Pilihan Akhir

"Ayo, kita pergi."

Seraphina termenung menatap uluran tangan Theodore padanya.

Mereka tengah berada di sebuah restoran bintang lima, usai menghabiskan makan malam mewah nan lezat yang tentunya direkomendasikan oleh Theodore.

Seraphina berusaha menyembunyikan rona merah di kedua pipinya ketika menerima uluran tangan Theodore untuknya. Genggaman hangat dari tangan besar Theodore sanggup menggetarkan hati Seraphina yang masih saja lemah terhadap lelaki itu.

Meski Seraphina tahu bahwa sikap gentleman Theodore hanya ditunjukkan ketika berada di luar, Seraphina sudah cukup merasa puas. Mungkin di mata wanita lain, dirinya termasuk salah satu wanita paling beruntung di dunia ini, karena dapat menggenggam seorang lelaki tampan nan kaya raya seperti Theodore.

Tetapi apa gunanya tatapan iri dan mendamba dari orang-orang, apabila dirinya saja tak bisa meraih hati dari lelaki yang diidam-idamkan banyak kaum hawa itu?

Seraphina hanya bisa memasang senyum palsu semanis mungkin.

Topeng yang sanggup menutupi semua kekecewaan serta kesedihan atas nasibnya yang tak seberuntung yang dilihat orang.

Mungkin sekarang Seraphina masih bisa menggenggam tangan besar milik Theodore, tapi untuk jangka waktunya? Siapa yang tahu?

Bisa saja sewaktu-waktu lelaki itu tampil di publik dengan menggandeng seorang wanita lain selain dirinya. Membayangkan skenario itu dalam hati, Seraphina mengulum senyum pahitnya.

"Ada apa? Apa makanannya tidak sesuai seleramu?"

Theodore mengernyit heran, sedari mereka datang ke restoran, Seraphina tak banyak bicara dan lebih sering menundukkan kepala.

"Tidak...hanya saja...hari ini sedikit berbeda. Aku tidak mengira, kamu bakal mengajakku makan malam berdua seperti tadi...terima kasih." Seulas senyum manis Seraphina berikan pada Theodore.

"Makan di luar sekali, dua kali tak ada salahnya 'kan." Theodore mengidikkan bahu acuh. "Kamu kelihatan murung belakangan ini, jadi aku berinisiatif memberikanmu sedikit penghiburan."

Bagi Theo, mungkin sekedar makan malam tak berarti banyak baginya. Tetapi bagi Seraphina, makan malam bersama dengan sosok yang dia cintai sangatlah berharga dan membuatnya gembira.

Yah...andai saja Theodore mengetahui isi hati Seraphina yang diselimuti bunga hanya gara-gara perhatian kecilnya.

"Oh, aku lupa memberitahumu. Minggu depan, aku akan pergi ke London untuk perjalanan bisnis. Mungkin aku akan berada di sana selama satu bulan penuh, tak apa 'kan aku tinggal sebentar?"

Langkah Seraphina seketika terhenti.

'Jadi itu alasannya mengajakku keluar..' Intuisi Seraphina tak pernah salah. Pasti ada alasan lain dibalik perlakuan istimewa Theodore padanya.

"Kenapa? Apa kamu keberatan?" Theodore jadi ikut berhenti melangkah, lalu memandangi Seraphina yang menatapnya intens.

'Jika aku bilang iya, apa kamu akan menurutiku?'

Ingin sekali mulut Seraphina membalas seperti itu, tapi jelas tidak bisa dia lakukan. Apapun yang dia katakan, tak akan pernah dihiraukan oleh Theodore.

Satu-satunya hal yang bisa Seraphina lakukan hanyalah tersenyum tipis, seolah-olah dia tak peduli dengan semua kegiatan Theodore.

"Ya, silahkan. Aku tak keberatan sama sekali."

'Sekalipun kau tak pulang selama bertahun-tahun, aku tak akan keberatan. Apa gunanya menahanmu di sisiku, kau tak akan pernah mau melakukan apa yang aku inginkan.'

Bukankah itu lebih baik? Maka dengan begitu, rencana untuk mengakhiri segalanya akan berjalan lebih mudah. Tanpa melihat wajah itu untuk waktu yang lama, Seraphina yakin perasaannya perlahan-lahan akan lelah dan hilang dengan sendirinya.

'Teruslah menjauh dariku, Theo, itu akan semakin memudahkan rencanaku ke depannya nanti..'

...⚘️...

"Ka-kamu serius?"

Irene benar-benar syok mendengar ucapan Seraphina barusan.

