seraphina mengangguk mengiyakan pertanyaan Theodore. Rasanya seperti sedang berbulan madu.
"Terima kasih! Akhirnya aku dapat merasakan liburan mewah seperti ini meski hanya sekali!"
Ungkapan bahagia yang sukses menusuk hati Theodore.
"Maaf...semestinya aku mengajakmu pergi mengunjungi tempat-tempat yang indah sedari awal. Maafkan aku, Sera.."
Raut muka Theodore menjadi sendu. Dirinya benar-benar merasa bersalah tak bisa memberikan kesenangan untuk Seraphina.
Seraphina dapat mengerti kondisi Theodore. Mengingat bagaimana hubungan mereka sebelum ini, sudah pasti hal-hal menyenangkan seperti ini tak pernah terlintas dalam benak sang suami.
"Selagi masih ada waktu, tak pernah ada kata terlambat asal ada niat untuk melakukannya dengan tulus."
Hati Theodore tertegun mendengar balasan Seraphina.
Seolah kata-kata itu memberikan jawaban secara tak langsung atas usahanya yang masih awal ini.
'Bolehkah aku berharap, agar kamu dapat mempertimbangkan lagi keputusanmu? Aku tidak ingin berpisah denganmu, Sera...'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments