Berjumpa Teman Lama

"Ah, maaf...aku bangun kesiangan tadi, jadi tidak sempat memasak nasi untukmu. Tak apa 'kan kalau aku membawakan sandwich untukmu?"

Theodore menatap intens Seraphina yang baru keluar dari kamar mandi yang letaknya berada tak jauh dari dapur.

Ini kali pertamanya Seraphina bangun kesiangan sampai tidak sempat memasakkan sesuatu untuk Theodore, bahkan dilihat dari penampilan Seraphina yang masih mengenakan setelan piyama, Theodore bisa menebak bahwa sang istri belum juga membersihkan diri.

"Kamu sakit?" Theodore memberanikan diri bertanya.

Seraphina menggeleng pelan, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya yang sedang membuatkan dua potong sandwich isi tuna untuk sang suami.

Jawaban yang sedikit janggal, tetapi itu sudah lebih dari cukup bagi Theodore. Sembari menunggu bekal sandwichnya selesai dibungkus, Theodore duduk tenang di kursi makan.

Diam-diam sudut matanya melirik kegiatan sang istri yang cenderung diam dan tidak berisik sama sekali. Suasana dalam penthouse jadi sedikit redup tanpa adanya kicauan merdu dari suara lembut Seraphina.

"Ini, semua sudah aku masukkan ke dalam tas bekalmu. Jangan lupa dimakan." Beberapa menit kemudian, Seraphina menyerahkan satu paperbag berisi bekal serta tumblr khusus untuk suaminya.

Theodore menerima pemberian Seraphina dengan senang hati, padahal awal-awal mereka menikah, dirinya enggan menerima sesuatu dari istri cantiknya.

"Aku berangkat dulu." Theodore berpamitan pula pada Seraphina.

Seraphina sampai dibuat tertegun karena terkejut. Tak biasanya sang suami berpamitan tanpa dia buntuti seperti biasa.

"Ah, ya...hati-hati di jalan." Sayangnya, Seraphina tidak dalam mood yang baik untuk memberikan afeksi berlebihnya pada Theodore.

Perkara kemarin masih membekas dalam hati Seraphina. Mau mengeluh dan marah pada Theodore juga apa gunanya? Pada akhirnya Seraphina hanya bisa memendam isi hatinya seorang diri.

'Aku sama sekali tidak mood mengerjakan pekerjaan rumah. Lebih baik aku hubungi petugas bersih-bersih harian saja.' Seraphina ingin beristirahat sejenak dari aktifitas sehari-harinya membereskan seisi penthouse yang luas dan mewah milik Theodore.

Lagipula mau dirinya membersihkan atau tidak, toh tidak ada yang peduli, asalkan keadaan dalam penthouse masih terlihat bersih dan rapi. Seraphina ingin mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya untuk sementara waktu.

...🍀...

Tapi semua rencana Seraphina harus diundur karena sahabat lamanya, Irene, tiba-tibanya mengajaknya pergi ke pusat pembelanjaan yang ada di pusat kota.

Ketimbang dibilang mengajak, lebih tepatnya sih Irene memaksa Seraphina untuk keluar dari zona nyamannya.

Irene yang merupakan teman sejak kecil Seraphina jelas sudah mengetahui seluruh kisah hidup Seraphina mulai dari kecil bahkan sampai menikah dengan Theodore. Jadi, sudah tidak ada lagi yang dapat Seraphina tutup-tutupi dari Irene.

Termasuk soal momongan yang akhir-akhir ini mengusik pikiran Seraphina. Selaku sahabat yang sangat peduli dan prihatin atas penderitaan sang sahabat, Irene berupaya semampunya memberikan dukungan emosional untuk Seraphina tercinta.

"Tak apa. Jangan terlalu dipikirkan dulu. Mungkin masih ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan dulu. Selagi dia tidak menyentuhmu, kau tidak akan kehilangan apapun."

Di sisi baiknya, Theodore belum menyentuh Seraphina sama sekali. Jika suatu saat hubungan mereka semakin renggang dan memburuk, Irene yakin Seraphina tak akan merasa terlalu menyesal telah memberikan segalanya untuk lelaki tak tahu diuntung itu.

"Sebenarnya aku sangat menentang keputusanmu untuk menikah, kau terlalu gegabah. Kupikir dengan kalian sudah resmi menikah, hubungan kalian akan memiliki kemajuan, ternyata semakin parah saja!" komentar Irene, atas curhatan Seraphina beberapa waktu yang lalu.

Siapa sih yang ingin melihat orang terkasih kita menderita oleh karena seseorang? Irene tentu tak ingin Seraphina disakiti oleh orang lain, apalagi orang itu adalah sosok yang dicintai oleh Seraphina sendiri. Tetapi jika dibiarkan lebih lama, Irene khawatir itu akan berdampak pada mental dan psikis Seraphina.