Theodore sudah pergi ke London sejak 3 hari yang lalu. Setelah menangis semalaman suntuk dan mengurung diri di kamar tanpa melihat kepergian Theodore, Seraphina mantap dengan keputusan akhirnya yang ingin mengajukan cerai.

"Ya...aku sudah lelah. Tak ada harapan sama sekali, lalu apa yang bisa aku lakukan?"

Irene yakin Seraphina sudah memikirkan hal ini secara matang-matang. Lingkaran hitam terlihat jelas di kantung mata Seraphina. Ini kali pertama Irene melihat seberapa kacaunya Seraphina menghadapi tekanan batin disertai patah hati selama belasan tahun.

"Oohh sayangku...kemarilah...kamu sudah berusaha dengan begitu keras.." Irene membawa Seraphina ke dalam pelukannya. Air mata mengalir tanpa bisa dicegah.

Irene mengetahui dan begitu memahami seberapa sakitnya Seraphina kala harus menahan perasaannya selama bertahun-tahun hanya untuk bisa bersama orang yang dia cintai.

Seraphina lagi-lagi menangis. Dia sudah lelah, sangat lelah. Kepergian Theodore semakin menyakinkan dirinya bahwa hanya dia seorang yang membutuhkan lelaki itu. Bahkan Theodore sama sekali tak berusaha menghubungi Seraphina sama sekali sejak keberangkatannya ke London.

"Tak apa, sayang...kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Sudah waktunya kamu beristirahat...Kesehatan hati dan tubuhmu lebih penting dari segalanya."

Sepasang sahabat itu menangis bersama dalam waktu yang cukup lama.

Berpisah dengan orang yang kita cintai adalah hal tersulit dalam hidup kita. Tapi bila itu demi kebaikan sendiri, tentu tak ada salahnya.

"Aku akan menemanimu menjelaskan semuanya pada orang tuamu dan orang tua Theo. Karena itu, kamu tidak perlu takut!"

Irene akan selalu berada di sisi Seraphina, apalagi di saat sang sahabat berada di titik terendah dalam hidupnya ini. Seraphina bukan tipikal wanita yang mudah menyerah dan cengeng. Tetapi semua kekuatan serta ketegaran hati Seraphina dapat runtuh dengan begitu mudah bila sudah dikaitkan dengan persoalan asmara.

Mungkin memang ini sudah waktunya untuk menutup lembaran kisah asmara 13 tahunnya yang tak membuahkan hasil apa-apa.

Seraphina lagi-lagi menangis tersedu-sedu. Ini bukan perkara mudah, namun hidup masih harus terus berlanjut. Theodore mungkin tak akan pernah memahami dan mengetahui seberapa terlukanya Seraphina selama ini, maka dari itu, Seraphina sendiri yang akan menyudahi semuanya.

"Dia juga akan bahagia bukan, jika orang yang akan bersamanya nanti bukan aku?" Suara Seraphina bergetar ditengah-tengah isakannya yang deras.

"Theo...aku akan melepasnya..aku tidak mau mengikat dia dengan permasalahanku dan keluargaku lagi.." ujar Seraphina, yang kembali mengingat alasan utama dibalik perjodohannya dengan Theodore terdahulu.

Irene berupaya keras menahan isakannya, dia ikut bersedih mendengar setiap racauan Seraphina yang sedang menumpahkan isi hatinya.

Andai dulu keluarga Seraphina tak menjodohkan mereka, mungkin Seraphina tak akan mengenal Theodore dan 'mengikat' lelaki itu dengan perjanjian bisnis antar kedua belah pihak keluarga.

Sekarang Seraphina sanggup menghidupi dirinya sendiri, bila memang perpisahannya dengan Theodore akan mendapat pertentangan keras dari keluarganya sendiri dan bahkan berakhir lebih buruk dari yang Seraphina bayangkan, maka dia harus siap dengan konsekuensi yang ada.

Seraphina sudah lelah dengan semua permainan keluarganya ini.

"Tak apa. Kau masih punya aku! Kita bisa hidup bersama selamanya! Pers3tan dengan lainnya! Kita harus bisa meraih kebahagiaan kita sendiri!"

Ucapan tegas Irene sedikit menghibur hati Seraphina yang tengah bersedih.

Yah, benar. Lebih baik hidup sendiri daripada harus hidup dalam kegelapan dan kesepian yang dalam.

'Izinkan aku beristirahat sejenak...aku benar-benar lelah dengan semuanya...Theo...'

Terpopuler

Comments

Milo28

Milo28

pelukkk Seraphinaaaa

2024-02-24

0

Milo28

Milo28

harus senang apa sedih nih

2024-02-24

0

Milo28

Milo28

sad bangettt

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!