Beberapa hari kemudian, Theo yang sibuk pekerjaan ia masih menyempatkan waktu untuk Arini, sebab ia tahu keseharian istri dan anak anaknya seolah bagai pelengkap. Dan untuk kali ini ingin segera pulang memberitahu pada istrinya.
"Sayang .. Istriku kamu dimana?" mata Theo yang mencari dikamar tamu, kamar pribadinya bahkan tak ada.
'Mungkinkah di kamar anak anak?' batin, tapi tidak ada juga.
Theo pun menanyakan kembali pada bibi di bagian dapur, namun mata Theo senyum sebelum bertanya, rupanya pelengkap hidup barunya sibuk di taman.
"Kalian semua disini?" teriak lembut.
"Dady .." Mina dan Dio berteriak, berlarian bagai lem yang baru bertemu dengan kertas.
"Ah .. Maaf, aku tidak tahu kalau kamu pulang cepat."
"Hm .. Sayang, aku ada berita baru. Besok pagi kita segera ke penang, aku juga dapat info ini." senyum Theo, yang memberikan selembar kertas, dan Arini pun membacanya.
'Anak anak, kalian tidak menyulitkan Aunty mama kan?' bisiknya.
'No .. Mina dan Dio senang, diajak berkebun. Bahkan mama udah beli bunga indah untuk kita rawat.' senyum Mina berbisik.
'Ma .. Ma ..?'
Hmm ..
Theo senang, hari ini mendengar mereka menyebut Arini mama, sama sepertinya Dady.
"Besok .. Kita berangkat, lalu bagaimana dengan pabrik? Info pengobatan alternatif ini apa tidak menggangu dengan pengobatan di rumah sakit?"
"Banyak orang yang bekerja, harusnya sih tidak di persulit. Ikhtiar itu penting, yang penting istri ku ini selalu bahagia, dan Ardan bisa berkumpul dengan adik adik nya kan, bukan hanya aku, tapi Mina dan Dio pasti senang Ardan segera tinggal bersama kita."
Mata Arini kembali senyum bahagia, bahkan merasa beruntung bisa berjodoh dengan Theo Andara. Tak lupa, untuk kali ini Theo ikut berkebun, sama hal seperti hari hari biasanya di saat ia pulang bekerja. Melihat anak anak dan Arini adalah simbol kebahagiaanya dan penghilang rasa penat dari berbagai masalah.
Tak terasa, waktu begitu cepat. Bahkan Theo dan anak anak yang kini bersama Arini di pesawat, kini mereka sudah sampai di Ascott Gurney Penang, tempat mereka menginap di hotel dekat dengan rumah sakit Ardan di rawat, apa lagi selain berlibur dan menemani adik Arini yang menjalani pengobatan khusus kanker.
Theo tidak lupa bekerja secara online, mengawasi pabrik meski jarak yang cukup jauh.
Hingga malam pun tiba, Arini yang sudah melihat anak anak tertidur di kamar sebelah, entah kenapa Arini yang agak gugup masuk ke kamarnya.
Apalagi lengan kokoh itu menyambut Arini yang kini duduk di depan meja hias, Theo yang tahu Arini takut, ia bertanya masa remajanya apa pernah punya cinta pertama.
"Kamu pernah pacaran?"tanya Theo, yang membuka kancing piyama.
"Tidak ada waktu, tidak banyak punya teman pria. Dan aku juga tidak mahir jika kamu men-ci-um ku. Maaf!"
"Hah .. Artinya aku orang pertama?" bisik Theo.
"Hmm .. " ujarnya, dimana kapas pembersih wajah, membuat wajah Arini yang natural benar benar terlihat.
"Lalu Wisnu, kenal dimana?"
Deg ..
Arini tahu pria seperti Theo akan mudah mendapat informasi, ketimbang mencari alasan Arini pun menjelaskan dengan jujur.
"Wisnu teman kecil, tetangga saat ayah dinas di malang. Sejak saat itu keluarga Wisnu pindah tanpa pamitan, jadi aku ga sangka bakal ketemu saat melamar jadi pengasuh. Kita pernah ketemu lagi saat kuliah di Yogya, sekitar 4 kali karena satu kampus beda jurusan. Seperti yang kamu tahu, orangtua ku sudah 4x membuat aku pindah sekolah. Terakhir kuliah .. Dan .." terdiam Arini.
"Ini pasti membuat kamu sedih, nyonya Theo tidak boleh memasang wajah itu lagi. Jika kamu ingin melanjutkan kuliah, akan aku daftarkan."
"Apa boleh ..?"
"Hmm .. Kenapa tidak, menjadi nyonya Theo jika ingin mengejar impian aku dukung. Terlebih jika kamu belum siap punya baby, menunda pun aku tidak masalah."
Arini yang mendongak mendengar itu merasa bahagia haruskah tawarannya ia terima. Dan saat sesuatu terasa, entah sejak kapan seluruh piyama sudah terlepas. Dan paling membuat Arini gugup karena re-masan itu benar benar sakit penuh kenik-ma -tan, apalagi suaminya itu sudah tak memakai apapun.
'Apa kamu siap ... ?' bisik Theo, yang kala itu mendengar teriakan manis Arini.
Theo yang merasa Arini tidak ada penolakan, ia mengangkat Arini, dimana Arini yang duduk di kasur, membuat Theo mengecup ranum seindah warna pink jambu, bibir yang indah itu membuatnya tidak sabaran, setiap inci lekukan yang ia lihat di tubuh Arini tidak perlu malu, mereka pun sudah sama sama saling melihat dimalam ketiga ini.
Arini yang tidak berani melihat milik Theo, ia cukup menerima dan menatap mata Theo yang sudah mengigit ranumnya, hingga seluruh tangan kokoh itu yang merebahkannya, Theo yang mulai tidak sabar ...
Gleuk .. Ia berdecak kesal kala, ketukan pintu membuat mereka buyar.
Dug ..
Dug ..
"Dady .. Mina ga bisa tidur!"
"Dady buka pintunya, Mina mau bobo sama Dady aja!"
Arini, Theo membuka mata. Sadar akan anak anak kembali dikamar sebelah, mereka pun segera memakai pakaian mereka kembali.
"Haish .. Dasar bocah, kenapa mereka bangun di jam seperti ini." racau Theo yang kesal, frustasi bahkan malam pengantin yang sudah hampir satu pekan, tak bisa ia lakukan.
Arini entah harus bersyukur atau tidak, tapi ini adalah sebuah ujian mereka sebagai pengantin.
'Manis, perhatian .. Entah seperti apa suamiku, aku berharap sikapnya selalu seperti ini selamanya.' senyum Arini.
BERSAMBUNG ..
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Mr Azusi
anak anak yang pengertian saking sayangnya ganggu dady mama terus ya
2023-11-23
2
Syabla
disini arini tau kagak ya kalau wisnu punya perasaan inget di bab pertama kalau dia mencari bidadari yang lama ditunggu😏 sad cinta yang dipendam laku sama bosnya
2023-11-23
0
Syabla
definisi dapat cowo baik semoga masa lalu teo manis terus ya
2023-11-23
0