"Kalau sudah tidak kuat, kamu boleh kok menyerah kapan saja. Ingat, suatu hubungan apapun itu, kalau cuma satu orang saja yang berjuang tak akan ada perubahannya. Yang ada, itu akan menguras mental serta psikismu, sayang." Irene menasehati Seraphina. Entah ini sudah kali ke berapa Irene memberi petuah pada sang sahabat.

Seraphina sudah paham akan hal itu, dan sangat sadar akan perubahan moodnya yang turut terdampak akibat terlalu stress.

Tapi untuk menyerah atas usahanya selama ini? Seraphina belum rela kehilangan Theodore.

"Aku tahu dan paham kalau kamu sangat menyayangi lelaki itu. Tapi jangan lupa, kau juga harus menyayangi dirimu sendiri, sayang..kamu sangat berharga, jadi jaga hati serta pikiranmu dari hal-hal yang membuatmu sakit. Kami tidak mau melihatmu sengsara lebih lama lagi..."

.......

Obrolan mereka terhenti sampai di situ karena Irene mendapatkan panggilan pekerjaan yang tak bisa ditunda. Alhasil, kini Seraphina merenung seorang diri di salah satu sudut kafe yang ada di dalam mall.

Sendiri mungkin lebih baik daripada harus berpura-pura ceria di depan orang lain, seperti yang dia lakukan ketika bersama dengan Irene beberapa saat yang lalu.

Berhubung hari ini masih hari kerja, tak begitu banyak pengunjung memadati area mall sehingga Seraphina lebih leluasa menikmati Me Time-nya disana.

"Permisi, apa kamu benar, Seraphina?"

Sampai datanglah seseorang yang tak Seraphina duga sama sekali.

Merasa terpanggil, Seraphina menengok ke sosok lelaki yang berdiri di pinggir meja yang dia tempati.

"Maaf, apa saya mengenal anda?" Seraphina tak merasa kenal dengan wajah seseorang di depannya.

Tampak sedikit asing, tapi juga terasa sedikit familiar. Dalam hati, Seraphina bertanya-tanya, bagaimana bisa orang tampan di depannya itu mengenal dirinya?

"Wah, ternyata tebakanku benar! Ini aku, Rayden! Teman sebangkumu dulu, waktu sekolah menengah pertama!" ucap lelaki berambut coklat terang itu dengan lantang.

Senyum cerah menghiasi wajah tampan lelaki yang mengaku bernama Rayden itu. Seraphina berusaha mengulik memori dari masa sekolah menengah pertamanya yang tak begitu menyenangkan.

"O-oh! Yang dulu sering bolos sekolah itu?" tebak Seraphina kemudian. Samar dia mengingat sosok teman sebangkunya yang terkenal badboy, alias tukang bolos.

Lelaki itu tertawa tanpa dosa, "Benar! Itu aku! Rayden Ford! Tak kusangka, kita bisa berjumpa di sini!" ujar Rayden, dengan ekspresi kelewat bahagia.

Di satu sisi, Seraphina bingung harus bereaksi bagaimana, sebab mereka dulu tak begitu akrab. Lagipula dulu penampilan Rayden tampak menyeramkan seperti preman, jadi Seraphina tak berani terlalu dekat dengan lelaki itu.

"Ada urusan apa di sini?" Tapi mau mengusir Rayden juga tak enak, pada akhirnya Seraphina berbasi-basi sebentar.

"Boleh aku duduk di sini? Kakiku agak pegal, soalnya aku baru saja pulang dari bandara," izin Rayden pada Seraphina.

Seraphina hanya mengangguk mengiyakan, toh cuma ada dia di meja itu. Rayden lalu mengambil duduk tepat diseberang Seraphina.

Bertemu dengan teman lama memang tak terduga, Rayden sangat bahagia bukan main. Apalagi, sosok yang ditemuinya ini adalah cinta pertamanya semasa duduk di bangku sekolah.

"Aku sangat senang dapat berjumpa denganmu, Sera. Sungguh..."

Nama panggilan yang hanya diucapkan oleh orang-orang terdekatnya, Seraphina kembali bernostalgia akan masa lalu mereka, ketika masih duduk di bangku menengah pertama.

Sudah lama sekali rasanya, tidak ada yang memanggilnya secara akrab seperti itu. Entah mengapa Seraphina jadi sedikit melankolis hari ini.

Apa mungkin efek kesepian membuat dirinya mudah tersentuh?

Seraphina tak tahu, tapi diam-diam dia sedikit bersyukur dipertemukan dengan teman lamanya. Setidaknya, ini dapat mengulur waktunya untuk pulang sedikit lebih lama.

Sebab Seraphina masih malas bertatap muka dengan Theodore.

'Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak ingin pulang lebih cepat..'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!